Sunday , April 20 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Susan, Gairah Birahiku Yang Menggebu-gebu

Susan, Gairah Birahiku Yang Menggebu-gebu



Susan

Susan adalah seorang guru disebuah SMA di Jakarta, umur sekitar 32tahun, seksi, cantik dan menggairahkan, sudah hampir 8 tahun tidak pernah melakukan hubungan seks lagi.


Saat ia berumur 24 tahun ia ditinggalkan oleh suaminya, suaminya pergi tanpa pesan entah kemana, sejak itu Susan tidak pernah lagi percaya dengan laki-laki, ia merasakan bahwa laki-laki yang mendekatinya hanya sekedar ingin melakukan hubungan seks saja dengan dia.
Kadang-kadang ia merasa butuh akan belaian seorang lelaki, rindu akan sentuhan-sentuhan lelaki, dan memeknya kadang-kadang gatal ingin merasakan lagi sodokan-sodokan kontol lelaki, tapi ia merasa takut akan dikecewakan lagi oleh lelaki dan ia tidak mau sakit hati lagi.
Banyak lelaki mencoba untuk mendekatinya, tetapi semuanya berlalu begitu saja tanpa dapat merasakan kehangatan badan Susan, banyak orang berpikir bahwa Susan adalah seorang lesbian. 
Susan mempunyai tubuh yang sangat sexy sekali, bentuk tubuhnya sangat bagus, sebagus anak-anak gadis berumuran 18 tahunan, kullitnya kuning langsat dan sangat halus sekali, ukuran branya 36C, bentuk pantat yang indah dan pinggang yang ramping ditambah sepasang kaki yang lenjang, bentuk tubuh Susan adalah impian para lelaki.
Sore hari setelah usai jam sekolah, Susan masih berada diruangan kelas, sedang memeriksa hasil ulangan murid-muridnya, tiba-tiba didepan pintu berdiri seorang lelaki, yang ternyata adalah Erwin guru olahraga disekolah ini. Erwin terkenal dikalangan para murid wanita karena kegantengannya, dan banyak perempuan yang sudah jatuh dalam pelukan Erwin tapi tidak untuk Susan, Susan sama sekali tidak pernah tertarik kepada Erwin, Erwin berusia sekitar 32 tahun, masih sendiri, bentuk tubuhnya betul-betul atletis.
Erwin terkenal dengan kontolnya yang besar, biarpun Susan tidak pernah melihat secara langsung tapi ia sering sekali mendengar bahwa Erwin mempunyai batang kemaluan yang sangat besar, entah itu dari sesama guru wanita ataupun dari para murid wanita, dan dari cerita mereka Susan tahu bahwa Erwin tidak pernah merasa cukup melakukan hubungan seks. 
Susan tidak dapat berbohong bahwa lubang senggamanya menjadi basah, saat mendengar cerita dari rekan-rekan gurunya saat mereka melakukan hubungan seks dengan Erwin, gairah birahinya bergejolak, lubang senggamanya gatal ingin merasakan sodokan batang kemaluan Erwin yang besar.
“Lembur??” tanya Erwin, sambil mendekati meja Susan. “Nampaknya kamu mencintai pekerjaanmu”
“Yeah, “ jawab Susan, “lagian gak ada alasan pulang cepat, tidak ada yang menungguku juga dirumah,”
“kamu kan tahu, kamu tidak perlu sendirian dirumah, aku kan pernah bilang,” kata Erwin ,”kamukan bisa aja bawa teman pulang kerumahmu untuk teman ngobrol”
“Ohh, Erwin, kitakan pernah bicarakan hal ini sebelumnya , maaf, aku gak tertarik, ketertarikan aku terhadap lelaki sudah hilang sejak 8 tahun yang lalu, seperti yang pernah aku bilang beberapa kali ke kamu.”
Tapi kali ini Erwin telah memutuskan, ia datang dengan persiapan agar dapat merasakan lubang senggama Susan, sehingga Susan tidak dapat menolaknya lagi.
“Baiklah, sebetulnya aku benci untuk mengatakan hal ini, tapi aku khawatir kalau kamu tidak mengajak aku kerumahmu malam ini untuk menikmati dan merasakan tubuhmu yang seksi, terpaksa aku akan melapor kepada Pak Suparman” kata Erwin. 
Erwin menatap mata Susan, tatapan Erwin membuat Susan gelisah dan bingung atas kata-kata Erwin.
“Apapun maksudmu? Apa yang bisa kamu laporkan tentang aku kepada kepala sekolah,” jawab Susan.
“Hhhmmm, baik,” Erwin melanjutkan. “kamu tahu Deni?? Anak yang paling besar disekolah kita, dan salah satu anggota team basket kita, dan yang keluarganya baru saja pindah ke Bandung?”
Susan mengangguk. Anak itu adalah salah satu murid dikelasnya dimana ia menjadi wali kelas.
“Aku tidak mengatakan apa-apa pada saat kejadian itu, karena aku tidak mau terjadi apa-apa pada reputasimu,” kata Erwin. “tapi, Deni cerita padaku bahwa beberapa kali dia pergi denganmu ke hotel, dan ia juga bercerita bagaimana kamu selalu mengkaraoke kontolnya dan menelan spermanya saat ia ejakulasi, ia bilang kamu sanggup menelan sperma lebih banyak daripada gadis manapun, dan katanya lagi bahwa kamu sekali dientot oleh kontol yang besar.” 
Susan terkejut sampai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, Susan menatap Erwin dengan tajam, nafasnya memburu, setelah memperoleh ketenangannya kembali,
“Saya tidak pernah melakukan hal itu kepadanya, saya tidak pernah bersetubuh dengan dia ataupun dengan lelaki lain, itu semua hanya kebohongan belaka,” teriak Susan.
“He..he.., saya ragu kamu bisa meyakinkan hal ini kepada kepala sekolah, hhmm, kata-katamu lawan kata-katanya, kamu tahu sendiri kepala sekolah kita. Jika ada saja sedikit skandal didalam sekolahnya terutama ini menyangkut guru-guru dibawahnya dengan murid-murid disekolah ini, kamu bisa dipecat kapan saja, Aku benci melaporkan hal ini, tapi nampaknya kamu tidak memberikan banyak pilihan untukku. Sudah pasti kamu tidak akan mengajak aku kerumahmu untuk bermesraan??”
Susan betul-betul terkejut sehingga ia tidak dapat berpikir dengan jernih, ia tahu pak Suparman tidak akan mempercayai perkataan dia.
“Tapi, aku betul-betul tidak melakukan hal itu, Win!!” Susan berkata sambil menangis “Jangan lakukan hal ini padaku, ini akan menghancurkanku, Aku tidak pernah berhubungan seks dengan murid-muridku!”
Erwin hanya tersenyum, ia tidak perlu mengatakan apa-apa lagi, Ia tahu Susan sudah ada dalam genggamannya, Susan mulai menangis, bibirnya gemetar.
Tak lama kemudian, Susan mulai bisa menenangkan dirinya, ia keringkan airmatanya dan mengambil nafas dalam-dalam.
“OK, “ kata Susan sambil matanya menatap lantai. “sekarang maumu apa, saya hisap kontolmu, atau kamu entot memekku, atau kamu mau jilatin memekku, kamu tinggal bilang saja.”
Erwin merasa kontolnya mulai bangun, jantungnya berdebar mendengar kata-kata Susan. 
“Ok, bagus sekali! Kamu tidak akan menyesal, saya berjanji,” kata Erwin dengan gembira, senyumnya terhias diwajah gantengnya, kemudian,
“daripada kita lakukan dirumahmu lebih baik kita lakukan sekarang di ruangan senam, saat sekarang sudah pasti tidak ada orang lagi disana ataupun disekolah,” lanjut Erwin.
Susan tahu ruangan senam yang dimaksud, dimana ia pernah menyaksikan saat team senam mereka berlatih, ruangannya cukup besar, lantainya dilapisi oleh matras yang sangat tebal, dan ruangan tersebut kedap suara, jadi suara dalam ruangan itu tidak akan terdengar keluar.
Susan tahu ia bisa berteriak, melenguh dan merintih-rintih sekerasnya dan tidak akan ada yang mendengarkan suara erangan dia, kecuali Erwin.
Saat ini, Susan sedikit gugup seperti layaknya seorang anak perawan, lubang senggamanya mulai hangat dan basah, dia mulai terangsang membayangkan lubang senggamanya yang sebentar lagi akan mendapatkan sodokan-sodokan batang kontol.
Sesampainya di ruangan senam, Erwin mulai melucuti baju Susan satu persatu, setelah Susan telanjang bulat Erwin melihat kedua payudara Susan menggelayut dengan indah kedua putingnya mencuat seolah menantang untuk dijilati dan dihisap.
Setelah selesai melucuti pakaian Susan, Erwin mulai membuka bajunya juga, saat Erwin membuka celana dan Cdnya, jantung Susan berdegup kencang melihat kontol Erwin yang besar dan sudah tegang, ukurannya hampir 2 kali dari ukuran kontol suaminya.
Kemudian Susan merebahkan tubuhnya diatas matras, dan mulai mengangkangkan kakinya, sehingga lubang senggamanya yang berwarna merah muda terlihat oleh Erwin dengan jelas, memeknya sudah basah oleh cairan pelumasnya.
Erwin berlutut didepan memek Susan, tangannya yang kiri mulai mengelus-elus paha Susan sementara yang kanan mengelus-elus belahan memek Susan, jempolnya kemudian mengelus-elus itil Susan.
“Ooohhh!!” Susan merintih. “Oohh, Win, entot aku sayang, cepat!! Masukkan kontolmu yang besar itu kedalam memekku!! Aku tidak sabar lagi, dan aku ingin kamu genjot aku dengan keras dan cepat sayang!”
Erwin tidak memerlukan lagi pelicin, ia merasakan jari-jari tangannya basah oleh cairan pelumas yang keluar dari memek Susan, memek Susan nampaknya sudah siap untuk diterobos oleh kontol Erwin, kemudian Erwin menyelipkan kepala kontolnya dibelahan memek Susan, lalu dengan sekali sentakan yang kuat ia dorong batang kontolnya menerobos lubang senggama Susan.
Sleepp…. Bleesssss……. 
“Eeeaaaghhh!” Susan memekik. 
Kedua matanya terbelalak, kepalanya tergeliat kebelakang menekan matras, dan ia mengangkat pantatnya menyambut desakan kontol Erwin dilubang senggamanya, kontol Erwin terbenam dalam-dalam di lubang memek Susan, Susan merasakan bahwa lubang memeknya penuh sesak oleh jejalan batang kontol Erwin.
“Bagaimana?? Kamu sukakan???” Erwin bertanya. “Suka kontolku, sayang? Cukup besar buatmu??”
“Ohhh, Erwin, kontolmu luar biasa sekali!” Susan merintih keenakan. 
Wajahnya merona merah, nafasnya mulai terengah-engah, penuh dengan nafsu ingin memuaskan dahaga akan kenikmatan seks.
“tekan yang dalam, sayang!! Aku membutuhkan kontol besar seperti punyamu ini sedari dulu!” 
Erwin melakukan permintaan Susan, Erwin memeluk tubuh Susan lalu dengan gaya misionari, Erwin memulai menggerakkan pinggulnya memaju-mundurkan kontolnya didalam lubang senggama Susan dengan cepat dan keras, Erwin merasakan lubang senggama Susan semakin basah dan basah saja.
Erwin memberikan berlusin-lusin sodokan-sodokan kontolnya didalam memek Susan sebelum terdengar suara Susan yang merengek-rengek dan mengerang keenakan.
“Mmmm, ouughh! Enak sekali, sayang,” Susan berbisik. “entotanmu enak sekali, Ohh, aku suka sekali kontolmu, aku sekali caramu mengentotku, Ohhh, kontolmu memenuhi memekku, Oohhh!!”
Bob belum pernah mengentot cewek yang bernafsu sekali seperti Susan, biarpun itu anak gadis yang berhasil ia pikat tidak sepanas dan bernafsu seperti Susan.
Badan Susan bergetar saat merasakan sodokan kontol besar Erwin di memeknya, perasaan Susan bercampur aduk merasakan kehangatan kontol Erwin yang sedang mengaduk-aduk lubang senggamanya, Susan kerepotan menahan ledakan-ledakan nafsunya.
Susan melingkarkan kakinya yang lenjang kepinggang Erwin dan mengaitkan kedua perg*****an kakinya, Susan mulai menekan pinggang Erwin saat Erwin mendorong masuk kontolnya, akibatnya membuat kontol Erwin masuk lebih dalam di lubang senggamanya.
Susan mengerang-erang keenakan setiap sodokan kontol besarnya Erwin mendorong masuk di lubang senggamanya.
“Terus, sayang, terus, sodok aku dengan kontol besarmu itu, Ohhh, sampai memekku penuh dengan semburan spermamu yang hangat,” Susan berteriak memohon-mohon. “Aku ingin merasakan tembakan spermamu didalam lubang memekku!!.”
Erwin semakin mendekatkan tubuhnya, tangannya melingkari tubuh Susan lewat bawah tangan Susan, tubuhnya menekan tubuh halus Susan, kontolnya menekan lebih dalam, sangat dalam sekali didalam lubang senggama Susan.
Susan memompa pinggulnya dan meremas tubuh Erwin dengan kedua kakinya, dan lubang senggamanya mulai berdenyut-denyut, nafas Susan terengah-engah dan menderu, rintihannya semakin sering terdengar merasakan kenikmatan yang sangat hebat.
Erwin memompa kontolnya semaki cepat dan hebat didalam memek Susan, membawa Susan semakin mendekati puncak kenikmatannya yang pertama selama 8 tahun ini.
Susan memohon-mohon agar Erwin semakin mempercepat sodokan-sodokannya, dan tak lama 
kemudian tubuhnya menyentak dengan kuat, memeknya memuntahkan lahar puncak kenikmatannya.
“AAAIIEEE!” Susan memekik. “OHHH, ENTOT AKU SAYANG! ENTOT AKU! ENTOT AKU! ENTOT AKU! YANG DALAM!!!”
Susan seperti binatang liar, memeknya sangat basah oleh lender kenikmatannya, Susan merasakan kehangatan memenuhi lubang senggamanya, menyirami kontol Erwin yang sedang keluar masuk dalam lubang memeknya.
Tubuh Susan menggeliat-geliat dan pinggulnya memutar-mutar diatas matras, Susan merintih dan mengerang keenakan menikmati puncak gairah birahinya yang tercapai, lubang memeknya berdenyut-denyut saat memuntahkan lahar kenikmatannya.
Semua penantian dan kebutuhan akan seks selama 8 tahun telah tercapai saat lubang memeknya berdenyut-denyut dan mencengkram kontol Erwin.
“Ohhh, kamu hebat sekali, sayang!” she mengerang penuh nafsu. “kamu sangat hebat sekali!”
“Kamu juga sayang, kamu adalah yang paling hebat dari semua yang pernah aku entot,” Erwin mendesah, sambil tetap melanjutkan genjotan-genjotannya, Erwin memompa kontolnya dengan kuat dan menekan lebih dalam sejauh yang bisa ia lakukan, menggesek-gesek itilnya Susan, dan dinding vagina Susan.
Mereka bersetubuh seperti itu dengan waktu yang cukup lama, menikmati manisnya gairah birahi mereka, kontol besar Erwin semakin basah dan semakin mudah keluar masuk dalam lubang senggama Susan, Erwin menikmati betul mengentot memek Susan yang tidak pernah dimasuki kontol lelaki lain untuk waktu yang cukup lama.
Erwin mencoba untuk menahan agar kontolnya tidak cepat-cepat memuntahkan lahar kenikmatannya, sampai ia dapat memberikan beberapa kali kepuasan kepada Susan, Erwin tahu Susan bisa beberapa kali mencapai kepuasannya, dan Erwin ingin menghemat ten****ya dan memastikan agar Susan bisa mendapatkan kepuasan yang orang lain tidak dapat berikan.
Akhirnya setelah kepuasan pertama Susan mereda, Susan menyarankan agar merubah posisi mereka, dipojokan ruang senam ada bantalan bangku yang dapat distel.
“Aku rebahan di bangku itu, dan kamu bisa menyetel ketinggiannya sesuai dengan keinginanmu,” kata Susan, “Kemudian kamu berdiri dilantai dan kamu masukkan kontolmu lagi, aku ingin merasakan kontolmu yang besar itu, menghujam memekku lebih dalam dan lebih keras lagi!!”
Erwin menyukai ide Susan itu, ia tahu dengan posisi itu kontolnya bisa lebih dalam masuknya di memek Susan.
Susan merangkak naik keatas bangku, ia mengatur posisi tubuhnya, Erwin mengatur posisi meja itu, sehingga posisi pantat Susan lebih tinggi dari posisi kepalanya dan sejajar dengan posisi kontolnya saat berdiri, Susan gemetar saar merasakan kontol Erwin menyentuh kakinya. Ini pasti akan lebih enak lagi, batin Susan.
Erwin mengunci posisi bangku yang sudah tepat dan berdiri di satu ujungnya, pantat Susan berada tepat diujung bangku, kedua kaki Susan mengangkang, lubang memeknya terbuka, indah sekali.
Batin Erwin bergejolak, Haruskan kujilati dulu memek ini? Tapi ia perhatikan Susan, nampaknya Susan lebih menginginkan kehangatan kontolnya, iapun mengambil keputusan untuk mengentot Susan lagi.
Sekarang ini Erwin menekuk kaki Susan sehingga lutut Susan hampir menyentuh payudaranya yang besar, Erwin memegang perg*****an kaki Susan, kemudian ia mulai mengarahkan kontolnya dan mendorongnya masuk kedalam lubang vagina Susan, kepala kontolnya menyelinap masuk dibelahan memek Susan, dan ia menekan dalam-dalam dilubang vagina Susan.
Susan mendesah berat saat merasakan kontol Erwin mulai menyodok lubang memeknya, bola matanya berputar sehingga yang nampak hanya yang putihnya saja, tubuhnya melenting seperti busur panah, Erwin tahu bahwa kontolnya masuk lebih dalam dari sebelumnya, dan ini cukup untuk membuat gairah nafsu Susan akan tercapai lagi.
“OK, sayang, buat aku puas lagi,” kata Susan lirih. “Aku ingin merasakan kontolmu masuk lebih dalam sampai biji pelermu menyentuh bibir memekku, Aku sekali dientot oleh kontolmu yang besar dan hangat itu.”
Erwin membungkukkan tubuhnya dan mengangkat kedua kaki Susan lalu menaruhnya diatas pundaknya, kontolnya yang besar dan panjang masuk lebih dalam lagi sampai jembutnya bersentuhan dengan bibir memek Susan.
Susan dapat merasakan denyutan dan tegangnya kontol Erwin saat Erwin mulai memaju mundurkan kontolnya, memeknya berdenyut-denyut kencang penuh gairah.
Erwin menyelipkan kedua tangannya dibawah pantat Susan, kemudian Erwin mulai meremas-remas kedua bongkahan pantat Susan dengan lembut, Susan menyukai aksi Erwin ini, kemudian Erwin mengangkat pantat Susan untuk menyambut sodokan kontolnya, membuat kontolnya masuk lebih dalam lagi di memek Susan.
Kemudian Erwin mulai mengentot Susan, pinggul dan pantatnya mulai naik turun dengan cepat, Nampak kontolnya yang panjang mulai basah oleh cairan memek Susan dan urat-urat kontolnya semakin terlihat.
Erwin memompakan kontolnya semakin cepat dan cepat kedalam lubang memek Susan, membuat tubuh Susan menggeliat dan menggelinjang menikmati kenikmatan.
Lagi dan lagi tanpa berhenti, Erwin terus mengeluar masukkan seluruh batang kontolnya yang panjang dan besar itu, membuat tubuh Susan gemetar, membuat memek Susan berdenyut.
Susan mencapai kepuasannya terlebih dahulu, rintihannya terdengar, memeknya berdenyut dengan kencang, hampir bersamaan kontol Erwinpun memuntahkan spermanya.
“kita keluar sama-sama, sayang!” Susan merintih-rintih keenakan, dan Susan merasakan kontol Erwinpun mulai berdenyut. “tembakkan spermamu didalam memekku, sayang.” 
“Ini dia, ini dia, terima spermaku, sayangkut!” Erwin mengerang, mukanya memerah saat meraih puncak kenikmatannya.
Tubuh Erwin melenting, kontolnya ia tekan dalam-dalam di lubang memek Susan, lahar kenikmatan mereka bertemu dilubang senggama Susan, dan membasahi kontol Erwin.
Erwin telah menyetubuhi Susan dengan seluruh kemampuan yang ia punyai, Erwin adalah seorang laki-laki jantan yang mempunyai kontol yang panjang dan besar, dengan stamina yang bagus, dan Susan tetap merasa kurang puas ia masih menginginkan kontol lagi.
Susan sangat bernafsu, gairah birahinya meledak-ledak, ia sangat kelaparan akan sodokan-sodokan kontol, Erwin menyadari bahwa Susan akan berubah menjadi perempuan yang haus akan seks setelah pengalaman seks hari ini.
Erwin tetap membenamkan kontolnya didalam lubang memek Susan, menembakkan spermanya sampai tetes terakhir.
Nampaknya Susan susah untuk betul-betul dipuaskan oleh kontolnya ini, dan Susan tahu akan hal ini, Susan menyukai dientot oleh Erwin, dan Susan ingin sisa malam ini dihabiskan dengan dientot oleh Erwin dan dengan berbagai posisi.
Dan mereka melakukan itu, mereka melakukan sampai dini hari, mereka melakukan dengan berbagai posisi, diatas matras dengan Susan diatas Erwin, lalu mereka melakukan posisi doggie style.
Tapi Susan tahu setelah ini ia akan pulang kerumah dan berakhir dengan tidur sendirian diatas tempat tidurnya.
Sekarang setelah merasakan sodokan-sodokan kontol lagi, yang pernah atau hampir ia lupakan bagaimana rasanya dientot oleh kontol, Susan akan merindukan setiap harinya sodokan-sodokan kontol-kontol yang besar yang akan memuaskan dia, yang akan membuatnya melayang-layang.


Beberapa hari kemudian setelah kejadian dihari itu, Susan merasakan memeknya mulai gatal ingin merasakan sodokan-sodokan kontol lagi. Hari Senin pagi Susan mengajar di jam pertama. Salah satu muridnya Rian yang duduk dibarisan depan, matanya menatap Susan, dan pada saat ia Susan mulai mengajar nampak oleh Susan tonjolan dis*****kangannya dibalik celana ketatnya.


Sebelumnya Susan tidak pernah memperhatikan hal ini, tapi sekarang ini Susan sedang membutuhkan kontol untuk menyodok-nyodok memeknya, s*****kangan Rian seperti magnet untuk mata Susan, Susan membayangkan menarik risletingnya dan menarik keluar kontolnya yang sedang tegang itu, menghisap dan mengulum-ngulum sampai mulutnya penuh oleh sperma.
Sangat susah untuk Susan berkonsentrasi dalam mengajar hari ini, bagaimanapun juga akhirnya Susan berhasil melalui semua ini saat bel sekolah berbunyi, menandakan jam pelajarannya telah berakhir, dan Susan juga teringat bahwa Rian adalah anggota dari club fotografi disekolahan dimana Susan menjadi guru pembimbingnya.
“Rian, tunggu sebentar ada yang mau saya bicarakan?” Susan bertanya. “saya ada tugas khusus untuk kamu di ruangan gelap club fotografi malam ini, setelah jam sekolah usai, ini akan sangat berarti buat saya jika kamu bisa melakukannya.”
“Tentu, bisa, bu.” Kata Rian, “orangtuaku sedang pergi keluar kota ada urusan keluarga, jadi aku tidak perlu buru-buru pulang kerumah.”
Susan merasa senang. “Bagus, jadi saya tunggu sekitar jam 4.”
Sebuah kesempatan batin Susan, jika ia menginginkannya, Aku akan entot dia sampai tengah malam, jika Erwin bisa menggunakan ruangan senam, pasti aku juga bisa menggunakan ruangan gelap fotografi.
Susan merasa sedikit khawatir jika pak Suparman mengetahui hal ini, tapi saat ini Susan sedang bernafsu sekali ingin merasakan sodokan kontol di memeknya, jadi ia tidak perduli lagi tentang pak Suparman.
Susan sangat membutuhkan kontol, dan ia tahu bahwa tidak ada yang menandingi kehangatan kontol anak muda seperti Rian. 
Seusai jam sekolah, setengah berlari Susan menuju ruangan gelap fotografi, yang lokasinya agak berjauhan dengan bangunan utama sekolah ini. Susan sampai duluan di ruangan tersebut, ia lalu membuka kunci pintu ruangan tersebut, ketika Rian tiba, ia mematikan lampu besar yang ada diruangan itu, ruangan itu sekarang hanya diterangi oleh lampu kecil saja, dimana lampu ini biasanya digunakan pada saat orang sedang mencetak film.
“Ayo masuk, Rian,” kata Susan. “tidak apa-apa. Saya belum melakukan apapun juga, tapi lebih baik kalau kamu mengunci pintu itu, dan nyalakan lampu diluar jadi tidak orang yang mengganggu saat kita menggunakan ruangan ini.”
Setelah Rian mengunci pintu, Susan tidak membuang waktu lagi, ia segera mengeluarkan sejumlah photo dan roll film dari dalam tasnya.
“Ini betul-betul rahasia, Rian,” kata Susan. “Apapun yang terjadi didalam ruangan ini, hanya kita berdua saja yang mengetahui hal ini, tidak ada orang lain yang mengetahui kejadian diruangan ini, kamu mengertikan.”
“Iya, bu, sudah pasti.” Kata Rian. 
Matanya yang hitam malu-malu menatap Susan, hampir seperti orang alim, dengan melihat ini saja membuat Susan gemetar, Susan membayangkan jika Rian pasti belum pernah melihat kemaluan perempuan, mungkin juga payudara perempuan belum pernah Rian lihat, apalagi melakukan hubungan seks, Susan sangat pasti bahwa Rian masih perjaka.
Susan membatin sungguh aneh bila tidak ada satupun anak gadis disekolah yang mendekati Rian, tapi Susan sadar mungkin karena Rian anak yang pemalu sehingga membuatnya jauh dari anak-anak gadis, tampangnya lumayan cakep, badannya lumayan kekar.
Susan memberikan photo tadi ke Rian, dan terdengar hembusan nafas Rian yang sangat keras, Rian tidak dapat melepaskan pandangannya pada photo itu, dan Susan menunggu sampai Rian melihat semua photo-photo itu.
Semuanya adalah photo-photo telanjang Susan saat berumur 19 tahun.
“Oohh, Bu Susan!!, kenapa ibu perlihatkan photo-photo ini padaku.” Kata Rian tergagap-gagap. “Apa ini betul-betul ibu??”
“itu semua memang photoku,” Susan berkata lirih dengan mata setengah terpejam, wajahnya sangat dekat sekali dengan wajah Rian, karena sangat dekatnya jika ia julurkan lidahnya ia dapat menjilat telinga Rian.
“Dan aku mau kamu sekarang memotretku, seperti itu, tapi dengan gaya lebih merangsang. Apa kamu bisa lakukan itu? Apa sebelumnya kamu pernah melihat perempuan telanjang??”
Saat ini Susan hampir tidak dapat bernafas dengan normal, nafasnya terengah-engah, payudaranya yang besar terlihat naik turun dengan jelas seirama dengan nafasnya, yang ingin ia lakukan adalah menggenggam kontol Rian, yang kelihatan sudah membesar dibalik celananya, tapi ia terpaksa menahan itu semua sampai ia merasa yakin bahwa Rian menginginkan dia, Ia harus yakin betul-betul bahwa Rian tidak akan menolak dia melainkan ingin memasukkan kontolnya didalam lubang senggamanya.
“Hhhmmm, aaaku tidak tahu, bu.” Kata Rian tergagap-gagap. “Aku akan dapat masalah besar jika ada orang yang tahu hal ini.”
“Tidak ada satupun orang yang tahu, lagipula, aku yang akan dapat masalah lebih besar daripada kamu, Bagaimana??” sambil berbicara, Susan mulai melepaskan kancing blusnya satu persatu, setelah blusnya terlepas kedua payudara Susan mencuat menantang untuk dijamah, dengan sengaja Susan menggesekkan payudaranya ketangan Rian.
Rian merasakan kontolnya berdenyut dengan kuat, sehingga ia berpikiran kontolnya akan memuntahkan sperma dibalik celananya, Rian tidak pernah mengeluarkan spermanya dengan cara lain selain dengan cara mengocoknya sendiri, ia merasa sore ini ia akan mengalami hal yang baru dalam hidupnya.
Jantungnya berdebar dengan kencang, matanya terbelalak menatap kedua payudara Susan yang besar.
“Aku pikir pasti tidak apa-apa, jika ibu mengatakan demikian.” Rian berkata pelan sekali, suaranya nyaris tak terdengar.
Rian sangat bergairah sekali, tapi gairahnya tidak melebihi gairah Susan, Susan seperti terbakar oleh gairah birahinya, Susan sudah tidak sabar untuk melepaskan seluruh bajunya, dan baju Rian juga, dan kemudian mengulum-ngulum kontol Rian yang tegang.
Kemudian Susan mulai melepaskan kancing blusnya satu persatu, kemudian Susan melepaskan blusnya yang sudah terbuka, sekarang bagian atas Susan hanya tertutupi oleh BH yang ketat sehingga sebagian payudaranya terpampang di mata Rian, kemudian Susan mendekati Rian dan menempelkan dadanya di dada Rian, digesek-gesekkannya payudaranya yang masih tertutup oleh BH ke dada Rian, Rian bersandar dimeja, kedua tangannya mencengkram pinggiran meja. Susan melihat pancaran nafsu dari kedua bola mata Rian, mulut Rian terbuka dan nafasnya terdengar memburu.
“Rian, kamu maukan mengambil photoku yang tanpa mengenakan sehelai bajupun,” Susan bergumam, dengan mata setengah terpejam sambil menekankan payudaranya kearah muka Rian.
Rian gemetar menahan gairah nafsunya, kontolnya semakin menegang, dan ia merasakan tangan Susan berada dis*****kangannya, Rian juga merasakan kedua tangan Susan sedang mengusap-ngusap kontolnya dari balik celananya dan kadang-kadang meremas-remasnya.
“Ohhh, sayang, kamu sudah bergairah!” Susan mendesah manja. “Aku belum pernah sebelumnya merasakan kontol sebesar dan sekeras ini. Cepat, sayang, aku keluarkan kontolmu ini yach, kemudian aku buka semua pakaianmu, aku ingin melihat kontolmu yang kamu sembunyikan, sudah pasti besar sekali punyamu ini, tapi aku ingin sekali merasakannya berada didalam genggamanku dan didalam mulutku.”
Susan membuka rok dan sepatunya, kemudian ia melepaskan celana dalamnya, Rian sangat b ernafsu sekali melihat pemandangan ini, kemudian Rian meraih kedua payudara Susan dan meremas-remasnya, tak lama kedua tangan Rian beralih kepunggung Susan, mencari kait BH Susan dan membukanya, kedua payudara Susan yang besar akhirnya terpampang didepan mata Rian.
Rian tidak mau mengalihkan pandangannya dari kedua bukit kembar Susan, Susan merasakan gairah birahinya semakin memuncak, dengan sekali sentak Susan menarik kepala Rian kearah salah satu payudaranya, Rian membuka mulutnya dan memasukkan puting susu Susan dan mulai menghisap-hisap puting susu Susan yang sudah mulai menegang. Susan merasakan hangatnya mulut Rian dan bibirnya yang basah menjilati dan menghisap-hisap payudaranya.
“Ayo cepat, sayang, aku sudah tidak sabar lagi,” Susan berbisik. “Cepat entot aku, buka bajumu dan masukkan kontolmu itu kedalam lubang memekku.”
Dengan tergesa-gesa Rian melucuti pakaiannya, matanya masih memandangi tubuh Susan yang sudah telanjang, Rian ingin cepat-cepat memasukkan kontolnya kedalam memek Susan dan mengentotnya seperti yang ia impikan selama ini.
Rian sering melakukan onani sambil membayangkan tubuh Susan, hampir setiap malam ia lakukan itu sebelum ia tidur, dan sekarang ini didepan matanya tubuh Susan telanjang bulat menantikan sodokan kontolnya di lubang senggamanya, Rian hampir tidak mempercayai hal ini akan terjadi.
Ketika Rian hanya tinggal mengenakan CD saja, Susan sudah tidak sabar lagi ingin merasakan kontol Rian, kemudian Susan menarik CD Rian kebawah, dan setelah itu Susan menyorongkan wajahnya kes*****kangan Rian.
Kontol Rian sudah sangat tegang dan keras sekali, Susan hampir tidak mempercayai matanya, ia melihat kontol Rian lebih besar dari kepunyaan Erwin, kontol Rian tampak berdiri tegak dengan gagahnya.
Jantung Susan berdebar saat ia mulai mengulum-ngulum dan menjilati kontol Rian, Susan merasakan hangatnya kontol Rian di lidahnya.
“Ohhh, kontolmu betul-betul besar sekali,”Susan bergumam. “Malam ini aku akan puas menikmati dientot oleh kontolmu ini.”
Susan kemudian meraih kursi tanpa sandaran, lalu menyuruh Rian untuk duduk disitu, kemudian ia sendiri berjongkok dihadapan Rian, Susan mendekatkan bibirnya dan mulai menciumi kontol Rian, menjilati kepala kontolnya, dan mengulum-ngulum kontolnya.
Susan tidak mau mengecewakan Rian, bibirnya dengan lembut melingkari batang kontol Rian, kemudian Susan mulai memaju mundurkan mulutnya sehingga kontol Rian keluar masuk dalam mulutnya, Susan mengocok kontol Rian dengan penuh nafsu, memeknya semakin basah karena gairah birahinya.
Rian gemetar penuh nafsu merasakan semua ini, saat merasakan kontolnya dijilati dan dikulum-kulum oleh Susan, sementara Susan semakin gencar mengeluar-masukkan kontol Rian dimulutnya, kepalanya naik turun dengan cepat, Susan sangat bergairah sekali merasakan kontol Rian berdenyut-denyut didalam rongga mulutnya.
Saat Rian melenguh perlahan dan meremas-remas rambut Susan, Susan merasakan denyutan kontol Rian semakin cepat, Susanpun semakin mempercepat memompa kontol Rian dengan mulutnya, saat Susan mendengar Rian melenguh panjang dan kontolnya mulai berkedut, tangannya ikut beraksi dengan mulai mengelus-elus kedua biji peler Rian.
“Ohh, bu.., Aku keluar,” Rian mendesah parau, “Oohh..Buu..aaakkuu kelluaarr>”
Tubuh Rian mengejang, kontolnya menyemburkan spermanya didalam kerongkongan Susan, Susan mengimbanginya dengan menghisap kontol Rian dengan kuat, menekankan kepalanya kebawah menyambut semburan sperma Rian, tangannya meremas-remas biji peler Rian dengan halus.
Susan sendiri melenguh dan mendesah saat menghisap kontol Rian, penuh dengan nafsu birahinya, kontol Rian memenuhi mulut Susan, Susan merasakan sperma Rian yang hangat meleleh dari sela-sela bibirnya karena multunya tidak mampu luapan sperma Rian.
Setelah selesai menghisap kontol Rian dan Susan membiarkan Rian untuk beristirahat sebentar kemudian Susan bertukar tempat dengan Rian, kemudian Susan meletakkan kursi itu disudut, lalu ia pun duduk diatas kursi itu, kedua kakinya ia kangkangkan, sehingga memeknya terbuka lebar, bibir memeknya yang berwarna merah muda sudah basah dan siap menerima sodokan kontol Rian.
“Masukkan kontolmu yang besar dan keras itu sayang,” Susan mendesah. Suaranya terdengar manja dan penuh nafsu birahi, menantikan kontol Rian yang besar itu menyodok lubang senggamanya.
“Ayo sayang, berikan aku kepuasan, berikan aku kontolmu yang panjang dan besar itu,”Rintih Susan.
Rian menatap memek Susan yang berbulu dan basah, Rian masih tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat ini, nafsu birahinya meletup-letup, Rian masih tidak percaya bahwa sekarang ini ia berdiri dihadapan gurunya yang sexy dan sedang memohon-mohon kepada dia untuk segera mengentotnya.
Rian kemudian m*****kah mendekati Susan, setibanya dihadapan s*****kangan Susan yang sudah terbuka, Rian mulai menempelkan kepala kontolnya dibelahan memek Susan.
Susan merintih perlahan,” Ohh, Rian, berikan padaku, sayang! Sodokkan kontolmu yang besar dan panjang itu kedalam memekku, CEPAT,”
Kemudian dengan sebelah tangan Rian menguakkan bibir memek Susan yang basah, tangan yang satunya mengarahkan kontolnya kelubang senggama Susan, Rian merasakan kepala kontolnya mulai terjepit oleh hangatnya memek Susan, dengan sekali sentakkan kuat Rian mendorong kontolnya sehingga terbenam dilubang senggama Susan, Susan sendiri merasakan memeknya penuh sesak oleh jejalan kontol Rian, Susan merasakan denyutan kontol Rian bersentuhan dengan dinding vaginanya, membuat Susan menahan nafas.
“Oh, enak sekali, Rian,”Susan menggumam manja. “Kontolmu betul-betul indah, entot aku, sayang, Puaskan aku,”
Susan mengaitkan kedua kakinya dibelakang tubuh Rian, akibatnya tubuh Rian menjadi condong kedepan karena kaitan kaki Susan yang menekan dipinggangnya, Kontolnya terbenam dalam-dalam dalam lubang memek Susan, gairah birahi Susan semakin menjadi dengan posisi seperti ini, karena dengan posisi seperti ini kontol Rian lebih dalam masuknya dilubang senggamanya, sehingga bulu-bulu mereka bersentuhan.
Rian melingkarkan kedua tangannya ditubuh Susan, Rian memeluk Susan dengan erat dan kedua tanggannya berpegangan dikursi.
Rian merasakan dadanya bersentuhan denga kedua payudara Susan yang besar dan empuk, putingnya sudah mengeras seiring dengan gairah birahi Susan yang semakin meninggi.
Memek Susan semakin basah, dan kontol Rian mulai mengaduk-aduk dan keluar masuk dimemek Susan seiring dengan gerakan Rian yang mulai memaju-mundurkan pantatnya, Keluar-Masuk dengan cepat, Rian menggerakkan kontolnya yang tegang keluar masuk dalam-dalam dilubang senggama Susan membuat gelora birahi Susan semakin menjadi.
Susan merasakan kenikmatan yang luar biasa dapat dientot oleh anak muda seperti Rian, yang penuh dengan energi anakmuda, dan dengan kontolnya yang sangat tegang, mengentotnya sehingga Susan lupa akan siapa dirinya, yang Susan ingat saat ini adalah hentakan kontol Rian yang menrobos keluar masuk dilubang senggamanya, memberikan pijatan penuh kenikmatan didinding vaginanya.
“kamu membuatku ingin terus dientot selamaya, sayang,” Susan mendesah penuh nafsu. “Tekan yang dalam kontolmu, sayang, lebih keras…keras….! Jangan berhenti.”
Saat ini Rian mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa, apalagi ini adalah pengalaman pertama baginya, Rian sangat bernafsu dan gugup, merasakan dinding vagina Susan yang mencengkram dengan erat batang kontolnya.
Kontol Rian bertubi-tubi menyodok lubang senggama Susan, menekan lebih dalam, lebih dalam dilubang senggama Susan, membuat Susan rintihan dan lenguhan Susan semakin menjadi, gairah nafsu birahi Susan semakin memuncak.
Susan merasakan hangatnya tubuh Rian dalam dekapannya, kontolnya seperti mengebor lubang senggamanya dengan penuh nikmat, menggesek-gesek itilnya sehingga membuat Susan merasakan kenikmatan yang sangat.
Saat ini Susan ingin merasakan kontol Rian yang keras dan besar itu mengaduk-aduk lubang senggamanya sampai ia mencapai kepuasan, Susan ingin sekali merasakan semburan hangat sperma Rian didalam lubang senggamanya, Susan ingin merasakan gairah saat mereka mencapai kepuasan bersama, sehingga cairan kenikmatan mereka bersatu dalam satu ledakan birahi pencapaian dari puncak kepuasan mereka.
Tubuh Susan melenting seperti busur panah, pinggulnya terangkat menyambut kedatangan kontol Rian, kaki Susan mengait dengan erat pinggang Rian, menekan pinggang Rian seiring dengan dorongan maju Rian, seolah meminta Rian untuk menggenjot kontolnya lebih dalam, lebih dalam dilubang memeknya.
“Kamu hebat, sayang, “desah Susan. “terus, terus, tekan yang dalam kontolmu itu, sayang, lebih dalam lagi.”
Kemudian Susan merasakan denyutan-denyutan batang kontol Rian didinding vaginanya, Susan mendengar Rian melenguh-lenguh, Susan tahu saat ini Rian sedang merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, irama genjotannya semakin bertambah cepat, kedua mata Rian tertutup, mulutnya terbuka, kepalanya mendongak, pelukan kaki Susan bertambah erat dipinggang Rian, Susan menggerakkan otot-otot dinding vaginanya sehinga Rian merasakan batang kontolnya seperti diremas-remas, Rian merintih-rintih ketika ia merasakan remasan-remasan dibatang kontolnya, remasan-remasan vagina Susan hampir membuat Rian keluar, tapi Rian ingin merasakan lebih lama lagi ngentot memek Susan ini.
“Rasanya aku tidak tahan lagi,” Rian mendesah “Aku ingin sekali ngentotmu sepanjang malam ini, tapi aku tidak tahan lagi, aku mau keluar,”
Gerakan Rian semakin tidak beraturan mencoba menggapai puncak kenikmatannya, gerakan Rian ini membuat Susan juga mendekati puncak kenikmatannya, Susan diambang pintu kenikmatannya, Susanpun merintih-rintih keenakan, pinggul dan pantatnya terangkat menyambut sodokan-sodokan kontol Rian.
“Ayo, sayang.”Susan mendesah. “Berikan aku spermamu, entot aku, sayang, tembakkan spermamu didalam memekku, penuhi memekku dengan spermamu, sayang,”
Dan kemudian Rian menembakkan spermanya, membasahi lubang senggama Susan yang sangat basah, spermanya yang hangat menyirami dinding rahim Susan, Susan merasakan memeknya tersiram hangat oleh sperma Rian, gairah birahi Susan semakin bertambah merasakan tembakan sperma Rian didinding rahimnya, semua kehausan birahinya tersiram oleh hangatnya sperma Rian, ketika Susan memuntahkan lahar kenikmatannya juga, seperti pintu bendungan ayng dibuka dengan mendadak, lahar kenikmatannya mengalir deras dari lubang senggamanya, Susan merintih, mendesah dan melenguh menandakan kepuasannya yang tercapai dengan sangat hebat.
“Uunghhh! Ohhh, Rian! Oohhh, Rian! Ohhh, aku cinta kamu, Rian! Kontolmu betul-betul enak, sayang, Ohhhh, kamu entot memekku, sssayang, aku suka kontolmu, sayang!,” 
Rian betul-betul merasakan keenakan yang sangat hebat, pikirannya melayang-layang, sambil menikmati sisa-sisa terakhir dari persetubuhan ini, sambil perlahan-lahan mengeluar masukkan kontolnya dilubang memek Susan yang sedang berkedut-kedut, dia tekan lebih dalam berulang-ulang kali sampai biji pelernya bersentuhan dengan pantat Susan, Rian merasakan sensasi erotis yang luar biasa.
Rian merasakan kedua kakinya seperti terbuat dari karet, kedua kakinya gemetaran, karena gelombang sensasi yang dirasakannya, mereka berdua saling memberikan kenikmatan, indahnya dunia mereka rasakan saat ini yang hanya bisa dicapai oleh nikmatnya persetubuhan, yang akhirnya mereka mencapai kepuasan bersamaan.
“Rian, Rian, Rian” Susan merintih-rintih. “kontolmu betul-betul enak, Ooohh, kamu membuatku puas, memekku betul-betul puas dientot oleh kontolmu”
Perlahan-lahan gairah birahi Rian mulai mereda, seiring dengan meredanya tembakan sperma dari kontolnya, sementara seluruh batang kontolnya terbenam seluruhnya didalam lubang senggama Susan yang sangat basah oleh lender kenikmatan dari kemaluan mereka berdua.
“Hari ini kamu membuat saya menjadi lelaki sutuhnya, Bu Susan,” Rian berkata lirih. “Aku tidak akan merasa takut lagi terhadap anak perempuan, Aku tidak akan pernah takut lagi untuk ngentot jika aku menginginkannya.”
Susan tertawa “Yeah, tapi jangan kontolmu ini kamu berikan pada semua gadis-gadis dikota ini, ingat aku harus mendapatkan kontol ini bila pada saatnya aku membutuhkan kontolmu ini, dan aku rasa aku akan menginginkannya setiap hari.”
Keduanya Nampak sedikit kelelahan setelah mencapai kepuasan mereka, tapi tidak cukup lama mereka kembali lagi bernafsu, untuk bersenggama lagi, rintihan, lenguhan dan desahan mereka kembali terdengar ingin segera mencapai puncak kepuasan dari persetubuhan mereka.
Cukup lama mereka berdua didalam ruangan photography, mereka bersenggama dalam berbagai posisi, sepertinya tidak ada kata lelah untuk mereka dalam menikmati persetubuhan mereka, beberapa kali Susan memberikan sedotan-sedotan dikontol Rian dengan mulutnya dan beberapa kali juga Rian memberikan jilatan-jilatan dimemek Susan dan juga hisapan-hisapan diitil Susan.
Sampai akhirnya mereka puas dan bebenah diri untuk pulang, mereka berdua merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa yang belum pernah mereka alami selama hidup mereka ini. Kontol Rian dan memek Susan betul-betul terpuaskan, puas dengan apa yang telah mereka peroleh dari persetubuhan-persetubuhan malam ini.

Suatu hari Susan bertemu dengan temannya Donita, Donita bercerita tentang seorang lelaki yang bernama Rendi, seorang lelaki berusia sekitar 30 tahun, single dan Rendi adalah seorang sales di sebuah perusahaan asuransi.
“Hari itu aku sedang dirumah sendirian,”kata Donita pada Susan.”kira-kira jam 2 siang, dan tidak ada siapapun dirumah, tiba-tiba kudengar suara bel rumahku berbunyi, kemudian ketika kubuka didepanku berdiri seorang lelaki muda dan gagah, senyumnya begitu hangat.”
Donita berkata pada Susan “Setelah memperkenalkan dirinya, pada awalnya aku tidak begitu tertarik dengan dirinya setelah mendengar ia dari perusahaan asuransi, tapi senyumnya itu tidak tahan aku dibuatnya, kupandangi dia dari atas sampai kebawah, kulihat postur tubuhnya betul-betul atletis, melihat itu aku merasakan kemaluanku mulai basah dan gatal ingin merasakan sodokan kontol, apalagi ketika kulihat dis*****kangannya, nampak tonjolan dibalik celananya betul-betul membuatku penasaran. Akhirnya kupersilahkan dia untuk masuk, sampai akhirnya aku terlena dipuaskan oleh kontolnya hampir selama 3 jam.”
Gairah birahi Susan bergelora hanya dengan mendengarkan cerita Donita tentang kontol Rendi yang besar dan hangat, dalam hatinya Susan membatin ingin juga merasakan sodokan kontol Rendi, Susan ingin juga merasakan dientot oleh kontol Rendi dan Susan tidak menginginkan kontol Rendi dicabut dari lubang memeknya.
Kemudian Susan mulai mengatur strategi untuk mengundang Rendi agar datang kerumahnya berpura-pura tertarik dengan asuransi, Susan menyampaikan hal ini kepada Donita, akhirnya Donita menghubungi Rendi untuk datang kerumah Susan.
Hari itu Susan menunggu kedatangan Rendi dirumahnya, Susan tidak sabar ingin cepat-cepat merasakan kontol Rendi mengaduk-aduk lubang senggamanya, yang mulai basah karena membayangkan akan kenikmatan yang bakal ia dapatkan.
Susan mendengar bel pintunya berbunyi, tanpa membuang waktu lama Susan membuka pintunya, dihadapannya berdiri seorang lelaki yang tampan dan gagah, betul kata Donita dengan lelaki ini betul-betul gagah dan menawan hati.
“Selamat Siang,” kata Rendi sambil tersenyum.
Susan langsung merasakan gairah birahinya bergejolak mendengar suara lembut Rendi, lalu Susan mempersilahkan Rendi masuk kedalam, kemudian mereka terlibat pembicaraan, kadang-kadang mereka bercanda.
Tak lama bers*****, Susan mengambil keputusan untuk tidak membuang waktu lagi dengan percuma, kemudian Susan tersenyum kepada Rendi, dengan gaya yang menggoda yang mengisyaratkan pada Rendi bahwa dirinya ingin disentuh dan dientot oleh Rendi.
“Kamu suka dengan bentuk badanku,” Susan mulai menggoda.
“Sudah pasti, tubuhmu begitu indah dan sexy,”gumam Rendi, sambil kedua matanya menatap tak berkedip kebelahan payudara Susan.”Aku akan puaskan kamu dengan kontolku yang besar ini.”
Rendi tidak membual dengan omongannya itu, Rendi mulai membuka celana dan Cdnya, dan mata Susan terbelalak saat melihat kontol Rendi yang besar dan sudah tegang itu, betul-betul besar dan sudah membengkak, panjang dengan kepala kontolnya yang mengkilat dan siap untuk menerobos lubang senggamanya.
“Oh, betul-betul besar dan panjang kontolmu itu,”Susan tersenyum sambil membuka seluruh bajunya, kemudian dengan tubuh yang sudah telanjang Susan beranjak kekamar tidurnya, sesampainya dikamar tidurnya, Susan merebahkan badannya, kedua kakinya ia kangkangkan lebar-lebar, menantikan Rendi untuk menyodokkan kontolnya.
Rendi yang mengikutinya dari belakang, melihat tubuh Susan yang sudah telanjang bulat itu mengangkang ditempat tidurnya, nafsu birahinya bertambah.
“Ini kontolku, sayang,”kata Rendi. “Tunggu sampai kontolku ini melakukan tugasnya, kamu akan ketagihan dengan kontolku saat ia mulai menerobos lubang memekmu, aku akan buat memekmu ketagihan akan genjotan kontolku, dan kemudian aku akan entot lubang pantatmu sampai kamu merintih-rintih keenakan”
Susan yang belum pernah mencoba dientot dilubang pantatnya merasa khawatir dan sedikit takut dengan apa yang akan dirasakannya nanti, tapi saat ini Susan sedang memikirkan tentang kenikmatan yang akan diterima oleh memeknya saat kontol Rendi menerobos masuk memeknya.
Rendi bergerak mendekati Susan yang sudah mengangkang diatas tempat tidurnya, kepala kontolnya yang sudah tegang men yentuh bibir memek Susan yang sudah basah, kemudian Rendi mengarahkan kontolnya dengan tangannya dan menyelipkan kontolnya dalam lubang memek Susan.
Susan merasakan kepala kontol Rendi yang besar menerobos dilubang memeknya, dan Susan merasakan kehangatan menyelimuti memeknya, suaranya mendesah-desah menandakan kenikmatan yang ia rasakan saat kontol Rendi mulai menerobos memeknya.
“Ohh, indahnya, sayanng, Oohh..enaknya.” Susan mendesah. “Masukkan yang dalam kontolmu, aku ingin merasakan kontolmu menyentuh dinding rahimku.”
Rendi bertumpu dengan kedua tangannya, sementara pinggulnya ia gerakkan kedepan, dengan sekali sentakan kuat kontolnya melesak kedalam lubang memek Susan yang sudah basah.
“Uuughhh!” Susan melenguh, tubuhnya melenting seperti busur panah merasakan desakan kontol Rendi dilubang memeknya. “Oohh, eenak sekali,,tekan lagi sayang.”
Rendi mulai memompa kontolnya, keluar masuk dalam lubang senggama Susan dengan cepat dan penuh tenaga dan betul-betul agresif. 
Belum sekalipun ritme goyangan Rendi menjadi pelan, Rendi memang dating untuk mengentot, dan itulah yang dia lakukan. Kontolnya yang sudah tegang memenuhi lubang memek Susan sepenuh-penuhnya, dan dengan cara dia menggenjot kontolnya itu dilubang senggama Susan membuat lubang memek Susan semakin menjadi basah.
“Kamu betul-betul tahu bagaimana membuatku bernafsu, sayang,” Susan merintih, kedua payudaranya berguncang seiring dengan gerakan Rendi. “kamu betul-betul hebat, “
Rendi tersenyum dan tetap memompa kontolnya keluar masuk lubang memek Susan terus menerus, pinggulnya seperti melayang, naik turun dengan cepat dan kuat, dengan irama yang membuat Susan merasakan dirinya sedang dibawa mendaki kepuncak gunung, puncak kenikmatan bersetubuh yang memang disukai oleh Susan.
Susan melingkarkan kakiknya kebelakang tubuh Rendi, ini adalah cara Susan yang paling Susan sukai saat dientot, karena dengan begini Susan dapat merasakan kontol yang sedang mengentotnya akan masuk lebih dalam didalam lubang senggamanya, Susan dapat merasakan sentuhan-sentuhan kepala kontol didinding rahimnya, sehingga membuatnya bergetar, sensasi getaran yang ia dapatkan menjalar dari dinding rahimnya, keatas kearah kedua payudaranya.
Susan mulai merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, nafasnya semakin memburu, seluruh tubuhnya mulai bergetar penuh nafsu ingin dipuaskan.
“Lelaki ini betul-betul hebat,” batin Susan. “Ia mengentotku seperti orang gila! Dan ia mempunyai kontol yang sangat luar biasa dan irama genjotannya tidak pernah melemah sedikitpun” Susan merasakan kontol Rendi yang besar dan panjang keluar masuk dilubang memeknya, memicu gelora birahinya yang terpendam semenjak ia mendengar cerita tentang Rendi dari Donita.
“Memekmu sungguh sempit dan enak, sayang,” Rendi berbisik. “Aku bisa mengentotmu sepanjang malam,”
“Kenapa tidak,”Susan mendesah. “Aku punya waktu untuk itu semua.”
“Pasti akan kulakukan, karena aku tidak ada janji lagi dengan yang lainnya, dan kamu adalah yang paling indah dan sexy dari seluruh wanita yang pernah aku entot.”
Susan tersenyum mendengar itu, dan iapun mulai menggoyangkan pantatnya, dan mengangkat pantatnya saat Rendi mendorong masuk kontolnya, sehingga kedua bulu mereka bersentuhan, dan Susan merasakan biji pelernya Rendi menyentuh pantatnya.
Kedua tubuh mereka bergerak dengan erotis, penuh dengan irama nafsu yang menggelora, mereka berdua bekerja sama menggerakkan kemaluan mereka dengan indahnya, kedua bongkahan pantat Susan bersentuhan dengan paha Rendi dan biji peler Rendi saat Rendi mendorong masuk kontolnya dalam lubang memek Susan.
Tubuh Susan mulai berguncang dengan keras, sementara dinding vaginanya semakin sering meremas-remas kontol Rendi setiap kali Rendi menekan kontolnya, keringat mereka mulai mengalir dengan deras.
Mata Susan tertutup rapat, kepalanya mendongak, kepalanya bergoyang kekiri kekanan merasakan gelombang kenikmatan mengalir disekujur tubuhnya, betul-betul nikmat yang ia rasakan membuat memeknya bergairah dan membuat kedua puting susunya mencuat dan mengeras.
Susan merasakan dari cara Rendi mendengus dan melenguh dan dari cara kontolnya berdenyut, nampaknya Rendi hampir mendekati puncak kenikmatannya.
Gerakan kontolnya tidak terkendali saat keluar masuk dalam lubang memeknya, tangan dan bahu Rendi mulai bergetar, Rendi tidak mengatakan apapun selain mendesah-desah, pikiran Rendi hanya tertumpu pada pencapaian puncak kenikmatannya dan menyemburkan spermanya didalam lubang memek Susan.
“Kamu siap, sayang?” Rendi berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar, matanya terpejam, mulutnya terbuka lebar. “kita keluar sama-sama!”
“Ohh..yeah..oohh…yeahh, sayang,”Susan merintih-rintih. “Aku juga, keluarkan spermamu, sayang.”
Gerakan mereka semakin tergesa-gesa, Rendi memompa kontolnya dilubang memek Susan bertambah cepat dan bertambah dalam, tubuh Susan mulai bergetar dengan keras, pantatnya naik turun diatas tempat tidur, seluruh tubuhnya bergerak terus menerus, menginginkan kontol Rendi masuk lebih dalam lagi didalam lubang senggamanya.
“Sekarang,”Rendi menggeram. “ Aku keluar…..”
“AKU JUGA, OOHHH..KONTOLMU NNIKMAT”Susan menjerit keenakan. “Eegghhh! Ohh. Tekan…entot…tekan…entot aku…ooohhh”
Susan merintih-rintih, matanya mendelik yang nampak hanya putihnya saja, diwajahnya terpancar rona sangat kepuasan, mulutnya terbuka, pipinya merona merah.
Lubang memeknya seperti membara menembakkan lahar kenikmatannya yang meledak-ledak menandakan terpenuhinya hasrat birahinya dan kontol Rendi sendiri menembakkan spermanya didalam lubang memek Susan.
Rendi merasakan kontolnya diremas-remas seiring dengan kedutan-kedutan memek Susan yang menembakkan lahar kenikmatannya, kontolnya berkedut-kedut dan menyentak-nyentak dibarengi dengan mengejangnya urat-urat kontolnya mengiringi puncak kenikmatan yang diraihnya, spermanya hangat dan banyak menyirami memek Susan, mengisi seluruh celah lubang memek Susan.
“Ooohhh, aku tidak pernah merasakan kenikmatan ini selama hidupku,” Susan mendesah. Susan menatap mata Rendi, menyampaikan pesan semua kehangatan dan kenikmatan yang menyelimuti jiwanya saat ini betul-betul sensasi yang erotis sekali bagi dirinya.
Rendi merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, tubuhnya bergetar dengan keras saat kontolnya menembakkan sperma terakhirnya didalam lubang senggama Susan, kemudian perlahan-lahan nafasnya mulai normal, kontolnya masih terbenam dalam-dalam di lubang senggama Susan, Rendi merasakan dinding vagina Susan berdenyut-denyut perlahan, dan Rendi merasakan kontolnya basah dan hangat oleh cairan kenikmatan mereka berdua.
“Kamu, besar, kontolmu ini indah, kamu.”Susan mendesis.”Kamu baru saja melakukan apa yang kamu bilang, kamu baru saja memberikan memekku penuh sesak dengan jejalan kontolmu yang besar.”
“Oh ya, tapi aku belum selesai.”kata Rendi. “kamu ingatkan? Apa yang aku bilang bahwa aku akan mengentot lubang pantatmu, ayo berputar, aku sangat bernafsu sekali ingin mengentot lubang pantatmu!.”
Susan merasakan gairah birahinya kembali, tapi ia takut, ia membayangkan jika Rendi akan merobek lubang pantatnya. Lubang pantatnya pasti sempit sekali karena ia belum pernah merasakan dientot dilubang pantatnya.
Tetapi Susan penasaran juga, dan penuh dengan gairah birahi untuk mencoba pengalaman yang baru ini.
Susanpun membalikkan badannya, Rendi menunggu penuh nafsu, kontolnya lebih tegang daripada sebelumnya, Rendi menatap penuh nafsu bongkahan pantat Susan yang montok dan indah, Rendi melihat lipatan lubang pantat Susan berdenyut sangat menantang untuk diterobos oleh kontolnya yang sangat tegang ini.
“OK, Rendi, berikan padaku kontolmu itu.” Susan berkata lembut, tubuhnya sedikit gemetar, sedikit takut akan apa yang terjadi tapi juga penasaran untuk mengetahui bagaimana rasanya saat kontol Rendi yang besar dan sangat tegang itu menerobos masuk lubang pantatnya.
“Dengan senang hati, sayang,” Rendi menjawab. “Dengan senang hati, aku akan mengentot lubang pantatmu dengan kontolku ini, tahan!!”
Rendi meludahi lubang pantat Susan, lalu menggesek-gesekkan kontolnya diludahnya itu, ludahnya melumasi lubang pantat Susan dan kepala kontolnya, ini ia lakukan berulang-ulang sampai Rendi merasakan lubang pantat Susan cukup basah, kemudian Rendi menekankan kepala kontolnya dilubang pantat Susan dan menyentakkan kontolnya kedalam lubang pantat Susan dengan kuat, kontolnya yang besar dan panjang terbenam dalam-dalam dilubang pantat Susan.
Rendi merasakan lubang pantat Susan sangat sempit sekali, Susan sendiri berteriak merasakan lubang pantatnya telah tersumpal penuh oleh kontol Rendi, tubuhnya melompat maju dan rebah diatas tempat tidur, tapi Rendi sudah mengantisipasi gerakan Susan ini, dengan memegangi pinggul Susan, dan mendorong maju bersamaan dengan tubuh Susan yang rebah diatas tempat tidur, kontolnya tetap terbenam didalam lubang pantat Susan, Rendi dapat merasakan otot-otot lubang pantat Susan yang mencengkram kuat batang kontolnya saat ia mulai mencoba memaju mundurkan kontolnya.
“Oohh, lubang pantatmu betul-betul sempit sekali,” rendi berkata dengan penuh nafsu.”kamu betul-betul membuatku bergairah kembali,”
Susan tidak begitu merasa bergairah, ia merasakan kontol Rendi seolah merobek lubang pantatnya, ia merasakan perih dilubang pantatnya. Susan merasakan sodokan kontol Rendi seperti menyentuh isi perutnya.
Setiap Susan bergerak, kontol Rendi membuat kesakitan lubang pantatnya, Susan berkeringat dingin merasakan kontol Rendi yang menyumpal lubang pantatnya, tapi entah kenapa membangkitkan gairah birahi di memeknya, memeknya berdenyut-bergairah membuat akal sehatnya hilang.
Susan menggigit bantal, Susan merasakan sakit dilubang pantatnya tapi memeknya menjadi bergairah, kemudian ia mencoba untuk sedikit rileks agar lubang pantatnya tidak terlalu mencengkram kontol Rendi.
Rendi sendiri sudah sangat bergairah dan bernafsu sekali sehingga ia tidak memperdulikan bahwa Susan sedang kesakitan yang ia pikirkan saat ini adalah memompa kontolnya dilubang pantat Susan yang sangat sempit.
Sungguh luarbiasa yang Rendi rasakan saat ini, batang kontolnya betul-betul terjepit dengan eratnya oleh lubang pantat Susan.
Rendi menarik tubuh Susan agar menungging, dengan begitu lubang pantatnya akan lebih terbuka, dan ia mulai memompa kembali kontolnya dalam-dalam dilubang pantat Susan, dengan gerakan yang teratur.
Kontolnya menerjang dan berdenyut dilubang pantat Susan, mencoba memberikan kepuasan dalam persetubuhan kali ini, kontolnya merasakan getaran dilubang pantat Susan.
“Ayo, sayang.” Rendi berbisik pelan. “Aku tidak akan berhenti sampai lubang pantatmu penuh oleh spermaku.”
Dan Rendi memang tidak bercanda, ia mulai bertubi-tubi mengeluar masukkan kontolnya dilubang pantat Susan, maju-mundur, dalam dan lebih dalam lagi, memenuhi seluruh celah didalam lubang pantat Susan.
Tapi anehnya setelah beberapa saat, Susan mulai menyukai rasa yang ditimbulkan oleh kontol Rendi dilubang pantatnya, Susan mulai merespon sodokan kontol Rendi, Susan mulai merasakan enaknya kontol Rendi saat keluar masuk dilubang pantatnya.
Susan merasakan kontol Rendi menyentuh bagian yang paling dalam dilubang pantatnya, Susan merasakan kontol Rendi meluncur lebih dalam dilubang pantatnya, menggesek-gesek bagian-bagian yang membangkitkan gairah birahinya, membuat ia terbakar dalam nafsu dan birahinya.
Susunya mulai bergoyang seirama dengan gerakan Rendi yang memompa kontolnya, Susan merasakan nafsu birahinya menggelegak diseluruh tubuhnya, Susan merasakan perutnya seperti diaduk-aduk oleh kehangatan yang menyelimuti gairah birahinya.
“Oohh… eeenaak..belajar darimana kamu mengentot dengan cara seperti ini?”Susan bertanya dengan suara yang mendesah. “Kamu betul-betul tahu caranya mengentot lubang pantat, kontolmu mulai membangkitkan gairah birahiku.”
“Kamu sukakan.”Rendi bertanya, sambil tetap memompa kontolnya.
Rendi memompa Susan seperti anjing yang lagi birahi, dan kontolnya semakin terbenam lebih dalam di lubang pantat Susan. Rendi betul-betul menikmati persetubuhannya ini itu terpancar dari wajahnya, dorongan kontolnya semakin dalam-dalam memasuki lubang pantatnya, biji pelernya bergoyang bersentuhan dengan bibir kemaluan Susan.
Susan betul-betul sangat bernafsu sekali sekarang ini, kontol Rendi betul-betul memberikan kepuasan yang tiada taranya sehingga Susan merasakan getaran yang sangat kuat memenuhi seluruh tubuhnya.
Belum pernah Susan merasakan kenikmatan seperti ini, dari sakit yang ia rasakan tadi berubah menjadi kenikmatan, entotan dilubang pantatnya membuat Susan lebih bergairah darfipada sebelumnya.
Susan mencoba untuk melawan, tapi badannya mulai bergetar tidak terkontrol lagi, Susan merasakan tangannya seperti dari karet, Susan merasakan kegelian yang sangat dikedua kakinya saat biji peler Rendi yang berbulu menyentuh pahanya, desahan, rintihan dan lenguhan Susan semakin terdengar, pikirannya penuh dengan sensasi kenikmatan, hanya dengan merasakan kontol Rendi yang keluar masuk di lubang pantatnya, membuat memeknya menjadi basah, itilnya terasa gatal karena nafsu birahinya.
“Ooohh..aku tak tahan lagi,!”Susan melenguh.”Aku akan keluar, dan aku ingin merasakan spermamu memenuhi lubang pantatku.”
Rendi melenguh saat menyodokkan kontolnya dengan kuat di lubang pantat Susan, Sodokan-sodokan Rendi membawa mereka berdua mendekati puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka, Rendi merasakan kontolnya berdenyut-denyut bersiap untuk menembakkan spermanya, Susan sendiri merasakan lendir kenikmatannya mulai mengalir keluar dari lubang vaginanya, Susan merasakan denyutan kontol Rendi didinding lubang pantatnya, detik-detik pencapaian puncak kepuasan seperti inilah yang selalu diinginkan oleh Susan.
“Aiieeee! Aiiee! Ohhhh aku mau kelluaaarrr…!” Susan menjerit, Seluruh badan Susan mengejang dan payudaranya bergoyang seirama dengan sodokan-sodokan kontol Rendi, putingnya mengeras bagaikan karet.
“Entot aku yang keras, sayang!” Susan berteriak. “Aku tidak tahan lagi, Ooohhh..kontolmu membuatku seperti pelacur, tapi aku tidak perduli, terus entot aku yang kuat sayang.!”
Kepala Susan bergerak kekanan kekiri, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan suara lenguhan dan desahan, matanya setengah terpejam, mukanya menampakkan kepuasan saat Susan mencapai puncak kenikmatannya.
Dan kemudian Rendi menembakkan spermanya, kontolnya semakin mengeras dan mengejut-ngejut, kontol Rendi memuntahkan sperma yang banyak
dilubang pantat Susan.
Susan mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya, mengedut-ngedutkan otot lubang pantatnya, lubang pantatnya mencengkram dengan erat batang kontol Rendi, Susan seperti gila merasakan kenikmatan yang sangat hebat, saat ini Susan merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat saat meraih puncak kenikmatannya yang sangat luar biasa ini, mulutnya mengerang, mendesah dan melenguh.
Akhirnya kedua tubuh insan ini jatuh ditempat tidur saat tetes terakhir lahar kenikmatan mereka menetes dari kemaluan mereka, nafas mereka terdengar tersengal-sengal. Tak lama kemudian tubuh Rendi bergulir dari atas tubuh Susan, terlihat kontolnya mengkilat karena cairan sperma bercampur dengan cairan dari pantat Susan, sementara dari lubang pantat Susan terlihat sperma Rendi mulai mengalir perlahan menuju ke Vaginanya yang saat itu juga sedang mengalir cairan kenikmatannya, cairan kenikmatan mereka bercampur dan mulai menetes keatas tempat tidur.

Incoming search terms:

memek gebu, cerita menggebu, Secretary Tumblr, cerita ngentot susan, cerita seks menggebu gebu, cerita dewasa wisata, Cerita ngentot menggebu, cerita ngentot pak erwin ditempat senam sekolah, cerita haus seks menggebu, gairah memekku, Cerita seks susan, cerita nafsu menggebu gebu, Ngentot susan, cerita sek menggebu, cerita dewasa susan, cerita nafsu yg menggebu gebu, cerita seks meletup, cerita gairah menggebu, cerita dewasa ngewe susan, cerita hasrat ml sama bu susan, cerita janda muda yang dahaga batin, SEKS SUSAN WWW COM, cerita seks menggebu, cerira gairah menggebu, Cerita seks nafsu birahi memenuhi

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker