Friday , December 19 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Petualangan Seks Hendra, Lena dan Vivi Tetanggaku Yang Chinese

Petualangan Seks Hendra, Lena dan Vivi Tetanggaku Yang Chinese


Vivi
Sore hari aku tiba di rumah kontrakanku, setelah rapi memarkirkan mobilku kulihat jam menunjukkan pukul 17.30, sambil m*****kah kearah rumahku aku mengunci mobilku dengan menggunakan remote, suasana rumah kontrakan saat itu sangat sepi, aku sedikit heran tak seperti biasanya, biasanya jam-jam segini suasana rumah kontrakan cukup ramai, ibu-ibunya sedang pada ngobrol di salah satu teras rumah, begitu juga dengan bapak-bapaknya, tapi sekarang ini tidak ada satupun yang terlihat sedang mengobrol, dan semua pintu rumahnya tertutup, dan tidak ada satupun lampu yang menyala dari dalam rumah, yang menyala hanyalah lampu teras masing-masing.
Setelah kuperhatikan hanya satu rumah yang menyala yaitu rumah yang berada di sebelah rumahnya mbak Siti, kalau gak salah rumah ini di isi oleh dua orang kakak beradik, kedua-duanya perempuan dan keturunan Chinese, aku sering ketemu mereka saat aku berangkat kerja, sang kakak bekerja di sebuah perusahaan asing, orangnya lumayan cantik dan sexy, tapi yang jelas sich warna kulitnya kuning langsat, namanya kalau gak salah Lena sedangkan Vivi adalah nama sang adik, katanya sich dia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, seperti yang pernah di ceritakan oleh mbak Yanti, kalau kuperhatikan si Vivi ini juga tak kalah cantik dengan kakaknya kalau kulitnya sich sama kuning langsat, sementara tubuhnya juga kalau kulihat sich lumayan sexy, keduanya belum pernah kulihat memakai pakaian ketat jadi sampai saat sekarang belum kuketahui sesexy apa mereka.
Yang kuheran tidak kulihat ada mobil lain tadi saat kumasuki pekarangan rumah kontrakan, karena kutahu mereka mempunyai sebuah mobil, berarti yang ada di rumahnya ini kalau gak sang kakak berarti sang adik, karena mobil mereka tidak ada di tempatnya, berarti hanya salah satu dari mereka yang sudah pulang.
Kuperhatikan rumah mbak Siti dan mbak Yanti, keduanya sama-sama gelap, begitu juga rumah yang diujung, sementara ke 5 rumah yang berhadapan dengan rumah kamipun sama-sama gelap, aku menjadi heran sendiri, sambil meneruskan langkah kakiku menuju rumahku, setelah mengunci pintu dan menyalakan lampu-lampu aku mulai melepaskan seluruh pakaianku dan mengenakan celana boxerku saja, akupun lalu menuju kebelakang untuk membersihkan badanku.
Selesai mandi aku lalu menyalakan TV sambil menikmati nasi goreng yang sempat kubeli tadi sebelum pulang kerumah kontrakanku, saat itu tayangan di TV sedang menayangkan berita, aku baru sadar bahwa besok adalah hari Kamis dan bertepatan dengan hari libur nasional, dan biasanya banyak pegawai-pegawai perusahaan yang mengambil cuti bersama pada hari jumatnya karena hari Sabtu kantor-kantor semuanya tutup. Pantas rumah kontrakan pada sepi rupa-rupanya orang-orang pada berlibur panjang, sialan kataku dalam hati, empat hari tanpa kemaluan perempuan yang dapat memuaskan nafsu birahiku, empat hari tanpa adanya memek mbak Siti ataupun memek mbak Yanti, dan aku juga malas untuk pergi ke Bandung, karena pasti jalanan pada macet. 
Kalau yang dientotin cewek-ceweknya seperti kakak beradik Lena dan Vivi sich enak, pikirku. Udah kuning langsat kulitnya, tubuh mereka juga ramping dan aku berani bertaruh payudara mereka juga pasti masih bagus bentuknya, membayangkan mereka saja membuat batang kemaluanku perlahan-lahan bangkit, setelah menyelesaikan makan malamku, aku termenung sendiri di ruangan santaiku sambil menonton acara TV, tapi pikiranku masih berkutat dengan siapa aku akan melampiaskan hasrat birahiku, sambil mengusap-usap batang kemaluanku yang sudah berdiri dari sebelah luar celana boxerku.
Seperti biasanya aku tidak pernah mengenakan CD di balik celana boxerku, saat aku sedang santai seperti sekarang ini, terlihat celana boxerku menonjol karena kemaluanku yang sudah seratus persen tegang, masih merasa penasaran dengan suasana rumah kontrakan yang tadi sepi kulihat, akupun beranjak keluar rumahku, kulihat suasananya masih sepi seperti tadi, tidak nampak tanda-tanda kehidupan di setiap rumahnya, hanya satu rumah saja yaitu rumah kakak beradik Lena dan Vivi saja yang menyala lampu di dalam rumahnya.
Aku m*****kahkan kakiku ke area parkiran, dan kulihat hanya satu mobil saja yang berada di sana yaitu mobilku, mobil kakak-beradik Lena dan Vivipun tidak terlihat, dengan penasaran kudekati rumah mereka dan kutempelkan telingaku di pintu mereka, berusaha untuk mendengarkan suara-suara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara dari dalam rumah, tapi tidak dapat kutangkap dengan jelas, karena suara itu berasal dari ruangan belakang rumah mereka, aku kembali kedalam rumahku dan mengunci pintunya, setelah itu aku m*****kahkan kakiku keluar pintu belakangku, kutengok kearah rumahnya mbak Yanti, tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam rumahnya, kutengok juga rumah mbak Siti sama tidak ada gerakan apapun di dalam rumahnya.
Dengan nekat aku m*****kahkan kakiku melompati tembok pembatas rumahku dengan rumahnya mbak Siti, kuperhatikan sesaat keadaan rumah mbak Siti, tidak ada suara dari dalam rumah mbak Siti dan tidak ada cahaya sedikitpun dari dalam rumahnya, akupun berjalan mendekati tembok pembatas rumah mbak Siti dengan rumahnya Lena, aku melongokkan kepalaku untuk melihat keadaan rumahnya Lena, kulihat cahaya lampu di ruangan santainya menyala, sementara jendela belakangnya kulihat kain gordennya belum di tutup, lampu dapurnya tidak dinyalakan, penerangan yang ada di dapur hanya mengandalkan cahaya lampu dari ruangan santainya lewat jendela belakangnya yang tidak tertutup kain gorden, sementara pintu kamar mandinya kulihat dalam keadaan terbuka dan lampunya juga mati, saat melongkokkan kepalaku suara sayup-sayup yang kudengar tadi dari arah depan rumah ini kembali kudengar.
Akupun melompati tembok pembatas rumah mbak Siti dan Lena dengan perlahan, dengan mengendap-ngendap kuhampiri jendela belakangnya, suara sayup-sayup semakin jelas kudengar, akupun tersenyum saat mengetahui suara sayup-sayup itu, itu adalah suara TV dan si empunya rumah ini sedang menyaksikan film BF, karena yang kudengar adalah suara dalam bahasa Inggris yang sedang menikmati persetubuhan, aku semakin penasaran siapakah gerangan yang sedang menyaksikan film BF tersebut, akupun mengintipnya lewat jendela belakangnya, aku terkejut bercampur senang saat melihat sesosok tubuh wanita terlentang di depan TV sedang menyaksikan film BF, dan tubuh wanita tersebut tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, alias telanjang bulat, kedua kakinya terlihat mengangkang, sementara tangan kanan si wanita tersebut sedang memainkan sebatang dildo di belahan vaginanya, sementara tangan kirinya sedang sibuk meremas-remas payudaranya, matanya tertuju pada adegan TV.
Perlahan tapi pasti batang kemaluanku mulai kembali menggeliat melihat pemandangan tersebut, perlahan-lahan kemaluanku mulai membesar dan mengeras melihat tubuh telanjang wanita tersebut, nafasku mulai memburu seiring dengan nafsu birahiku yang mulai meninggi, aku mendengar wanita itu melenguh saat tangan kanannya memasukkan dildo yang dipegangnya kedalam lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan tangannya mulai mendorong masuk sang dildo masuk kedalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat saat sang dildo masuk lebih dalam di lubang vaginanya, mulutnya mengeluarkan suara erangan, aku semakin bernafsu ingin segera menyetubuhi tubuh wanita tersebut, dengan perlahan kucoba untuk membuka pintu belakang rumahnya, sungguh beruntung pintu belakangnya ini tidak terkunci, dengan perlahan-lahan kubuka pintu tersebut, dan dengan gesit aku menyelinapkan tubuhku kedalam rumahnya, lalu aku tutup kembali pintu tersebut dengan perlahan.
Wanita itu masih asyik mengeluar-masukkan dildonya di dalam lubang vaginanya tanpa menyadari kehadiranku di dalam rumahnya, akupun segera melepaskan celana boxerku dan T-Shirtku, sehingga aku sekarang ini telanjang bulat persis sama seperti wanita yang sedang asyik mengocok-ngocok dildonya, perlahan-lahan kudekati tubuh wanita yang sedang asyik itu, ternyata wanita tersebut adalah Vivi sang adik, kupandangi tubuh telanjangnya, kulihat kedua payudaranya yang mungil dihiasi dengan puting yang berwarna merah muda sungguh mengundang untuk diremas-remas dan diemut-emut, sementara di bagian s*****kangannya kulihat belum terlalu banyak ditumbuhi bulu-bulu hitam dan tertata rapi juga, aku melihat lubang vaginanya begitu ketat menempel di dildonya, sehingga kulihat dinding vaginanya ikut tertarik keluar saat tangannya menarik keluar dildonya, memek yang sempurna pikirku, masih sempit dan rapat lubang vaginanya, kulihat dildonya mengkilat oleh cairan pre-cumnya.
Dengan perlahan aku bersimpuh di dekat kepalanya, sementara tangan kananku meluncur ke arah tangan kanannya yang masih asyik mengeluar-masukkan dildonya, tangan kananku memegangi tangan kanannya dan membantu mengeluar-masukkan dildonya, Vivipun kaget saat merasakan tangannya ada yang memegangi dan sedang membantunya mengeluar-masukkan dildonya, dia lebih terperanjat lagi saat membuka matanya, dia melihat batang kemaluanku yang besar dan panjang.
“eeeehhhh….kak…Hendraaa…kok ada disini…” katanya setelah melihatku sambil matanya tak berkedip melihat batang kemaluanku yang sedang ngaceng itu.
“hehehehe…habis pintunya gak di kunci sich, terus kulihat kamu lagi asyik mainin ini nich,” kataku sambil menggerakkan dildonya keluar masuk di memeknya.
“Lagian kalau mau main seks, kenapa gak panggil aku ajach, kan lebih enak pakai yang beneran daripada pakai mainan karet seperti ini….hehehehe…” lanjutku
“aaaacchhhh…kak Hendra….nakal…aaachhh….kak…ini punyamu..besar sekali…jauh lebih besar dari dildoku….oooohhhh…” kata Vivi sambil kedua tangannya memegangi batang kemaluanku.
“kamu suka gak sama kontolku ini, Vi…..hehehehehe….pasti enak kalau masuk di memekmu….jauh lebih enak dari dildomu ini…” kataku lagi.
“Iyyaaaachh…aaacchhh…kak..Hendraaa…oooohhh….hhhhmm mmm…sssllrrpppp….hhhmmmmm….sssllrrrrpppp….besaaarr ..sekalii…gak muat mulutku…punya kak Hendra kebesaran nich…oooohhhh….hhhmmm…ssllrrrppp…hhhmmm….sslrrrppp ..,” Vivi melenguh sambil mulutnya sibuk mengemutin kontolku.
Mulutnya asyik mengulum-ngulum punyaku sementara kedua tangannya tidak mau ketinggalan bergerak-gerak naik turun di batang kemaluanku, kepala kontolku sampai sebatas lehernya saja yang masuk di dalam mulutnya, kadang-kadang lidahnya bermain menjilati helm kontolku dan juga lubang kencingku, akupun meradang menikmati jilatan dan hisapannya.
“Ooooohhh…Viii….pintar juga kamu mengoral seks kontolku…ooohhh..teruss…Viii..enak terusss….aaahhh…” aku mengerang sambil tetap menggerakkan dildonya keluar masuk di memeknya.
“Hhhmmmm…ssllrrrppp…hhhmmm…ssllrrrppp…gurih..kak…c airan…pre-cummu…ini… hhhmmm…sssllrrrppp….oooohhh…teruss…kaak…terusss…ko cok..dildoku..” Kata Vivi.
Aku melihat sang dildo sudah sangat mengkilat oleh cairan pre-cumnya Vivi, nampaknya Vivi sudah sangat bernafsu sekali, aku jadi ingin cepat-cepat memasukkan kontolku kedalam lubang senggamanya, aku ingin sekali merasakan memeknya menjepit kontolku yang sudah sangat tegang sekali ini.
“Viii…aku masukkan kontolku kedalam memekmu sekarang yach, aku sudah pengen sekali mencobai memekmu menjepit kontolku ini….oooohhh…..” kataku.
“iyaachhh…kak Hendra…aku juga pengen sekali nyobain kontolmu yang besar ini….ooohhh…aku pengen memekku diterjang kontolmu yang panjang ini…aaachhh… ayo kak…masukin sekarang…” kata Vivi sambil melepaskan pegangannya pada kontolku sementara kedua kakinya dia buka lebar-lebar.
Aku segera memposisikan diriku dihadapan s*****kangannya yang sudah sangat basah itu, kutarik dildonya keluar sehingga sang dildo terlepas dari jepitan memeknya, dan aku melihat pemandangan yang luar biasa, bagian dalam memeknya yang sudah sangat merah sekali dan juga mengkilat, kulihat dinding vaginanya berkedut-kedut, aku segera mengarahkan batang kemaluanku ke lubang memeknya, kepala kontolku terselip tepat di tengah-tengah lubang memeknya, sssleeeeeeppppp…..aku merasakan nikmat sekali saat kepala kontolku itu terjepit oleh dinding vaginanya yang sedang berkedut-kedut, Vivi melenguh panjang saat kepala kontolku mulai menyeruak masuk di lubang vaginanya.
“Ooooooouuuuggghhhhh…kaaakkk…Henddrraaaaa……aaaarrr ggghhhhh…pelaaann… kak..pelaaann…aaarrgghhhh…..memekku…robek…kaaakk k…..,” lenguh Vivi merasakan jejalan kepala kontolku di memeknya.
Dengan memegangi kedua pahanya dan menekannya kebawah agar lubang memeknya tetap terbuka supaya memudahkan kontolku masuk lebih dalam lagi, aku mulai menekan kontolku masuk kedalam memeknya dengan perlahan-lahan karena ketatnya dinding vagina Vivi yang menjepit erat kepala kontolku, bbbllleeeessssss….perlahan-lahan kontolku mulai menyeruak masuk kedalam lubang senggamanya.
“Ooooouuuggghhhhh….kkaaaaakkk…pelaan…kaaakk…pelaaa aann…roobeek…punyaku ooouuuggghhhhhh….aaadduuuhhhh…periiihhhh….punyakuu ..periiihhh….” Vivi melenguh.
Aku tidak memperdulikan rintihan Vivi yang kesakitan saat diterobos oleh batang kemaluanku ini, aku malah semakin bernafsu menekan lebih dalam lagi batang kemaluanku, bbleeeesssss…..batang kemaluanku kembali menerobos masuk lebih dalam dilubang memeknya, batang kemaluanku sudah lebih dari setengahnya terbenam di dalam lubang memeknya dan aku merasakan betapa eratnya dinding vaginanya menjepit batang kemaluanku, Vivi kembali merintih kesakitan, dan kembali aku tidak memperdulikan rintihannya itu, akupun kembali mendorong masuk kontolku, bbblllleeeeessssss…akhirnya kontolku terbenam hampir seluruhnya di dalam lubang senggamanya yang masih sempit ini.
“Aaaaaccchhhh…gilaaaaa…Vi…memekmu masih sempit sekali…..ooooohhhh….kontolku kejepit betul nich sama memekmu….ooooccchhhh…enaaaakkknya…..” akupun mengerang merasakan enak akan jepitan memeknya di batang kemaluanku.
“Aaaddduuuhhh….peeriiihhh…kak…periiihh….cabut…kak. cabut..punyamu….ooouuugghh saaakkkiiitt…perrriiihhh….punyaku…..aaadduuuhhhh…. ampppuunnn….kak…” rintih Vivi.
“Tahan..Vi..taahhaan….nanti juga gak akan sakit lagi….” Kataku
Akupun mendiamkan sejenak batang kemaluanku dalam relung senggamanya Vivi, aku memberikan kesempatan pada lubang senggamanya agar terbiasa dengan jejalan kontolku yang besar dan panjang ini, setelah mendiamkan sejenak akupun mulai menarik keluar kontolku dari jepitan memeknya ini, tapi tidak sampai keluar semua batang kemaluanku ini, setelah kurasakan bibir memeknya menjepit erat leher kontolku akupun melesakkan kembali kontolku itu menerobos lubang memeknya, sssssrrrrttttt….bleeessss. ssssrrrrtttt….bbbleeeessss….sssrrttttt….bbbllleeee ssss….ssssrrrttttt….bllleeessss…sssrrrttttttt…..bb blleeeeeeessss….ssrrrrtttttt…..bbblleeeeeessss….. begitulah berulang-ulang gerakan keluar masuk kontolku kulakukan di dalam lubang memeknya Vivi, sehingga lama-lama memeknya mulai terbiasa dengan besarnya kontolku ini, dan rintihan-rintihan kesakitan Vivi sudah tidak terdengar lagi, yang kudengar dari mulut Vivi adalah desahan-desahan lirih, akupun semakin mudah mengeluar-masukkan kontolku di dalam lubang memeknya, cairan pre-cumnya Vivi sudah sangat banjir membasahi lubang memeknya sehingga memudahkan pergerakan kontolku yang keluar masuk di dalam lubangnya.
“Ooooouuuggghhhh….aaaaccchhh….ssshhhh…aaaccchhhh…o oohhh…sssshhh..aaacchhhh…ooohhh…ssshhh…ooohh….hhhm mm…ssshhhh…ooohhh…aacchhh…ssshhhh…ooohhhhh…hhhmmmm ….sshhhh….” Vivi mendesah lirih mulai merasakan enaknya kontolku yang sedang keluar masuk di lubang vaginanya.
“Ennaaaakkk…Vi…enak..memekmu…ini…sempit…rapet….uuu ggghhhh…asyik..enaknya ngentotin memekmuuu…ini…oooohhh….Vii….kontolkuuuuu…..enak…ti dak…mana..enak dibandingkan dengan dildomu….ooohhh….Vi….” akupun melenguh merasakan nikmat.
Vivi tidak menjawab pertanyaanku tapi kedua pipinya merona merah, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan-desahan, matanya terpejam, pantatnya terangkat saat aku mendorong masuk kontolku, seolah-olah dia ingin menyambut kedatangan kontolku yang sedang menghujam dalam lubang memeknya, nampaknya Vivi betul-betul sudah dapat menikmati entotan kontolku ini, kedua tangannya yang sekarang berada dipunggungku sedang merabai punggungku, kadang meremas punggungku saat kontolku menyeruak masuk kedalam lubang memeknya, kedua kakinya sudah melingkar di pinggangku.
Kedua tanganku merangsek masuk kepunggungnya, sementara telapak tanganku kuletakkan menahan kepalanya, dan dengan penuh nafsu kucumbu bibir mungilnya yang sedang terbuka mengeluarkan desahan-desahan itu, lidahku mulai menjulur memasuki rongga mulutnya mencari lidahnya, lidah kami saling menari, kami berdua berciuman dengan penuh nafsu, sambil berciuman dengan penuh nafsu aku tidak menghentikan gerakan keluar masuk kontolku itu dilubang memeknya.
Ssssrrrttt….bbllleesssss…..ssssrrrttttt….bbblleees ss….ssrrrtttt….bblleeessss….sssrrrttt….bblleeeesss ….dengan perlahan tapi pasti kontolku keluar masuk memeknya Vivi, Vivi merintih-rintih menikmati sodokan-sodokan kontolku ini.
“Oooohhh…kakk……nikmaaattt..kaaakk….enaaak…kaakk…oo ohhh..teruss…kak…ssshhhh…aaachhh…sssshhh…ooohhh…ss shhh…aacchhh…” Vivi merintih keenakan.
“enakkan Vi….kontolku jauh lebih enak dari dildomu, aaaahhh….Vi…memekmu juga enak sekali…oooohhh…sempit…rapet…kontolku kejepit sekali sama dinding memekmu… aaahhhhh…ternyata memek orang cina juga enak…hehehhehe….baru pertama kali ini aku merasakan sempitnya memek cina….ooooohhh….sedaaaappp….” aku mengerang nikmat.
“Oooohhh…kaaaakkk…enaaakk…iyaaaccchh….kontolmu….ja uh….lebih….enak….dari…dildoku…oohhhh….emangnya kak Hendra belum pernah ngelakuin sama orang keturunan chinese yach….sama dong…aku juga belum pernah ngerasain kontolnya orang pribumi… kontolmu jauh lebih enak dari kontolnya pacarku….kak…Hendraaa….oooohhh….puaskan aaakuuuu….aaaachhh…sshhh…ooohh…sshhh…aachhh…” Vivi melenguh.
“punya pacarmu besar seperti punyaku tidak Vi…..oooohhh…hhhmmmm….ooohhh….. hhhmmmm….” Tanyaku sambil mencium bibirnya kembali.
“hhhmmm…ssslrrppp….tidak…kaaaakkk…kecil punya pacarku…jauh sekali dibandingkan dengan….punyamu..ini…ooohhh..sssshhh…hhhmmm…ssshhh ..ssslrrpppp…hhhmmm….oooohhh…hhhmmmm…..sssllrrrrpp p…” Vivi melenguh sambil membalas ciumanku.
“Kaaakkk…Heeenndraaa….ooohh…sshhh…ooohh…sshhh…aaac hhh…terusss…kak…terussss….tekaaan…yang lebih dalam lagi kaaak…aaachhh…ssshhh..ooohhh… kak lebih cepat kaaaakkk….ooohhh…sshh….aachhh…kak…..” lenguh Vivi terdengar kembali meminta aku untuk menekan kontolku lebih dalam lagi dan mempercepat gerakanku.
Akupun mengikuti kemauannya itu, kontolku dengan gencar keluar-masuk dalam lubang memeknya, dan saat menekan masuk kontolku akupun menekan dalam-dalam kontolku itu sampai mentok ke dinding rahimnya, gerakan keluar masuk kontolkupun semakin bertambah lancar karena semakin banyaknya cairan precum yang dikeluarkan oleh memeknya dan kontolku yang membuat lubangnya semakin banjir dan membuat kontolku menjadi licin dan mudah keluar-masuk di lubang senggamanya Vivi.
Lena
Saat kami tengah asyik itu sesosok tubuh wanita yang m*****kah masuk kedalam rumah, sosok tubuh tersebutpun mengunci pintu rumahnya, lalu dia m*****kahkan kakinya kedalam, setelah terlebih dahulu meletakkan tasnya dan melepaskan sepatunya di ruangan tamunya, saat itu sang empunya tubuh menyadari ada suara erangan dan desahan dari arah belakang rumahnya, dia segera menghampiri ruangan belakang dimana kami sedang asyik masyuk bersetubuh, kedua matanya terbelalak saat menyaksikan kedua tubuh telanjang kami yang sedang asyik bersenggama, sang empunya tubuh itu ternyata adalah sang kakak, Lena.
Lena melihat adiknya sedang mendesah-desah menerima hujaman-hujaman kontolku yang bertubi-tubi keluar masuk di lubang memek adiknya, Lena memang sudah bukan perawan lagi dan dia sudah sering melakukan hubungan seks, baik dengan pacarnya ataupun dengan atasannya di kantor, kadang-kadang dia juga melakukan sendiri menggunakan dildo, persis seperti adiknya tadi yang menggunakan dildo, dan dildo yang dipakai adiknya adlah dildo kepunyaannya, yang tidak dia duga adalah adiknya juga sudah bukan perawan lagi, nampaknya adiknya juga sering melakukan hubungan seks seperti dirinya, dia melihat adiknya tidak menampakkan kesakitan tapi raut wajahnya menampakkan dia sedang menikmati rojokan-rojokan kontolku.
Sudah cukup lama juga Lena tidak mendapatkan sentuhan lelaki dan sodokan-sodokan di kemaluannya, karena kesibukan kerjanya dan juga dia sedang ribut dengan pacarnya, sekarang dia melihat adiknya sedang menikmati kemaluan lelaki dan mendengar adiknya mendesah-desah keenakan, membuat Lena menjadi terbangkit nafsu birahinya, dia mau marah kepada adiknya karena melakukan hubungan seks tanpa nikah tapi dia juga ingin merasakan kenikmatan yang sedang dirasakan adiknya itu, Lena berpikir keras siapa gerangan lelaki yang sedang menyetubuhi adiknya ini, apakah ini pacar adiknya, tapi dia tahu pacar adiknya itu dan dia hapal dengan bentuk tubuhnya, karena dia pernah melakukan hubungan seks dengan pacar adiknya itu, dan cowok ini tubuhnya lebih kekar dan lebih tegap dari pacar adiknya itu, sambil otaknya berpikir keras menebak-nebak siapa gerangan cowok yang sedang bersetubuh dengan adiknya ini, tangan kanannya tanpa sadar meluncur kebawah kearah s*****kangannya dan mulai mengusap-ngusap memeknya sendiri dari sebelah luar roknya, sementara tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya yang masih tertutup oleh pakaiannya.
Semakin lama Lena semakin terangsang, nafsu birahinya semakin meninggi, Lenapun mulai melucuti pakaiannya sendiri sehingga tubuhnya tidak tertutupi oleh sehelai kainpun, kedua payudaranya yang lebih besar dari kepunyaan adiknya, dan s*****kangannya tertutup oleh semak hitam yang cukup lebat tapi tertata rapi, jauh lebih lebat dari pada jembut adiknya, sambil tetap mengelus-elus belahan vaginanya dan meremas-remas payudaranya, diapun menghampiri kami yang masih asyik bersenggama, dia menghampiri belakang kami, karena Lena juga penasaran ingin tahu kemaluan kami yang sedang beradu, dan dia menjadi terperanjat saat melihat kemaluanku yang sedang keluar masuk di memek adiknya itu, dia melihat betapa besarnya kontolku yang sedang menyodok-nyodok memek adiknya itu, dia terkesima melihat bentuk kontolku itu dan dia semakin penasaran ingin merasakan memeknya diaduk-aduk oleh kontolku yang besar itu.
Kami masih belum menyadari kehadiran Lena yang saat ini sedang berada di belakang kami dan sedang berjongkok menatap kontolku yang sedang gencarnya keluar masuk di lubang senggama Vivi, kami masih asyik menikmati persetubuhan kami ini, Vivi semakin sering merintih dan mendesah keenakan menikmati keluar-masuknya kontolku di lubang vaginanya, aku sendiripun sedang menikmati ketatnya jepitan memek Vivi di kontolku.
“kaaaakkk…Hendraaa…aaachh…kak…ooohh…sshhh…kaaakkk… tekaaaannnn..yang dalam kaaakk….aku mau keluaaarr…aaahhhh…ooohhh…kaakk…Hendraaaa…oooohh ssshhhh….aaahhh..yang dalaam…kak…yang kuaaatt…aahhhh…kaakkk…aku keluuaarr ooohhh…sshhhhh….aaahhh…kkaaakkk…Hendraaaaa…oooohhh …nikmatnya kontolmu yang besar dan panjang ini…oooohhh…kakkkk….aakuu….oooohhh….,” Vivi melenguh panjang menyambut puncak kenikmatannya.
Sssrrrr…..ssrrrr….ssrrr…sssrrrrr…sssrrrrr….ssrrrr… …memeknya menyemburkan lahar kenikmatannya bertepatan dengan kontolku yang menghujam dalam-dalam di lubang senggamanya itu, aku mendiamkan kontolku terbenam didalam lubang memeknya Vivi untuk memberikan kesempatan pada dia menikmati puncak kenikmatannya yang berhasil dia raih, dan aku merasakan batang kemaluanku hangat oleh siraman lahar kenikmatannya.
Vivi memeluk erat tubuhku dan kedua kakinya menekan pinggangku saat dia menyambut puncak orgasmenya itu, nafasnya memburu, aku merasakan dinding vaginanya berdenyut kuat seolah-olah sedang meremas-remas batang kemaluanku yang sedang terbenam di lubang vaginanya, Lena mendengar adiknya ini melenguh panjang saat menyambut puncak orgasmenya dan dia melihat betapa adiknya memelukku erat dan dia juga baru mengetahui bahwa yang sedang menyetubuhi adiknya ini adalah Hendra, tetangga rumahnya.
Tak lama bers***** setelah Vivi tuntas melepaskan seluruh cairan kenikmatannya, dan pada saat aku akan memulai memompanya lagi, kami berdua kaget karena saat itu kami mendengar suara perempuan di belakang kami.
“Sudah Vi, giliranku dong, nyobain kontolnya Hendra….masa aku dibiarin sendiri saja,” kata Lena mengejutkan kami berdua.
“Cici…kamu sudah pulang….” Kata Vivi kaget karena cicinya sudah berada di rumah.
“Eh…Lena…kapan kamu pulangnya,” akupun kaget.
“sudah dari tadi, sudah lumayan lama aku menyaksikan permainan kalian, sekarang giliranku, aku juga pengen ngerasain kontolnya Hendra,” kata Lena lagi.
“Cici….hihihihi….udah gak sabar yach…udah telanjang ajach…cici…punyanya Hendra enak lho ci….jauh lebih enak daripada punya pacar-pacar kita…” kata Vivi nakal
“masa sich…memangnya kamu pernah nyobain pacar cici yach,” kata Lena sedikit heran dengan pernyataan adiknya ini.
“hihihihihi..sudah dong, anggap saja balas dendam, habis cici kan pernah nyobain pacarku sich,” kata Vivi lagi.
“Eeehhh…kamu kurang ajar yach, pacarku di cobain juga,” kata Lena kaget.
“aaahh…cici…sudah ach…kitakan impas…lebih baik sekarang cici cobain aja nich kemaluannya Hendra, pasti cici merem-melek dech…dijamin…aku aja pengen lagi…cici mau gak..nich…kalau cici gak mau..aku masih mau nich…” kata Vivi menggoda kakaknya.
“ssssttt…sudah ach berantem adik-kakaknya ini….sekarang siapa nich yang mau aku entotin…kontolku masih ngaceng nich, aku belon keluar nich,” kataku melerai adu mulut kakak beradik ini.
“giliranku sekarang Hen, gila kamu Hen….kontolmu ini wuuiiihh…gede sekali…lihat kedua tanganku gak cukup buat menutupi panjangnya….ini kepalanya masih nongol…hhhmmm sssllrrrrppp….hhhmmm….sssllrrrppp…..aaaaccchhh….be sar sekali gak muat juga mulutku, hhhmmm…ssslrrrppp…hhmmm….sssllrrrppp….” kata Lena sambil mulai mengemut-emut kontolku dan menjilati kepala kontolku serta lubang kencingnya.
“betulkan Ci, besar dan panjang punyanya Hendra…hihihihihi…gurih gak Ci cairan memekku…” kata Vivi meledek kakaknya.
“hhhmmm…sssllrrrppp….hhhmm…sslrrrppp…asin….hihihih i…nanti kamu juga rasain cairan memek cici yach…” kata Lena
“Hihihihi…gak usah nanti sekarang aja yach Ci…aku rasain cairan memekmu…hihihihi asin gak, sama seperti cairan memekku gak,” kata Vivi sambil menyelinap kebawah Lena yang sedang jongkok.
Vivi mulai menjilati dan menghisap memek dan itil Lena, tentu saja aksinya ini semakin membuat Lena bernafsu, Vivi merasakan cairan memek Cicinya ini sudah mulai membanjiri lubang memeknya, dia merasakan gurih dan asin, dengan penuh nafsu dia semakin gencar menjilati dan menghisap itil serta memek Lena.
“Ooooohhhh….Vii…..aaapaaa..yang kamu lakukan…ooohhh….hhhmmm…ssslllrrrp… terus…Vii…oohh…hisap itilku….aaaacchhh…hhhmmm…ssllrrrppp….oooohh…hhhmmm sslrrrppp….ssshhh…sssllrrrppp…hhhmmm….” Lena melenguh panjang merasakan memek dan itilnya yand sedang dihisap dan dijilati oleh Vivi sambil tetap menjilati dan menghisap kontolku.
Akupun tak mau ketinggalan oleh aksi kakak-beradik ini, kedua tanganku mulai meremas-remas payudara Lena yang lumayan besar, aku merasakan teteknya Lena sangat empuk dan masih lumayan mengkal juga, tak lupa kedua tanganku itu memilin-milin kedua putingnya yang berwarna merah muda, kedua payudaranya yang lumayan besar itu tak muat oleh kedua telapak tanganku dan akupun meremas-remas dengan gemas kedua bukit kembar itu, kedua putingnya kadang-kadang kutarik-tarik sambil kupilin-pilin, kudengar Lena mendesah-desah keenakan.
“Aaauuuwwww…ssshhh…aaaahhh…hhhmmm….sslllrrppp…ooou uggghhh…hhhmmm…ssslrrrppp….ssshhh…aaahhh….hhhmmmm… sssllrrrppp….aaarrrggghh….hhhmmm…sssllrrrpppp…oooo uuughhh…aaaaahhh…hhhmmm…sssllrrrpppp….” Lena mendesah-desah keenakan dambil tetap mengulum-ngulum kontolku.
“Uuuuuggghhhh…gilaaa…kaliaaann…suddaaahh…aku…sudah …tidak tahan lagi… Vi, sudah….ooooggghhh…..Hendraaaa…ooooggghhh…sudaaahhh ….aku..sudah pengen dientot oleh kontolmuuu…ini….aaaarrggghhhh….,” erang Lena meminta Vivi untuk menghentikan aksinya di belahan vaginanya dan di itilnya.
“Hihihihihi…Cici…udah gak tahan pengen dientot oleh kontolmu tuch kak Hendra, gatel tuch memeknya pengen digarukin…hihihihihi…,” kata Vivi sambil menyudahi aksinya.
“Kamu mau diatas atau dibawah Len,” kataku.
“aku pengen diatas, aku pengen ngentotin kontolmu,” kata Lena.
Akupun merebahkan tubuhku diatas karpet, sementara itu Lena mulai mengangkangi tubuhku, tangannya meraih batang kemaluanku dan membimbingnya kearah vaginanya, kepala kontolkupun dia oles-oleskan di bibir vaginanya dan di kelentitnya, membuat aku kegelian merasakan sentuhan bibir vaginanya dan itilnya yang sudah mencuat keluar di kepala kontolku itu, Lena sendiri merasakan hal yang sama, diapun melenguh saat kepala kontolku menyentuh kelentitnya yang sudah mencuat keluar itu dan bibir vaginanya.
“Ooooouuuggghhh….kerasnya kontolmu ini Hen…oooooohhhh……” Lenguh Lena.
Setelah beberapa kali mengoles-oleskan kepala kontolku, Lenapun mulai menyelipkan kepala kontolku kedalam belahan vaginanya, sssllleeeepppppppp……..kepala kontolku terjepit bibir vaginanya, lagi-lagi Lena melenguh merasakan lesakan kepala kontolku di lubang senggamanya,
“Oooouuugghhhh….besaaaaarrrrnyaaa……kontolmu Hen, ooouuugghhhh…..,” lenguh Lena.
“Memekmu sempit juga Len, oooohhh…kepala kontolku kegencet sama bibir memekmu,” akupun mengerang.
Dengan pelan-pelan Lena mulai menurunkan pantatnya kebawah, membuat kontolku perlahan mulai menerobos lubang senggamanya, bblleeeeessssss…..kontolku mulai terbenam sebagian di dalam lubang memeknya Lena, Lenapun berdiam diri berusaha untuk menyesuaikan lubang memeknya dengan kontolku yang besar ini, karena selama ini belum pernah dia mendapatkan batang kemaluan sebesar punyaku, setelah membiasakan diri dengan besarnya kontolku, Lenapun mulai menurunkan kembali pantatnya, kontolkupun meneruskan perjalanannya kembali masuk kedalam lubang senggama Lena, bbbbbbllleeeeeesssssssss…..kontolku terbenam lebih dari setengah panjangnya di dalam relung kenikmatan Lena, Lena melenguh panjang merasakan vaginanya yang penuh sesak oleh jejalan kontolku.
“Oooooouuuggghhh….Heennndraaaa…..gillaaaa…..kontol mu…besaaar…sekaliiiii….ooooouuugghhhhh…memekku penuh sesak dibuatnya….oooouuggghhhh…. Hen…. Baru pertama kali ini memekku diterobos kemaluan sebesar punyamu ini…..oooohhhh….Hen… agak sakiittt…sedikit periihh…tapii…enaaaaakkk…..” lenguh Lena.
“Uuuggghhh….memekmu juga gak kalah sempit sama memeknya Vivi, memek kalian berdua bener sempit…..ooohhh…nikmat….di jepit memek rapet seperti punya kalian ini,” akupun mengerang keenakan.
Kurasakan Lena mulai kembali menurunkan pantatnya sehingga membuat kontolku kembali menyeruak masuk kedalam relung kenikmatannya, bbllleeeessssssss…..kontolku amblas hampir seluruh panjangnya di dalam vagina Lena, dan kembali kurasakan kepala kontolku mentok bersentuhan dengan dinding rahim perempuan, pertama tadi kurasakan mentoknya kepala kontolku bersentuhan dengan dinding rahimnya Vivi sekarang ini kurasakan dinding rahim Lena bersentuhan dengan ujung kepala kontolku.
“Ooouuuggghhh…Hendraaaa…mentok punyamu…oooohh….panjang sekali punyamu hingga mentok di dinding rahimku….oooohhhh…..” Lena kembali melenguh saat dinding rahimnya tersentuh oleh kepala kontolku.
“Iyaaachhh….aku juga merasakan punyaku mentok di rahimmu…..ooooohhh….memekmu ketat sekali menjepit kontolku….oooohhh….,” akupun mengerang.
Lena merubah posisinya, dari berjongkok sekarang dia bersimpuh, kedua pahanya bersentuhan dengan kedua pahaku, pantatnya menduduki s*****kanganku dengan kontolku yang terbenam di lubang senggamanya, kulihat dia terdiam dengan mata terpejam, kutahu dia pasti sedang meresapi besarnya kemaluanku yang sedang berdenyut-denyut di dalam memeknya ini, dan aku juga merasakan dinding memeknya berdenyut-denyut pelahan seolah sedang meremas-remas kontolku dengan lembutnya.
“memekmu berdenyut Len, oooohhhh…enaaak….kontolku seperti dipijat-pijat lembut aaacchhhhh…..nikmaaatt….Len….memekmu enaaaakk….” Aku mengerang keenakan merasakan pijatan lembut pada batang kemaluanku.
“Punyamu juga besaaarr…sekaliii…Hennn….oooohhhh….penuh sesak memekku dibuatnya dan berkedut-kedut lagi batangnya…ooooohhhh……enaaakkk….enaaak..sekali dientot kemaluan besar seperti punyamu..ini….oooohhhh…,” Lena melenguh nikmat.
Lena mulai menggerakkan pantatnya maju mundur perlahan-lahan, sehingga kontolku mulai keluar-masuk di vaginanya dengan pelan, dan Lena sendiri merasakan kelentitnya juga bergesekan dengan bulu-bulu di s*****kanganku, membuat dia semakin kegelian dan keenakan, cairan pre-cumnya mulai mengalir keluar perlahan-lahan, rangsangan yang dia terima akibat pergesekan dinding vaginanya dengan batang kemaluanku dan gesekan yang di terima oleh kelentitnya, membuat dia mendesah-desah keenakan, Vivi yang dari tadi menyaksikan aksi Cicinya ini, mulai tertarik untuk ikut bergabung dengan kami, dia mendekati cicinya yang sedang bergoyang diatas tubuhku ini, dari arah belakang cicinya dia memeluk cicinya dan mulai meremas-remas payudara cicinya yang bergoyang-goyang lembut karena gerakan tubuhnya yang sedang maju mundur, remasan-remasan tangan Vivi di kedua payudaranya semakin membuat Lena merintih-rintih kenikmatan. Kedua tangan Vivi meremas dan memutar kedua payudara Lena sambil kadang-kadang kedua putingnya ditarik-tarik sambil dipilin-pilin, karuan saja aksi tangan Vivi ini semakin menambah Lena meradang dalam desahan kenikmatannya.
“Oooooouuugghhh…..Vivi….oooouugghh…kamu…ooouugghhh …terusss….remas tetekku ooouuugghhhh…Henddraaaaa….kontolmu sungguh enaaakk….besaar..panjang…aaahhh aku pengen terus dientotin oleh kamu Hendraaaa….aaachhhh….ssshhhh…oooohhh… enak….nikmat…aaachhh…sshhh…oooohhh….” Lena merintih keenakan.
Mulut Lena tak hentinya mengeluarkan suara rintihan-rintihan keenakan, pantatnyapun tak henti-hentinya bergerak maju-mundur, kedua tangan Vivipun tak hentinya menyerang kedua payudara cicinya itu, kulihat kedua payudara Lena mulai kemerahan bekas telapak tangan Vivi, membuatku semakin gemas melihat kedua payudara tersebut, aku segera mengangkat tubuhku, dan mulutku segera menyerbu salah satu dari payudara, kuhisap-hisap putingnya dan kujilati putingnya itu, Vivi melepaskan tangannya di payudara yang sedang kuhisap itu, kuemut dengan kuat payudara tersebut seolah aku ingin memasukkan seluruh payudaranya kedalam mulutku, putingnya yang sedang berada dalam rongga mulutkupun kujilati, aksiku ini semakin membuat Lena merintih, sementara itu Vivi beralih ke depan tubuh cicinya dan mulai menyerbu payudara yang satunya lagi, diapun mulai menghisap-hisap tetek tersebut, Lena semakin merintih-rintih kenikmatan.
“Ooouughhhh….aaahhh…ssshhhh…oooohhh…terus…enak…ena aakkk…teruuusss…ooohhh….hisappp…kenyot…teruusss…te tekkkuuu….oooohhh…sshhhh…aaahhh…ssshhh…aaahhhh….ni kmmaaaaatt….aaaahhhh…” Lena merintih-rintih
Mataku berpandangan dengan mata Vivi, sementara Lena memejamkan matanya menikmati serangan-serangan kami di kedua payudaranya, dan menikmati kontolku yang semakin lancar keluar-masuk di vaginanya, karena cairan pre-cumnya yang semakin banyak keluar dan karena semakin cepat Lena menggerakkan pantatnya maju-mundur, aku dan Vivi melepaskan kuluman kami di payudara Lena, dan mulut kami berpagutan, sementara tangan kananku meremas-remas tetek yang baru saja kuemut-emut, tangan kiriku beraksi di tetek Vivi kuremas-remas teteknya yang mungil itu dan kupilin-pilin putingnya serta kutarik-tarik, Vivi yang sedang membalas pagutankupun melenguh, tangan kirinya sibuk dengan meremas-remas tetek cicinya yang tadi dia emut, sementara tangan kanannya merabai dadaku dan memainkan putingnya.
“Hhhhmmm…ssssllrrrpp…hhhmm…ssslllrpppp…oooohhh….hh hmmm…aaahhh…ssshhh…hhhhmmmm…ssshhh…aaaachhh….” Vivi melenguh
“hhhhmmmm…..hhhhmmmmm…..hhhmmmm…sssslllrpppp…hhhmm ….hhhmmm…” akupun mendengus sambil mulutku sibuk menciumi mulut Vivi
“Aaahhhh…ssshh…aahhh…ssshhh…ooohh…ssshhh..aaahhh…s sshhh….oooohhh….” Lena merintih-rintih keenakan.
Tiba-tiba Lena memelukku dengan erat sehingga ciumanku dengan Vivi terlepas, dan kurasakan memeknya Lena berdenyut dengan kuat, dan aku merasakan batang kemaluanku menjadi hangat,
“Ooooooooohhhhhhh……..Henndraaaaa….akuuuu…tidakk..t ahan…lagi…akuu…keluaaar…ooooohhhhh….ssshhhh…aaahhh h….Hennddraaaa…enaaaakkknyaaa…dientot..kontolmu yang besaaar…ooohhh….ssshhhhh…aaahhhhh…..” Lena melenguh panjang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh.
Sssrrrrrr…..ssrrrrr….sssrrrrr….ssrrrrrrrr….sssrrrr rrrrrr…..memeknya menyemburkan lahar kenikmatannya, membasahi batang kemaluanku yang sedang berada di dalam lubang senggamanya, dan kurasakan saat dia melepaskan lahar kenikmatannya itu Lena mendorong ke belakang pantatnya kuat-kuat lalu mendiamkannya.
Tubuh Lena bergetar dengan hebatnya, kedua kakinya mengejang saat dia mencapai puncak orgasmenya itu, pelukannya sangat kuat memeluk tubuhku, memeknya berdenyut dengan sangat kuatnya seolah-olah sedang memijat-mijat batang kemaluanku, perlahan-lahan kedutan dinding vaginanya melemah, pelukannya menjadi longgar, tubuh dan kakinya sudah tidak mengejang lagi, tetes terakhir cairan kenikmatannya sudah menyembur keluar dari lubang memeknya, nafasnya sudah tidak terlalu memburu seperti tadi.
Aku segera mengangkat tubuhnya sehingga kontolku terlepas dari jepitan lubang memeknya, Vivi yang melihat cicinya sudah mencapai orgasme dan dia melihat bahwa aku belum juga mencapai puncak kenikmatanku, segera menyongsongku dengan tersenyum, aku segera menerkam tubuhnya dan memposisikan tubuhnya menungging, dengan kepala yang menempel diatas karpet dan pantat yang menghadap keatas, kubuka lebar kedua kakinya sehingga lubang memeknya menganga, lalu kuarahkan kontolku ke lubang senggamanya, untuk kedua kalinya kontolku terjepit oleh vaginanya Vivi yang sempit ini, ssllleeepppppp…..kepala kontolku kembali terjepit oleh vaginanya.
“oooouuuuggghhhhhh…..pppeelllaaaaannn…kaaaak…Hendr aaaa…ingaaaatt…kontolmu itu besar sekali……oooooggghhhhh….” Vivi mengerang saat kepala kontolku menyelinap di vaginanya.
Tanpa memperdulikan erangan Vivi, aku menekan kontolku masuk kedalam lubang senggamanya, bbbbllllleeeeeeessssssss…..dengan sekali hentakan seluruh kontolku terbenam di dalam lubang senggamanya Vivi untuk kedua kalinya.
“aaaaiiiiieeeeeee…..kaaaakkk….Heenndrraaaaa…..aaaa aaaarrrgghhhhh…kaaakk…pelaaaaannn….aaaarggghhhhh…. robeeeeeeekk…memekkkuuu….aaaaaaaaaaaahhhhhh,” Vivi mengerang kembali.
Aku mulai menggenjot memek Vivi ini dengan posisi setengah berdiri, kulihat kontolku begitu perkasanya sedang mengobrak-abrik memek Vivi yang kecil dan sempit ini, memeknya yang sudah banjir memudahkan kontolku keluar-masuk, kutarik kontolku sampai sebatas lehernya dan kuhujamkan sekaligus dalam-dalam di vaginanya, dengan berpegangan pada pinggangnya akupun memompa memeknya dengan cepat, Vivipun merintih-rintih antara sakit dan enak merasakan hujaman-hujaman kontolku yang sedang bergerak dengan cepat, dan dia juga merasakan betapa dinding rahimnya tersundul-sundul oleh kontolku dengan kuatnya, Vivi merasakan sakit dan enak berbarengan.
“oooouuugghhhhh…kaakkk…Hendrraaa..pellaannn…sakiii tt…kaakkk…enaaakk…kak…ooohhhh….kak..hendraaa…pelan …pelann….aaarrrhhhgggg….kak..Hendra…ooohhh..yang dalam tekan lagi yang dalam…aaarrrgggh….pelan…kak….enaaakk…saakkiitt….” Vivi mengerang antara sakit dan enak.
Aku tidak memperdulikan karena aku ingin secepatnya menuntaskan nafsu birahiku ini, bukannya memperlambat gerakanku, tapi aku malah menambah kecepatan keluar masuk kontolku di memeknya, dengan menambahi hujaman-hujaman yang dalam di relung kenikmatan Vivi, saat menghujamkan kontolku itu aku menekannya kuat-kuat dan dalam di vagina Vivi sehingga tubuh Vivi selalu terdorong oleh hujaman-hujaman kontolku itu, dinding rahimnya setiap saat selalu tersundul-sundul oleh kontolku.
Lama-lama Vivi mulai menikmati permainan cepatku ini, diapun mulai merintih-rintih keenakan, mulutnya mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, aku merasakan memeknya semakin banjir saja oleh cairan precumnya yang semakin sering keluar, walaupun dalam keadaan cepat ini aku tetap saja merasakan bahwa dinding vaginanya Vivi juga berdenyut-denyut dengan kuatnya, karena dinding vagina Vivi menempel ketat di batang kemaluanku, akupun semakin terpacu untuk segera menuntaskan permainan ini, aku ingin segera mencapai puncak orgasmeku, kontolku ingin segera menuntaskan dengan menyemprotkan air maninya kedalam rahimnya Vivi ini.
“Ooouugghhh..kak..Hendraa…ooouugghhhh…kak…percepat kontolmu kaaakk….aku ingin keluar lagi nich…oooouugghhh…semakin cepat kakak ngentot aku semakin cepat aku ingin keluar…oooooohhh….ssshhh…aaahhh…kak…aaayooo…kak….c epatt…kak…,” Vivi mengerang.
“aaagghhh…memekmu…rapet sekali..Viii….aku juga pengen keluar…ooooohhh…aku juga sudah gak tahaan..lagi aku mau ngecret….jugaaaa….aaahhhh…,” erang aku
“kaaakkk…..Hennnndraaaaa…akuu…sudaaaahhh…gakk…kuaa att…lagiii…ooohhh…cepat…kkaaaakkkkk…..ceppaaatt…oo ohhh…aakuuu..mau…keluaaaarrr…..” Vivi mengerang
“tahan…Vi…tahaanan…aku…juga mau keluaaar…sebentaarrr..lagiii…aaaahhhh….” kataku sambil mempercepat kontolku keluar-masuk di dalam lubang senggamanya.
“Ooooooooohhhhhh…Viivvviiiiiii…..sssseeekkaaaarraa aangggg…..aaakuuu…keluaaarr….aaaaacchhhh….Viviiiii i…enaaaaakk…sekaliiiii…memekkkmuuu…oooohhh…aaakuu… ngecretttt…oooohhh…Viviiiiiiiiii…terimaaaa…pejuhku uuuuuu…aaaaaarggghhhhhhhh,” aku mengerang panjang menyambut orgasmeku ini.
“iiyyaaaaccchhhh…kakkk…Hennddrraaaa….akuuu…jugaaaa …kkeluaaaarr…oooohhh….kaaaakkk….Henddraaaa…..aaaaa ahhhh…nikmatnya dientot oleh kontolmu…ooohhh…kak Hendraaaa…….” Vivi mengerang menyambut puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh berbarengan dengan orgasmeku.
Crrreeeetttttt….ssssrrrrrr….ccrreeeeettttt….ssssrr rrrrr…cccrreeeettttt…..ssssrrrrrr…..creeetttttt….. sssssrrrrrr…..kemaluan kami saling menembakkan cairan lahar kenikmatan kami, aku merasakan hangatnya lahar kenikmatan Vivi membasahi batang kemaluanku sementara Vivi merasakan dinding rahimnya menjadi hangat terkena tembakan spermaku, aku merasakan dinding vagina Vivi berdenyut sangat kuat saat menembakkan lahar kenikmatannya, sementara Vivi sendiri merasakan batang kemaluanku berdenyut kuat dan semakin membesar saja saat menyemburkan spermaku itu.
Setelah kami tuntas melepaskan tetes terakhir lahar kenikmatan kami, akupun ambruk keatas karpet sambil menarik tubuh Vivi, sementara kontolku yang masih membengkak masih terjepit di vagina Vivi, aku memejamkan mataku menikmati sisa-sisa pergumulan kami ini, aku tersenyum karena malam ini kembali aku berhasil menyetubuhi tetanggaku, malam ini giliran kakak beradik Lena dan Vivi yang berhasil kunikmati tubuhnya, Lena dan Vivipun tersenyum puas karena mereka dapat menikmati kemaluan lelaki yang besar dan panjang yang dapat memberikan kepuasan kepada mereka, kepuasan yang hampir jarang mereka dari pasangan-pasangan mereka, apalagi Vivi dia berhasil dua kali puas mencapai puncaknya, biasanya satu kali saja susah dia raih.
Aku membayangkan selama liburan ini pasti aku akan puas menikmati tubuh kakak beradik chinese ini, dan kontolku akan puas terjepit oleh memek mereka yang sempit-sempit ini.

Incoming search terms:

cerita seks china, nikmatnya abg chines, cerita ngentot cici, cerita seks cici, cerita seks chinese desember 2013, ceritasekschina, CERITA TURUK, cerita ngentot dengan tetangga orang Cina, ngentot cici, cerita dewasa tetangga cina, cerita itil kejepit kontol, Cerita sek memek cina, Cerita Dewasa semua petualangan Hendra, ceritaseks china, cerita kontol ngentot turuk, cerita dewasa tetangga chinese, turuktetangga, cerita memek cici, cerita kejepit itil, cerita ngentot turuk tetangga, gambar cerita sek chaines, cerita sek turuk dengan kontol, cerita kontol dan turuk, cerita zex gentot perawan chineze, entotan janda turuk besar hot

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker