Thursday , April 24 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Tak Ada Rotan, Akarpun Jadi

Tak Ada Rotan, Akarpun Jadi

Fitri adalah seorang gadis berjilbab yang manis dan enerjik. Kulitnya sawo matang tapi begitu menggoda. Bibirnya tebal dan terkesan terliaht begitu seksi, ia cerewet suaranya lantang ketika berbicara. Kali ini akan kuceritakan pengalamanku bersama Fitri yang begitu menggemaskan.

Fitri
Sore itu sehabis perkuliahan berakhir aku langsung pulang ke kostan. Kostanku adalah sebuah rumah yang diisi oleh beberapa orang lelaki. Sore hari biasanya banyak orang yang berkunjung ke kostanku entah itu mahasiswa/i aku sih senang karena kostan tidak pernah sepi. Cuaca sore itu terlihat tidak begitu baik, awan gelap menyelimuti bumi. Padahal waktu masih menunjuka pukul 05.00 sore. Sesampainya di kostan aku langsung menuju kamarku, aku kira tidak ada siapa-siapa didalam. Ternyata da Fitri yang sedang terdiam di ruang tengah. Fitri tersenyum ke arahku sambil bertanya sesuatu
“Baru pulang kuliah ya? Aku langsung menjawab ia tanpa menunggu lama aku langsung bertanya kembali kepadanya “Kamu sendiri lagi apa disini?” Fitri menjawab “Lagi nunggu temen tapi belum datang juga”
Aku langsung melanjutkan obrolan bersama Fitri tanpa terasa hari semakin sore, namun belum ada seorangpun yang datang. Fitri tidak sedikitpun menunjukan kekhawatiran akan sore yang menjelang malam. Sore itu Fitri begitu cantik dengan balutan busana putih dan rok coklat ditambah balutan kerudung biru yang ia kenakan. Badanku terasa dipenuhi oleh keringat cuaca memang tidak panas. Tapi ingin rasanya aku mandi dan membersihkan diri supaya teras segar. Fitri mencuri curi pandang ke arahku aku hanya bisa tersenyum kepadanya. Ia bertanya, kamu ga mandi? Ini udah sore lo, mendengar itu aku langsung bergegas pergi ke kamar mandi. Di kamar mandi wajah cantik Fitri langsung terbayang olehku. Ingin rasanya mencium bibirnya yang tebal, kemudian meremas buah dadanya yang kenyal. Secara spontan penisku berdiri tegak. Penisku berukuran besar dengan panjang 17cm, apa jadinya kalau penisku diemut oleh Fitri.
Selesai mandi bedanku teras segar. Aku masih melihat Fitri di ruang tengah, aku kira dia sudah pergi. Aku masih belum berpakaian tubuhku memang athletis dengan perut sick pack karena aku rajin berolahraga. Dengan dililit sebuah handuk biru aku menuju kamarku. Penisku masih saja tegang, padahal tidak ada pancingan. Aku berfikir kenapa aku tidak mendekati Ffitri dalam keadaan seperti ini. Aku langsung menuju ke ruang tengah untuk bertemu dengan Fitri dalam keadaan badan dililit oleh handuk. Dri kejauhan Fitri melihatku, sepertinya ia agak kaget melihatku dalam keadaan telanjang setengah badan. Namun ia mencoba menyembunyikan rasa malunya
“Udah mandinya?” Fitri bertanya kepadaku aku menjawab “Udah dong kan kamu yang nyuruh aku buat mandi. Kamu sendiri kenapa belum mandi” Fitri menjawab “nanti pas udah sampe kostan baru aku mandi” Ketika dekat dengan Fitri penisku semakin tegang, sehingga terlihat menonjol keluar dari balik handukku. Obrolan berlanjut aku sejenak berdiri untuk membetulkan posisi handuk yang mulai melorot kebawah. Tanpa di sengaja handuk yang aku pakai terjatuh kebawah sehingga penisku yang sudah tegang dari tadi terlihat di hadapan muka Fitri. Ffitri menjerti kecil, ia seakan tidak percaya sedang melihat seorang cowok yang telanjang di hadapannya. Mukanya mendadak merah dan Fitri mendadak salah tingkah. Matanya ditutup tangannya sambil sedikit mengintip kearah penisku yang besar dan panjang. Handuk kembali aku pakai dan aku meminta maaf kepada Fitri atas kejadian ini. Fitri memutuskan untuk kembali ke kostan karena hari semakin malam, sebelum pulang ia berpamitan kepadaku.
Selesai berpakaian aku memikirkan kembali kejadian tadi. Apa jadinya kalau aku bertemu kembali dengan Fitri pasti malu sekali rasanya. Tiba tiba handphoneku berbunyi, aku langsung mengambilnya dan itu isinya sebuah SMS yang datang dari Zahra teman dekat Fitri. Ia bercerita tentang kejadian tadi, malu rasanya sampai Zahra juga tahu. Di akhir SMS Zahra berkata “kapan kapan aku mau dong lihat penis kamu yang gede hihihihi” Aku langsung membalasnya “Boleh asal gantian aja, aku liatin punyaku. Kamu juga liatin punyamu ke aku” Kemudian Zahra membalas lagi “Aku tunggu kamu ya di kostan nanti kita bisa sama sama liat punyaku dan punyamu” dan aku balas SMS itu “Ok deh, nanti aku main kesana tunggu aja ya” Sebagai teman dekat Fitri Zahra memang berbeda kulitnya putih, tubuhnya tinggi semampai dengan rambut yang diponi. Bibirnya tipis merah merekah dan dadanya bulat diperkirakan ukurannya 36B. Zahra kadang berkerudung dan kadang tidak. Ia sering memakai tanktop seksi dengan celana hotpant yang teramat pendek di kamar kostnya.
 Zahra
Tiga hari sehabis kejadian itu aku berencana untuk berkunjung ke kostan Zahra yang juga jadi tempat kostnya Fitri. Sore hari aku langsung menuju kesana dengan menggunakan motor. Suasana kost disana pada sore hari memang ramai dengan anak kost perempuan dan pedagang yang mampir kesana. Kamar Zahra terletak dipojok lantai dua. Aku berharap Fitri tidak ada disana, aku tidak memberikan kabar kepada Zahra tentang kehadiranku. Sesampainya di kostan aku langsung masuk ke kamar Zahra. Sore itu hanya ada Zahra dan Fitri tidak ada di tempat entah kemana perginya. Zahra sedikit kaget ketika mengetahui kedatanganku, sore itu ia mengenakan jilbab berwarna pink dengan pakaian ketat sehingga lekuk tubuhnya tercetak dengan indah. Sungguh menggoda. Zahra menyapaku “Hai tumben datang kesini gak bilang bilang. Pasti kamu udah gak sabar pengin ketemu aku” dalam hati aku berkata, Zahra nakal juga nih “Iya aku kangen banget sama kamu ra” ungkapku Zahra langsung mendekatiku dan mencium bibirku, kami berciuman dengan penuh nafsu lidahnya bermain dengan lidahku. Aku dan Zahra berciuman cukup lama betapa nikmatnya bibir Zahra yang tipis, tangan Zahra langsung menunju ke arah celanaku. Diusapnya penisku yang sudah tegang dari luar Zahra sungguh bernafsu sekali. Aku langsung membuka celanaku dan mencuatlah penisku yang besar. Kini Zahra bisa melihat langsung penisku, wajahnya menunjukan rasa kagum atas penisku yang besar dan panjang “Aku belum pernah liat penis yang ukurannya besar seperti ini” tangan zahra langsung memainkan penisku.
Zahra masih memakai pakaian lengkap dengan jilbab pink yang ia kenakan. Tanpa buang waktu aku langsung meremas dada Zahra dari luar, ia mendesah kecih achhhhh………. aku semakln bernafsu untuk meremas dada Zahra yang terasa kenyal. Zahra mendorongku ke kasur dan ia langsung berdiri dan menari tarian erotis dengan pakaian yang mash kenakan. Ia langsung melepas bajunya telihat dadanya yang besar masih tetutupi bra warna pink yang seksi. Kami kembali berciuman sambil tanganku meremas dadanya syruppp…….achhhhhh……… hanya suara itu yang terdengar. Zahra melepas bra yang ia kenakan sekarang tampahlah buah dadanya yang putih dan putingnya berwana merah muda. Aku meremas dadanya sambil menghisap putingnya terkadang aku menggigitnya Zahra terus mendesah tanpa henti, kini terasa dadanya menjadi keras pertanda libidonya tengah naik. Zahra tengah terangsang luar biasa, kaos yang aku kenakan dilepasnya. Kini aku telanjang dihadapannya. Zahra langsung menggenggam penisku yang tegang dengan erat, penisku dikulumnya teras geli namun nikmat. Zahra mengemut penisku seperti mengemut ice cream rasa coklat. Aku hanya bisa bilang “Emut terus sayang, achhgggghhhh kamu pinter banget ngemut punyaku” penisku terasa licin oleh air liur Zahra. Cewek ini pinter juga dalam hal mengemut penis. Selain mengemut Zahra juga mengocok penisku dengan agresif. Terasa nikmat tiada tara.
Tanganku bergerak ke arah rok hitamnya saatnya untuk bermain di area sensitif ini. Zahra melepas jilbanya, rambut poninya yang panjang terurai indah di hadapanku. Rok hitam Zahra telah aku lepas, aku semakin tidak sabar untuk menusuk lubang vaginanya. Dengan sigap Zahra melepas sendiri celana dalamnya. Aku langsung tersenyum dan berkata “ Aku pasti puasin kamu malam ini” Zahra tersenyum nakal sambil menarik penisku dan berkata “Janji ya, kamu bakal puasin aku malam ini” Zahra membuka pahanya lebar-lebar sehingga memudahkan aku menjilat vaginanya. Vagina Zahra begitu harus dengan bulu bulu tipis yang indah. Aku menjilat vaginanya sambil menusuk nusuk dengan jariku. Achhh…………Achhhhh…………. Zahra terus mendesah vaginanya sudah basah denagn cairah surrga miliknya. Zahra menjerit hebat pertanda ia telah orgasme pertama, cairan surganya keluar begitu deras seperti air terjun. Zahra memintaku untuk segera memasukan penisku ke vaginanya, pahanya semakin dibuka lebar dan aku langsung memasukan penisku ke lubang kenikmatan milknya. Pada awalnya terasa sulit untuk masuk, setelah berjuang akhirnya penisku bisa menembus vaginanya. “Udah masuk sayang, sekarang kamu genjot yang kuat supaya bisa muasin aku” dengan penuh semangat aku menggenjot penisku vagina Zahra terasa menjepit urat penisku dengan kuat. Nikmat sekali rasanya, ochhh……….acchhhhhhh……… penismu nikmat banget hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sesekali aku mencium bibir tipisnya sambil meremas dadanya genjotan kami berdua semakin cepat. Cepat…….. dan cepat…….. vagina Zahra semakin menjepit dengan kuat pensiku.
Suasana kostan yang tadinya rapi mendadak menjadi berantakan dan basah dengan keringat yang mengucur. Tiba tiba terbesit dalam benakku apa jadinya kalau Fitri datang dan menyaksikan permainan kami. Tapi itu hanya fikiran sesaat permainan bersama Zahra kembali dilanjutkan. Zahra menjerit dengan keras “terusin jangan pernah berhenti, ini nikmat baget” Genjotan semakin kupercepat dan penisku semakin keras achhhh…………ochhh……….yeah………… dalam penisku terasa ada cairan hangat yang menyembur Zahra kembali orgasme kedua kalinya. Sepertinya aku juga akan segera keluar, kupecepat genjotaku dan aku berkata “bentar lagi aku keluar sayang” dan akhirnya penis aku lepas dengan cepat dari lubang vagina Zahra croottt……….crotttt………….crooottttt kukeluarkan air maniku diluar dan mengarah ke wajah cantik Zahra. Wajahnya belepotan dengan cairan maniku, Zahra menjilat sisa maniku yang ada diwajahnya. Permainan dengan Zahra berakhir aku putuskan untuk beristirhat sejenak. Zahra puas akan permainanku tadi “kapan kapan kita main lagi, aku pengen dipuasin lagi sama kamu”
Aku bergegas berpakaian dan pulang kembali ke kostan. Anehnya kenapa sampai jam segini Fitri belum pulang juga. Aku jadi membayangkan Fitri andai saja aku tadi bermain dengannya pasti akan terasa beda.
Malam itu teman temanku belum pulang ke kostan hanya aku sendiri disini. Beberapa saat setelah aku datang ada suara ketukan pintu dari luar. Siapakah itu? Bersambung

Incoming search terms:

cerita seks fitri, cerita dewasa tak ada rotan akarpun jadi, cerita ngewe tak ada rotan akarpun jadi

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker