Tuesday , October 21 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Kembang Perawan IV

Kembang Perawan IV

Bab 4: Sarapan Spesial

 
Nissa

Esoknya Nisa bangun kesiangan. Hampir tengah hari saat ia membuka mata dan mendapati tubuhnya sangat letih. Faris masih nyenyak di sebelahnya—bagian bawah tubuh telanjang pria itu tertutup selimut. Ia menatapnya dengan pandangan sayang, mengenang percintaan mereka yang sangat membara malam tadi. Entah berapa kali Faris membuatnya mengalami orgasme, dan entah berapa kali pula ia memberikan Faris kepuasan yang sama dengan mulut dan jemarinya.

Nisa tersenyum geli mengingat satu peristiwa di malam tadi. Waktu itu Faris memintanya untuk naik ke atas tubuhnya dengan posisi membalik. Dengan posisi itu ia mencumbu penis Faris, sedangkan Faris mencumbui vaginanya. Faris menamainya posisi 69—sebuah nama yang sangat lucu, yang ternyata sangat mengasyikan. Tentu saja Nisa tak tahu bahwa posisi itu sangat populer belakangan ini, tapi ia memang tidak tahu apa-apa sampai ketika Faris mengajari banyak hal malam tadi.

Namun ada satu hal yang sangat Nisa sukai dari Faris, yakni ketulusan sikap pria itu dalam mencintai, dengan tetap menjaga kehormatannya meski nafsu sudah memuncak. Faris tidak memaksanya saat ia mengatakan belum siap untuk hubungan seks yang sesungguhnya. Ia ingin menyerahkannya keperawanannya di malam pengantin mereka. Faris meyakinkan bahwa semua yang mereka lakukan sejauh ini sudah lebih dari cukup. Ia juga menjelaskan bahwa untuk ukuran kehidupan remaja seusia mereka, hubungan cinta malam itu adalah suatu hubungan yang lumrah terjadi.

Padahal Nisa sendiri yakin, bahwa kalau seandainya Faris lebih memaksa dirinya, ia tidak akan bisa menolak dan dengan tulus akan menyerahkan kesuciannya. Permintaannya malam itu sebetulnya hanyalah permintaan setengah hati—Nisa sendiri tidak terlalu yakin ketika mengucapkannya. Satu sisi gelap dalam dirinya menginginkan hubungan seks melebihi keinginan Faris sendiri, Nisa tahu itu. Ia meyakininya sebagai ‘nafsu wanita’, nafsu yang pandai untuk dijaga, tapi tak akan bisa berhenti bila sudah mulai meledak.

“Aku akan sabar menunggu kesiapanmu, sayang…” Demikian Faris menegaskan.

Nisa terharu mendengar kesungguhan dari Faris. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu memberikan kebahagiaan kepada kekasihnya. Ia akan memenuhi hasrat-hasrat terpendam Faris bila pria itu menginginkannya, seperti dengan cumbuan tangan atau mulut yang spesial (ia malu sendiri saat membayangkan keliaran dirinya tadi malam saat mengoral penis Faris yang perkasa).

Dengan sedikit malas Nisa bangkit dari ranjangnya. Ia dapat melihat pakaian mereka berceceran di lantai dan tempat tidur. Terbayang ketika malam tadi ia begitu bernafsu hingga tak peduli pada apapun. Kini kesadaran telah membangunkannya, dan sedikit penyesalan menyeruak dalam hatinya. Sekali lagi ia merasa beruntung karena belum sempat melepaskan keperawanannya. Karena kini ia jadi tahu bahwa nafsunya tetap dapat disalurkan meski tanpa hubungan itu.

Nisa agak malas untuk mengenakan kembali pakaian aslinya. Lebih baik sekalian saja saat tubuhnya sudah bersih. Ia menggulung rambutnya yang kusut masai dan menjepitnya, lalu mencari pakaian di dalam lemari Faris. Di sana ia menemukan sebuah kaus longgar yang, ketika ia kenakan, panjangnya hampir mencapai lutut. Ia jadi ingat bahwa situasi seperti ini mirip sebuah adegan di dalam film. Ia tersenyum geli. Membiarkan dirinya mengenakan kaus itu tanpa apapun lagi di dalamnya.

Turun dari tangga dan menyiapkan sarapan, Nisa merasa dirinya seperti nyonya rumah, atau istri pengantin baru, setidaknya seperti yang sering ia saksikan di televisi. Setelah cuci muka dan menyikat gigi. ia menyiapkan nasi goreng dan secangkir kopi untuk kekasihnya. Ia sendiri merasa cukup dengan segelas susu hangat, lalu menatanya di atas meja makan.

Faris sudah bangun ketika ia menata meja. Pria itu hanya mengenakan celana pendek putih ketat hingga tonjolannya terlihat jelas. Nisa tersenyum manis saat tubuhnya dipeluk dari belakang. Rasa geli menyeruak ketika Faris mencium pipi dan lehernya yang terbuka, serta menggelinjang pelan saat tangan pria itu menyentuh pangkal pahanya. Faris berdecak karena Nisa tidak mengenakan apa-apa lagi di balik kausnya. Perlu perjuangan untuk melepaskan diri dari cumbuan lelaki itu, karena tiba-tiba saja sentuhan mesra itu berubah jadi sedikit liar.

“Mmmh… Udah, ah! Kita sarapan dulu! Udah siang, nih!”

“Ini juga lagi sarapan!” Faris tetap bertahan dan bahkan mulai meremas buah dada Nisa. Sedangkan sentuhan di pangkal paha gadis itu mulai berubah jadi remasan, hingga mau tak mau Nisa menggelinjang-gelinjang keenakan. Tubuhnya terangsang lagi. Ia mengernyit berusaha menahan rasa, sambil berpikir untuk menaklukan serangan itu.

Ide nakal muncul dalam benaknya saat ia merasakan tekanan di bagian pantatnya. Tanpa pikir panjang tangannya bergerak ke belakang, lalu menarik pantat Faris agar tubuh mereka lebih merapat lagi. Setelah itu ia menggerakkan tubuhnya naik turun dengan pantat yang sedikit lebih menekan.

“Ohh.. Nisa…” Situasi berubah dan Faris mulai kelabakan. Konsentrasinya pecah hingga serangan tangannya mulai mengendur. Nisa sendiri merasa geli oleh tekanan kuat di pantatnya. Tapi ia bertekad mengalahkan Faris pagi ini hingga pantatnya bergerak makin erotis. Membiarkan Faris setengah gila akibat cumbuannya yang agak nakal.

Setelah beberapa saat yang melenakan, Nisa mulai melepaskan diri dan membalik ke hadapan Faris. Bukannya berhenti, ia malah duduk berlutut dan memelorotkan celana pria itu. Disiram serta dibersihkannya kemaluan Faris dengan air putih di meja makan. Cucurannya ia biarkan tumpah membasahi kausnya sendiri. Setelah diseka dengan tisu, Nisa mulai menggenggam penis itu dan mengocoknya perlahan-lahan.

“Ssshhh… Ohhh…”

Faris mengerang hebat. Tapi Nisa tak peduli. Entah bagaimana ide nakal semacam itu bisa muncul dalam benaknya. Malam tadi ia masih takut dengan benda di hadapannya. Tapi kini ia telah mulai mengenalnya dengan baik, hingga mendapati dirinya ternyata sangat menyukainya. Kocokan tangan saja menjadi tidak cukup. Kepala penis yang bulat bagai helm tentara itu ia jilat perlahan-lahan, lalu mulai dilahap dengan ekspresi penuh kerinduan.

Ia telah melakukan hal semacam ini malam tadi. Awalnya terasa aneh dan menggelikan—mungkin karena baru pertama kali mencobanya. Tapi lama kelamaan ia menyukainya dan seolah ketagihan. Benda itu begitu panjang dan besar, hingga ia harus membuka mulutnya agak lebar saat ingin melahap semuanya. Nafasnya terengah-engah saat mulutnya bergerak maju mundur, sedang tangannya mempermainkan buah dzakar yang munurutnya sangat lucu itu.

Entah berapa lama ia melakukan semuanya. Yang jelas Faris makin mengerang hebat ketika sesuatu mendesaknya untuk keluar. Nisa segera berusaha mencabut mulutnya karena tahu cairan itu akan menyembur sesaat lagi. Tadi malam ia kaget karena mengiranya air kencing. Tapi Faris tak mau ia melepaskan mulutnya begitu saja, hingga ketika orgasme melanda lelaki itu, cairan sperma menyembur ke dalam mulut Nisa. Gadis itu menahan nafas agar tidak tersedak, dan mendapati cairan lengket memenuhi mulutnya.

Nisa bangkit dengan sperma mengalir di sela-sela bibir bawahnya. Ia mengernyit karena rasa anyir yang aneh dan tidak enak. Tapi Faris mendorong sperma itu dengan telunjuknya agar masuk kembali.

“Jangan dimuntahkan, sayang! Itu sehat, lho! Banyak proteinnya. Punyamu juga suka aku habiskan!”

Nisa tentu saja tahu bahwa Faris sangat bernafsu dengan cairan lendir miliknya. Tapi, jujur saja, sperma itu rasanya tidak enak. Ia menelannya dengan susah payah hanya demi menyenangkan hati Faris. Pria itu malah menertawakan dirinya karena wajahnya mengernyit aneh.

“Nggak enak, tahu! Kayak telur mentah.”

Untunglah segelas susu menetralkan semuanya hingga kesegarannya kembali pulih. Ia menemani Faris sarapan dan mendapatkan pujian dari sang kekasih. Satu hal yang baru ia temui dari Faris pagi ini, satu hal yang berbeda dari Faris yang biasanya. Faris kini terkesan lebih luwes dan seperti telah biasa melakukan hal semacam ini. Lelaki itu bahkan makan dengan tubuh telanjang. Tapi Nisa menepis perasaannya mengingat ia sendiri kini hanya mengenakan kaus basah.

Baru saja Faris menghabiskan kopinya ketika berkata pada Nisa, “Kok aku masih lapar, ya?”

“Mau Nisa buatin lagi?”

“Nggak usah. Biar aku bikin sendiri. Kamu duduk aja.”

Faris bergegas pergi ke belakang, sementara ia duduk dan menunggu. Pria itu kembali dengan membawa mentega dan susu bubuk. Nisa keheranan melihat Faris senyum-senyum sendiri. Ia tak merasa curiga sedikitpun. Mungkin Faris ingin membuat roti oles mentega. Tapi rupanya Faris memiliki rencananya sendiri, karena tiba-tiba saja Faris menarik lalu menggendong tubuhnya.

“Awww… Kamu mau apa, Faris? Lepaskan Nisa…!”

Nisa berusaha melepaskan diri, tapi Faris tak peduli. Lelaki itu hanya berseru ‘Lihat saja! Lihat saja!’ sambil membaringkan tubuh gadisnya di atas meja makan. Nisa merasa penasaran hingga membiarkan dirinya diperlakukan sedemikian rupa. Tadinya ia berpikir bahwa ia telah menang. Tapi rupanya ia terlalu cepat menduga, karena kini Faris melakukan hal yang lebih gila dari dirinya. Sebetulnya Nisa setengah membayangkan apa yang akan Faris lakukan terhadapnya. Tapi ia lebih suka membuktikannya secara langsung, karena Faris ternyata pintar dalam hal-hal semacam ini. Ia sudah merasakannya dengan hubungan mereka semalam suntuk.

Apa yang Nisa pikirkan kini nyata terbukti. Faris meyingkapkan kausnya hingga ke atas dan membuat semuanya terpampang jelas. Lalu tanpa basa-basi pria itu menyiraminya dengan air dari teko. Digosok-gosoknya tubuh telanjang itu untuk membuang sisa keringat serta lendir yang mongering. Faris melakukannya dengan sangat lembut dan telaten, hingga Nisa terbuai dan terlena dibuatnya. Apalagi ketika Faris menggosok-gosok vaginanya. Rasa dingin air teko berpadu dengan sentuhan hangat tangan Faris. Tubuhnya terasa bersih dan segar ketika Faris mengeringkannya dengan handuk tebal.

“Fuihh… Daging telah dibersihkan. Kini siap untuk disantap!”

Nisa tertawa geli mendengar perumpamaan yang lucu itu. Bagaimana mungkin Faris menyebutnya gumpalan daging yang siap disantap? Tapi rupanya memang itu yang terjadi, karena Faris kini telah mengambil mentega dan menuangkannya ke atas perutnya. Nisa terlonjak kaget. Mentega itu Faris oleskan dengan merata seperti mengoleskan krim untuk kulit. Nisa melihat tubuh bagian atasnya kini berlumur mentega kuning, dari dada menuju perut hingga ke pangkal pahanya. Faris bahkan mengoleskan mentega itu ke atas vaginanya juga, serta sedikit menyelipkannya di sela-sela lubangnya yang masih rapat.

Gila! Faris benar-benar telah gila! Nisa menemukan dirinya kini benar-benar jadi hidangan untuk sarapan pagi Faris. Tubuhnya yang telah berlumur mentega itu kini ditaburi lagi dengan susu dan cokelat tabur, hingga seluruh kulitnya terasa lengket dan agak licin.

“Yummi…! Saatnya sarapan…”

“Faris… Kamu nakal…”

Nisa telah pasrah seutuhnya dan diam saja menerima perlakuan dari Faris. Ia biarkan tubuhnya dijilati kekasihnya penuh nafsu, sembari menahan rasa geli yang merayapi. Mau tak mau ia mulai merintih juga. Terlebih ketika puting susunya yang dipenuhi taburan coklat dicucup dan dihisap dengan serakah. Ia mengerang-erang keenakan. Ini adalah sensasi tergila sejauh yang pernah ia alami. Buah dadanya serasa membengkak akibat dihisapi tanpa henti, sementara Faris tak mau membiarkan ada sisa mentega yang melekat di atas sana.

Tapi sensasi ternikmat tentu saja adalah saat jilatan lidah Faris makin menuju ke pangkal paha. Faris duduk santai di atas kursi, sementara dirinya telentang pasrah di atas meja makan. Kakinya dikangkangkan lebar-lebar, sehingga Faris dapat leluasa melakukan semua yang diiginginkan.

Faris menarik kaki Nisa agar lebih mendekat lagi. Kedua paha Nisa disampirkan di atas bahunya hingga kaki gadis itu kini menjuntai ke arah punggung. Dengan posisi seperti ini keduanya telah siap untuk apapun, dan Nisa menjerit panjang saat jilatan lidah Faris menyapu hangat bibir vaginanya.

“Mmmmhh… Mamaa… Ssshhh… Ohhhh…”

Lidah Faris terasa hangat dan menggelikan. Setiap sapuan membuat tubuhnya menggelinjang. Dan kecipak-kecipuk terdengar jelas saat Faris makin buas mencumbui keperawanannya.

Klitoris adalah bagian yang paling sensitif dari tubuh wanita. Dan siapapun akan gila jika klitorisnya dicumbu dengan gaya penuh nafsu. Rupanya Faris telah memahami ilmu tersebut, karena Nisa merasakan Faris terus saja mencumbui bagian klitorisnya. Seakan tak peduli bila ia menderita akibat rangsangan yang dahsyat itu.

Untunglah rumah ini sedang sepi. Nisa merasa bisa menjerit-jerit sepuasnya, karena hanya dengan cara itulah ia dapat mengekspresikan gairah nafsu yang melandanya laksana badai. Di sekolah pada jam seperti ini ia mungkin sedang mengantuk menghadapi jam terakhir pelajaran. Apalagi ini hari selasa. Pengisinya adalah guru yang sangat jago matematika tapi sudah separu baya serta mulai setengah tuli. Terbayang penderitaan selama dua jam pelajaran menghadapi guru seperti itu hanya untuk menghitung angka-angka.

Nisa berusaha bangun untuk melihat sendiri cara Faris mencumbui klitorisnya. Ia mengernyitkan wajah sembari mengerang-erang, karena menyaksikan Faris menghisap klitorisnya kuat-kuat. Ia menjulurkan tangan untuk membelai kepala Faris. Lelaki itu melepaskan cumbuannya dan menatapnya sembari tersenyum. Ia balas tersenyum. Ekspresi wajahnya cukup menjelaskan bahwa ia sangat menginginkannya. Dan Faris yang sangat memahami itu kembali lagi pada tugasnya.

Orgasme Nisa kali ini terasa dahsyat dan beruntun. Tubuh gadis itu mengejang hebat dan tanpa sadar pahanya menjepit kepala Faris kuat-kuat. Letupannya sangat indah dan berwarna laksana pelangi. Sesudahnya Nisa terempas kembali ke atas meja, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Rasanya seperti mimpi, mengingat beberapa hari yang lalu hal semacam ini tak pernah terpikirkan sedikitpun dalam benaknya. Hanya dalam semalam ia telah berubah drastis. Dan bila mengingat beberapa saat yang lalu ia masih seorang gadis yang lugu dan pemalu, maka kini ia merasa sangat nakal dan (entah mengapa ia mulai merasa) murahan.

Tapi, bagaimanapun, ia sangat menikmatinya…

Incoming search terms:

Cerita seks nisa, cerita dewasa nisa, cerita faris dan nisa, cerita seks nisa dan faris, cerita dewasa faris, bercinta dengan nisa, cerita dewasa faris dan nisa, cerita dewasa dengan nisa, www cerita panas ngentot pengantin baru perawan com, cerita seks malam perawan, cerita jilbab nissa, faris dan nisa, Cerita ngentot perawan dimalam pengantin, Cerita ml pengantin nissa 5, Cerita ngentot senyum pengantin, cerita pengantin baru perawan, cerita ngentot dengan 4 gadis perawan, cerita menyerahkan keperawanan, cerita seks 17 yang perawan, Cerita dewasa kembang, cerita pengantin baru gadis perawan, Cerita Ngentot 4 perawan, cerita nyata kembang perawan, cerita cewek perawan yang ingin ngentot, cerita real ngentot pengantin baru cewek perawan berjilbab

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker