Saturday , October 25 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Mama Dan Tante Lia, Perjalanan Spiritual Menyetubuhi Mamaku dan tante Lia

Mama Dan Tante Lia, Perjalanan Spiritual Menyetubuhi Mamaku dan tante Lia



Mama

Week end yang menyebalkan, akhir pekan ini aku kembali menjadi supir buat mama, dan yang membuat tambah dongkol adalah membawa serta tante Lia, kakak kandung mama yang cerewetnya luar biasa, kira-kira 2 level di atas mama. Ia tidak pernah kehabisan kata-kata untuk mengomentari dan mengkritisi apapun dan siapapun, lebih dari seorang komentator sepakbola profesional. Walau ada juga sisi baiknya sih, beliau cukup royal untuk memberiku tambahan uang saku.



Sabtu ini mama mengajakku ke Semarang, menghadiri undangan sepupunya yang akan mantu. Papa berhalangan karena ada perjanjian dengan relasi bisnis. Dan seperti biasa, akulah yang mendapat kehormatan, tepatnya barangkali kutukan, untuk menyupiri mama. Padahal minggu ini pula teman-teman klub motor ngajak touring ke Bogor. Aaarrgh… dasar sial! Beginilah nasib jadi anak lelaki satu-satunya, sementara kakak-kakak perempuanku bisa enak-enakan liburan.
Dan sepanjang jalan, telingaku mendapat siksaan ocehan tante dan mama. Bahkan suara musik tidak mampu meredam suara mereka. Malam menjelang ketika kami memasuki wilayah alas roban, kawasan hutan yang melegenda dengan keangkerannya. Sialnya, aku termasuk penakut untuk hal-hal yang berkaitan dengan supranatural. Aku teringat kisah sebuah bus yang nyasar di tengah hutan ini. Untunglah jalanan cukup ramai.
Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, wiper kuhidupkan dan mencoba mengikuti sebuah truk di depan. Entah kenapa, aku tak mampu mengejar bayangan lampu truk tersebut, padahal sudah full gas, sampai kemudian aku sadari tinggal kami sendiri di jalan. Dan yang membuat aku merinding adalah menyadari kami tak lagi berada di jalanan aspal, tapi jalanan tanah berbatu yang membuat mobil kami berguncang-guncang, suasana di kanan kiri gelap gulita, hanya tampak bayangan batang-batang pohon dan semak belukar.
Penderitaan lengkap sudah ketika ban mobil terperosok di tanah yang lunak akibat hujan tadi. Dua wanita penumpang setia di dalam jangan ditanya lagi, omelan mereka sama banyaknya dengan butir-butir tetesan air hujan yang begitu deras menghujani bumi, membuat kepanikanku kian bertambah. Mama, Tante Lia dan aku mencoba menghubungi kerabat untuk minta bantuan, tapi semua jaringan seluler tidak ada sinyal.
“Ma, tolong pegang kemudi, Randy mau keluar dorong mobil.” kataku. Dengan masih mengomel, mama bertukar posisi di belakang kemudi begitu aku keluar. Hujan segera membuatku basah kuyub. Sial, harusnya Hi lux papa yang aku bawa, bukan sedan priyayi ini, gumamku dalam hati. Ban itu begitu dalam terperosok, membuat setiap usahaku sia-sia selain hanya menghasilkan semburan lumpur ke celana pendek dan kausku. Kemudian kusadari, bahwa hanya sekian meter di belakang mobil adalah sekumpulan pohon-pohon besar, demikian juga di depan. Berarti jalan yang kami lewati tadi bak hilang di telan bumi, membuatku mulai merinding.
Tiba-tiba sekelebatan lampu senter menyorot ke arahku. Apa lagi ini, membuat nyaliku kian menciut, tapi masa sih ada setan bawa senter, akal sehatku berkata. Dari kegelapan muncul sosok lelaki paruh baya, bertelanjang dada dan memakai caping lebar. “Ada yang bisa saya bantu, Le?” tanyanya dengan suara yang parau namun cukup nyaring terdengar di tengah gemuruh hujan dan guntur.
“Kami kesasar dan mobil kami terperosok, Pak.” jawabku setengah berteriak.
Orang tua itu lantas membantuku mendorong agar mobil itu keluar dari jebakan lubang. Namun tetap tak berhasil. Kini bahkan akibat kikisan tanah, seluruh ban mobil itu terperosok. “Sebaiknya tunggu besok pagi saja, Le. Kampung terdekat juga jaraknya 15 kilo lebih. Kalau sampeyan mau, malam ini nginap digubuk saya saja,” ujarnya dengan datar namun sepertinya tulus.
Daripada aku tinggal di mobil dan tiba-tiba kaca diketuk kuntilanak atau gendruwo, lebih baik aku turuti beliau. Namun tentu saja, aku harus minta persetujuan dua makhluk menyebalkan di dalam mobil, setelah terjadi percekcokan, akhirnya mereka mau juga. Segera kusambar ranselku sementara mama dan tante Lia hanya membawa tas tangan masing-masing. Dengan berpayung mereka mengikuti langkahku di belakang bapak tua tadi.
Jalan setapak yang becek di tengah hutan itu membuat mama dan tante berkali-kali terpleset, membuatku berkali-kali harus memapah mereka, tentu saja setelah terlebih dahulu dihadiahi sumpah serapah mereka. Payung yang mereka bawa jadi percuma, tak mampu mencegah mereka menjadi basah kuyub dan terciprat lumpur. Ternyata jarak menuju rumah si bapak lumayan jauh juga, kira-kira 15 menit kami berjalan baru nampak temaram cahaya sebuah rumah.
“Monggo, silahkan masuk,” ujar si bapak. Rumah itu tampak sederhana, pantas si lelaki misterius itu menyebutnya gubuk. Sebuah rumah limas khas Jawa dengan empat tiang kayu di bagian tengah, beratap genteng tanpa plafon, berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah. Di dalamnya hanya meja kursi tua, dua dipan sederhana dan dua lemari reyot menempel di dinding. Dua lampu teplok yang kacanya telah menghitam menjadi alat penerang rumah tersebut, dan satu-satunya alat hiburan adalah radio transistor tua yang memperdengarkan suara pertunjukan wayang kulit mengiringi gemuruh hujan di luar, menambah suasana magis malam itu.
Tampak sepasang perempuan di atas dipan tengah tertidur, terdiri dari wanita separuh baya dan satu lagi seorang gadis yang kira-kira seusiaku. “Ayuh ndang tangi, ono tamu. Ndang gawekno wedhang!” (ayo cepat bangun, ada tamu. Cepat bikinkan minum), ujar si bapak membangunkan isteri dan anaknya, kira-kira begitu menurut perkiraanku. Walau tak bisa bahasa Jawa, tapi sedikit banyak aku bisa memahaminya karena mama kebetulan orang Jawa dan sering menggunakan bahasa Jawa jika bertemu kerabatnya.
Dengan segera mereka beranjak bangun meninggalkan dipan yang hanya beralaskan tikar dan selimut kumal itu. Untuk ukuran kota sekalipun, si gadis berwajah cukup manis walau dengan pakaian t shirt dan bersarung batik yang tampak lusuh, sementara ibunya sedikit lebih besar dengan wajah biasa saja, memakai kebaya dan kain yang dililitkan sebatas dada yang sama lusuhnya, namun menampakan belahan dadanya yang kupikir cukup besar, menjadi pemandangan paling baik selama di rumah ini. Dalam hati timbul rasa iba di hatiku melihat bagaimana miskinnya mereka, sekaligus juga bertanya-tanya bagaimana mereka bisa tinggal di tengah hutan dan terpencil seperti ini.
“Kalian basah kuyup semua, sebaiknya ganti pakaian daripada masuk angin. Silahkan ke belakang saja, kalau mau buang air dan bersih-bersih juga ada sumur.” ujar si bapak.
Aku segera menyambar ransel, tapi mama dan tante Lia saling bertatapan bingung, tentu saja, mereka meninggalkan tas pakaian mereka di bagasi mobil. Sial, nampaknya aku lagi yang harus mengambilnya. Namun sebelum perintah mereka keluar, si lelaki itu berkata, “Kalau mau biar pakai pakaian anak dan isteri saya, maaf kalau kurang berkenan,”
Aku menatap mereka dengan wajah memelas. Mereka mengangguk, ”Maaf lho pak kalau ngerepotin,” ujar mama.
Dari dalam lemari reot, si bapak mengeluarkan dua lembar kain dan dua kaus yang walau lusuh tapi terlipat rapi. “Mama dan tante duluan,” ujar mama bergegas sambil menggamit tangan tante Lia ke bagian belakang rumah yang dibatasi oleh dinding papan.
Aku menunggu dengan duduk di kursi tua itu, sang lelaki paruh baya itu juga duduk di hadapanku sambil melinting tembakau dengan kertasnya dan menyalakan rokok. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi namun sorotan matanya sangat tajam dan berwibawa. Tubuhnya yang bertelanjang dada itu juga tampak kekar menggambarkan sisa sebagai lelaki yang ulet.
“Maaf, kalau boleh tahu, nama bapak siapa?” tanyaku mencoba basa-basi.
“Panggil saja pak Simo,” jawabnya sambil menghembuskan asap rokok lintingan yang beraroma aneh itu.
“Eengh… bapak udah lama tinggal di sini?” tanyaku lagi.
“Lebih tiga puluh tahun,” jawabnya singkat. ”ini satu-satunya tanah warisan bapak saya dulu, pekerjaan saya buruh tani dan sesekali ngobati orang.” ujarnya lagi seolah-olah sudah tahu pertanyaanku berikutnya, walau aku sedikit tertegun dengan perkataan ngobati orang, tapi untuk tak menyinggung urung aku tanyakan.
“Saya terimakasih banyak lho pak atas bantuannya,” ujarku setelah hening sekian lama.
Ia hanya menghembuskan asap rokok, lalu berkata. ”Kalian harusnya hati-hati melewati hutan ini, harus kulo nuwun,” ujarnya dengan nada sedikit tegas.
Namun sebelum aku bertanya lebih jauh, mama dan tante sudah kembali ke ruang tengah. Aku agak geli melihat penampilan mereka, dari wanita bergaya modis, kini ala wanita kampung, berkaus kumal yang ada lubang di sana sini dan bersarung kain batik lusuh.
“Mama?” ujarku sambil tersenyum, tapi pandangan ketus keduanya memudarkan senyumanku. Namun yang membuatku jengah adalah menyadari bahwa kaus itu terlalu sempit untuk mereka berdua dan… puting payudara keduanya tampak jelas menonjol walaupun di tengah cahaya temaram lampu teplok.
“Kamu jangan ke belakang dulu,” ujar mama. Ia kembali ke belakang, dan kembali dengan kaus dilepas. Kini kain batiknya diikat sebatas dada menjadi kemben, tante pun menyusul melakukan hal yang sama.
Aku bersiul dua kali menyaksikan bahu putih keduanya yang terekspose yang tentu saja berujung dengan dampratan mereka, membuatku bergegas pergi ke belakang.Ternyata sebuah dapur sederhana yang cukup besar dengan sebuah dipan dan tungku tanah dengan kayu bakar yang masih menyala, di atasnya sebuah panci hitam. Di atas dipan sang ibu dan anak tengah menyiapkan minuman.
“Maaf, bu, kamar mandinya di mana?” tanyaku, dan mereka menunjuk pada sebuah pintu di bagian belakang dapur tersebut. Yang disebut kamar mandi itu hanyalah sebuah sumur tua beratap ilalang yang di pinggirnya berlantaikan batu-batu kali. Sebuah lampu senter meneranginya. Usai buang air kecil dan membersihkan badan, segera aku berganti pakaian dari ransel yang kubawa.
Mama dan tante tengah bercakap-cakap dengan lelaki pemilik rumah ketika aku tiba. Aku segera bergabung. Pak Simo meladeni ocehan mereka dengan datar dan singkat. Matanya tajam menatap mama dan tante, membuat mereka tampak rikuh dan mengurangi intensitas omongan mereka.Tak lama kemudian sang isteri dan anak gadisnya tiba mengantarkan minuman dan sepiring singkong rebus di hadapan kami.
“Monggo, silahkan diminum. Maaf, cuma ini yang kami punya.” ujar pak Simo, sementara isteri dan anaknya kembali ke dipan untuk tidur. Hanya teh tanpa gula yang bisa mereka suguhkan, namun ditambah singkong rebus cukup menghangatkan tubuh kami di tengah rintik hujan yang entah kapan akan reda. Malam makin larut ketika mama dan tante Lia pamit untuk tidur, di dipan yang berhadapan dengan dipan di mana isteri pak Simo dan anaknya tidur. Aku sendiri belum mengantuk mencoba menelpon seseorang, sama saja, tidak ada sinyal.
“Kalian nggak mungkin bisa keluar dari hutan ini,” ujar pak Simo mengagetkanku.
”Maksud bapak?” tanyaku penasaran.
“Kamu pasti sadar kan, kendaraan kalian ada di tengah hutan, bukan di atas jalan?” jawabnya dengan suara parau dan datar. Aku mulai bergidik. ”Ada kekuatan gaib yang membawa kalian ke sini, makanya saya bilang kalian harus kulonuwun melewati hutan ini,” ujarnya lagi membuatku kian memucat.
“Terus kami harus bagaimana, Pak?” tanyaku setengah bergetar.
“Kalian saat ini berada 15 kilo dari jalan, mau jalan kaki pun butuh waktu seharian, itupun kalau kalian tidak kesasar.” ujarnya lagi.
“Terus, kenapa bapak bisa tinggal di sini?” tanyaku.
“Hmm… ceritanya panjang, tapi katakanlah ini hal turun temurun yang harus kami lakukan dan katakanlah musuh kami banyak sehingga harus tinggal di sini.” jawabnya sambil menghisap lintingan tembakau dalam-dalam.
“Terus bapak bisa bantu kami keluar dari sini?” tanyaku setelah terdiam beberapa saat.
“Ada syaratnya,” jawabnya. “itupun jika kamu mau.” lanjutnya lagi.
”Hmm, asal nggak memberatkan, saya mau, Pak. Kami juga bawa uang yang cukup lho, Pak.” ujarku terbata-bata.
“Kami biasa hidup tanpa uang, Nak. Kami tidak butuh uang kalian!” ujarnya dengan mimik misterius.
“Terus saya harus bagaimana, Pak?” tanyaku setengah mengharap.
”Hmm, dari tadi saya perhatikan kamu selalu menatap anak saya,” ujarnya. Wah, berabe juga kalau aku harus mengawini anaknya walau memang kuakui dia cukup manis dengan potongan tubuh aduhai. “Sampeyan suka dia?” tanyanya.
”Ya suka sih, Pak, tapi…”
“Saya nggak meminta kamu menikahi anak saya,” jawabnya seolah-olah tahu apa yang aku pikirkan.
”Terus bagaimana, Pak?” tanyaku lagi.
“Sampeyan mau meniduri Asih?” tanyanya membuatku seolah terloncat dari kursi reot itu.
Dalam hati sebenarnya di usia SMA yang sarat hormon ini, aku ingin sekali mencoba merasakan kenikmatan tubuh seorang wanita, tidak hanya sekedar bermasturbasi menyaksikan adegan film porno, atau hanya bisa berliur mendengarkan kisah teman-teman yang telah merasakannya. Pacar pun aku belum punya. Pucuk di cinta ulam tiba, pikirku.
“Tapi, Pak, bagaimana dengan mama dan tante saya? Bagaimana kalau mereka tahu?” ujarku.
“Nah, dua wanita cerewet itu syarat berikutnya,” jawabnya tegas.
“Maksudnya, Pak?” tanyaku penasaran.
“Sebagai sesama lelaki…” ia menghisap dalam rokoknya, lalu menoleh ke arah dipan di mana mama dan tante Lia tidur. ”Mereka cantik dan montok, apakah sampeyan keberatan kalau saya tiduri mereka?” pertanyaannya bagaikan guntur yang tengah menyambar-nyambar di luar.
”Aa…” ucapanku terpotong.
”Ya kalau sampeyan keberatan, silahkan cari jalan keluar sendiri,” tukasnya ketus.
Aku dihadapkan pada buah simalakama, walau di dalam hati jujur saja penasaran juga bagaimana tubuh telanjang mama dan tante Lia akan digarap oleh laki-laki tua itu. Dan terlepas dari soal kecerewetan, mereka berdua memang wanita matang yang cukup cantik dengan potongan tubuh yang bisa menjadi bahan onani lelaki manapun, tapi mereka adalah keluargaku. Shit! apa yang harus kulakukan? Pak Simo seolah-olah menunjukan siapa yang tengah berkuasa dengan santai terus menghisap rokoknya. Setelah pertarungan sisi baik versus sisi buruk, akhirnya aku mengangguk setuju.
“Dengan syarat, bapak tidak akan menyakiti mama dan tante saya kan?” lanjutku.
Pak Simo tak berkata apapun tapi langsung bangkit menuju dipan di mana anak dan isterinya tidur dan membangunkan mereka, ”Ayo nyambut gawe, kamu layani mas mu. Kowe ngalih, bantu aku.” ujar pak Simo pada istrinya.
Pak Simo lantas menyuruhku mendekat ke dipan. Asih, anak gadisnya, segera mendekatiku dengan wajah tanpa ekspresi. Dia melepaskan pakaianku, lalu menurunkan celana pendek dan celana dalamku. Aku sedikit jengah karena pak Simo dan isterinya masih berada di dekat kami. Pak Simo mengangguk dan bersama isterinya menuju kursi tempat kami duduk tadi. Kontolku sudah mengeras semenjak tadi dan segera dielus-elus pelan oleh Asih sebelum akhirnya ia berdiri dan melepaskan kaus kumal dan kain batik lusuhnya, tak ada pakaian dalam dibaliknya.
Mataku berpesta pora menyaksikan payudaranya yang ranum dan berukuran lumayan itu, lalu terus ke bawah ke bagian pinggulnya yang membulat hingga bagian delta di antara dua pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat. Baru kali ini kulihat secara nyata tubuh telanjang seorang wanita. Asih mengarahkan tanganku agar hinggap di atas gunung kembarnya yang kenyal dan tanpa komando segera kuremas-remas dan kupilin-pilin putingnya. Sementara Asih dengan wajah setengah tertunduk menatap ke arah selangkanganku yang berada dalam genggaman tangannya. Rasanya aku bisa orgasme saat itu pula.
Wajahnya kemudian mendekat ke arahku dan ia mulai melumat bibirku, dengan segera balas kulumat bibirnya yang agak tebal namun sexy itu, dan memeluknya erat hingga payudara kenyal itu merapat di dadaku. Selintas kulirik mama dan tante yang masih terlelap nyenyak, dada mereka yang penuh itu naik turun seiring tarikan nafas. Aku tak peduli jika seandainya mereka terbangun, nafsu ini sudah berada diubun-ubun.
Asih mendorong tubuhku berbaring di atas dipan. Dengan sabar ia telentangkan aku, lalu merangkap di atas tubuhku, kembali melumat bibirku, menciumi leher, dada, perut… dan aku mengejang ketika batang penisku kini dikulum, dihisap dan dilumat pelan mulutnya, ia tampak berpengalaman sementara aku bisa dikatakan teramat lugu dan bodoh dalam urusan kenikmatan biologis ini. Untaian rambut panjangnya mengusap-usap perut dan selangkanganku, rasanya geli-geli nikmat. Ia kemudian bangkit berdiri, berjalan ke arah wajahku lalu dengan perlahan berjongkok di atasnya, ia mengangguk seolah-olah menyuruhku menikmati liang senggamanya yang merekah merah, aroma asing namun membangkitkan gairah berahi memenuhi hidungku, dan tanpa sadar aku mulai menjilati permukaan vaginanya dengan rakus. Matanya hanya terpejam menikmati ulahku.
Tapi sebuah keanehan terjadi, kembali batang kontolku seperti dikulum seseorang, aku mencoba bangkit untuk melihat apa yang terjadi, Asih dengan pengertian berlutut sebentar. Aku terkejut bukan kepalang mendapati isteri pak Simo alias ibunya Asih tengah mengulum dan mengunyah kontolku, kebayanya telah lepas dan kain kembennya melorot sebatas perut, payudaranya yang jauh lebih besar dari milik anaknya berayun-ayun dengan putingnya yang keras menyapu kedua pahaku. Aku tak pernah membayangkan pengalaman seks pertamaku bisa sedahsyat ini, dipuasi sekaligus ibu dan anak.
Kulirik ke arah pak Simo, yang dengan santai terus menghisap rokoknya menyaksikan kami. Ia tak nampak sama sekali keberatan. Aku kembali menjilati memek Asih sementara di bagian bawah tubuhku, ibunya sibuk menghisap, menjilat batang kemaluan dan biji pelirku. Pak Simo kemudian bangkit mendekati kami lalu berkata kepada isterinya, “Wis, ben Asih sing urus, ono gawe liyo.” (sudah, biar Asih yang ngurus, ada pekerjaan lain).
Isteri pak Simo bangkit mengikuti suaminya yang berjalan ke arah belakang rumah. Asih merangkak mundur, setengah jongkok memegang batang senjata biologisku dan mengarahkan ke arah vaginanya. Aku menyaksikan dengan antusias bahwa keperjakaanku akhirnya pecah malam ini… you know, dalam artian bukan hanya sekedar masturbasi. Dan bless!!! secara tersendat akhirnya ambles ditelan liang kewanitaan gadis remaja bernama Asih.
Perasaan nikmat diremas rongga yang hangat, basah dan sempit menjalari sekujur tonggak kemaluanku dan sinyal-sinyalnya dikirim ke seluruh tubuhku. Asih dengan lincah memaju mundurkan pinggulnya, payudaranya berguncang keras mengundangku untuk menangkap dan meremas-remasnya. Ia merintih-rintih pelan menikmati masuknya benda asing di dalam vaginanya. Entah keluarga macam apa mereka, aku tak peduli lagi. Bulir-bulir keringat mulai muncul di permukaan kulit kami berdua, suasana dingin malam itu menjadi hangat. Asih merebah di atas tubuhku, memelukku erat kemudian berusah menggulingkan tubuhku dan segera kuturuti sehingga kini aku berada di atas tubuhnya, kembali tubuh sintalnya kupompa keras sehingga dipan itu berderit-derit. 
Tiba-tiba pak Simo kembali masuk diikuti isterinya, seolah tak mempedulikanku, ia mendekati dipan di depan kami, membawa sebuah tungku dan kendil kecil, sontak ruangan gubuk itu dipenuhi aroa kemenyan. Ia duduk bersimpuh di sisi mama, meniupkan asap kemenyan ke wajah mama dan tante Lia kemudian memercikan sedikit air di sekujur tubuh mereka berdua. Semua tak lepas dari pandanganku yang sibuk memacu kenikmatan menggarap tubuh anak gadisnya yang terus merintih-rintih. Lagi pula, jarak antar dipan itu tak lebih sekitar 2 meter saja.
Usai melakukan ritual, perlengkapannya kemudian dibawa istri pak Simo ke belakang. Dan inilah saat yang aku tunggu, dengan perlahan pak Simo melepaskan ikatan kemben di dada Mama, lalu menurunkannya ke bawah. Perlahan payudara mama tersingkap, terus hingga perut, lalu bayangan hitam tumpukan rambut di pangkal pahanya. Mataku nanar memperhatikan betapa tubuh mama demikian indah, bahkan di usianya yang 43 tahun. Payudaranya membusung besar dengan puting coklat muda, perutnya yang putih mulus naik turun seiring tarikan nafas, dan yang kian aku memacu gerakan menyetubuhi Asih adalah gundukan vagina mama yang menyembul dan ditumbuhi rambut kemaluan yang lebat. Padahal dari situlah aku lahir.
Tapi itu bukan satu-satunya pemandangan indah yang kusaksikan. Setelah menelanjangi mama, pak Simo berjalan ke sisi dipan berikutnya, dengan segera ia lepaskan kain kemben yang dipakai tante Lia, kembali mataku berpesta pora menyaksikan tubuh wanita separuh baya yang juga tak kalah indah dengan tubuh mama, sekujur tubuhnya putih mulus meski sedikit gemuk, bahkan payudaranya sedikit lebih besar dari punya mama.
Pak Simo dengan kasar meremas-remas kedua bukit kembar tante dan membetot ringan, lalu mengusap-usap perutnya yang putih dan mulus terus ke bawah pusar di mana semak belukar hitam tumbuh lebat, kemudian dia beringsut ke ujung dipan, melebarkan kedua paha tante Lia, lalu merunduk tepat di ujung segitiga hitam selangkangan tante, dan mulai mengecap dan menjilati organ kewanitaanya.
Sampai kemudian tante kelihatan mulai bergerak gelisah, meski mata masih terpejam, dan mulutnya mulai mengelarkan suara rintihan yang mulanya lirih namun semakin keras erangannya ketika pak Simo mulai mengorek-ngorek memek tante dengan jemarinya. Membuatku makin semangat mengayunkan pantat menggali dalam-dalam lubang senggama Asih dengan kontolku.
Suasana erotic bercampur magis memenuhi seantero rumah gubug itu, suara rintik hujan dipadu erangan rintihan dan kecipak beradunya kelamin dan sayup-sayup suara dalang wayang kulit dari radio butut bagai orkestra yang memacu berahi.
Puas bermain-main dengan tubuh tante Lia, pak Simo bangkit berdiri berjalan memutar menuju di mana mama tidur, kini giliran ibu kandungku akan menerima tindakan cabul lelaki asing, di depan anaknya pula. Pak Simo mulai meremas-remas payudara mama, dan juga memilin-milin putingnya, lalu ia merunduk, menghisap dan menggigit-gigit ringan mutiara kecoklatan di puncak gunung itu. Wajah mama kelihatan mengernyit. Tangan mama direntangkan ke atas kepala, lalu ia hirup ketiak putih mama dengan dalam.
Setelah puas, kembali tangan-tangan kekar pak Simo merayapi sekujur tubuh bugil mama, dan berakhir hinggap di rerumputan hitam di bawah pusar mama, menyisiri bulu-bulu kemaluan lebat itu sebelum jari-jemarinya mulai menggali dalam-dalam lubang di mana aku lahir 17 tahun lalu. Dan itu memacu ledakan orgasmeku, kurangkul Asih erat-erat lalu semburan demi semburan cairan hangat memenuhi setiap milimeter rongga vagina anak gadis dari lelaki tua yang tengah sibuk menghancurkan kehormatan ibu kandungku.
Sensasi nikmat itu terus berlanjut sampai kurasakan tak ada lagi tetesan sperma yang mengalir keluar, lalu aku bangkit meninggalkan tubuh Asih dan seolah tak mempedulikannya, aku terduduk asyik menyaksikan adegan bagaimana tubuh telanjang mama digarap oleh pak Simo.
Sama seperti tante Lia tadi, kini mama mulai merintih-rintih dan tubuhnya bak cacing kepanasan bergerak kesana kemari, sementara matanya juga masih terpejam seolah-olah masih berada di alam mimpi. Asih turun dari dipan dan berlutut di hadapanku, dan hap! Ia menjilati sekujur penisku yang masih diselaputi lendir dan sperma seolah-olah ingin membersihkannya, aku hanya bisa termangu menikmatinya sampai kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan ke bagian belakang rumah.
Pak Simo kini mengangkat betis mama dan ditumpangkan di pundaknya, sehingga pinggul mama terdongak ke atas, lalu ia beringsut ke depan dan makin tinggi mengangkat bagian bawah tubuh mama hingga vagina mama tepat di depan mulutnya, dan dengan rakus ia jilati liang senggama ibu kandungku itu, mama yang seperti orang kayang itu mulai menceracau ribut. Pemandangan sensual itu membuat senjata biologisku yang tadinya layu mulai bangkit kembali secara perlahan.
Dan malam itu kejutan belum berakhir, ibunya Asih muncul dari belakang rumah mendekatiku, dan sebleum ia duduk menemaniku, ia tanggalkan satu-satunya alat penutup tubuhnya, kain batik lusuh itu jatuh pelan ke permukaan lantai, yang segera ia pungut untuk di letakan di atas bantal. Mataku nanar menyaksikan tubuh semok berbalut kulit sawo matang itu dengan payudara besar duduk mendekat disampingku, dan tanpa tedeng aling-aling langsung meraup batang penisku dan mengusap-usapnya pelan. Dan aku pun mulai berani juga mulai meremas-remas payudara montok yang jauh lebih besar dari milik anak gadisnya, mungkin sebesar punya mama, lalu menjamah memeknya dan mengutil-ngutil klitorisnya, membuat matanya merem melek dan nafasnya mulai mendengus.
Pak Simo lalu menurunkan tubuh mama, lalu bangkit berdiri melepaskan celana sontog yang mirip celana pakaian silat, batang kontolnya yang besar yang melebihi ukuran milikku itu telah mengacung berdiri dengan gagahnya. Ia menaiki dipan lalu mengangkangi dada mama, dengan menjambak rambut mama, ia arahkan kepala mama hingga ujung kepala penisnya menyundul bibir mama. Mata mama membelalak, seperti orang bingung.
”Ayo, nduk, emuten!!” perintah pak Simo dengan wibawa. Mama yang dalam matanya seperti ada penolakan namun seperti terhipnotis mulai mengulum kontol lelaki asing itu, ia melirikku dan matanya seperti terkejut menyaksikanku duduk telanjang didampingi isteri pak Simo yang juga dalam keadaan bugil dan sibuk mengocok-ngocok batang kemaluan puteranya.
Dan hal itu membuat mama terbatuk-batuk, lalu melepaskan paksa kontol Pak Simo. ”Randy? kamu ngapain? Apa-apaan ini! To… mmff!!!” ucapannya terhenti ketika pak Simo dengan paksa menyumpalkan kembali batang kemaluannya ke mulut mama, membuat mama kembali tersedak dan terbatuk-batuk. Kembali ia berontak melepaskan diri, ia melirik ke arah tante Lia.
”Kak Lia, tol… mmfff!!!” kembali pak Simo memaksa mama mengoral kemaluannya, air mata mama sampai menetes, tetapi pak Simo dengan kasar terus mendesak-desakan kontol besarnya ke rongga mulut mama, bagai menikmati kekuasaan mencabuli seorang wanita di depan anak kandungnya, tampak kemudian mulutnya seperti merapal suatu mantra dan membuat mama tak lagi berontak. Perasaanku sendiri tak karu-karuan, antara kasihan dan nafsu, namun agaknya yang terakhirlah yang dominan, apalagi melihat kini seolah-olah mama lah yang rakus menghisap-hisap kontol pak Simo.
Puas mengobrak-abrik mulut mama, pak Simo merangkak mundur, membuka lebar-lebar kedua paha ibu kandungku yang kini dengan pasrah menanti dieksekusi. Lalu dengan posisi setengah duduk ia paksa mendesakkan kontol besar itu ke mulut memek mama, dan karena sangat besar membuat proses penetrasi berjalan lambat, mama sampai membelalakan mata dan mengerang seperti mengejan sampai akhirnya benda keras itu tertelan sepenuhnya.
Agak lama pria tua membiarkan kelaminnya berdiam dalam genggaman vagina mama, sepertinya ia menikmati betul hal itu, sampai kemudian mulai menariknya ke belakang pelan,lalu dimasukkan kembali. Setiap gerakan membuat mama merintih dan meringis dan mulai menggigiti jemarinya, sementara pak Simo kian aktif mengayunkan pantatnya maju mundur seaktif tangan-tangannya yang dengan kasar meremasi tetek montok mama, dan kulihat batang kontolnya berkilauan basah tanda telah diselaputi lendir vagina ibu kandungku.
Membuatku merasa iri melihat pria tua itu menikmati tubuh indah perempuan yang telah melahirkanku, dan membuatku menjadi seperti dendam sehingga kemudian isterinya yang berada disampingku kurebahkan, kubuka lebar selangkangannya dan tanpa ba bi bu kutusukkan batang kontolku ke lubang senggamanya yang ternyata telah basah. Rumah gubuk itu kembali diramaikan simfoni sensual, erangan mama dan isteri pak Simo sahut menyahut mengiringi suara eranganku dan pria paruh baya itu. Keringat mulai membanjiri tubuh-tubuh yang terlibat persetubuhan terlarang malam itu.
“Sssssh… ampuun, Pak, ohhh… puaskan aku, Pak… terusss… nnnggh!!” rintihan mama mulai nakal.
Sekian menit kemudian, pak Simo mencabut kontolnya, menimbulkan seperti suara angin keluar dari vagina mama, kemudian memutar tubuh mama dan menarik pinggangnya hingga menungging, lalu kembali liang senggama mama mendapat tusukan dahsyat alat kelamin pria bukan suaminya itu. Kepalanya terdongak karena rambut ikalnya dijambak dan mulutnya kembali merintih-rintih ribut setengah menjerit.
Aku pun kemudian melakukan hal yang sama, memaksa bu Simo menungging, pantatnya yang bahenol itu kugigiti hingga puas, ia hanya cekikikan ringan, lalu… Jlebbb!!! kembali vagina tembemnya kugali dengan batang penisku. Kembali suara kecipak kelamin beradu memenuhi seantero ruangan. Tetek bu Simo segera kutangkap dan kuremas-remas sekeras-kerasnya.
Tiba-tiba mama mengejang dan menjerit panjang, dan pak Simo pun seolah memberi jeda waktu menghentikan hentakannya membiarkan mama menikmati orgasmenya. Mama terus menggeram hingga kemudian tubuhnya kembali rileks dan kembali terguncang-guncang dahsyat akibat dientot dari belakang.
Menyaksikan bagaimana ibu kandungku mengalami orgasme di depan mataku sendiri, menimbulkan sensasi dahsyat dan membuatku tak mampu mencegah menyemprotkan air mani di dalam remasan memek bu Simo. Lama kunikmati ejakulasi itu sampai akhirnya aku terduduk lemas meninggalkan pantat bu Simo yang seperti anaknya tadi, membersihkan seluruh batang kontolku dengan hisapan mulut dan jilatan lidahnya hingga ke lubang anusku. Ia kemudian beranjak ke belakang meninggalkan aku sendirian menyaksikan adegan dahsyat persetubuhan terlarang ibuku dan pak Simo.
Tubuh mama berkilauan cahaya temaram lampu akibat basah oleh keringat. ”Oooouch… terus, Pak, puaskan aku lagi… ahhhss!!!” rintihnya.
“Hhmmm… aku tahu sampean ora tau dipuasi suami sampean toh?” gumam pak Simo diantara dengusan nafasnya. Mama melirik ke arah belakang dengan mata sendu dan mengangguk. “Kowe minta dipuasi, Nduk?” tanya pak Simo sambil terus mengayunkan pinggulnya.
Mama kembali mengangguk dan merintih. ”Nnnnggh… puasi aku, Pak… ooohh!!!”
Aku tak tahu mama dalam keadaan sadar atau tidak, atau tengah terkena mantra hipnotis pak Simo, tapi tetap saja membuat senjata biologisku kembali mengacung tegak. Lelaki normal manapun siapa yang tak akan terangsang melihat tubuh bugil wanita sexy usia 43 tahun itu, tak terkecuali anak kandungnya sendiri, yaitu aku.
Sekian menit kemudian kembali mama mengejang dan berteriak genit ketika orgasmenya datang kembali. Kembali pak Simo terdiam sekian detik hingga orgasme mama reda. Namun kemudian ia mencabut batang kontolnya dari mama, dan kembali suara seperti kentut keluar dari memek mama yang kemudian rebah terbaring tengkurap dengan nafas masih terengah-engah.
“Sekarang, giliran kakakmu yang cerewet itu minta dipuasi.” ujar pak Simo sambil beringsut ke sebelah mama dimana tante Lia masih tertidur. Ia menekuk lutut tante dan melebarkan pahanya, setengah terduduk kembali ia desakan kepala kontolnya kepada wanita bukan isterinya itu, tante Lia.
Sama seperti mama tadi, benda keras itu agak tersendat masuk pusat kewanitaan tante, membuat tante Lia pun terbangun dengan wajah meringis. Ia agak bingung sesaat dan sama seperti mama tadi, ia mulai panik dan mengutuk-ngutuk. ”Apa-apaan ini, jangan kurang ajar, pergi! Tol… mmmff!!!” suaranya terputus karena mulutnya dibekap tangan pak Simo.
”Sst… tenang, Nduk, tenang!” ajaib, setelah tangan pak Simo dilepas, kini hanya rintihan keenakan keluar dari mulut tante. Tangan pak Simo segera mampir dan meremas-remas kuat tetek tante yang lebih besar dari punya mama. Kembali ayunan pinggul pria tua itu menghentak-hentak dahsyat menghasilkan suara becek gesekan kelamin.
“Oooouch… terus, Pak. Aaahss… puaskan aku, Pak! Jangan berhenti… aahs!!!” rintih tante Lia dengan suara manja bak gadis remaja. Pak tua itu dengan ganas menyutubuhi tante, kali ini ia letakan betis tante di dadanya, membuat pantat tante setengah terdongak.
Persetubuhan haram nan dahsyat membawa efek berantai bergoyang-goyangnya dipan tua itu beserta penghuni di atasnya, mama yang masih mabuk dalam kepuasan seksualnya, dan tetek tante berguncang bagai gempa bumi dengan skala tertinggi. Ingin aku mendekat dan meremas-remasnya, tapi aku masih sungkan, sadar posisiku sebagai anak dan keponakan dari dua wanita matang yang cantik dan sensual itu.
“Ahhhss… ahhh… ahhh…” tiba-tiba tante berteriak dan kakinya mengejang tanda tengah mengalami orgasme.
Pak Simo hanya perlahan mengayun-ayun pinggulnya hingga orgasme tante Lia reda. Lalu memutar tubuh tante dan menarik pinggulnya ke belakang, kembali wanita kerabatku itu disetubuhi dari belakang oleh pria tua asing yang sepertinya mempunyai kekuatan seksual luar biasa, lebih dari satu setengah jam ia belum juga mencapai orgasme padahal telah menyetubuhi dua wanita cantik kakak beradik itu. Kembali mulut sensual tante mengerang dan merintih-rintih ribut.
Beberapa menit kemudian, pak Simo menepuk pantat bahenol mama, yang tanpa instruksi lebih lanjut langsung kembali menungging. Tangan pak Simo segera kelayapan mengelus-elus vagina mama lalu mulai memasukan dua jarinya, kini rumah itu diributkan suara desahan, rintihan sepasang wanita kakak beradik yang tengah dicabuli pria yang bukan haknya. Aku menyaksikan hal itu dengan mulut ternganga, jika ada kapas jatuh mengenai batang kontolku yang mengeras munkin saat itu pula aku bisa orgasme.
Dan sekian menit kemudian, dua wanita kakak beradik itu kembali mengeluarkan teriakan pelampiasan rasa puas luar biasa. Aku menduga-duga, apakah mereka seliar itu jika dengan suami masing-masing? Aku kira tidak, mengingat selama ini aku mengenal mereka sebagai wanita yang cukup konservatif. 
Pertunjukan belum berakhir, ketika dua wanita itu masih dalam keadaan setengah sadar dengan orgasme masing-masing, pak Simo meninggalkan tubuh menungging tante Lia, bergeser mendekati mama, dan bleess!!! kontolnya yang diselimuti lendir vagina tante Lia itu ganti kembali menghuni memek mama, yang segera bak orang kepedasan mendesah-desah manja dan liar. Tapi tentu saja, vagina tante tidak lama menganggur, jemari-jemari pak Simo segera menggantikan tugas kontolnya tadi. Aroma seks memenuhi setiap sudut gubuk berdinding bambu itu.
”Kamu mau pejuhku, Nduk?” dengus pak Simo.
“Mau, Pak… aahhss!!!” desis mama.
Pak Simo kian brutal menggasak mama dari belakang hingga kembali suara jeritan puas keluar dari bibir merekah mama. Dan kembali pak Simo memindahkan penis besarnya ke memek tante Lia, sama dengan yang dilakukan pada mama, ia menghajar buas tante Lia sehingga tak sampai 5 menit kembali menceracau dan mengejang karena orgasme.
“Sekarang, masing-masing kalian kuberi pejuhku… ahhh!!!” dengus pak Simo sambil menjambak rambut tante lalu menghujamkan dalam-dalam organ kelelakiannya dalam rongga vagina tante hingga lima menit berlalu, kemudian berpindah ke memek mama, dan kembali ia hujamkan dalam-dalam kontol besarnya hingga mama setengah berteriak, juga kurang lebih hingga 5 menitan. Padahal aku sendiri paling lama orgasme sekitar setengah menit.
Pak Simo bangkit meninggalkan mama lalu berjalan memutari dipan ke arah kepala tante yang masih setia menungging. ”Kamu, wanita cerewet, bersihkan kontolku!!!” dan dengan rakus tante Lia menghisap-hisap kontol besar itu hingga tak tersisa lagi lelehan lendir dan sperma selain air liur tante yang menyelimuti penis pak Simo.
“Kamu juga, bersihkan!!” perintah pak Simo pada mama yang juga sama rakusnya dengan tante, menjilati habis hingga buah pelir pak Simo yang wajahnya meringis keenakan. Si bajingan yang beruntung, pikirku.
Pak Simo lama menatap mereka berdua dengan wajah puas tanpa mempedulikanku yang kini menderita dengan kontol tegang tanpa pelampiasan. Ia mengenakan kembali celananya, berjalan menuju kursi tamu dan kembali melinting tembakau, lalu kembali beranjak dan duduk di sampingku sambil mengisap rokok.
“Tinggal satu syarat lagi,” ujarnya. Aku diam mendengarkan sambil tetap menyaksikan pemandangan indah di depan. ”Kamu harus menyetubuhi dua perempuan di dipan itu” ujarnya lagi membuatku terkejut.
“T-tapi, tapi nggak mungkin, Pak. Mereka kan ibu dan tante saya!” jawabku terbata.
”Hmm… trus kenapa kontolmu bisa ngaceng seperti itu? Saya tahu, sampeyan juga terangsang kan melihat tubuh ibu dan bude sampeyan? Hmm, saya tahu sampeyan takut. Jangan khawatir, mereka akan aku bikin tidak sadar, mereka pikir kamu adalah aku.” Lalu ia menghembuskan asap rokok ke arah mama dan tante. “Sekarang lakukan!” perintahnya.
”B-benar neh, Pak?” tanyaku masih ragu. Ia mengangguk meyakinkanku.
Dengan gemetar aku berjalan ke arah dipan dimana mama dan tante kini terbaring telentang menengadah. Tubuh bugil mereka masih bermandikan keringat, dan nafas mereka teratur naik turun membawa serta dua gunung kembar masing-masing. Mata mereka terpejam dengan bibir tersungging senyum. Mataku nanar menyaksikan memek mama yang masih setengah terbuka akibat masuknya benda oversize ke situ tadi, juga demikian halnya dengan memek tante Lia.
Kini sadarlah aku apa yang menyebabkan ejakulasi berlangsung begitu lama, dari masing-masing organ kewanitaan mereka, masih mengalir keluar lelehan sperma yang luar biasa banyaknya, genangannya di atas tikar bahkan selebar dua piring makan. Bahkan belum berhenti mengalir ketika kuelap dengan kain kemben yang dipakai mama sampai beberapa kali usapan. Kutatap pak Simo, ia kembali mengangguk.
Aku gemetar menyentuh vagina mama dan tante Lia bergantian, bingung menentukan mana yang harus kusetubuhi lebih dulu. Setelah menimbang sekian detik, kuputuskan untuk lebih dulu ngentot mama, aku penasaran ingin mencicipi liang dimana aku dulu lahir. Dengan segera aku jongkok di antara dua paha mama, mengarahkan kepala jamur ungu merapat bibir memek mama, lalu bless!!!Perlahan tapi pasti aku memasuki lubang setelah 17 tahun aku keluar dari situ.
“Oooohh… puaskan aku lagi, Pak. Ahhs…” desis mama. Tadinya aku terkejut, tapi melihat tatapan matanya yang kosong seolah tak melihat diriku, membuatku sedikit tenang, dan mulai mengayun-ayunkan pantatku.
Sensasinya sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Tanganku mulai menjamah payudara mama, bahkan masih sekeras milik Asih, pikirku. Aku kemudian rebah di atas tubuh mama, menciumi ketiaknya, menghirup dalam-dalam aroma parfum bercampur keringat bau khas wanita. Pheromone, demikian istilah yang aku tahu dari Discovery Channel, aroma khas buat penarik pasangan.
Mama terus merintih-rintih lewat bibirnya yang setengah terbuka, membuatku gemas ingin segera melumatnya. Kini lidah kami saling membelit, tapi tanganku seperti punya kreatifitas sendiri, kini aku meremas-remas payudara tante Lia yang terbaring di sisi mama. Dan akhirnya ganti kulumat bibirnya sambil terus menusuk-nusukan batang kontolku dalam memek mama. Ruangan itu diramaikan kembali rintihan manja dua wanita kakak beradik yang aku cabuli. Hmm…kini aku punya banyak cerita soal pengalaman seks dibanding kawan-kawan SMA ku.
Puas mencicipi rongga kelamin tempat aku lahir, aku beringsut ganti mencoba mencicipi liang di mana dua orang sepupuku lahir dari situ. Tante kembali ribut merintih. Dan seperti tadi, bergantian aku lumat bibir tante dan mama, demikian juga payudara montok masing-masing, bergantian aku jamah. Aku yang tengah mabuk dalam kekuasaan kini menginginkan mencicipi tubuh sexy mereka dari belakang, “Ayo nunging!” bisikku pada tante dan mama.
Bagai kerbau dicucuk hidung, mereka dengan gemulai mulai ambil posisi nungging. Keindahan pantat-pantat menonjol mereka luar biasa, membuatku tak menahan diri untuk meremas-remasnya dan mengigitinya hingga mereka meringis. Anus-anus mereka juga begitu mengoda untuk digarap, namun rekahan bibir vagina jauh lebih menarik, pikirku. Dan kali ini secara bergantian kuentot ibu kandung dan tanteku dari belakang. Jika kontolku berganti sasaran, maka segera digantikan jemariku, persis seperti yang dilakukan pak Simo terhadap keduanya tadi.
Keringat kami kembali berceceran. Entah karena sudah dua kali orgasme, kali ini aku cukup lama bertahan hingga mampu menghasilkan kembali jeritan kepuasan dari mulut mama dan tante. Dan setelah sekian menit kemudian kurasakan biji pelirku mulai kaku, tanda sesaat lagi aku akan orgasme, agak sedikit bingung memutuskan di memek siapa aku harus ejakulasi, namun tepat ketika giliran mama yang kusetubuhi, aku tak mampu lagi menahan, dan…
Sssrrt… srrrt… srrt… Semburan spermaku membanjiri mulut rahim dimana 9 bulan aku pernah bersemayam di dalamnya. “Mamaaaa…!!” desisku tanpa sadar memanggilnya. Untunglah ia masih dalam pengaruh pak Simo.
Ingin aku berlama-lama mendekam dalam lubang memek mama, tapi penisku telah mengerut, hingga akhirnya kucabut dan kutinggalkan tubuh mama yang segera rebah tengkurap. Aku duduk lemas di dipan tempatku tadi.
“Bagaimana, Pak?” tanyaku tanpa mengalihkan mata dari dua wanita telanjang yang terkapar di depan.
“Bagus. Tapi kalau kamu mau, masih ada satu permainan menarik.” jawabnya santai sembari menghembuskan asap rokok. Aku yang masih lemas tak bergairah bertanya lebih lanjut, tetapi di dalam hati aku ingin kembali menggarap dua wanita di depanku itu.
“Bune, Asih, ndang mrene!” panggil pak Simo kepada isteri dan anaknya yang sama misterius dengan bapaknya.
Asih dan ibunya masuk, dalam keadaan bugil. Mereka berdua segera mendekatiku, menciumi wajahku dan mengelus-elus penisku bergantian dengan jari jemari masing-masing serta mengarahkan tanganku hinggap di tetek mereka. Ibunda Asih kemudian merunduk, sudah bisa ditebak kalau sasarannya adalah penisku yang setengah layu itu. Kulumannya membuat darah kembali berkumpul di organ kejantananku itu, sampai sekian lama kurasakan kembali siap tempur.
Pak Simo bangkit berdiri, mendekati mama dan tante yang masih setengah sadar. Ia melorotkan kembali celana yang ia pakai. Meremas-remas keras pantat indah mereka masing-masing dan menyuruh mereka kembali menungging kali ini menyamping mengikuti lebar dipan, lalu dengan isyarat ia menyuruh Asih dan isterinya juga menungging di dipan yang sama , sehingga ada empat wanita telanjang di satu dipan.
”Kali ini, kita akan menggilir empat perempuan ini, saya di depan sampeyan di belakang terus muter, paham?” ujarnya. Aku mengangguk. “Silahkan yang mana dulu yang sampeyan pilih,” ujarnya lagi.
Aku memilih Asih yang posisinya paling pinggir kiri dari arahku. Dari belakang kusetubuhi anak gadis pak Simo itu, dan bapaknya di depan dengan setengah paksa memasukkan kontolnya ke mulut tante Lia yang posisinya di pinggir kanan. Sekitar tiga menit, aku berpindah ke bu Simo, pak Simo pun berpindah dioral mama. Dan kini kembali kusetubuhi mama dari belakang, sementara isteri pak Simo mengulum kontol suaminya. Bergeser lagi, aku setubuhi tante Lia, kini kemaluan pak Simo dilumat Asih. Aku menjadi tak yakin tentang status hubungan mereka, benarkan antara ayah dan anak? Peduli setan. Yang jelas permainan ini sangat nikmat. Kini ganti aku dioral tante Lia dengan rakus, sementara pak Simo mengauli Asih dari belakang.
Terus kami berputar sampai barangkali masing-masing perempuan mengalami 20 puluhan kali dioral dan dientot dari belakang, sampai akhirnya aku tak mampu menahan laju orgasmeku lagi, kali ini wanita beruntung yang menampung spermaku adalah tante Lia, sementara pak Simo… sekali lagi dengan pabrik spermanya, menyirami wajah empat wanita sensual penuh nafsu itu dengan semburan air mani yang banyak sekali.
Malam itu terasa amat panjang. Asih dan bu Simo telah tertidur di atas dipan, masih dalam keadaan telanjang walau berselimutkan kain batik lusuh, sementara pak Simo keluar rumah entah kemana. Hujan telah reda. Tapi berahiku belum mereda, aku kini berbaring menerawang di antara mama dan tante Lia yang tengah mendengkur halus. Entah setan dari mana, kembali kusetubuhi mama dan tante yang tertidur lelap itu sampai habis spermaku. Baru kemudian aku tertidur pulas.
Sinar matahari pagi menyilaukan mataku. Perlahan aku mulai mengerdipkan mata, serentak mama dan tante di kanan dan kiriku juga mulai terbangun dengan mata menyipit akibat sisa ngantuk dan silau, suara burung berkicauan ramai di luar. Juga deru kendaraan lalu lalang dan klakson. Kami saling bertatapan bingung, tante, mama dan aku nyaris menjerit mendapati tubuh kami telanjang bulat. Dengan reflek aku menutupi penisku, sedang mama dan tante mendekap payudaranya dan mencoba menutupi vaginanya. Lebih aneh lagi, kami tidak berada di rumah gubuk, tapi di kursi belakang mobil yang menghadap hanya sekitar 20 meter dari jalan raya, kami berada di atas jalan masuk hutan yang lebih tinggi dari jalan besar.
“Kamu ambil baju mama dan tante, cepat!” perintah mama. Aku bangun melewati tubuh mama, dengan setengah merunduk aku berjalan ke bagasi mobil, khawatir dilihat orang. Membuka bagasi dan mengambil tas koper mama, lalu aku mengambil ranselku dan berjalan ke balik pohon mengenakan pakaian. Dan kegaduhan di dalam mobil berakhir ketika dua wanita yang telah berpakaian itu keluar lalu buang air kecil di balik pepohonan. Sekilas aku dengar gumaman mereka seperti mengeluh dan menanyakan sesuatu. Lalu masih dengan wajah pucat kembali ke dalam mobil.
Dan kami segera berangkat. “Kita balik ke Jakarta aja, Ren.” ujar mama sesaat sebelum memasuki jalan raya. Aku yang juga bingung hanya menuruti perintah mama. “Dan kamu jangan cerita-cerita ke papa,” ujarnya lagi.
“Dan juga om mu,” timpal tante Lia.
Hp mama berdering dan mama terbata-bata meminta maaf karena batal menghadiri acara di Semarang. Wajahnya kian memucat ketika suara di telepon mengatakan sudah menunggu dua hari. Berarti sudah dua hari kami berada di hutan itu padahal kami merasakan hanya semalam. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam.
Baru beberapa hari kemudian kami ketahui, 30 tahun lalu pernah ada seorang dukun yang kedapatan meniduri anaknya hingga hamil. Ia kemudian diusir penduduk kampung bahkan desas-desusnya dibunuh di tengah hutan. Sementara si anak juga diasingkan dan akhirnya menghilang.
Mama dan tante kini menjadi sedikit pendiam, sementara aku kini makin gairah menikmati hidup. Tapi persoalan lain mulai mendera, mama dan tante mulai muntah-muntah, mereka positif hamil. Dari yang aku baca, hantu tak mungkin menghamili manusia, berarti…

Incoming search terms:

ngentot bude, Cerita dewasa mama, cerita ngentot bude, ngentot mama dan tante, cerita memek mama, cerita dewasa ibu kandung, cerita seks bude, ngentot mama sampai hamil, cerita bude, ngentot bude gemuk, cerita seks mamaku, ngentot mama kandung, ngentot ibu kandung, cerita ngentot mama kandung, memek mamaku, cerita sek bude, ngentot memek mama, cerita seks dengan ibu kandung, cerita seks dengan bude, Cerita Memek bude, cerita seks ibu kandung, ngentot tante dan mama, cerita dewasa mamaku, memek mama, ngentot anus mama

About admin

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker