Tuesday , September 16 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Petualangan Seks Hendra, Giliran Mbak Siti Kusetubuhi

Petualangan Seks Hendra, Giliran Mbak Siti Kusetubuhi


Mbak Siti
Setelah kejadian dengan mbak Yanti dan mpok Is, aku mulai memperhatikan tetangga-tetanggaku, siapa tahu aku beruntung dapat mencicipi tubuh tetanggaku yang lainnya, selain rumah mbak Yanti yang bersebelahan dengan rumahku, posisi rumah mbak Yanti berada di sebelah kiri rumahku sementara yang bersebelahan denganku di sebelah kanan adalah pasangan suami-istri juga, hanya mungkin agak susah dengan tetanggaku yang satu ini, karena kulihat istrinya ini mengenakan jilbab, sehari-harinya kalau kebetulan aku melihatnya saat pulang kerja ataupun pagi hari saat aku berangkat kerja selalu mengenakan pakaian tertutup, tapi aku tahu dibalik pakaiannya yang selalu tertutup itu dia mempunyai tubuh yang aduhai, wajahnya manis tidak bosan untuk dipandangi, kadang kalau sore hari saat dia menunggu kepulangan suaminya dan sedang mengobrol dengan tetangga lainnya aku perhatikan lekuk tubuhnya yang tercetak karena dia mengenakan celana jean dan kaos ketat berlengan panjang, tonjolan di dadanya terlihat membusung sungguh membuat penasaran orang yang melihatnya, aku hanya bisa memperhatikan lekuk tubuhnya itu dari balik jendelaku saja, kemaluankupun menggeliat melihat lekuk tubuhnya yang padat itu, aku berpikir keras bagaimana caranya aku dapat melihat tubuhnya tanpa penghalang satupun.
Pemandangan tadi sore membuatku tidak dapat memejamkan mataku, bentuk tubuh tetangga sebelahku itu telah membangkitkan hasrat kelelakianku, sebelumnya belum pernah aku perhatikan tetangga sebelahku itu, tetapi setelah kejadian dengan mbak Yanti dan mpok Is, aku jadi kepengen merasakan tubuh tetanggaku yang sintal dan padat itu, apalagi dia selalu mengenakan pakaian-pakaian yang tertutup sedikitpun tidak ada yang terbuka, sehingga membuatku penasaran ingin melihat tubuh telanjangnya, saat ini aku hanya bisa membayangkan saja lekuk-lekuk tubuhnya itu sambil mengira-ngira bentuk payudaranya dan lembah kenikmatannya, kemaluanku menggeliat.
Tengah asyik-asyiknya aku mengkhayalkan tubuh tetanggaku itu, kudengar suara ketukan di pintu belakangku, suara ketukannya sangat halus sekali, untung aku sedang berada di ruangan santaiku dan volume TVku juga kecil jadi suara ketukan tersebut bisa kudengar, kulirikkan kepalaku kearah jendela, kulihat sesosok wajah yang kukenal, jendela belakangku itu memang tidak kututup kalau aku belum pergi tidur, aku sendiri tidak takut akan nyamuk karena jendela itu kupasangi kasa nyamuk di bagian luarnya, lalu akupun bangkit dari dudukku dan menuju pintu belakang, lalu kubuka pintu tersebut.
“Lho..mbak Yanti, ada apa mbak?” kataku saat melihat seraut wajahnya.
Kemaluanku semakin menggeliat melihat mbak Yanti saat ini, tubuhnya yang seksi hanya mengenakan lingerie warna merah yang panjangnya hanya sampai s*****kangannya saja, sementara bagian bawahnya dia hanya mengenakan CD berwarna merah saja, akupun menelan air liurku sendiri melihat ini. 
“pake nanya lagi, ini gara-garamu kemaren ini, punyaku sekarang jadi gatel,” kata mbak Yanti.
“maksud mbak,” kataku pura-pura bego.
“Eehh..belaga bego lagi, gara-gara punyamu yang gede itu, punyaku jadi gatel sekarang pengen dimasukin lagi sama punyamu,” kata mbak Yanti.
“Oh..itu, memangnya mau dimasukin sekarang, lha terus suami mbak Yanti kalau tahu gimana?” kataku sambil tersenyum senang karena malam ini kontolku tidak akan menderita.
“Ya iyalah, nach mau ngapain aku kesini kalau bukan mau dimasukin sekarang, soal dia sich gak usah khawatir, hihihihihi..kopinya tadi udah kukasih obat tidur, sekarang dia lagi ngorok tuch,” mbak Yanti menjelaskan.
“Hehehehe…mbak Yanti nakal juga yach, ayo mbak masuk, nanti kalau sudah masuk tinggal aku yang masuk ke mbak,” kataku.
“Hihihihi…gara-gara kamu sich, iyach punyaku udah basah dari tadi nich ngebayangin dimasukin punyamu, iiihhhhh…udah ngaceng juga punyamu ini,” katanya lagi agak kaget saat tangannya meraba celana boxerku.
“Iyach dong mbak, punyaku sudah ngaceng dari tadi membayangkan tubuh mbak Yanti yang aduhai,” kataku menjelaskan dengan sedikit berbohong, sambil memberi jalan padanya untuk masuk kedalam rumah.
Setelah menutup pintu, aku membimbing dia kearah sofa, aku mulai mencumbunya dengan penuh nafsu, mulut kami saling lumat, lidah kami saling menari dan bersentuhan, kedua tanganku merambah kedua bongkahan pantatnya dan meremas-remasnya, tangan mbak Yantipun tak mau kalah aktif, kedua tangannya meluncur meraih boxerku dan menurunkannya sehingga kemaluanku teracung-acung tanpa penghalang lagi, kedua tangannya mulai mengelus-elus batang kemaluanku.
Karena asyiknya kami bercumbu dan kami berdua juga sedang dilanda nafsu birahi yang tinggi, jadi kami tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang melihat aksi percumbuan kami dari balik jendela, si empunya mata pertamanya merasa heran saat mbak Yanti melompati tembok pembatas rumah kami, karena kebetulan dia saat itu sedang berada di luar, apalagi saat itu mbak Yanti hanya mengenakan lingeri dan cdnya saja, dengan penuh penasaran si empunya mata ini mengikuti terus gerak-gerik mbak Yanti sampai saat sekarang ini dimana kami sedang asyik bercumbu.
Kedua matanya terbelalak saat dengan jelas sekali dia melihat kemaluanku yang sangat besar dan panjang, terlihat nafas si empunya mata itu mulai memburu saat melihat tongkolku sedang dimainkan oleh kedua tangan mbak Yanti.
Kamipun masih asyik bercumbu tanpa menyadari itu, dan tangan-tangan kamipun asyik saling meraba dan meremas, semakin lama percumbuan kami semakin panas dan semakin memburu pula nafas si empunya mata, celana boxerku sudah terlepas dan akupun sudah bertelanjang bulat di hadapan mbak Yanti dan si empunya mata, sementara lingerie dan CDnya mbak Yanti pun sudah terlucuti, tubuh seksinya sudah terpampang dihadapanku dan si empunya mata, dengan penuh nafsu akupun mulai menghisap-hisap kedua toketnya dan menjilati kedua putingnya yang sudah mengencang.
Tangan kananku mulai merambah s*****kangan mbak Yanti dan kurasakan memeknya mbak Yanti sudah sangat basah sekali, kuelus-elus belahan vagina mbak Yanti begitu juga dengan klitorisnya, tubuh mbak Yanti menggeliat menahan nafsu birahinya yang semakin memuncak, tangan kanannya semakin cepat mengocok-ngocok kontolku sementara tangan kirinya sibuk meremas-remas lembut biji pelerku, aku mendesah merasakan enak dan halus tangannya bermain di kemaluanku, mbak Yantipun melenguh manja menikmati selomotan-selomotanku di kedua payudaranya dan permainan tanganku di bibir vagina dan klitorisnya, sementara itu si empunya mata sibuk dengan kedua tangannya yang sedang meremas-remas payudaranya dan bermain di s*****kangannya.
“Oooohhh…Hen…ooohhh…sudah..Hen..sudah…aku sudah tak tahan lagiii…ooohh… pengen cepet ngerasain kontolmu lagi menyodok-nyodok punyaku…ooohhh…ssshhhh,” Mbak Yanti melenguh.
“Hehehehe…iyach nich mbak memekmu sudah basah sekali, sudah siap untuk diterobos kontolku ini, mbak mau diatas atau mau gaya apa nich, aku juga sudah pengen ngerasain jepitan memekmu lagi…” kataku.
“Hhhmmm…aku diatas..yach…,” katanya.
“Baiklah kalau maunya mbak begitu,” kataku sambil duduk di sofa.
Tanpa kusengaja aku duduk di sofa yang menghadap ke jendela dan sofa itu khusus untuk duduk 1 orang saja, posisi dudukku sengaja agak turun kebawah sehingga pantatku berada di bibir sofa, agar mudah nantinya untuk mbak Yanti memasukkan kemaluanku dan menggoyang kemaluanku, mbak Yantipun menghampiriku dan memposisikan dirinya mengangkangiku, tangan kanannya meraih kemaluanku dan mulai mengoles-oleskan kepala kontolku itu ke belahan memeknya dan klitorisnya, mbak Yanti mendengus merasakan kerasnya kemaluanku itu, tangan kirinya mulai menguakkan lubang vaginanya dan dengan perlahan kemaluanku ia tuntun ke arah lubangnya.
Sssllleeeeeepppppp…kepala kontolku mulai hilang tertelan oleh bibir vaginanya, aku dan mbak Yanti melenguh bersamaan.
“Ooooooohhhhhhhh……” aku dan mbak Yanti melenguh bersamaan merasakan beradunya kemaluan kami.
“Heeeehhhh…Hen…punyaku ini pernah diterobos punyamu, tapi masih saja sesak lubangku oleh punyamu….hhhhmmmm….” kata mbak Yanti merasakan penuh sesak lubangnya oleh jejalan kepala kontolku.
Bllleeeeeeeesssssss….. Dengan perlahan-lahan sekali mbak Yanti menurunkan pantatnya, kontolkupun mulai melesak perlahan-lahan kedalam lubang memek mbak Yanti, kulihat mata mbak Yanti terpejam dengan mulut yang meringis, sepasang mata yang sedang menyaksikan kamipun terbelalak saat kontolku mulai menerobos masuk ke dalam lubang mbak Yanti, dia melihat betapa lubang memek mbak Yanti penuh sesak oleh sumpalan kontolku, tangan kanannya semakin mengelus-elus memeknya sendiri.
Bbllleeeessssss….kembali mbak Yanti menurunkan pantatnya, sehingga kontolkupun semakin melesak lebih dalam lagi kedalam lubangnya.
“Oooooouuugghhhhh…..Heeen…..oooouuugghhhh….perasaa nku kontolmu ini semakin besar saja…aaaachhhhh…,” mbak Yanti melenguh merasakan lubang memeknya yang penuh sesak oleh lesakan kontolku.
Bllleeeeesssssss….akhirnya kontolkupun terbenam seluruhnya dalam lubang kemaluan mbak Yanti saat mbak Yanti menurunkan pantatnya lagi.
“Oooouuuuugghhhh…Hendraaaa…..aaacchhhh…mentooookkk …kontolmu….mentook ke dinding rahimku…aaaaccchhhhh…” mbak Yanti mengerang saat merasakan dinding rahimnya tersundul oleh kepala kemaluanku.
Si empunya mata yang sedang menyaksikan perbuatan kami inipun semakin terangsang saat mendengar erangan mbak Yanti, seolah dia merasakan sendiri kemaluannya diterobos oleh kemaluan yang besar dan panjang, diapun melenguh lirih.
Dengan perlahan-lahan mbak Yanti mulai mengangkat kedua kakinya satu persatu, kedua lututnya sekarang berada di samping kiri dan kanan pantatku, lalu dengan tubuh yang sedikit condong kedepan sehingga kedua payudaranya yang montok itu mendekati mulutku, akupun segera menyambut payudara mbak Yanti itu dengan kedua tanganku yang langsung bekerja meremas-remasnya, sementara mulutkupun tak ketinggalan mulai menghisap-hisap lagi kedua payudara itu silih berganti kiri dan kanan, mbak Yanti sendiri mulai menaik-turunkan pantatnya dengan perlahan, kontolkupun dengan sendirinya keluar masuk di memeknya yang sempit itu, mbak Yanti mulai mendesah-desah merasakan pergeseran batang kemaluanku dengan dinding vaginanya.
Kemaluannya yang sedang gatal itupun mulai merasa enakan dengan sumpalan dan gesekan-gesekan batang kemaluanku di lubang memeknya itu, ternyata gatal pada kemaluannya itu adalah akibat luka karena terobosan kemaluanku kemarin ini dan sekarang luka tersebut mau sembuh, terbayangkan kalau kita punya luka yang mau sembuh pasti luka itu akan gatal, begitulah dengan kemaluan mbak Yanti, gesekan-gesekan yang ditimbulkan oleh batang kemaluanku yang beradu dengan dinding vaginanya seolah menggaruk-garuk lukanya yang mau sembuh.
“Ooouuugghhh…Heen…enaaaakk…Hen…kontolmu enaak…gatalku seperti digaruk-garuk kontolmu ini…ooouugghhh…sshhh..a.aaacchhh….aaaahhhh…ssshhhh …aaahhhh ooouuuggghhhh…” desah mbak Yanti sambil tetap menggoyangkan pantatnya naik turun dengan perlahan.
“Hhhmmmm…ssslllrrrppp…hhhmm…ssslllrrrrppp….memekmu enak mbak sempit..hhhmm slllrrpppp…hhhmmm…ssllrrppp….kontolku kejepit sekali…oleh memekmu ini…hhhmmmm sslllrrrppp…hhhmmm…slllrrpppp…,” gumamku ditengan kesibukan mulutku yang sedang asyiknya menyusu di kedua payudaranya.
“Teruuuusss….Heeenn…ooouuugghhhh…kenyoooott…tetekk u…oooouuugghh…jilatin putingku…ooouugghhh…Heeen…terusss…ooouugghh…sshh…a aahhh…sshhh..aaahh…nikmaaaatt…ooouugghh…enaaakk….o ougghh…enaakknya…dientot kontolmu yang gede ini…ooouugghh…ssshh…aaahhh…” mbak Yanti mengerang lirih.
Posisi dudukku yang menghadap jendela terhalang oleh tubuh mbak Yanti, sementara tubuh mbak Yanti yang membelakangi jendela membuat siempunya mata semakin leluasa menyaksikan persetubuhan kami, dari mimik mukanya sudah dapat dipastikan dirinya sudah terangsang sekali apalagi mendengar rintihan dan desahan mbak Yanti.
Karena memang sudah sangat bernafsu dari tadi sore ingin merasakan sodokan-sodokan kontolku yang besar dan panjang ini, membuat mbak Yanti tak kuasa membendung nafsu birahinya yang menggelegak, gairah birahinya sudah semakin memuncak, puncak pendakian gunung kenikmatanpun sudah diambang mata, goyangan pantatnya semakin bertambah cepat, desahan-desahannya semakin sering terdengar.
“Ooouuugghhhh…Heeen…aku sudah tidak tahan lagi…ooouggghh…aaachhh…akuuu… ooouuugghhh..mau….aaachhh…Heeenndraaaaaa….aku keluaaaarrr….ooouugghhhhh…. enaaaaakk…..ooouugghhhh…nikmaaatt….ssshhh…aaaachhh ….Heeenn…aakkuu keluar duluaaann….ooouugghhh,” mbak Yanti mengerang menyambut orgasmenya.
Ssssseeeerrrrrrrrrrrrr….ssssrrrrrrrrrrrrrrr….sssss srrsssrrrrr……sssssrrrrrrrrrr…..memeknya menyemburkan lahar kenikmatannya, membuat hangat batang kemaluanku yang sedang berada di dalam lubang senggamanya, kurasakan saat itu juga dinding vaginanya berdenyut-denyut sangat kuat, aku merasakan kemaluanku bagai diremas-remas oleh vaginanya mbak Yanti.
Mbak Yanti terdiam meresapi orgasme yang berhasil ia rengkuh, nafasnya memburu, ku elus-elus punggung dan pantatnya, dan kuhisap-hisap lembut kedua payudaranya silih berganti, kubiarkan dia menikmati orgasmenya ini, saat tengah menikmati sensasi orgasmenya, aku dan mbak Yanti dikejutkan dengan terbukanya pintu belakangku dan terjatuhnya sesosok tubuh di ruangan belakangku.
Rupanya siempunya mata ini tidak menyadari bahwa pintu belakangku tidak terkunci sementara dia saat itu sedang bersandar di pintu, dan saat dia menyaksikan mbak Yanti yang mencapai orgasmenya itu, tanpa dia sadari tubuhnya menekan kebawah pegangan pintu sehingga membuat pintu terbuka secara tiba-tiba dan tubuhnya terjatuh kedalam ruangan dimana mbak Yanti yang sedang berada diatas pangkuanku sedang menikmati orgasmenya.
“mbaaakkkk…..Siitiiii…….” suara lirih aku dan mbak Yanti serempak terdengar saat mengetahui sosok tubuh yang jatuh itu adalah tetangga sebelah rumahku.
“eeeeeehhhhh…..maaaaafff….maaafff…..” katanya gugup dengan muka merona merah, dan kepala tertunduk, tapi matanya tetap tidak melepaskan tatapannya pada kedua tubuh kami yang telanjang bulat dan sedang bersatu.
“Hihihihihi….mbak Siti ngintip kami yach,” kata mbak Yanti yang sudah reda rasa kagetnya.
“Eeehhh…tidak…tidak..aku tidak mengintip kok….,” jawabnya gugup, kulihat wajahnya yang manis semakin bertambah manis dengan rona merah di kedua pipinya menahan malu, aku jadi bertambah gemas saja apalagi saat itu mbak Siti tidak sedang mengenakan jilbabnya.
“Lha..kalau tidak sedang mengintip kita yang sedang asyik, lalu mbak Siti lagi ngapain kok ada dirumahnya Hendra ini, hihihihihi…mbak Siti…mbak Siti…pasti pengen yach ngerasain punyanya Hendra yang besar ini yach…ooooooouuuuhhhhhh..Hen…,” kata mbak Yanti sambil mengangkat pantatnya sehingga kontolkupun keluar dari jepitan lubang vaginanya dan mbak Yanti melenguh saat merasakan gesekan batang kemaluanku yang menggeser ketat dinding vaginanya itu.
Setelah terlepasnya kemaluanku dari jepitan vaginanya, Mbak Yanti menghampiri mbak Siti yang masih bengong dan terkesima memandangi kemaluanku yang baru saja terlepas dari jepitan vagina mbak Yanti, mbak Yanti menarik tangan mbak Siti kearah aku berada, mbak Siti menghampiri diriku yang masih terduduk di sofa, mbak Siti mengikuti tarikan tangan mbak Yanti seperti kerbau yang dicocok hidungnya dengan kedua mata yang masih terpaku pada kemaluanku yang sedang tegang-tegangnya.
“hihihihi…besarkan kontolnya Hendra yach mbak, pasti enak kalau punyamu dimasukin tongkol segede itu,” kata mbak Yanti sambil tangannya meraba memeknya mbak Siti dari luar dasternya.
“Heeeh…ooooohhhh….” Mbak Siti mendesah dan tubuhnya menggelinjang saat kemaluannya tersentuh oleh tangan mbak Yanti.
“hihihihihi…pegangin mbak, pegangin kontolnya Hendra yang besar ini, biar mbak Siti tangan bisa ngerasain besar dan panjangnya tongkol si Hendra, ayo mbak jangan malu-malu,” kata mbak Yanti sambil menarik tangan mbak Siti untuk menyentuh kemaluanku.
“Eeehh….Yanti…eeehhh….” mbak Siti gugup saat tangannya ditarik oleh mbak Yanti dan mulai bersentuhan dengan kemaluanku.
Melihat mbak Siti masih ragu untuk memegangi kemaluanku, mbak Yanti menekan tangan mbak Siti sehingga telapak tangannya yang halus kurasakan menempel di kemaluanku, dan kemudian mbak Yanti menggerakkan tangan mbak Siti naik-turun, telapak tangan mbak Siti bergesekan dengan kemaluanku, aku mendesah keenakan merasakan kehalusan tangan mbak Siti.
“hihihihihihi…besar yach mbak, panjang dan keras kemaluan Hendra yach mbak,” goda mbak Yanti.
Mbak Siti tidak mengeluarkan suara sedikitpun untuk membalas godaan mbak Yanti, tapi kulihat matanya terpaku pada kemaluanku yang sedang digesek-gesek oleh telapak tangannya dan rona merah menghiasi kedua pipinya, lama-lama tangan mbak Siti mulai melingkari batang kemaluanku, dan gerakan naik turun tangannya tidak lagi di bimbing oleh tangan mbak Yanti karena kulihat tangan mbak Yanti sudah tidak memegangi tangan mbak Siti, tangan mbak Yanti sudah beralih mengelus-elus pundak mbak Siti yang terbuka, mbak Siti memang mengenakan daster satu tali, kedua tali dipundak kiri dan kanannya itu kulihat tersimpul di atas pundaknya, tangan mbak Yanti yang sedang mengelus-elus pundaknya kulihat mulai beralih kesimpul tali daster mbak Siti, dan dengan sekali hentakan tali simpul itu di lepaskan oleh mbak Yanti, akibatnya daster mbak Siti terlepas bagian atasnya memperlihatkan kedua buah payudaranya yang cukup besar dan masih mengkal, rupanya saat ini mbak Siti tidak mengenakan bra dibalik dasternya, dengan posisi tubuhnya yang sedang membungkuk itu membuat kedua buah payudara mbak Siti itu terlihat menggantung dengan indahnya membuatku gemas ingin meremas-remas keduda payudara tersebut, tangan kananku segera meraih payudara sebelah kirinya dan mulai meremas-remasnya.
“Aiiihhhh….Yanti apa yang kamu lakukan…oooohhhhh…jangaaan…..oooohhhh…” kata mbak Siti sambil mendesah saat teteknya mulai kuremas dan tangan kirinya berusaha menyingkirkan tanganku dari payudaranya.
“Gak usah malu mbak, mbak kan sudah lihat punyanya Hendra, jadi adil dong kalau Hendra juga lihat tetek mbak, lagipula punya tetek bagus seperti ini kenapa mesti malu,” jawab Yanti sambil tangan kanannya ikut meremas tetek mbak Siti yang sebelah kanan, sementara tangan kirinya menarik dasternya melewati pantat mbak Siti sehingga mbak Siti hanya tinggal mengenakan CDnya saja.
“ooooohhhh…jangan Yanti..jangan aku malu…ooohhh…aku belum pernah telanjang didepan orang lain…oooohhhh…” mbak Siti berkata sambil mendesah, tangan kirinya berusaha menghalangi kedua tangan kami yang sedang meremas-remas teteknya, tapi tangan kanannya tetap menggenggam kemaluanku.
Aksi mbak Yanti semakin nakal, tangan kirinya setelah selesai melorotkan dasternya mbak Siti mulai merambah s*****kangan mbak Siti, tangannya mulai mengelus-elus vagina mbak Siti yang masih tertutupi oleh CDnya.
“Hhhmmmm…sudah basah sekali nich CDnya mbak, hihihihihi..mbak Siti malu tapi mau yach, hihihihihihi…” goda mbak Yanti lagi.
Tiba-tiba mbak Yanti menghentikan aksi kedua tangannya, kedua tangan mbak Yanti beralih memegangi CD mbak Siti dan melorotkannya dengan cepat, sehingga mbak Siti menjadi telanjang bulat, aku tidak dapat melihat vagina mbak Siti karena posisinya yang menyamping, lalu setelah sukses melepaskan CDnya mbak Siti itu, kedua tangannya kembali melakukan aksinya kembali, tangan kanan meremas-remas payudara dan tangan kiri mulai merambah vagina mbak Siti yang sudah tidak terhalangi oleh selembar kainpun dan sudah sangat basah sekali.
“Yantiiii….iiihhhh…oooooohhhhhhhhh……” mbak Siti kaget saat CDnya dilepaskan oleh mbak Yanti dan melenguh saat kedua tangan mbak Yanti kembali beraksi.
“hihihihihi…mbak Siti malu yach tapi memeknya udah basah sekali nich, udah dech mbak nikmati aja tuch tongkol gede punya Hendra, jarang-jarang lho kita bisa dapat yang segede dia, kan punya suami kita kecil-kecil mbak, apa punya suamimu sebesar kepunyaan Hendra,” kata mbak Yanti.
Tangan kiri mbak Siti sudah berhenti berusaha menghentikan kedua tangan kami, dan beralih pada kemaluanku, kedua tangannya mulai sibuk mengocok-ngocok kemaluanku, pantatnya mulai bergoyang mengikuti gerakan tangan mbak Yanti yang sedang mengelus-elus belahan bibir vagina dan kelentitnya, mulutnya mendesah-desah, dengan posisi tubuhnya yang membungkuk wajahnya tepat berada di atas s*****kanganku, mulutnya yang sedang mendesah-desahpun tepat berhadapan dengan kontolku yang sedang dalam kocokan-kocokan tangannya, tangan kiriku mengusap-usap kepalanya dan dengan perlahan-lahan menekan kepalanya kebawah sehingga mulutnya semakin mendekati kontolku yang sedang berdiri dengan gagahnya.
“Oooooohhhhhh…….” Aku melenguh saat merasakan bibirnya mbak Siti bersentuhan dengan kepala kontolku, tanganku masih berusaha menekan kepalanya kebawah.
“Hhhmmmmmm…….” Mbak Siti bergumam saat bibirnya bersentuhan dengan kepala kemaluanku yang sedang dalam genggaman kedua tangannya.
“mbak Siti…ciumin punyaku mbak….ooooohhhhh….emut punyaku mbak….oooohhhh… yach….begitu…jilatin punyaku…mbak….oooohhhh….ssshhhh….enaaaaaakkkk mbak…. Oooohhh….mbak,” aku melenguh merasakan permainan lidah dan mulut mbak Siti di kemaluanku.
Mbak Siti dengan ragu dan masih merasa malu, mulai membuka mulutnya dan memasukkan kepala kontolku ke dalam mulutnya, saat kepala kontolku berada dalam rongga mulutnya, lidahnya mulai menari di kepala kontolku, entah karena masih malu atau karena mbak Siti belum pernah melakukan oral seks, mbak Siti hanya mendiamkan kepala kontolku itu dalam rongga mulutnya saja tanpa mengeluar masukkan tanpa menghisap-hisapnya, hanya lidahnya saja yang menari di kepala kemaluanku itu.
“Ooohhh….mbak emut…mbak…hisap-hisap, mbak…oooohhh….mbak….” aku melenguh lagi merasakan permainan lidahnya dan kocokan tangannya di batang kemaluanku.
“Hen…memek mbak Siti udah banjir sekali nich, udah siap nich buat disodok kontolmu yang besar itu…hihihihihi…biar dia bisa merasakan enaknya di sodok oleh kemaluan yang besar dan panjang,” kata mbak Yanti.
“bentar lagi mbak….hehehehehe…aku masih pengen ngerasain di emut mulutnya nich… oooohhhh…yach begitu mbak…oooohhh…enaaaakkk…teruuuusss…kenyot kontolku… mbak….oooohhh…enaaakkk…mbak…..” kataku sambil melenguh saat mbak Siti mulai menghisap-hisap kepala kontolku yang sedang berada dalam rongga mulutnya.
“Hhhhmmmmm….sssslllrrrppp….hhhmmmm….sssllrrrpppp…. ” mbak Siti bergumam sambil mulutnya menghisap-hisap kepala kontolku.
“eeeiiittttss….mbak Siti, udah mulai berani mengenyot-ngenyot punyanya Hendra, hihihihi enaak…yach.mbak…gurih mbak….echh…mbak..cairan memekku masih nempel tuch di kontolnya Hendra, mbak…gimana enaaaak…gak……gurihkan..” mbak Yanti kembali menggoda mbak Siti.
Mbak Siti hanya bisa tersipu malu tapi mulutnya masih terus beraksi menghisap-hisap kepala kontolku, dan kedua tangannya terus mengocok-ngocok batang kemaluanku, aku sungguh menikmati permainan mulut dan kedua tangannya itu, tak kusangka malam ini aku bisa merasakan bibir dan mulutnya mbak Siti mengulum-ngulum kepunyaanku dan sebentar lagi aku bisa merasakan lubang vaginanya menjepit kontolku.
“mbak Siti, sudaaaaahhh…mbak…sudaaahh…aku pengen ngerasain memekmu menjepit kontolku…ooooohhhh…..mbak Sitiiiii….oooohhhh….,” aku mendesah.
Akupun mengangkat kepala mbak Siti untuk menghentikan kuluman mulutnya di kemaluanku, kulihat wajahnya tersipu malu saat bertatapan denganku, rona merah masih menghiasi kedua pipinya, aku semakin bertambah gemas saja melihatnya.
Mbak Siti masih tertegun tak bergerak, batinnya masih berperang antara malu, takut dan pengen merasakan kontolku masuk kedalam lubang senggamanya, tubuh mbak Siti yang masih dalam keadaan membungkuk itu tiba-tiba jatuh kepelukanku, rupanya mbak Yanti tidak sabar melihat mbak Siti yang masih tertegun ragu itu sehingga ia mendorong tubuh mbak Siti, mbak Siti kaget saat tubuhnya terjatuh menimpaku, dan merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulitku, dia melengos menghindari wajahku dan berusaha mengangkat tubuhnya, kedua tanganku segera memeluk tubuhnya, mbak Siti meronta mencoba untuk melepaskan pelukanku, kedua tangannya mencoba untuk melepaskan kedua tanganku yang sedang memeluk perutnya, sementara kedua kakinya berusaha mendorong tubuhnya untuk keatas, dan saat itu juga tangan mbak Yanti beraksi kembali, dia mengangkat kaki kirinya mbak Siti dan meletakkannya di samping pinggul kiriku, sehingga posisi mbak Siti mengangkangi tubuhku, lalu mbak Yanti menggenggam kemaluanku dan mulai mengoles-oleskan di belahan vagina mbak Siti yang tepat berhadapan dengan kemaluanku itu.
“Oooooooohhhhhhhhhh…….” Aku dan mbak Siti melenguh bersamaan merasakan kemaluan kami bersentuhan.
Tangan kanan mbak Yanti menggenggam kemaluanku dan mengoles-oleskannya di vagina mbak Siti, tangan kirinya mengelus-elus kelentit mbak Siti, membuat kami berdua kembali melenguh,
“Oooooohhhhhhhhhh……” kami berdua kembali melenguh bersamaan.
“Hihihihihihi…geli…dan enak..yach..mbak,” mbak Yanti berkata menggoda.
Dan….ssssssllllleeeeeeppppppp…..kepala kontolku mulai terjepit di vaginanya mbak Siti karena tangan mbak Yanti yang mulai menyelipkan kepala kemaluanku itu di lubang vaginanya mbak Siti.
“Oooooooooohhhhhhhhhhhh…..” aku dan mbak Siti melenguh panjang.
“Hihihihihihi…enak Hen…memeknya enak yach….gimana..mbak…enakkan…kemaluan Hendra….hihihihi….nikmatin mbak…kemaluan Hendra ini….” Kata mbak Yanti.
Aku segera memegangi pinggang mbak Siti dan mulai menurunkan perlahan-lahan, bbblleeeeeeeesssssss ….perlahan-lahan kemaluanku mulai menyeruak masuk di lubang senggama mbak Siti, 
“hhhheeeeggghhhhh…..pelaaaaannn….aaaduuuuhhh…robee k..punyakuu…aaduuuhh sakiiitttt….aaauuuwwwww….ooooggghhhhhh…..” mbak Siti mulai mengerang kesakitan saat kontolku mulai melesak perlaha dilubang senggamanya.
“ntar juga enak mbak…pertama sich emang sakit…mbak…tapi lama-lama mbak Siti akan merasa keenakan…..terus ketagihan dech sama punyanya Hendra….hihihihihi…” kata mbak Yanti sambil mengangkat kaki kanannya mbak Siti dan menaruh di samping pinggul sebelah kananku.
Posisi mbak Siti sekarang setengah berjongkok membelakangiku dengan kemaluanku yang baru terbenam hampir setengahnya, mbak Yanti melihat mbak Siti meringis kesakitan merasakan sumpalan kemaluanku di lubang vaginanya, tangan kanannya mulai beraksi mengelus-elus lagi kelentit mbak Siti, sementara mulutnya mulai menghisap-hisap kedua payudara mbak Siti silih berganti kiri dan kanan, tangan kirinya meremas-remas tetek kanannya mbak Siti.
“Yaaanntiii…jangaaann…sudaaaahh…geliiii…oooohhh….. saakkiiiit…Heennn….punyaku sakit…sudaaahhh…oooohhh…sudaaahhh…aaakuuu…. aaauuuw www….ooohhh…aaku maaluuu…aakuuu…oooohhh….maaafiinnn…akuuu…suamikuuu …aaaduuuhh …ooohhh.. sudaaaahhh….suudaaahhhh…aaaahhh…,” mbak Siti merintih antara geli, sakit, malu dan merasa bersalah karena mengkhianati suaminya.
“Sudahlah..mbak…nikmatin aja…lupain suamimu…” kata mbak Yanti lagi.
Aku kembali menekan pinggangnya kebawah, dan bbllleeeeessssssss…..dengan perlahan-lahan kemaluanku mulai menerobos kembali di dalam lubang vaginanya mbak Siti sehingga terbenam seluruhnya, mbak Siti mengerang panjang saat merasakan kemaluannya dimasuki kemaluanku itu.
“Hheeeggghhhhh….aaaauuuuuwwww…..aaaaddduuuhhh….saa aakiiiiitttt….Heeenn…ampun….aaaaadduuuhhh…aaampuun n…ssaaakiiittt…punyaku..sakiiitt…sssshhhhh….sudah. .Yantiiii…sudaaahhh….aaduuuhhh…geeellliii…aauuuwww ….ooohhh….” mbak Siti mengerang merasakan geli dan sakit bercampur aduk.
“hhhmmm…ssllrrppp…nikmatin…aja mbak..hhhmmm…ssllrrrppp….hhhmmm…sssllrrppp hhhmmmm …. sssllrrrpppp….aku juga pertamanya sakit…tapi lama-lama enak lho..mbak.. hhhmmm…slllrrppp….hhhmmm…ssllrpppp….,” mbak Yanti berkata ditengah kesibukannya menghisap-hisap tetek mbak Siti.
Ssssrrrtttt….bleeesss….ssrrrtttt…bbllleeesss…ssrrt tt…bblleeesss…. aku mulai menaik turunkan pinggang mbak Siti dengan perlahan, sehingga kemaluanku mulai keluar-masuk di lubang vaginanya dengan perlahan-lahan.
Memeknya mbak Siti lebih sempit dari memeknya mbak Yanti karena mbak Siti belum mempunyai anak sehingga lubang senggamanya ini belum pernah mengeluarkan kepala bayi, beda dengan mbak Yanti yang sudah pernah mengeluarkan kepala bayi dari kemaluannya.
Lama-lama memeknya mbak Siti mulai banjir oleh cairan precum kami berdua, dan mbak Siti juga sudah mulai dapat menikmati kemaluanku yang sedang keluar-masuk di lubang vaginanya, erangan kesakitannya sudah tidak terdengar lagi, yang terdengar sekarang adalah desahan-desahan keenakan merasakan kocokan-kocokan kemaluanku yang keluar masuk di lubang memeknya dan permainan mulut serta tangan mbak Yanti yang menyerang di kedua payudara dan itilnya.
“Ooooohhhhh…ssshhh…aaahhh…ssshhh..ooohh..aachhh…ss shhh..ooohh…aachhh.. ssshhh…aaahhhhh…ooohhh…ssshhh… aaachhh.. sshhhh …ooohhh…,” mbak Siti mendesah-desah keenakan.
Kemaluanku semakin bertambah lancar sekarang ini keluar-masuk di vaginanya, kulihat tangan mbak Siti mencengkram kuat bantalan sofaku, dan mbak Sitipun dalam posisi jongkoknya itu mulai menggerakkan pantatnya naik turun di atas s*****kanganku, walaupun masih perlahan gerakan naik turunnya, mulutnya terus menerus mendesah-desah keenakan.
Entah karena merasa sangat enak memeknya di sodok-sodok oleh kemaluan besarku atau karena dia masih malu untuk mengatakan bahwa memeknya sangat enak sekali di sodok-sodok kontolku, karena dari mulutnya yang terdengar hanyalah suara desahannya saja, gerakan naik turunnya itu membuatku sedikit menghemat tenagaku karena aku tidak perlu terlalu mengeluarkan tenaga untuk mengangkat-turunkan tubuhnya, sekarang aku lebih dapat konsentrasi menikmati jepitan memeknya yang sempit dan menjepit ketat batang kemaluanku.
Walaupun lubang memeknya sudah sangat basah tetapi aku masih sangat merasakan betapa ketatnya dinding vagina mbak Siti ini menjepit batang kemaluanku, dan geseran-geseran batang kemaluanku di vaginanya masih peret saja kurasakan, suara kecipak beradunya kemaluan kami bercampur aduk dengan suara desahan kami berdua dan suara sruputan mulut mbak Yanti yang sedang asyik mengenyot-ngenyot payudara mbak Siti memenuhi ruanganku ini.
“Oooohhh…ooohhh..ssshhh..aachhh…ooohhh…ssshhh…aach hh..sshhh..aahhh…ooohhh…shhhh…aaahhhh..ssshhh..ooo hhh…” desah mbak Siti menikmati kemaluanku yang sedang keluar masuk di memeknya dan menikmati kenyotan-kenyotan mbak Yanti di payudaranya.
“Memekmu sempit sekali, mbak…oooohhh…nikmat..ooohhh..enak…ooohhh….” akupun mendesah keenakan merasakan jepitan vaginanya.
“Hhhmmm..ssslrrrpppp…hhhmmm…sssllrrrppp…hhhmmm..ss llrrrppp…” suara mbak Yanti yang sedang sibuk mengenyoti payudara mbak Siti.
Mbak Siti betul-betul menikmati sodokan-sodokan kontolku di memeknya, suara desahannya terus menerus terdengar keluar dari mulutnya, hanya mbak Siti tidak mengucapkan kata-kata vulgar saat merasakan enak tidak seperti mbak Yanti yang mengungkap perasaan enaknya dengan kata-kata vulgar, entah karena dia masih malu atau karena dia tidak biasa mengucapkan kata-kata vulgar atau karena tabu baginya untuk mengucapkan kata-kata vulgar, tapi yang jelas aku tahu bahwa mbak Siti betul-betul merasakan keenakan yang belum pernah dia alami sebelumnya, dan saat ini tidak terdengar erangan kesakitan keluar dari mulutnya, yang ada mulutnya terus menerus mengeluarkan desahan-desahan.
“Sssshhh..aaahhh…ssshh…oohh…aaahh…ssshhhh….aaahhh. .ooohhh….ssshhh…aaahh…ooohhh…ssshhhh…aaahhh…sshhhh …ooohhh…..sshhh..aaahhh…ooohhhh…” desah mbak Siti menikmati sodokan-sodokan kontolku di memeknya dan menikmati permainan mulut mbak Yanti di kedua teteknya serta jari jemari tangan mbak Yanti yang bermain di kelentitnya.
“Uuugghhhh….gila…memekmu masih peret aja mbak, biarpun memekmu sudah banjir begini…oooohhh….nikmaaat…mbak…memekmu….ooouuugghhh ….aaahhhhhh…..mbak, oooohhhhh…..sedaaaappp….” desahku merasakan rapetnya lubang vagina mbak Siti.
Tubuh mbak Siti bergetar hebat dan gerakan naik turunnya semakin tidak beraturan, tiba-tiba dengan kuatnya dia menghentakkan pantatnya kebawah lalu terdiam, tubuhnya mengejang-ngejang, batang kemaluanku menjadi hangat dan dinding vaginanya berdenyut-denyut kuat, rupanya mbak Siti telah mencapai puncak orgasmenya, nafasnya kudengar tersengal-sengal, dan mulutnya mengeluarkan suara lenguhan panjang.
“Oooooooooohhhhhhhhh……ssshhhhhh……ooooooohhhhhhhhh… .ssshhhh….aaaaahhhhhhhhhhh….ooooohhhhhhh…sssshhhhh hh…….ooooooohhhhhhhhhh,” mbak Siti melenguh panjang saat mencapai puncak orgasmenya.
“Wooooowwww…..hangatnya…cairanmu mbak….hehehehehe….mbak Siti keluar yach, kok gak ngomong-ngomong sich keluarnya…..enaaaaakkk…yaach…mbak..kontolku…. oooohhhhh…memekmu berdenyut-denyut..mbak…oooouuugghhhhh…kontolku seperti diremas-remas nich….ooooohhhh,” kataku mendesah merasakan hangatnya cairan laharnya dan denyutan dinding vaginanya.
“Hihihihihihi….mbak enak yach sampai lupa ngasih tahu mau keluar…emang kontolnya Hendra luar biasa tuch…bikin puas memek kita…hhhhmmmm….ssslllrrrrpppppppppp,” mbak Yanti berkata sambil menghisap kuat teteknya mbak Siti.
“Ooooooooooooohhhhhhh…Yaaanntttiii….oooooohhhh…” lenguh mbak Siti menikmati kenyotan mulut mbak Yanti di teteknya.
Aku memberikan kesempatan kepada mbak Siti untuk menikmati puncak orgasmenya yang berhasil dia rengkuh, padahal kontolku sudah mendekati puncak kenikmatannya juga, tapi aku sengaja biarkan dia menikmati puncak pendakiannya yang mungkin baru pertama kali ini dia rengkuh, setelah kurasakan dinding vaginanya mulai berkurang denyutannya, aku mulai kembali mengangkat-turunkan pinggangnya, dan mulai memompakan pantatnya diatas batang kemaluanku, kontolku kembali keluar-masuk di lubang kenikmatannya.
Air maniku sudah mulai menjalar di batang kemaluanku, puncak kenikmatanku sudah diambang pintu, s***** tak lama kontolku mulai berdenyut-denyut kuat dengan menghentakkan pantatku keatas dan menarik pinggang mbak Siti kebawah, kontolkupun terbenam lebih dalam di lubang kenikmatannya dan kepala kontolku menyundul dinding rahimnya dengan kuat dan air manikupun muncrat menembaki dinding rahimnya itu, mbak Siti merasakan yang merasakan hangatnya spermaku menembaki dinding rahimnya menajdi kaget dan berusaha bangkit, tapi sayang tenagaku lebih kuat menahan pinggangnya, sehingga kontolku tuntas mengeluarkan semua air maninya di dalam rahim mbak Siti.
“oooouuuggghhhhhh…mbaaaakk….aku keluaaaaar….aaachhhhh…nikmaaaattt…..enaak ngentotin mbak Siti, bener-bener enaaaakkk…mbakk…ooouugghhh…mbak..terimaaa..ini.. pejuuuhkkuuuuuu….mbak….aaachhhh….,” aku mengerang menikmati keluarnya air maniku.
“Eeehhhh….Hen….eeehhh….ddilluaaaarrr…aaduuuuhh…kok …..dikeluarin…..di dalam…. Adduuhhh….gimana ini….aduuuhhh…..hangaaattt….sekaliiii…oohhhhh….,” katanya kaget saat merasakan dinding rahimnya di sembur oleh air maniku.
“Aaaachhh…mbak…biarlah…mbak…nanggung…sich..enaak…s iichh…aaaachhh…mbak nikmatin aja pejuhku…mbak…aaaachhh….,” kataku.
Aku puas dapat mengentot mbak Yanti dan mbak Siti malam ini, terutama mbak Siti yang memang dari tadi sore sudah kubayangkan lekuk tubuhnya, tapi malam ini aku berhasil menikmati tubuhnya mbak Siti, dan merasakan memeknya yang sangat sempit, dan aku berhasil ngecret di lubang memeknya, kontolku mulai berhenti berdenyut dan menyemprotkan air mani, perlahan-lahan kontolku mulai melemas dan mengecil, bersamaan dengan itu air maniku mulai meleleh keluar dari lubang memeknya mbak Siti.
“Hendra…kenapa kamu keluarin didalam….bagaimana kalau nanti aku hamil, apa yang harus kubilang pada suamiku…” kata mbak Siti.
“Iyach..mbak maaf..aku gak sempet nyabut kontolku…saking enaknya sich tadi…yach jangan bilang sama suami mbak dong, masa mbak Siti mau bilang sama suaminya habis ngentot sama aku..,” kataku.
“Kalian tega, membuatku selingkuh, membuatku melakukan hal yang tidak boleh kuperbuat,” kata mbak Siti lagi.
“Lho..mbak kenapa pake ngintip kita, terus kok tadi diam aja, mbak lupain aja yang pentingkan kita udah ngerasain kontolnya Hendra yang gede ini, hihihihi..” kata mbak Yanti.
“Lagipula nanti juga mbak Siti akan ketagihan sama kontolnya Hendra, hihihihihi…punya mbak Siti pasti nanti gatel dech pengen digarukin lagi sama kontolnya Hendra, seperti aku, pertamanya sich sakit diterobos kontolnya Hendra, ech..2-3 hari kemudian memekku gatel pengen digarukin lagi sama kontolnya Hendra, udah kucobain digarukin sama kontolnya suamiku tapi gatelnya gak berkurang, jadi aku minta lagi dech sama Hendra,” kata mbak Yanti lagi.
“Tapi..aku malu sama suamiku….aku sudah mengkhianati perkawinan kami,” kata mbak Siti.
“Sudahlah mbak…kitakan sama-sama punya suami, jadi bukan mbak saja yang mengkhianati perkawinannya,” kata mbak Yanti.
Mbak Siti hanya tertunduk antara malu dan merasa bersalah sama suaminya, tapi dalam batinnya dia mengakui kebenaran kata-kata mbak Yanti, dan dia mengakui bahwa dia telah mencapai kepuasan saat memeknya diterobos oleh kontolku, mbak Siti mulai beranjak bangkit, kontolkupun terlepas dari jepitan memeknya, kulihat dia mengenakan CDnya dan dasternya, lalu m*****kah meninggalkan ruanganku, kulihat langkahnya sedikit tertatih-tatih merasakan perih dan sakit di vaginanya akibat terobosan kontolku, persis seperti mbak Yanti saat itu.
Mbak Yanti menghampiriku dan menciumku, diapun lalu mengenakan lingerienya dan kembali kerumahnya, tinggal aku sendirian dengan kemaluan yang terkulai lemas, pintu belakang kukunci, jendelapun kututup tak lupa kain gordennyapun kututup, dengan bertelanjang bulat aku masuk kedalam ruangan tidurku, akupun tertidur dengan lelapnya.

Incoming search terms:

ngentot giliran, cerita dewasa mbak, Ngentot tetangga menyusui, cerita dewasa mbak siti, Cerita ngentot giliran, ngentot istri tetangga kontrakan, cerita seks petualangan hendra dengan dengan ibu ibu, Cerita ngentot tetangga menyusui, cerita dewasa giliran, cerita sek obat tidur, Ngentot mbak yanti, ngentot tetangga yang lagi menyusui, 17tahun com/pembantuku siti, cerita ngentot obat tidur, Cerita dewasa ngentot mbak siti, cerita dewasa petualangan seks, cerita mbak siti, Cerita ngentot istri tetangga kontrakan, Cerita ngentot istri tetangga pake jilbab, cerita sek dgan tetangga pake obat tidur, desah mbak, cerita hot hendra, cerita ngentot istri teman yang lagi menyusui, cerita ngentot keluar kata vulgar, Cerita ngentot mbak siti

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker