Saturday , October 25 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / The Story of Ira 01

The Story of Ira 01

Ceritanya dimulai ketika empat bulan yang lalu aku berkenalan dengan seorang ibu rumah tangga muda berumur sekitar 28 tahun dan usia perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikarunia anak. Namanya adalah Ira (nama samaran), cantik, berkulit putih dengan ukuran badan yang ideal sesuai dengan tingginya.

Dari pertemuan pertama sampai pertemuan yang keempat kalinya, semuanya masih berjalan dalam batas-batas yang wajar, hanya sekali-kali aku memberanikan diri untuk membuka topik pembicaraan yang mengarah kepada hal-hal yang berbau seks. Pada pertemuan yang keenam, aku mengundang Ira apakah Ira bersedia untuk makan siang di tempat yang santai dan hanya kita berdua saja. “Kenapa harus di tempat khusus?” tanya Ira. “Hanya untuk keamanan masing-masing pihak mengingat status diri masing-masing agar tidak membawa masalah pada urusan rumah-tangga masing-masing”, jawabku. Ira mengerti dan mengatkan oke. Pendek cerita akhirnya kita berdua check-in di motel “HS” di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah motel yang lux dengan fasilitas “whirpool” di dalam kamar.

Habis menyantap makan siang, kita berdua bercerita kesana-kemari dengan iringan sentuhan-sentuhan kecil yang sengaja kulakukan dimana ternyata Ira kelihatan merasa tidak keberatan dengan apa yang kulakukan. Kemudian kumulai membelai tengkuknya dan menyentuh bagian belakang daun kupingnya dengan sentuhan-sentuhan yang lembut. Ternyata Ira menikmatinya dengan memejamkan mata dan terdengar lirihan kecil dari bibirnya. Kupalingkan wajah Ira menghadap mukaku, dagunya kuangkat sedikit sehingga bibirnya tepat berhadapan dengan bibirku, dengan lembut kukecup bibirnya, sekejap Ira tersentak kaget, tapi aku terus mengulum bibirnya dan mulai memainkan lidahku. Desah nafas Ira mulai meninggi, dan dia mulai membalas ciumanku. Cukup lama kami menikmati adegan ciuman ini, desah nafas Ira semakin tidak teratur ketika tanganku mulai membuka kancing bajunya satu-persatu dan meraba buah dadanya dengan sentuhan halus pada pangkal bukit buah dadanya. Ira mulai menggelinjang, nafasnya berat tak beraturan, tanganku semakin menggila meremas dan memilin puting buah dadanya. Terlepas sudah baju atas Ira, dan dengan mudah kutanggalkan BH-nya. Sepasang bukit indah dengan puting yang berdiri tegak tampak di hadapanku, tak kuasa aku untuk tidak menjilat dan mengisapnya. Oh, ternyata buah dada Ira adalah salah satu bagian daerah sensitifnya. Penisku tegang sekali, tetapi aku berusaha untuk tetap memegang kendali “permainan” ini. Rok mini Ira telah kutanggalkan, hanya tinggal CD warna pink yang tersisa di tubuhnya. Tanganku mulai menyelinap ke balik CD Ira, dan ternyata vaginanya telah membasah, dengan pasti tanganku yang sudah terlatih memainkan clit Ira, kupilin-pilin dan kugosok-gosok dengan ujung jariku. Ira meronta liar, dan erangan luapan rasa nikmatnya keluar tanpa sadarnya dengan keras sekali, namun seketika itu juga Ira mencoba menahannya dengan menutupkan bantal di mukanya.

Dari pengalamanku bercinta dengan wanita aku mengetahui bahwa Ira adalah jenis wanita yang suka dengan lepas bebas mengeluarkan rasa nikmatnya sewaktu melakukan hubungan seks.

“Ira, jangan kamu tutupi mukamu dengan bantal, Mas Herman tahu bahwa kamu menyukai hal ini, keluarkan rasa nikmatmu dengan bebas dan lepas”, kataku.
“Ira malu, malu sekali”, jawabnya.
Aku tidak memberikan komentar, malah dengan agresifnya kujilat puting buah dadanya dan aku melihat Ira menahan rasa gairahnya dengan mencengkram keras alas tempat tidur. Kutelusuri ketelanjangannya dengan lidahku, mulai dari bagian buah dada dan berhenti pada pangkal vaginanya. Ira meronta dan berusaha untuk tidak mengeluarkan erangan kenikmatannya dengan cara mengelinjang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tapi meskipun tidak sekeras yang pertama, pada akhirnya Ira mengerang juga sambil berkata, “Oooh its so nice, Mas Herman.”

Posisi bibirku masih berada di sekitar pangkal vaginanya, kumainkan lidahku menjilati pangkal vagina Ira, menurun mendekati clit, dan akhirnya kujilat dan kuhisap dengan buasnya clit Ira tanpa henti. “Oh Mas Herman, please fuck me”, Ira memohon, tetapi aku tetap saja melanjutkan mempermainkan clit Ira dengan ujung lidahku. Dengan kematanganku mencumbu wanita, meskipun penisku sudah begitu tegang, aku masih tetap berusaha untuk menguasai diriku agar tidak cepat-cepat terangsang untuk dengan segera menyetubuhi Ira. Aku ingin agar Ira benar-benar merasakan bahwa bermain cinta dengan lelaki yang jauh lebih tua dari dirinya ternyata memberikan kenikmatan yang lebih, khususnya kalau dia membandingkan kemahiranku di dalam soal seks dengan suaminya yang umurnya hanya selisih dua tahun saja dengan dirinya.

“Mas Hermann.., cepat masuki saya, saya sudah tidak kuat lagi”, Ira merintih lagi. Pada kali ini aku dengan sigap memasukkan penisku kedalam vaginanya.
“Ohh..”, Ira melepaskan rintihan rasa nikmatnya ketika penisku mulai memasuki vaginanya. Aku mulai menggoyangnya, dan kulihat Ira terus merintih kecil sambil memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang kuberikan. Berbagai macam gaya telah kuberikan untuk memuaskan Ira, tetapi Ira belum juga mencapai orgasme, sehingga aku merasakan bahwa Ira mulai merasa keletihan demikian pula diriku, sehingga aku mengajaknya untuk beristirahat sebentar. Pada kesempatan istirahat tersebut aku bertanya,
“Ir, kamu kok sedemikian lama masih juga belum orgasme, apakah Mas Herman tidak memuaskan kamu?” Ira hanya menjawab,
“Mas Her, kamu hebat sekali.”
“Tetapi, pada kenyataannya kamu belum orgasme, please jangan basa-basi Ir.. what’s wrong?” kataku. Sejenak Ira diam saja,
“What’s wrong Ira, please tell me!” pintaku. Akhirnya Ira bercerita padaku,
“Mas Her, Ira juga tidak tahu mengapa bahwa setiap kali Ira making love dengan suamiku, Ira belum pernah sekalipun mencapai orgasme, padahal dia cukup telaten merangsang Ira. Yang Ira sering lakukan hanyalah melakukan pura-pura orgasme untuk memuaskan suami Ira”, tuturnya.
“Apakah suami kamu termasuk laki yang cepat ‘keluar’”, tanyaku.
“Kalau dibandingkan Mas Herman, dia kalah lama, tapi 10-15 menit dia bisa bertahan”, katanya. Kalau melihat begitu “liar”-nya Ira di tempat tidur kurasa waktu fucking 10-15 menit akan cukup membuat Ira orgasme beberapa kali, tapi pada kenyataannya Ira malah belum pernah orgasme sekalipun selama dia making love sama suaminya. Kupikir musti ada yang salah pada dirinya atau dia menyembunyikan sesuatu yang sangat mempengaruhi pikirannya sehingga setiap kali dia making love pikiran itu mengganggunya.
“Ir, don’t be upset ya, Mas Herman mau Ira menjawab dengan jujur pertanyaan Mas ini. Apakah Ira sewaktu married masih dalam keadaan virgin atau tidak?” tanyaku. Sejenak dia hanya terdiam.
“Oke Mas, I will tell you the whole story of mine.. but please keep it for Mas Herman only”, katanya.
“You can trust me Ira, carry on.. I’m listening”, kataku.
“Mas Herman, Ira sewaktu married memang sudah tidak virgin lagi, dan Ira cerita sama calon suami Ira sekitar 3 bulan sebelum married. Dia tetap mau menikahi Ira, karena dia mengatakan bahwa dia mencintai diri Ira secara keseluruhan, bukan hanya virginitas Ira saja. At that time I was so happy.. even dia sudah tahu bahwa Ira bukan virgin lagi tetap selama pacaran dia hanya melakukan seks sebatas peting and necking saja sama Ira, no more than that. Dia berkata bahwa dia belum pernah sekalipun making love dan hanya mau melakukannya dengan Ira kalau kita berdua sudah married. Ira benar-benar merasa tersanjung dan makin mencintai dia. Tapi setelah kita married, seperti yang pernah Ira katakan, setiap kali making love Ira tidak pernah bisa orgasme. Hanya sampai pada tingkat gairah dan rangsangan yang luar biasa saja, setiap kali rasanya mau orgasme ada sesuatu yang menekan dan menggangu pikiran Ira”, tuturnya.
“Ir, Mas Herman sekarang ingin dengar cerita Ira sewaktu kamu kehilangan keperawananmu”, kataku.
“Mas, Ira diperawanin pada waktu Ira berumur 17 tahun kelas 2 SMU, pada waktu itu Ira punya pacar berumur 22 tahun, anak ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta. Kejadiannya sewaktu Ira telah selesai berenang di rumahnya, Ira berganti pakaian di kamarnya dan setelah itu Ira diajak nonton LD cerita porno. Ira suka filmnya dan tanpa terasa Ira sangat terangsang dengan setiap adegan yang Ira lihat di film tersebut. Mas Dodi (nama samaran) my boy friend, kelihatannya sudah agak biasa dengan film-film seperti itu, sehingga dia kerjanya hanya godain Ira sambil ketawa-ketawa.
“Ir, kamu suka ya adegan film itu?”, katanya. Dan Ira hanya senyum saja karena asyik nonton adegan-adegan yang belum pernah sebelumnya Ira lihat. Tiba-tiba dari belakang Mas Dodi memeluk Ira dan langsung mencium Ira, ganas sekali, tetapi Ira tidak menolaknya. Ciuman Mas Dodi luar biasa sekali, lama dia menciumi Ira dan Ira pun membalas ciumannya dengan tidak kalah ganasnya. Mungkin akibat dari adegan film yang Ira lihat sebelumnya. Tangan Mas Dodi mulai melepaskan kancing atas baju Ira dan dengan sedikit kasar dia melepaskan pula BH Ira.

Kali itulah pertama kali Ira telanjang dada di depan Mas Dodi, tapi rasa malu sudah kalah dengan kenikmatan ciuman Mas Dodi di sekitar buah dada Ira, Mas Dodi memilin dan menjilati puting buah dada Ira, lama sekali, dan Ira berteriak tanpa sadar karena merasa nikmat sekali dengan apa yang dilakukan oleh Mas Dodi tersebut. “Ir, kamu boleh teriak sekuat mungkin kalau kamu merasa nikmat, Mas Dodi sangat terangsang dengan erangan dan jeritan kamu”, katanya. Celana jeans Ira, sudah Mas Dodi lepaskan, dan dengan kasar dia lepaskan CD Ira, dan paha Ira dilebarkannya. Makin keras teriakan Ira, Mas Dodi semakin ganas melalap clit Ira. Ira tidak tahan lagi dan Ira berteriak keras ketika mencapai orgasme yang pertama. “Ir.. lihat ini”, ternyata Dodi memperlihatkan penisnya yang sudah begitu tegang, dan Ira disuruh untuk menyentuhnya. Selama pacaran terus terang Ira baru kali itu memegang langsung penis Mas Dodi, biasanya hanya sebatas dari luar celananya saja. “Sekarang kamu jilat seperti di film yang kamu lihat tadi”, pintanya. Ira sempat tertegun, tapi penis Mas Dodi sudah begitu dekat dengan mulut Ira. Hari itu Ira mulai belajar menghisap penis yang ternyata nikmat dan sangat merangsang sekali buat Ira. Pada posisi 69, Ira benar-benar sudah merasa “terbang” begitu nikmat dan nikmat sekali rasanya vagina kalau dijilati. Ira sampai nggak sadar teriak “Oooh Mas Dodi.. jilatan kamu nikmat sekali.”

Mas Dodi mengubah posisi 69-nya, penisnya berada di atas vagina Ira. Ira takut, takut disetubuhi dan takut kehilangan perawan Ira. “Mas Dod, jangan dimasukin ya, ingat Ira masih perawan”, pinta Ira. Mas Dodi menurunkan penisnya dan ujungnya digesek-gesekan ke clit Ira. Ira mengerang keras sekali akibat sentuhan penis Dodi pada clit Ira. “Ternyata kamu suka Ir, jawab dong kamu suka atau tidak, jawab!” kata Mas Dodi. “Mas Dodi tidak dengar jawaban kamu, yang keras jawab! kamu suka atau tidak?” sekali lagi Mas Dodi bertanya dengan nada yang lebih keras. “Ira sukaa sekali Mas Dodi..” teriak Ira keras tanpa sadar. “Bilang dan teriak terus kamu suka”, pintanya. Dan Ira tanpa sadar terus berteriak kenikmatan mengikuti permintaannya, yang pada akhirnya, Ira berteriak sangat keras karena penis Mas Dodi secara tiba-tiba menusuk vagina Ira, jeritan Ira semakin keras, “aachh sakiitt.. Mas”, tapi dengan jeritan itu penis Mas Dodi malah makin dalam saja masuk ke vagina Ira. Penis Mas Dodi masuk semuanya ke vagina Ira, Ira berontak sambil berteriak. Tapi Mas Dodi malah makin terangsang dengan teriakan dan jeritan Ira. Rasa pedih di vagina masih tetap terasa, tapi ritme keluar masuk penis Mas Dodi di vagina Ira secara perlahan mulai menggantikan kepedihan tersebut dengan rasa nikmat yang luar biasa sekali, sehingga tanpa sadar Ira teriak “Mas Dodi keep fucking me.. don’t stop it, I really like it.” Ira terus mengerang dan menjerit merasakan kenikmatan yang diberikan Mas Dodi, yang sampai akhirnya Ira menjerit keras karena orgasme yang luar biasa nikmatnya. Mas Dodi memperlambat gerakannya, lambat tapi tidak berhenti sampai pada akhirnya dia berteriak, “Ir, aku mau keluar, please hisap penisku karena aku tidak mau membuat kamu hamil”, pintanya. Tanpa ragu Ira menghisap habis penis Mas Dodi sampai penisnya mengeluarkan dengan derasnya air mani Mas Dodi. Ira tidak ada pilihan lain selain menelan seluruh air mani Dodi tersebut. Terlihat bercak noda merah sebagai bukti bahwa pada hari itu Ira diperawanin oleh Mas Dodi dan pada hari itu juga Ira menerima pelajaran pertama menghisap penis dan juga menelan air mani. “Ir, kamu nyesel nggak?” Ira hanya bisa berkata, “Mas Dodi sudah ambil perawan Ira, tapi Ira nggak nyesel asal Mas Dodi jangan ninggalin Ira ya”, Mas Dodi memeluk Ira, tanpa kata-kata, tapi Ira tahu arti pelukannya itu.

Setelah Ira selesai menceritakan bagaimana dia di perawanin oleh Mas Dodi, sang kekasih, Ira terdiam sambil memejamkan matanya. Aku sendiri sengaja mendiamkannya untuk beberapa saat. Dari kaca yang terpasang di atas tempat tidur kulihat, dalam keadaan masih telanjang, begitu putih dan indah bentuk tubuh Ira dengan bentuk buah dada yang masih kencang. Tanpa sadar aku membayangkan diriku sendiri sebagai Mas Dodi, dan terbayang di dalam benakku bagaimana seru dan nikmatnya bersenggama seorang gadis perawan yang masih berumur 17 tahun. Lamunan tersebut membuat penisku mulai bangkit kembali dan tanganku tanpa dapat ditahan lagi sudah mendarat di buah dada Ira.

Bersambung ke bagian 02

Incoming search terms:

membalas perselingkuhan mas dodi, aku istri ngentot dengan teman priaku, cerita panas akibat martubasi aku disetubuhi dodi, cerita seks jilbab ira

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker