Thursday , August 28 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Cerita Seks – Ngeseks di dalam Air

Cerita Seks – Ngeseks di dalam Air

ngeseks dimana saja asik, tapi lebih asik kalo ada sensasi lain, berikut adalah cerita ML di kolam Renang, Berikut cerita lengkapnya yang penuh birahi yang tak terbendung , bagi anda mungkin bagi semuanya!!

Kira-kira jam 12 siang, aku baru selesai makan, hpku berbunyi, ternyata yang menelepon adalah teman dekatku, Dina. Dia mengajakku untuk menemaninya di rumah omnya. Dia bilang omnya harus pergi untuk suatu urusan, jadi dia sendirian di rumah omnya. “Ada kolam renangnya Nes, kamu bawa bikini aja, kita bisa berenang sampe puas”, katanya. Kupikir gak ada salahnya nemenin Dina disana, toh aku juga gak ada kerjaan. Maka dengan taksi aku menuju alamat rumah omnya.

Sesampai disana, Dina menyambutku hanya ber bikini. Memang bodi Dina sangat mengundang napsu lelaki yang melihatnya. Toketnya besar, pantat juga besar. Mana bikininya minim lagi sehingga toketnya seakan mau tumpah dari branya yang sepertinya kekecilan. Perutnya rata dan jembutnya yang lebat nongol dari bagian atas dan samping cd bikininya ang minim sekali. “Dah makan Nes”, tanyanya. “Udah”, jawabku. Aku langsung diajaknya ke halaman belakang. Kulepas pakaian luarku, tinggal bikini yang gak kalah seksinya dengan bikini Dina. Aku langsung nyebur ke kolam dan berenang mondar mandir. “Din, tadi malem kamu maen ama om ya, berapa ronde?” “Om Rizal kuat banget deh Nes, aku dikerjainya 3 ronde, malem 2 ronde dan paginya msih sekali lagi, sampe lemes deh”. “Wah nikmat dong kamu Din”. “Iya om lama lagi maennya, aku nyampe beberapa kali baru om ngecret”. “Gede gak kontolnya”. “Gede banget, ntar kalo dia pulang kita ngelayani dia gantian ya, kamu pasti nikmat deh dientot om”. Gak lama kemudian hp Dina berdering. Dia menerima telponnya, setelah selesai Dina bilang, “Nes, aku harus nganterin dokumen ke tempat temennya om. Om ada disana, dokumen pentingnya ketinggalan. Kamu aku tinggal sebentar gak apa ya”. Ya aku mau bilang apa. Segera Dina berpakaian dan meninggalkanku sendiri dirumah itu. Aku masuk kedalem rumah, membuka lemari es dan mengambil buah2an, cake dan minuman. Semuanya aku bawa kekolam. aku bersantai saja di kolam, makan dan minum sambil berenang. Karena cape, aku berbaring saja di dipan dipinggir kolam membelakangi rumah. Aku mendengar ada orang masuk dan berjalan kekolam. “Din, kamu ya”, kataku tanpa menoleh kebelakang.

“Aku”, terdengar suara lelaki, berat. Aku segera menoleh ke belakang. Kulihat ada lelaki ganteng, tegap atletis tersenyum memandangku. Aku segera bangun dari dipan. Dia melotot memandangi tubuhku yang gak kalah merangsangnya hanya berbalut bikini minim. “Aku om Rizal’, kayanya memperkenalkan diri. “Om ini om nya Dina ya. Saya Ines om, temennya Dina. Dina yang ngajak saya kesini, disuru nemenin dia karena sendirian, eh malah ditinggal”. “Iya, Dina mana, katanya mau nganterin dokumen kerumah temen om, om tunggu2 gak dateng2, makanya om pulang mau ambil dokumennya”. “Dina udah pergi dari tadi om, dokumennya udah dibawa, selisipan kali”. Om Rizal mengambil hpnya, rupanya dia menelpon Dina. “Iya, Dina ada dirumah temen om, dokumennya sudah dikasi ke temen om, ya udah lah. Kamu jangan pulang dulu ya, Nes”. Dia duduk didipan, aku ditariknya duduk disebelahnya. Aku jadi keinget crita Dina tentang dia dientot om Rizal sampe 3 ronde, sekarang giliran aku rupanya. Napsuku bangkit dengan sendirinya. Segera tanpa membuang-buang waktu lagi om Rizal menyambar tubuhku. Dilumatnya bibirku dan tangannya beraksi meremas toketku yang masih terbungkus bra bikini. “Hhhmm..gimana Nes? Udah siap dientot?” kurasakan hembusan nafasnya di telingaku. Tangan gempalnya mulai meremasi toketku, sementara tangan yang lainnya mulai mengelus-elus pahaku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa menikmati perlakuannya dengan jantung berdebar-debar. Tangan yang satunya juga sudah mulai naik ke bagian selangkangan lalu dia menggesekkan jarinya pada daerah itilku yang masih tertutup cd bikiniku. Dengan sekali sentakan ditariknya turun braku, “Whuua..bener kata Dina, kamu seksi dan merangsang sekali Nes”, pujinya. “Toket Dina kan lebih besar om”, jawabku terengah. Kini dengan leluasa tangannya menjelajahi toketku dengan melakukan remasan, belaian, dan pelintiran pada pentilku, sambil tangan satunya merogoh-rogoh ke dalam cdku. Tiba2 dia mendorongku telentang didipan, dibentangkannya pahaku lebar-lebar, tangannya mulai merayap ke bagian selangkanganku. Jari-jari besar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku, mula-mula hanya mengusap-ngusap bagian permukaan saja lalu mulai bergerak perlahan-lahan diantara kerimbunan jembutku, jarinya mencari liang nonokku. Perasaan nikmat begitu menyelubungiku karena hampir semua daerah sensitifku diserang olehnya dengan sapuan lidahnya pada leherku, remasan pada toketku, dan permainan jarinya pada nonokku, serangan-serangan itu sungguh membuatku terbuai. Kedua mataku terpejam sambil mulutku mengeluarkan desahan-desahan “Eeemmhh..uuhh”. Dia langsung membuka pakaiannya, begitu cdnya terlepas benda didalamnya yang sudah mengeras langsung mengacung siap memulai aksinya. Aku terbelalak memandang ****** hitam itu, panjangnya memang termasuk ukuran rata-rata, namun diameternya itu cukup lebar, dipenuhi dengan urat-urat yang menonjol. Dia yang sudah telanjang bulat mendekatiku. Aku menggeser tubuhku memberinya tempat. Dengan lembut dibelainya pipiku, lalu belaian itu perlahan-lahan turun ke bahuku dimana kurasakan bra bikiniku mulai terlepas dan kemudian dia menarik lepas cd bikiniku hingga aku telanjang bulat. Dia mencium bagian dalam cd bikiniku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh lendir nonokku. “Enak, baru cairan kamu aja udah enak, apalagi nonok kamu” katanya. Direngkuhnya aku dalam pelukannya. Tangannya bergerak menjelajahi tubuhku. Dia mengencangkan remasan pada toketku kananku sehingga aku merintih kesakitan “Aaakkhh..sakit om!”. Dia hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat reaksiku. “Uuuhh..sakit ya Nes, mana yang sakit..sini om liat” katanya sambil mengusap-usap toketkuku yang memerah akibat remasannya. Dia lalu melumat toketkuku sementara tangan satunya meremas-remas toketku yang lain. Perlahan-lahan akupun sudah mulai merasakan enaknya. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek liang nonokku sambil mulutnya terus melumat toketkuku, terasa pentilku disedot-sedot olehnya, kadang juga digigit pelan atau dijilat-jilat. Kini mulutnya mulai naik, jilatan itu mulai kurasakan pada leherku hingga akhirnya bertemulah bibirku dengan bibirnya yang tebal itu. Naluri sexku membuatku lupa akan segalanya, lidahku malah ikut bermain dengan liar dengan lidahnya sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir.

Om Rizal lalu berlutut sehingga kontolnya kini tepat dihadapanku yang sedang telentang didipan.
“Ayo Nes, kenalan nih sama ****** om, hehehe..!” katanya sambil menggosokkan ****** itu pada wajahku. Aku mulai menjilati ****** hitam itu mulai dari kepalanya sampai biji pelernyanya, semua kujilati sampai basah oleh liurku. Semakin lama aku semakim bersemangat melakukan oral sex itu. Kukeluarkan semua teknik menyepong-ku sampai dia mendesah nikmat. Saking asiknya aku baru sadar bahwa posisi kami telah berubah menjadi gaya 69 saat kurasakan benda basah menggelitik itilku. Dia kini berada di bawahku dan menjilati belahan nonokku, bukan cuma itu dia juga mencucuk-cucukan jarinya ke dalamnya sehingga nonokku makin lama makin basah saja. Aku disibukkan dengan kontolnya di mulutku sambil sesekali mengeluarkan desahan. Aku sungguh tidak berdaya oleh permainan lidah serta jarinya pada nonokku, tubuhku mengejang dan cairan nonokku menyembur dengan derasnya, aku telah dibuatnya nyampe. Tubuhku lemas diatas tubuh nya dan tangan kananku tetap menggenggam batang kontolnya.

Setelah puas menegak cairan nonokku, dia bangkit berdiri di dipan. Tangan kokohnya memegang kedua pergelangan kakiku lalu membentangkan pahaku lebar-lebar sampai pinggulku sedikit terangkat. Dia sudah dalam posisi siap menusuk, ditekannya kepala kontolnya pada nonokku yang sudah licin, kemudian dipompanya sambil membentangkan pahaku lebih lebar lagi. ****** yang gemuk itu masuk ke nonokku yang cukup sempit. Dia terus menjejalkan kontolnya lebih dalam lagi sampai akhirnya seluruh ****** itu tertancap. “Ooohh..nonok kamu lebih peret dari nonok Dina, Nes, nikmat banget deh”. Aku senang juga mendengar pujiannya. “Ines juga nikmat om, ****** om gede banget”. “Kamu belum pernah ngerasain ****** gede ya Nes”. “Yang gede sering om, tapi yang segede ****** om baru kali ini, enjot terus om, nikmaaat”. Puas menikmati jepitan dinding nonokku, pelan-pelan dia mulai menggenjotku, maju mundur terkadang diputar. Kurasakan semakin lama pompaannya semakin cepat sehingga aku tidak kuasa menahan desahan, sesekali aku menggigiti jariku menahan nikmat, serta menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri-kanan sehingga rambut panjangku pun ikut tergerai kesana kemari. Tampangku yang sudah semrawut itu nampaknya makin membangkitkan napsunya, dia menggenjotku dengan lebih bertenaga, bahkan disertai sodokan-sodokan keras yang membuatku makin histeris. Kemudian tangan kanannya maju menangkap toketku yang tergoncang-goncang. Hal ini memberi perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Setengah permainan, dia mengganti posisi. aku disuruhnya nungging di dipan. Dari belakang dia sedang mengagumi tubuhku dan mengelus-ngelusnya. “Nah, ini baru namanya pantat” dia meremas bongkahan pantatku dengan gemas dan menepuknya. Saat dia mulai mengelus nonokku tanpa sadar aku malah merenggangkan kakiku sehingga dia makin leluasa merambahi daerah itu. Dia mulai mempersiapkan kembali kontolnya dengan menggosok-gosokkan pada bibir nonok dan pantatku. Kemudian dia menyelipkan kontolnya di antara selangkanganku lewat belakang. Aku mendesis nikmat saat ****** itu pelan-pelan memasuki nonokku. Kakiku mengejang ketika menerima sodokan pertamanya yang dilanjutkan dengan sodokan-sodokan berikutnya. Mulutku mengap-mengap mengeluarkan merintih terlebih ketika tangannya meremas-remas kedua toketku sambil sesekali dipermainkannya pentilku yang sudah mengeras. “Ooohh.. enak banget deh ngentotin kamu Nes!” celotehnya. Tusukan-tusukan itu seolah merobek tubuhku, hingga 15 menit kemudian tubuhku bagaikan kesetrum dan mengucurlah cairan dari nonokku dengan deras sampai membasahi pahaku. Aku merintih panjang sampai tubuhku melemas kembali, kepalaku jatuh tertunduk, nafasku masih kacau setelah nyampe sekali lagi. Aku mengira dia juga akan segera mengecretkan pejunya, ternyata perkiraanku salah, dia masih dengan ganas mengenjotku tanpa memberi waktu istirahat. Rambut panjangku ditariknya sehingga kepalaku terangkat. Sudah cukup lama aku digenjotnya namun belum terlihat tanda-tanda akan ngecret. Variasi gerakannya sangat lihai sampai membuatku berkelejotan, juga staminanya itu sungguh diluar dugaan. Mendadak dia menarik lepas kontolnya, aku sudah siap menerima semprotan pejunya, namun ternyata ****** itu masih mengacung dengan gagahnya.

Om Rizal lalu duduk, “Sini Nes, om pangku!” suruhnya. Aku menurut saja dan tanpa diminta lagi aku naik ke pangkuannya, taku menuntun kontolnya memasuki momokkku. Begitu kuturunkan pantatku langsung aku bergoyang di pangkuannya, dia pun membalas gerakkanku dengan menaik turunkan pantatnya berlawanan denganku sehingga tusukannya makin dalam. Wajahnya dibenamkan pada belahan toketku, tangannya yang tadi mengelus-ngelus punggungku mulai meraba toketku, mulutnya menangkap toketku yang satu lagi. Toketku disedot dan dikulumnya, kumisnya yang terkadang menyapu permukaan toketku memberi rasa geli dan sensasi yang khas. Kunaik-turunkan tubuhku dengan gencar sampai dia melenguh-lenguh keenakan, “Uuugghh..nonok kamu enak banget, Nes”. esahanku bercampur baur dengan lenguhannya. Kepalaku tengadah disertai lolongan panjang dari mulutku saat aku nyampe lagi, cairan nonokku kembali tercurah sampai membasahi dipan, secara refleks aku juga mempererat rangkulanku hingga wajahnya makin terbenam pada toketku. “Om, kuat banget sih ngentotnya, Ines dah beberapa kali nyampe, om belum ngecret juga, lemes om”. “Tapi nikmat kan?” Kemudian dia melepaskan kontolnya dan menyuruhku berlutut di hadapannya, diraihnya kepalaku dan didekatkan pada kontolnya yang lalu kujilati dan kusedot, rasanya sudah bercampur dengan cairan nonokku. Ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilatinya tiba-tiba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, “Nes, aku mau ngecret, di bobok kamu ya”. Segera aku dibaringkan didipan, dia menaiki aku dan sekali enjot ****** besarnya langsung ambles semuanya di nonokku. Dienjotkannya kontolnya keluar msuk dengan cepat dan akhirnya, “Ooohh..Nes, aku ngecret” dan disusul ‘creett..creet..’ pejunya menyemprot dengan deras didalam nonokku, terasa sekali semburan kuatnya menghangati bagian dalem nonokku. Demikian lelahnya aku, sampai tubuh seperti lumpuh dan mata terasa makin berat.
Sebelum terlelap aku masih sempat mendengarnya berkata dekat kupingku “nonok kamu enak banget, aku jadi ketagihan nih!”.

Tiba-tiba kurasakan ada yang menciumku sambil meremas toketku, juga kurasakan ada jari-jari yang menggelitik nonokku. Aku mendesah nikmat, kubuka mata, Ahh..aku terbangun. Terkejut sekali aku. Begitu mata kubuka langsung nampak sesosok tubuh berada diantara kedua belah pahaku yang terbuka lebar. Ketika kesadaranku berangsur-angsur pulih nampak sosok lelaki telanjang yang bukan om Rizal, wajahnya berada dekat nonokku sambil mengorek-ngoreknya dengan jarinya. Aku berusaha bangkit dengan sisa tenagaku, tubuhku sedikit bergeser. Kutepis tangan itu dari nonokku dan langsung kurapatkan pahaku. Ketika menengok ke samping aku lihat Dina tersenyum memandangku. “Nes, ini om Usman, temennya om Rizal. Kayanya om Usman napsu banget ngeliat kamu telanjang. aku masuk dulu ya”, Dina meninggalkan aku bersama om Usman yang sepertinya sudah siap untuk mengentoti aku. Om Rizal hanya senyum2 duduk di kursi didekatku. “Kamu Ines, temennya Dina ya, tadi enak dientot om Rizal”, tanyanya. “emangnya om sudah disini dari tadi”, jawabku. “Iya, nonton kamu ngentot sama om Rizal, jadi sekarang aku napsu banget nih Nes, pengen ngentotin kamu juga, mau ya”. Om Usman mengambil kesempatan ketika aku sedang bingung itu dengan merenggangkan pahaku sambil mengelus-elusnya. Mulutku mengeluarkan desahan ketika jari-jarinya mulai menyentuh itilku dan mengelusnya. Elusannya pada rambutku turun ke pipi, dan terus menurun ke leher hingga berhenti di toketku kananku yang lalu dibelai dan diremasnya. Dia mendekatkan mulutnya pada toketku dan menangkapnya dengan mulutnya. Gak lama kemudian dia bangkit dan mengajakku nyebur ke kolam, om Rizal ikut nyebur juga. Wah asik juga nih, maen ber3 di kolam. Aku menyibakkan rambut basahku ke belakang, melihat tubuh telanjangku yang telah basah oleh air kolam mereka berdua semakin bergairah dan mengerubungiku. Tangan-tangan mereka mulai menjamahi tubuhku. Aku tidak tahu lagi siapa yang mengerjai kedua toketkuku, meremas-remas pantatku, memilin-milin pentilku, dan mengusap-usap nonokku karena kupejamkan mataku dan tubuhku menggelinjang menahan nikmat. Tak terasa aku sudah berada di tepi kolam daerah 1,5 meter. Tubuhku dihimpit oleh om Usman di belakang dan om Rizal di depan, keduanya memelukku sehingga posisiku seperti daging burger yang dijepit diantara 2 roti. om Rizal menciumi wajahku, sesampainya di bibir, dia langsung melumatnya, lidahnya mendesak-desak ingin masuk ke mulutku, napsuku yang kembali naik membuatku membuka mulutku mempersilakan lidahnya bermain-main di mulutku. Sesudah itu mulutnya terus turun sampai ke toketkuku. Enngghh..om..!” desahku menahan geli bercampur nikmat ketika mulutnya melumat toketkuku secara bergantian. Aku merasakan pentilku disedot, digigit pelan bahkan sesekali ditarik oleh mulutnya, sementara telapak tangan om Usman bercokol di nonokku terus saja menggosok-gosok bibir nonokku.

Beberapa saat kemudian om Usman merentangkan kedua pahaku, betisku dinaikkan ke bahunya “Nes..aku dah pengen ngentotin kamu sekarang ya!” katanya tidak sabaran. Aku melihat di bawah air sana, kontolnya yang besar dan lebih panjang dari ****** om Rizal mulai mendesak masuk ke nonokku, “Aaahhkk..ahh..om” itulah yang keluar dari mulutku saat dia menekankan dalam-dalam ****** supernya hingga amblas seluruhnya, aku meringis sambil
mencengkram lengan om Usman yang memelukku. “Ooohh..” dia juga mendesah setelah berhasil menancapkan kontolnya di dalam nonokku. “Gimana Man?? seret ga nonoknya??” tanya om Rizal pada temannya. “Buset, seret amat nih nonok, udah ga perawan tapi rasanya kaya perawan, pinter juga Ines ngerawatnya!” puji om Usmanl sambil mulai menggenjot. Aku mulai merasakan ****** itu bergerak keluar masuk pada nonokku, mula-mula gerakan itu lembut, namun lama-lama bertambah kencang. Aku mendesah-desah tidak karuan ditambah lagi dari belakang om Rizal bertubi-tubi mencupangi leher jenjangku serta mempermainkan toketku,
pantatku meliuk-liuk ke kiri-kanan sehingga om Usman makin seru menggenjotku sampai air di sekitar kami beriak dengan dahsyat. “Akkhh.. oohh..eemmhh..!” eranganku tertahan tatkala bibirku dilumat om Usman. Akupun merespon cumbuannya, lidah kami saling beradu dengan liar.
Diserang dari dua arah begini sungguh membuatku kewalahan hingga akhirnya terasa dinding-dinding nonokku berdenyut makin kencang dan erangan panjang keluar dari mulutku disertai mengejangnya tubuhku sampai menekuk ke atas, otomatis kedua toketkuku pun makin membusung. Tubuhku lemas dalam pelukan mereka. Tapi om Usman belum tampak mereda, dia
masih bersemangat menyodokkan kontolnya . Aku merasa lelah dan ingin istirahat sejenak maka
kudorong tubuh om Usman. “Udah dulu.. om, Ines lemes..uuhh” aku memelas. Dia lalu menarik lepas kontolnya dan menurunkan pahaku sehingga aku dapat sedikit bernafas lega.

“Nes, pengen diemut deh”, kata om Usman. Aku melihat ke bawah air sana, ****** om Usman yang baru saja mengacak-acak nonokku, kuraih dan kugenggam, masih keras. Dia dengan berkacak pinggang sesekali mendengus ketika jari-jarku mulai mengocok dan membelai biji pelernya. Om Rizal pun mendekatiku dan meraih tanganku yang satu, lalu diletakkan pada kontolnya. Kini ****** om Usman berada ditangan kiriku dan ****** om Rizal di tangan kananku, mereka merem melek menikmati pelayananku sambil sesekali membelai badanku. “Nah..sekarang aku pengen ngerasain mulut kamu Nes, ayo dong.. diemut ” desak om Usman. Di bawah air kuraih kontolnya dan kumasukkan dalam mulutku, karena panjangnya, benda itu sampai mentok di tenggorokanku. Lidahku mulai menjilat dan mengulum, sementara kurasakan sebuah tangan mengelus dan meremas pantatku dari belakang. Napsuku makin naik, terlebih tangan itu terkadang menyelipkan jarinya pada nonok atau pantatku. Aku makin liar mengemutnya, aku sendiri sudah merasa sesak di air. Gerakan pantatnya makin . Akhirnya beberapa semprotan kurasa menerpa langit-langit mulut dan tenggorokanku, aku menelan pejunya, rasanya asin dan kental. Segera aku timbul ke permukaan. Nafasku mengap-mengap sehingga toketku ikut naik turun seirama nafasku yang kacau. Mimik wajah om Usman menunjukkan dia puas sekali ngecret di mulutku. Kulihat kontolnya sudah tidak setegang tadi lagi, ukurannya menyusut.

Beberapa menit kami beristirahat, om Rizal mengajakku naik ke pinggir kolam. “Gantian Nes.. sekarang aku di bawah, kamu di atas!” Wah aku jadi kerja rodi nih ngelayani napsu 2 lelaki yang kuat ngentotnya. Mana Dina gak keluar2 lagi. Tapi ya udah, namanya juga berburu kenikmatan ya aku lakukan juga. Tanpa diminta lagi aku mengangkangi tubuhnya yang sudah rebah telentang di
atas lantai marmer. Aku tanpa ragu menuntun kontolnya yang sudah kembali mengeras ke arah nonokku dan aku mengambil posisi menduduki tubuhnya. Dengan bernafsu kugoyangkan pinggulku diatas tubuhnya, bahkan aku ikut membantu kedua belah telapak tangannya meremasi toketkuku. Om Usman menonton adeganku sambil tetap berendam di tepi kolam, kadang-kadang tangannya iseng merabai pahaku. “Ayo..goyang Nes..oohh!” om Rizal sepertinya ketagihan dengan goyanganku, begitu juga om Usman, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia keluar dari kolam dan berdiri di sebelahku, kontolnya mengacung di depan mukaku. “Emut lagi Nes”, katanya sambil menjejalkan kontolnya ke mulutku. Dengan tetap bergoyang, aku juga mengisap-ngisap ****** om Usman. Saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmatiku, tiba-tiba pintu terbuka, Dina muncul, bertelanjang bulat. Dia hanya bisa melongo melihat aku sedang dikerjai berdua. Tetap dalam posisinya om Rizal menengok ke samping dan menyapa Dina, “Ayo Din, join”. Beberapa saat kemudian om Usman mencabut kontolnya dari mulutku, namun aku masih harus menyelesaikan urusanku dengan om Rizal. om Usman mendekati Dina dan menepuk pantatnya. om Rizal sibuk menggerakkan pinggulnya membalas goyanganku. 15 menit dalam posisi ‘woman on top’ sampai akhirnya tubuhku bergetar seperti menggigil lalu “Aaahh..!!” Desahan panjang keluar dari mulutku, kepalaku mendongak ke atas. Tubuhku melemas dan ambruk ke depan, ke dalam pelukannya. Dia peluk tubuhku sambil kontolnya tetap dalam nonokku, kami berdua basah kuyup oleh air kolam maupun keringat yang mengucur. “Ganti posisi yah Nes” katanya dekat telingaku. Lalu tubuhku ditelungkupkan. Aku nurut saja ketika posisiku diatur seperti merangkak. Segera kontolnya terbenam lagi dalam nonokku, dan dienjotkannya dengan cepat dan keras, kontolnya keluar masuk menggesek dinding nonokku, walaupun lemes aku merasa nikmat luar biasa. Dengan keras dia sodok-sodokan kontolnya dan toketku yang
menggantung diremas-remasnya. Suara rintihanku saling beradu dengan lenguhan om Rizal, juga dengan rintihan Dina yang sedang dientot om Usman dalam posisi telentang di dipan. Om Rizal menarik wajahku dan memagut bibirku, diciumnya aku dengan lembut. Akhirnya kembali kukeluarkan cairan hangat dari nonokku, aku nyampe lagi. Permainan itu membuatku merem-melek dan banyak menguras tenagaku, akupun ambruk dengan nafas yang kacau. Dia mencabut kontolnya yang masih ngaceng dengan kerasnya. Om Rizal menggantikan posisi om Usman yang rupanya sudah ngecret. Bener2 hebat om Rizal, gak ada matinya. Dengan penuh napsu dia mengentoti Dina yang terkapar lemes, sampai akhirnya diapun ngecret di nonok Dina.

Malemnya setelah makan, om Rizal meninggalkan kami beryiga, dia masih ada urusan yang harus diselesaikan. Om Usman tidak menyia2kan kesempatan ini, minta dilayani oleh kami berdua. Dia berbaring telanjang di ranjang. Dina segera mengocok-ngocok kontolnya perlahan. Aku berjongkok di depannya. Dina mulai memasukkan ****** om Usman ke dalam mulutnya. Kepalanya mulai bergerak naik turun. Pipinya yang sedikit menonjol disesaki ****** om Usman.
Sementara aku menciumi dan menjilati pahanya menunggu giliran. Sesaat kemudian, Dina mengeluarkan ****** om Usman dari mulutnya, dan aku langsung meraihnya dengan bernafsu. Kujilati terlebih dahulu mulai dari kepala sampai ke pangkal batangnya, dan perlahan aku mulai menghisap ****** om Usman. Om Usman menarik Dina dan menciuminya. Dinapun membalas pagutan om Usman. Ciuman dan jilatannya kemudian beralih ke pentil om Usman, sementara kontolnya masih menjejali mulutku. Segera om Usman menarik Dina kedalam pelukannya. Om Usman menjilati pentilnya. “Ahh…ssstt…” erangan nikmat keluar dari mulut Dina. Erangan ini
semakin keras terdengar saat jari om Usman mengusap-usap nonoknya.

“Sebentar ya Nes..”kata om Usman sambil mencabut kontolnya dari mulutku. Dina ditariknya sampai berbaring dan om Usman mengarahkan kontolnya ke nonok Dina. “Pelan-pelan ya om.” desah Dina perlahan. ****** om Usman mulai menerobos nonok Dina. Erangan Dina semakin
menjadi. Tangannya tampak meremas sprei ranjang. Mulutnya setengah terbuka, dan matanya terpenjam. “Ahhhh…ahhhh” desah Dina saat om Usman mulai menggenjot kontolnya keluar masuk. Dina mulai menggelinjang merasakan ****** om Usman menghunjam ke nonoknya sementara aku menonton adegan itu dengan penuh napsu. Om Usman menghentikan enjotannya dan mengganti posisi, sekarang Dina yang diatas. SKembali ****** om Usman menerobos nonok Dina. “Ahhhh….” erangnya. Dina kemudian menggoyang-goyangkan tubuhnya turun naik mengocok ****** om Usman didalam nonoknya. Om Usman meraih aku kedalam pelukannya dan mencium bibirku. Toketku diremasnya dengan gemas, pentilku mendapat giliran selanjutnya. “Sstttthhhh….sstttt” erangku saat om Usman menjilati dan dengan gemas mengisap toketku. Sementara Dina masih menggoyang-goyangkan tubuhnya. Matanya terpejam. Om Usman memilin-milin pentil Dina sementara aku menjilati pentil om Usman. “Ahhhhh……” erang Dina panjang saat dia nyampe. Tubuhnya mengejang beberapa saat, kemudian lunglai di atas tubuh om Usman. Om Usman menciumi pundak Dina beberapa saat, sebelum digulingkan kesebelahnya.

“Giliranmu Nes..” katanya. Akus langsung menghentikan hisapanku pada pentilnyau, dan dengan bergairah menggantikan posisi Dina. Aku menaiki tubuhnya dan kuarahkan ****** om Usman ke nonokku. “Ihhh..gede banget…iihhhh” desahku saat kontolnya menerobos nonokku. Dengan bernapsu aku menggoyang-goyangkan tubuhku. Toketku berguncang-guncang saat aku mengenjotkan pantatku turun naik. Terkadang om Usman menarik tubuhku agar dia bisa menghisapi pentilku. Bosan dengan posisi ini, om Usman minta aku menungging sambil memegang tepian bagian kepala ranjang. Disodokkannya kontolnya kembali ke dalam nonokku. Aku kembali mengerang. “Ihh..ihh..” desahku saat dienjot dari belakang. Dina tak berkedip
melihat aku dientot secara “doggy-style”. “Sini Din” om Usman memanggilnya. Saat dia menghampiri, langsung om Usman kembali menciumi Dina, sementara itu tangannya memegang pinggangku sambil sesekali menepuk-nepuk pantatku. “Ihh..ihh.. Ines nyampe mas.” erangku saat aku nyampe. Dia melepaskan kontolnya dari nonokku. Aku ditelentangkannya dan segera kontolnya ambles lagi dinonokku. Om Usman dengan penuh napsu mengenjotkan kontolnya dengan cepat dan keras, keluar masuk menggesek nonokku, sampai akhirnya dia menjerit keenakan. Terasa ada semburan peju hangat didalam nonokku. Diapun terkulai.
“Om mainnya hebat banget …” kata Dina sambil tersenyum. “Iya..kita berdua aja dibuat kewalahan…”sahutku sambil mengusap-usap dadanya. “Habis kalian cantik-cantik sih. Jadi nafsu nih” jawabnya. “Kita sih puas banget deh dientot om, lemes tapi nikmaat banget, ya Nes” kata Dina. “Yang gemesin ini lho..gede banget ukurannya” kataku sambil mulai mengusap-usap kontolnya. “Iya.Rahasianya apa sih om?” TKurasakan kontolnya mulai mengeras lagi, luar biasa.

“Om, buat kenang-kenangan Dina video ya..” ujar Dina tiba-tiba, sambil bangkit mengambil HPnya. “Jangan ah. Udah nggak usah” om Usman menolak. “Ah..nggak apa om. Habis kontolnya gemesin banget deh..Dina nggak ambil mukanya kok..” sahutnya. “Awas, bener ya. Jangan kelihatan mukanya lho” kata om Usman lagi. “Om berdiri di sini aja biar lebih jelas. Terus kamu isepin Nes.. Ntar gantian” kata Dina. Om Usman bangkit dan berdiri di samping ranjang. Aku
kemudian berjongkok di depannya, dan mulai menjilati kontolnya. “Rambut lkamu Nes..jangan nutupin” kata Dina sambil mulai merekam adegan itu. Om Usman membantu aku menyibakkan rambutku dan aku mulai mengulum kontolnya sambil mengelus-elus biji pelernya. Dina merekam adegan itu dengan antusias. Om Usman mengerang nikmat, sambil membantu menyibakkan rambutku. Cukup lama aku mengemut kontolnya. Sementara tampak Dina sangat terangsang melihat aku menikmati ****** om Usman. “Nes..gantian dong..” katanya beberapa saat kemudian. Hpnya diserahkan ke aku, dan gantian Dina sekarang yang berjongkok di depan om Usman. Disibakkannya rambutnya kesamping agar aku dapat merekam adegan dengan jelas. Dijilatinya perlahan seluruh ****** om Usman. Lubang kencingnya digelitik dengan lidahnya, kemudian mulutnya mulai mengulum perlahan ****** om Usman. “Jangan pakai tangan Din..” kata ku yang sedang merekam adegan itu. Dina kemudian melepas tangannya yang memegang ****** om Usman, dan ia memaju mundurkan kepalanya. Sesaat kemudian dia mengeluarkan ****** dari mulutnya dan, tetap dengan tanpa memegang ******, Dina menjilatinya sambil bergumam gemas. Kemudian dihisapnya kembali ****** om Usman dengan bernafsu. Diperlakukan seperti itu, om Usman gak tahan lagi. “Arrghh.. hampir ngecret nih..” erangnya.
“Om yang ambil ya..” kataku sambil menyerahkan hp padanya. Aku kemudian berjongkok bersama dengan Dina. ****** itu kukocok-kocoknya. Om Usman tidak tahan lagi. Sambil merekam adegan, dia ngecret membasahi muka kami. Setelah beristirahat sejenak, om Usman meminta hp Dina. Dia ingin memastikan wajahnya tidak terlihat di rekaman video yang tadi diambil. Kami mengobrol beberapa lama, sebelum beranjak pulang. Om Usman mengantarkan kami pulang. “Kapan-kapan kita maen lagi ya om”, saat mobil sampai didepan rumah. Aku turun dan mobil melaju mengantarkan Dina kerumahnya, atau entah kemana. demikianlah cerita dewasa dari seorang yang bersensasi melakukan seks di kolam renang, mungkin besok bisa juga mereka ngeseks di kolam ikan,

Teman Onani,cerita dewasa, kumpulan cerita sex,cerita sex dewasa, cerita seks dewasa,tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex,cerita kenikmatan,cerita bokep,cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi,cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep
gimana.? udah hot.? mau yang lebih hot..? klik disini

Incoming search terms:

Cerita seks di air, Cerita seks di dalam air, cerita bercinta di dlm air, Cerita ML di dalam air, www cerita ngentot di kolam renang, cerita seks dalam air, cerita seks diair, Cerita sek di air, cerita ngentot diair, cerita dewasa Seks di air, cerita seru 17 tahun dengan om dan dina, ml didalam air, ngentot di dalam kolam renang, cerita seks didalam air, seks dalam air, Cerita ml didalam kolam renang, cerita seks ML di dalam air, Cerita ml dalam air, cerita ml di air, cerita seru berenang, www cerita seks ngewe dimana, ngentot di dalam air, cerita gentot didalam air, cerita ngentot didalam kolam renang, cerita seks mamaku di entot om-om

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker