Saturday , July 26 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Petualangan Seks Hendra, Kusetubuhi Bi Ina, Istri Muda Pamanku

Petualangan Seks Hendra, Kusetubuhi Bi Ina, Istri Muda Pamanku



Ina

Hari ini aku dalam perjalanan menuju Garut, ada pertemuan dengan salah satu p*****gan perusahaan kami yang mengharuskan aku untuk datang sendiri ke Garut. Seandainya saja aku dapat membawa serta Anna atau Tina menemani perjalananku ke Garut, pasti di Garut aku akan dapat menikmati lagi tubuh mereka, tapi sayangnya perusahaanku hanya menugaskanku seorang.
Saat tengah hari aku sudah memasuki kota Bandung, akhirnya kuputuskan untuk mampir di rumah orangtuaku di kawasan Setiabudi, setibanya disana ibuku memeluk dan mencium kedua pipiku, hehehe… maklum aku anak lelaki yang paling bontot, aku adalah anak kelima dari enam bersaudara, sementara si bungsu adalah perempuan yang cukup jauh umurnya denganku, perbedaan umurku dengan adik bungsuku sekitar 8 tahunan, Rumah orangtuaku sangat besar dan luas sehingga ke 4 kakakku yang sudah menikahpun tinggal dirumah orangtuaku itu, dan hanya aku saja yang pergi merantau.
“kamu lagi liburan, Hen” Ibu bertanya kepadaku.
“Tidak, Bu, aku sedang dalam perjalanan ke Garut ada meeting dengan client, mungkin sekitar 3 hari disana,” jawabku.
“Ohhh… kalau begitu kebetulan, ibu bisa titip undangan buat mamangmu,” kata Ibu.
“Bisa, bu, buat mang Nanang kan? Terus undangan apa?” aku mengiyakan permintaan tolong ibuku sambil bertanya.
“Iya, mang Nanang, ini undangan khitanan keponakanmu, si Andri,”jawab ibu.
“Oh, anaknya teh Dina, memangnya umur berapa si Andri sekarang,”tanyaku lagi, teh Dina adalah kakakku yang nomor 2, umurnya sekitar 34 tahunan.
“Andrikan sekarang sudah 10 tahun,” jawab ibuku.
“hehehe…gak terasa juga yach, tahu-tahu udah 10 tahun lagi tuch anak,” kataku
“Hhmmm… terus kamu sendiri kapan mau menikah,”lanjut ibuku.
“hahahaha…ibu, stop….jangan ditanya lagi soal itu,” jawabku sambil tertawa
“Ini anak kalau ditanya soal yang satu itu, nanti di salip adikmu baru tahu,”kata ibuku sambil merengut.
“hahaha…biar aja kalau si Yani udah kebelet kawin, nikahin aja dia,”jawabku sambil memeluk ibuku.
“kamu itu gak pernah berubah kalau urusan yang satu itu, apalagi sich yang kamu tunggu,” kata Ibuku sambil bersungut-sungut.
“Tunggu yang cantik, sexy dan baik hati. Hehehe,” jawabku
“Hari ini ibu masak apa, aku kangen sama masakan ibu nich,” lanjutku
“Sayur asem, ikan asin, ayam goreng, sambal, kamu mau makan sekarang, gih sana,” ibuku berkata
Diruang makan nampak ayahku sedang menikmati makan siangnya, usianya sudah tidak muda lagi sekitar 60 tahunan sementara ibuku sendiri sekitar 58 tahunan, tapi penampilan ayah dan ibuku tidak seperti orang-orang tua yang lainnya, mereka masih tampak segar karena mereka betul-betul menikmati hidup ini, kuhampiri ayahku dan kupeluk dia dari belakang.
“apa kabar ayah,” kataku
“Eh, Hendra, angin apa yang membawamu kesini? kamu lagi libur? Ayo makan! Temani ayahmu,” kata ayahku beruntun
“Angin ribut, dan aku tidak libur, yah, tapi sedang dalam perjalanan tugas ke Garut, kok sendirian makannya?,”jawabku sambil bertanya
“yang lain sedang tidak dirumah, ada yang kerja ada juga yang jemput anaknya di sekolah,”jawab ayahku.
“Bu, itu undangan buat si Nanang, titipin aja ke Hendra,” kata ayahku pada ibuku yang saat itu memasuki ruang makan sambil membawa piring kosong.
“Iya udah,”jawab ibuku sambil memberikan piring kosong itu kepadaku.
“Makasih Bu, ibu gak makan,”kataku sambil bertanya
“Belum lapar,” jawab ibuku.
Setelah selesai menikmati makan siangku dan setelah puas melepas rinduku kepada kedua orangtuaku, sekitar pukul 2 siang aku meninggalkan kota Bandung menuju ke Garut, ayah dan ibuku titip salam untuk mang Nanang dan keluarganya. Kira-kira jam 3.30 sore aku tiba di Garut, mobil kutujukan kerumah mang Nanang, pikiranku lebih baik kusampaikan dulu surat undangan ini ke mang Nanang setelah itu baru aku check in ke hotel.
Rumah mang Nanang cukup terpisah dari tetangga sekitarnya, karena besar dan luas tanah yang dimilikinya, setelah membunyikan klakson mobilku, akupun menunggu pintu gerbangnya terbuka, s***** tidak lama pintu gerbangnya terbuka dan seraut wajah yang sudah tua melongokkan kepalanya, setelah melihat wajahku, orang tua itu membuka pintu gerbangnya lebar-lebar.
“den Hendra, apa kabarnya den?,”sahut mang Arya, mang Arya adalah pesuruh dirumah mang Nanang ini.
“Baik, mang. Mang Arya gimana kabarnya? Tanyaku
“baik Den, baik,”jawabnya.
“mang Nanang ada dirumah,”tanyaku lagi
“wah jur**** lagi kekampung, biasa Den, lagi nengok kebun dan sawah sekalian nengok nyonya besar,” jawab mang Arya.
“Lah, di rumah ada siapa?” tanyaku lagi
“Yah, ada nyonya Ina,” mang Arya menjawab
“Oh iya, memang bi Ina gak ikut mang Nanang ke kampung,” tanyaku
“Tidak, Den,”jawab mang Arya.
Setelah berbasa-basi dengan mang Arya, akupun menjalankan mobilku kearah rumah utama mang Nanang, rumah mang Nanang memang ada 2, rumah utama yang letaknya lebih depan adalah rumah dimana mang Nanang tinggal dengan bi Ina, sementara rumah yang kedua adalah untuk para pembantunya, letaknya lebih kebelakang.
Bi Ina adalah istri muda mamangku ini, umurnya sekitar 32tahun, memang gak beda jauh dengan umurku, dan mereka sudah menikah selama 12 tahun dan belum dikarunia anak sampai saat ini, aku baru sekali bertemu dengannya, itupun saat mang Nanang menikahi bi Ina, orangnya manis, kulitnya sawo matang, dan yang paling kuingat adalah tubuhnya yang saat itu mengenakan kebaya putih yang cukup terbuka sehingga menampakkan bulatan payudaranya yang indah, sehingga membuat pentunganku bergerak saat itu, tapi sayangnya bi Ina adalah istri dari mang Nanang, jadi saat itu aku hanya dapat melihat keindahan tubuhnya saja tanpa dapat menikmatinya.
Setelah kuparkirkan mobilku, akupun bergegas menuju rumah utama mang Nanang, ingin segera bertemu dengan bi Ina, apalagi saat ini mang Nanang tidak berada dirumah, sesampainya di depan pintu rumah yang saat itu terbuka akupun mengucapkan salam, tak lama bers***** bi Inapun keluar dari kamarnya, dan menyahuti salamku, akupun segera menghampiri bi Ina dan menyalaminya, bi Ina menyambut hangat tanganku sambil mencium kedua pipiku, aku merasakan bibirnya yang hangat bersentuhan dengan pipiku, membuat aku ingin merasakan bibirnya menyentuh bibirku.
“Hendra, apa kabarmu? Ayo duduk,” kata bi Ina sambil mencium kedua pipiku.
“Baik, Bi. Bibi sendiri bagaimana kabarnya?,” jawabku sambil menanyakan keadaannya.
“Baik, terima kasih, tumben ada apa nich jauh-jauh dating dari Jakarta,”Tanya bi Ina
“Ini Bi, mau ngasih undangan khitanan si Andri anaknya teh Dina, kebetulan aku mau ada meeting dengan client di Garut sini, jadi ibu nitip undangan ini,”jelasku
“Oh, terima kasih, terus kamu langsung pulang ke Jakarta,” tanyanya lagi
“Oh tidak Bi, saya mau ke hotel, meetingnya baru besok mungkin aku akan berada di Garut sekitar 2-3 hari,”jawabku
“kok ke hotel, nginap disini aja, ngapain buang-buang uang buat bayar kamar hotel,”lanjut bi Ina.
“Ah, tidak apa-apa, kan perusahaan ini yang bayar hotelnya,”jelasku
“Sudah nginap disini aja Hen, apalagi mang Nanang lagi ke kampung, jadi lumayankan aku ada yang nemenin ngobrol,”bi Ina melanjutkan desakannya
“Wah, gak enak, Bi. Nanti apa orang bilang, apalagi mang Nanang sedang tidak dirumah,”jawabku masih pura-pura menolak, padahal dalam hatiku sangat kegirangan sekali, siapa tahu dengan menginap disini, nanti malam aku dapat menikmati keindahan tubuh bi Ina.
“Ya ampun, Hen, kamukan bukan orang lain, kamukan keponakan mamangmu, lagian pasti mamangmu akan marah samaku, kalau kamu tidak tinggal disini,”jelas bi Ina.
“Ya deh, bi.” Jawabku pura-pura terpaksa.
Kemudian aku kembali kemobilku untuk mengambil tas pakaianku, saat kembali bi Ina membawaku masuk kedalam dan menunjukkan kamar tidur yang bisa aku tempati, kamar tidurku bersebelahan dengan kamar tidur utama dimana bi Ina dan mang Nanang tidur, dan setiap ruangan di rumah ini tidak ada pintunya, di rumah ini hanya ada 2 pintu, pintu pertama adalah pintu depan, dan pintu kedua adalah pintu belakang, jadi semua ruangan di rumah ini hanya di tutupi oleh kain gorden saja, pikiran kotorku mulai membayangkan hal-hal yang tidak pantas.
“Nah, ini kamarmu, memang gak sebagus hotel sih Hen, tapi lumayanlah buat tidur,”bi Ina menjelaskan
“Iya Bi, jadi merepotkan nich,”kataku sambil meletakkan tas pakaianku di lantai.
“Aku tinggal dulu,” kata bi Ina.
Sekeluarnya bi Ina dari kamar tersebut, aku mulai melepaskan seluruh pakaianku sehingga tidak sehelai benangpun yang menutupi tubuhku, kemudian aku mengambil tasku untuk mengambil celana pendek, sudah menjadi kebiasaanku kalau di rumah aku selalu mengenakan celana pendek saja tanpa celana dalam dan telanjang bagian atasnya, dan saat aku sedang membuka tas pakaianku dan membongkar isinya untuk ditaruh dalam lemari, saat itu juga tanpa aku sadari bi Ina masuk kedalam kamar tidur tersebut dan melihatku sedang telanjang, bi Inapun terpana melihat tubuhku yang telanjang bulat terutama pada saat ia melihat benda yang menggantung di s*****kanganku.
Alangkah terkejutnya aku saat menoleh kekiri, aku melihat sesosok tubuh bi Ina yang sedang terkesima menatap kearah s*****kanganku, akupun tersenyum melihatnya, kulihat mimik wajah bi Ina yang seolah tidak terpercaya melihat benda dis*****kanganku itu, rupanya selama ini bi Ina hanya melihat kepunyaan mang Nanang saja, dan belum pernah melihat kemaluan lelaki lainnya apalagi yang besar dan panjang seperti punyaku, itulah sebabnya ia menjadi terpana melihat ukuran kemaluanku.
“Bi… Bi…Bi…Bibi gak apa-apa?” tanyaku memecahkan keheningan.
“Eeehhh…ooohhh…eeehhh…tidak…tidaakkk..aapaa…apa..a ku baik-baik saja,”jawab bi Ina dengan suara yang bergetar, antara kaget, malu dan kagum.
Dengan perlahan kuhampiri bi Ina yang masih terpukau menatap s*****kanganku, kemudian kedua tanganku memegang pundaknya yang sedikit terbuka karena bi Ina hanya mengenakan pakaian batik satu tali, aku merasakan kemulusan dan kelembutan kulitnya yang sawo matang itu.
“Bener…bibi…gak apa-apa,”tanyaku lagi sambil tersenyum.
“Iya…iya…bener… aku tidak apa-apa,”jawab bi Ina sambil menundukkan wajahnya, menghindari tatapan mataku.
Dengan posisi yang sedekat ini aku sudah mencium aroma harum tubuhnya, dan kupastikan mata bi Ina sendiri semakin terbelalak karena posisi kemaluanku yang semakin dekat dihadapannya.
“Kenapa bi… bi Ina kaget melihat punyaku yach… memang bi Ina gak pernah lihat kemaluan lelaki sebesar punyaku,”tanyaku lagi.
“Eehh… Hen… kok nanyanya gitu sich,” jawab bi Ina masih dengan kepala yang tertunduk.
“memangnya punya mang Nanang gak sebesar punyaku yach bi,” desakku lagi.
Bi Ina tidak menjawab tapi hanya menganggukkan kepala saja, dirinya masih merasa malu karena telah melihat kemaluan keponakannya ini dan dalam hatinya ia mengagumi kemaluan keponakannya ini yang besar dan panjang, dan ia membayangkan seandainya batang kemaluan keponakannya ini menerobos lubang kenikmatannya, dapat dipastikan olehnya lubang kenikmatannya akan penuh sesak oleh jejalan kemaluan keponakannya yang besar itu.
“Bi…. Bi… Bi Ina… kalau bi Ina mau, bi Ina boleh ngelus-ngelus dan megangin punyaku kok,” kataku lagi sambil kedua tanganku mengelus-elus pundaknya.
“Eehh…. Eehh… tidak.. aaku maluu…dan takut,”kata bi Ina, sambil berusaha beranjak dari hadapanku.
“Kenapa malu…bi Ina… dan juga kenapa takut…punyaku kan gak akan gigit,” desakku karena ingin sekali merasakan kehalusan tangan bi Ina mengelus-elus kontolku.
“Ahhh…Hen…jangan…Hen..kita seharusnya tidak boleh melakukan ini, aku kan istri mamangmu,” bi Ina masih berusaha menolak.
“Bi Ina, tidak apa-apa Bi… kita kan tidak ada hubungan darah, lagipula bibi pasti belum pernah merasakan kemaluan sebesar punyaku,” desakku, sementara itu kemaluanku sudah mulai berdiri tegak karena dorongan hasrat nafsuku, dan aku yakin bi Ina pasti sudah melihat kemaluanku yang sudah berdiri dengan gagahnya karena sampai saat ini bi Ina masih menundukkan kepalanya.
“Iyaaahh… tapi Hen… ooohhh… punyamu semakin membesar… punyamu besar dan panjang sekali… Hen…,” bi Ina masih berusaha menolak, tapi ia mengagumi batang kemaluanku yang sudah berdiri dengan gagahnya.
Dengan perlahan kedua tanganku merayap turun, lalu kedua tangan bi Ina kubimbing untuk memegangi kemaluanku, dengan agak ragu-ragu kedua tangannya mulai memegangi batang kemaluanku, dan dengan masih ragu-ragu tangan bi Ina mulai mengelus-elus batang kemaluanku, aku merasakan kehalusan tangannya di batang kemaluanku, lalu tangan kananku mulai mengarah ke dagunya dan mengangkat dagunya, kemudian dengan memberanikan diri ku kecup bibirnya dengan perlahan-lahan, suara nafas bi Ina mulai memburu, kecupan-kecupan lembutku mulai merambah hidung, pipi, leher, telinga kembali lagi kebibir, begitu seterusnya kulakukan sehingga membuat bi Ina semakin terangsang, tangannya mulai lancar memainkan batang kemaluanku.
“Hen…Hen… Hen… geliii… jangan ciumin aku seperti itu, gelliii… ooohhh…,”Bi Ina mulai mendesah.
“Bi…Bi…Bi Ina cantik… maniss….cupp…cupp…sexy….aku ingin memiliki bi Ina hari ini dan seterusnya… cup…cup…cup…,”rayuku sambil mulutku asyik mengecup-ngecup bibir, hidung, kening, pipi dan telinganya.
“Ooohh…. Hen…ooohh…hhhmm.. ohh… Hen…naakaaalll…kamuu…nanti ada yang lihat,”rintih bi Ina.
Bibirku masih asyik dengan mengecup-ngecup wajah bi Ina, sementara itu kedua tanganku beranjak ke tali baju bi Ina, kedua tali tersebut ku pelorotkan lewat lengannya, akibatnya baju bi Ina pun terlepas saat kedua tali tersebut meluncur turun dari kedua lengannya, sehingga kedua bongkahan payudaranya yang tidak menggunakan BH pun terpampang dihadapanku, kedua tanganku mulai meremas-remas kedua bongkah payudara bi Ina yang lumayan besar, aku perkirakan ukurannya sekitar 36C, dan kedua putingnyapun mulai kupilin-pilin sambil kadang-kadang meremas-remas kedua payudara itu.
“Ooohh… Hen… jangaaann…gelii… Hen..sshhh…ooohh…ssshhh….ooohhh…,”Bi Ina semakin mendesah.
Kecupan-kecupan ringan yang kulakukan serta remasan-remasan kedua tanganku di kedua bukit kembarnya membuat bi Ina semakin terangsang, sementara itu batang kemaluanku semakin menegang, dan ketegangannya sudah mencapai puncaknya, dan senjataku ini sudah siap untuk menerobos masuk lubang senggama bi Ina, kedua tanganku mulai beranjak meninggalkan kedua bukit kembar bi Ina, baju batiknya yang masih tertahan tidak turun kebawah di pinggulnya bi Ina menjadi sasaran berikutnya, dengan sekali tarik baju tersebut meluncur kebawah sehingga bi Ina sekarang hanya mengenakan celana dalam berwarna merah saja, tanpa membuang waktu lagi CD merahnyapun kutarik ke bawah, sekarang tubuh bi Ina sudah tidak ada penutupnya alias telanjang bulat, kedua tangannya yang terlepas dari batang kemaluanku karena aku berjongkok tadi saat melepaskan CDnya, berusaha menutupi s*****kangannya, akupun mendorong tubuh bi Ina perlahan keatas tempat tidur sehingga dirinya berbaring, tapi kedua tangannya menutupi s*****kangan dan kedua payudaranya sehingga pemandanganku atas tubuh yang sexy itu menjadi terhalang.
Tubuh bi Ina walaupun sawo matang, sungguh mulus dan yang membuatku tambah bernafsu adalah bekas BH dan CDnya yang membekas di tubuhnya sehingga kulit tubuh yang tertutupi oleh kedua benda tersebut sangat kontras dengan warna kulit yang lainnya. Dengan perlahan kuhampiri tubuh bi Ina yang sudah telentang itu, kukecup ringan lagi bibirnya, lalu dengan penuh nafsu bi Ina mulai membalas kecupanku, kedua tangannya mulai merengkuh tubuhku, bibirnya mulai melumat bibirku, sementara lidahnya mulai mencoba menerobos rongga mulutku, lumatannyapun kubalas juga dengan penuh nafsu, lidah kami saling bersentuhan kadang dirongga mulutku dan kadang dirongga mulutnya.
Tangan kananku mulai merayap kebawah kearah s*****kangan bi Ina, kurasakan lubang senggama bi Ina sudah basah, sambil asyik berpagutan tanganku mulai mengelus-elus kelentit bi Ina, nafas bi Ina dan nafasku sendiri semakin memburu dipenuhi oleh nafsu birahi yang ingin segera dituntaskan, jemari tanganku semakin basah oleh lender yang meleleh dari lubang vagina bi Ina, dengan perlahan tubuhku mulai menindih tubuh bi Ina, sementara itu mulut kami masih asyiknya berpagutan, tangan kananku mulai memegangi kontolku, dan mulai mengarahkan kelubang kenikmatan bi Ina, perlahan-lahan kepala kontolku kuelus-eluskan di bibir vaginanya, dari mulut bi Ina keluar desahan, sambil tetap asyik memagut bibirku dengan penuh nafsu.
“Hhhmmm….hhhmmm… ssshhhh…. Ssshh…. Sshh….. aaahh… hhmmm… mmaaassuk doroonngg…masukkkkk kontollmu…Hen…. Hhhmmm….hmmmm… sssshhh… sssshhhh. Aayyooo…hen….jangan… permainkkannn… aakuu..sudaaah… pengen..merasakan… terjaaanngan…kontolmuuuu…ssshhh….hhmmm…,” Bi Ina mendesah sambil tetap melumat bibirku.
Ssslleeeeppp…..blleeeeesssss…. kepala kontolku mulai menerobos masuk kedalam lubang senggama bi Ina.
“Ooohhhh…..rrooobeeekkk…punyakkuuu…. Henn,….. kontolmuuuu… besssaaarrr… sekali… aaaahhhh….aahhhh…..,”Bi Ina merintih, matanya terbelalak saat kontolku mulai menerobos masuk ke memeknya.
“pelaaaan…aaahhh…pelaaaan….ooohhh…Hen…ssshhhhh…kon tolmu besar…ssekaliii.. aaahhh….ssshhhh….dorrrooong…pelaaannn…pelaaannn…., ”bi Ina mengerang agak kesakitan sambil menyuruhku untuk mendorong lagi kontolku masuk kedalam memeknya.
Blleeesssss……. Kontolku mulai menerobos masuk lagi sedikit.
“Hhhgggggghhhh……..”bi Ina melenguh antara sakit dan enak merasakan memeknya diterobos kontolku.
Aku merasakan memek bi Ina sungguh sangat sempit sekali, rupanya kemaluan mang Nanang tidak sebesar kepunyaanku, ini terbukti dengan masih sempit dan peretnya lubang senggama bi Ina, apalagi bi Ina belum mempunyai anak, lengkap sudah kesempitan lubang senggama bi Ina ini, aku merasakan dinding vagina bi Ina mencengkram erat kepala kontolku, setelah mendiamkan sebentar agar bi Ina tidak terlalu kesakitan, aku mulai kembali mendorong masuk batang kontolku.
Bleeesssss…. Batang kontolku mulai menyeruak masuk lagi kedalam lubang senggama bi Ina, bi Ina kembali melenguh merasakan terjangan kontolku yang besar itu.
Bleeeessssss….. kembali ku dorong masuk kontolku ke dalam memeknya, lagi-lagi bi Ina melenguh.
Dan ….. dengan sekali hentakan kudorong lagi kontolku kedalam lubang memek Bi Ina, sehingga kontolku terbenam seluruhnya di dalam lubang vagina Bi Ina.
“Uugghhhh….. Heeennn…. Saaaakiiittt… enaaakkk… periiihhh… memekku robeeekk… kontolmu kebesaraannn… aaaagghhh…. Hhmmmm… ssshhh….,” Bi Ina melenguh merasakan kesakitan, enak dan perih di lubang memeknya yang diterobos oleh kontolku.
“memek..bi…Ina…kesempitan…sich…punya mang Nanang pasti kecil…yach… Bi,”kataku
“Eehhhmmmm… jauhh… kalau dibandingkan dengan punyaamuu… Hen..,”kata Bi Ina sambil tersengal-sengal merasakan memeknya penuh sesak oleh jejalan kontolku.
Akupun mendiamkan sebentar sambil merasakan dinding vagina Bi Ina yang berdenyut seolah meremas-remas batang kontolku, kupagut dengan penuh nafsu bibir Bi Ina dan iapun membalasnya dengan penuh nafsu, dengan perlahan-lahan akupun mulai menggerakkan kontolku keluar masuk di dalam lubang memek Bi Ina, sehingga rintihan dan desahan Bi Ina kembali terdengar.
Memek Bi Ina betul-betul peret, biarpun sudah banyak mengeluarkan cairan pelicinnya yang bercampur dengan cairan pelicin yang keluar dari batang kontolku, tapi memeknya masih tetap seret dan menempel ketat di batangku, ciuman Bi Ina semakin bernafsu melumat bibirku, akupun segera menimpalinya, bibirkupun memagut-magut bibirnya, kami berdua bercumbu dengan penuh nafsu.
“Oooohhhh…. Hen… enak sekaalliii…terusss…Hen… entot akuuu…aahhh…puaskkan.. akuuu…Hen…kontolmu enaaakk…besaarr…panjaaanng…Hen…,”bi Ina mengerang keenakan.
“Akuu…juga samaa…Biii… memek..bibi seret dan peret…aaacchhh… kontolku terjepit betul…,”akupun melenguh nikmat.
Lama-lama gerakan keluar masuk kontolku semakin bertambah lancar seiring dengan semakin bertambah banyaknya cairan kenikmatan kami berdua yang mengalir keluar dari lubang kemaluan kami, bunyi beradu kedua kemaluan kamipun semakin terdengar karena kemaluan Bi Ina yang semakin banjir oleh cairan kenikmatan kami, keringat kamipun semakin mengalir keluar dari pori-pori tubuh kami, sehingga menimbulkan suara kecipak saat tubuh kami beradu, semua suara itu menambah nafsu kami semakin menjadi, akupun semakin menambah ritme gerakanku diselingi dengan hentakan-hentakan yang menghujam dinding rahim Bi Ina saat kontolku melesak kedalam lubang memek Bi Ina.
Setiap hentakan kontolku yang menghujam jauh kedalam lubang Bi Ina dan menyentuh dinding rahimnya membuat Bi Ina membelalak merasakan kenikmatan yang luarbiasa, yang belum pernah ia alami selama ia menikah dengan mang Nanang, Bi Inapun semakin merintih-rintih kenikmatan bersahutan dengan desahan-desahan nikmatku yang juga semakin menjadi merasakan enaknya jepitan memek Bi Ina di batang kontolku.
“Aaahhhh… ssshhhh…. Aaahhh… Hen… enaaak… Hen… enaaakk… terusss… entot aku… terusss… tekaaann… kotolmu yang besaaaarrr…. Itu… Oohhhh…. Hen… Nikmat… Hen….yang kuaatt… tekann…lagi yang lebih daaallaaammm… ooohhh… puaskaaan akuuu… Henn…puaskan…akuuu…entotttt…terussss…jangan berhentii…aakuuu… ooohhh….”rintih Bi Ina saat menerima sodokan-sodokan kontolku itu.
“Iyaaahh…. Bii…. Beginiii… ooohh… memek.. bibiii… perettt… sempitt… eenaaak… aku juga nikmat Biiii….,”akupun mengerang keenakan merasakan jepitan memek Bi Ina di kontolku.
S***** tak berapa lama, tubuh Bi Ina mulai menggelepar, kedua kakinya memancal-mancal, nampaknya Bi Ina hendak merengkuh puncak kenikmatannya, rintihan dan erangannya semakin terdengar, kepalanya bergoyang kekiri dan kekanan, 
“Heeen….ooohhh….aaakkuuu….kellluaaaarrr….aaaaahhhh h… nikmaaaatt… enaaaakkk.. Heeen…aaaakuuu puaassss….aakkuu…ooohhhh…kontollmuu…. enaaak…. Ooohhh… “ Bi Ina merintih menyambut puncak kenikmatannya yang sudah tercapai, kedua tangannya memeluk erat tubuhku, sementara kedua kakinya mengait dibelakang pinggangku membuat kontolku melesak lebih dalam di lubang memeknya.
Ssssrrrrr….. sssrrrr…..ssrrrrr……ssrrrr……sssrrrrrrr….. vagina Bi Ina menyemburkan lahar kenikmatannya, membasahi seluruh batang kontolku yang saat itu terbenam di lubang memeknya, aku merasakan hangat menyelimuti batang kontolku, dan aku merasakan otot dinding vagina Bi Ina mengedut-ngedut kuat seolah sedang meremas-remas kontolku.
Kudiamkan kontolku sejenak untuk memberikan kesempatan kepada Bi Ina menikmati sensasi dari puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh, dan aku yakin bahwa ini adalah untuk pertama kalinya Bi Ina mencapai orgasme, kemudian kukecup perlahan bibir, hidung, pipi, dahi dan telinga Bi Ina, untuk menambah sensasi kenikmatan yang berhasil ia rengkuh.
“bagaimana…Bi…masih mau lanjut…,”aku bertanya sambil tersenyum penuh kemenangan, akhirnya aku dapat menikmati jepitan memek bibiku ini, yang memang sudah dari dulu kuimpikan dapat mengentot istri muda mamangku ini.
“Hmmmmm… iyaaa… aku…masih pengen lagi…tapi…jangan panggil aku bibi, dong… kan umur kita tidak berbeda jauh…. Panggil aku teteh saja… kecuali kalau ada mamangmu atau orang lain…baru kamu panggil aku bibi….kalau hanya kita berdua kamu panggil nama atau teteh saja.”Bi Ina menjawab pertanyaanku sambil memintaku untuk merubah panggilan terhadapnya.
“hehehehe..baik…kalau itu maunya Bi Ina…eh…salah.. teh Ina…..atau aku panggil Ina saja kalau kita lagi berhubungan….,”aku menjawab permintaannya.
“lebih mesra juga kalau kupanggil Ina…sayang… auugghhh….,”lanjutku sambil menjerit karena saat itu Bi Ina mencubitku dengan gemas.
“kamu tuch, malah bercanda, Hen… puaskan aku lagi, aku masih pengen merasakan sodokan kontolmu itu,”kata Bi Ina
“baik Ina sayang, aku akan memuaskanmu sampai kamu betul-betul puas,”jawabku
“Terima kasih Hen, selama ini mamangmu tidak pernah memuaskanku, sekarang aku ingin mencoba merasakan sodokan kontolmu selagi aku diatas,”kata Bi Ina sambil menciumku.
Lalu aku memeluknya erat-erat dan mengangkat tubuhnya sehingga duduk dengan kontolku yang masih tetap terbenam di lubang vaginanya, Bi Inapun melenguh merasakan kontolku menyodok lebih kedalam saat ia dalam posisi mendudukiku, kemudian Bi Ina mendorong tubuhku sehingga terlentang di tempat tidur, dan diapun merubah posisinya sehingga jongkok, dan dengan perlahan-lahan ia mulai menaik turunkan pantatnya yang montok sehingga kontolku mulai keluar masuk di lubangnya, sekarang ini kontolku dengan mudah keluar-masuk di memeknya karena cairan lahar kenikmatannya yang telah membanjiri lubang memeknya, aku melihat bagaimana batang kontolku itu seolah-olah seperti piston mesin yang bergerak keluar-masuk, dan kulihat mimik wajah Bi Ina betul-betul membuatku semakin bernafsu, kedua tanganku mulai menggapai kedua bukit payudara Bi Ina yang terombang-ambing seirama dengan gerakan tubuhnya yang naik turun.
Sambil menikmati kedua payudara Bi Ina yang besar, akupun menikmati gesekan-gesekan yang ditimbulkan oleh dinding vagina Bi Ina yang menggesek-gesek batang kontolku, Bi Inapun merintih-rintih kenikmatan menikmati sodokan-sodokan kontolku dan remasan-remasan kedua tanganku di bukit kembarnya yang aduhai, apalagi kadang-kadang kedua putingnya itu kupilin-pilin, sehingga kedua putingnya semakin bertambah tegak akibat pilinanku itu.
“Ooohhh… Heeenn…. Enaaaakkk… kontolmu…betul-betull.. enaaak… terus…remas tetekku…. Truss….ooohhh… enaaaak…nyaaaa… ngentot denganmu… “Bi Ina merintih-rintih keenakan.
“aahhh… memekmu juga enak… Ina…aaahhh…. Kontolku seperti dipilin-pilin jugaa… ooohhhh… tetekmu besaaarr…. In…,”aku mengerang saat merasakan kontolku seperti dipilin-pilin oleh memeknya, karena saat itu Bi Ina menaik-turunkan pantatnya sambil memutar-mutar pantatnya, membuatku semakin bertambah enak.
Bi Ina semakin bertambah semangat memutar-mutar pantatnya saat menaik-turunkan pantatnya itu, aku melihat seperti Inul yang sedang bergoyang, dan itu betul-betul membuatku merasakan kenikmatan yang luar biasa, akupun semakin mengerang keenakan sambil terus meremas-remas kedua bukit kembar Bi Ina.
Tapi bukan aku saja yang merasakan kenikmatan yang sangat akibat putaran ngebor Bi Ina itu, tapi Bi Ina sendiripun merasakan kenikmatan yang sangat luarbiasa, Bi Ina merasakan eratnya dinding vaginanya menempel di batang kontolku, sementara remasan kedua tanganku menambah sensasi kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan selama ini, kontolku yang besar dan panjang itu betul-betul memenuhi rongga senggamanya dan menghujam dalam-dalam sampai ke dinding rahimnya saat ia menurunkan pantatnya, Bi Inapun semakin bertambah menggila menggerakkan gaya ngebornya, kedua bukit kembarnya semakin terombang-ambing, kepalanya terdongak keatas saat kontolku melesak jauh kedalam, mulutnya mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan.
“Ooohhh…Heeennn… oooohhh…ssshhhh…aahhhh…ssshhhh… aaahhh… enaaakk… ,” Bi Ina merintih-rintih keenakan.
Akupun semakin semangat meremas-remas kedua teteknya dan juga memilin-milin kedua putingnya yang semakin mengeras, sambil merasakan enaknya kontolku di remas-remas oleh dinding vagina Bi Ina, kulihat mata Bi Ina merem-melek menikmati kontolku yang keluar masuk di memeknya, dan mulutnya terus menerus mengeluarkan suara erangan keenakan.
“Heennn…. Ooohhh… ahhhhh… remass…teruuusss… tetekku…aaahh… iyaaahhh… aahh…sshhh…oohhh…hisaaaappp… tetekku…Heennn…. Hissaaappp…emuuuttt… Heeen…ooohhh…sshhh…puaasskkaaann… aakkkuuu..,”Bi Ina mengerang sejadi-jadinya sambil membungkukkan tubuhnya.
Melihat tubuh Bi Ina yang condong ke hadapanku dan mendengar permintaannya untuk menghisap kedua bukit kembarnya, akupun tidak mau menyia-nyiakan hal tersebut, mulutku dengan rakus langsung menyergap dan menghisap kedua bukit kembar Bi Ina itu, bergantian kedua bukit kembar Bi Ina kuhisap, kuemut, kadang yang kiri kadang yang kanan, dan kedua tanganku tetap dengan meremas-remas teteknya, Bi Inapun semakin melenguh keenakan menerima serangan mulutku dan tanganku di teteknya serta sodokan-sodokan kontolku di memeknya.
“Uughhh…. Heeen… akuuu… tidak kuaatt.. Heen…. Enaaak… hisapp.. terus tetekkku…. Ooohhh… sshhh… aaahhh… Hen…hebaatt… kamu…aakuu mau kelluar..lagi… Heeennn terus hisaaapp…terusss…,”lenguh Bi Ina.
“hhhhmmmm… sslrrrppp…sslrrrppp…ssllrrppp…sslllrrppp,”aku hanya bisa bergumam karena mulutku yang penuh dengan teteknya Bi Ina.
“Iyaaah….teruuusss… akkuuu… sudah…mauuu…keluaaarrr…laagiii….ooohhh…ssshhh.. aaahhh… Heeennn… enaaakk.. sekalii…. dientot oleh kammuuuu…. Heeen… aakuu… puaassss… memekkkuu….puaasss… disodoookk..sodookk…oleh kontoollmu… aahhh… ssshhh…ahhhh…ooohhhh…”rintihan Bi Ina terdengar lagi.
Pantat Bi Ina bergerak semakin cepat, kontolkupun semakin cepat keluar masuk di lubang memeknya, nampaknya Bi Ina akan segera mencapai puncak kepuasannya lagi, aku juga merasakan hal yang sama, puncak kepuasanku sudah berada di ujung kepala kontolku, dan siap meledakkan cairan spermaku, dengan masih asyik menyedot-nyedot tetek Bi Ina, akupun ikut membantu gerakan Bi Ina dengan menaik turunkan pantatku seirama dengan gerakan pantat Bi Ina, saat Bi Ina menurunkan pantatnya akupun mendorong keatas pantatku, sehingga kontolku menusuk lebih dalam, dan saat Bi Ina menaikkan pantatnya akupun menurunkan pantatku, tak lama kemudian kudengar Bi Ina menjerit panjang merasakan puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh untuk kedua kalinya, kedua tangankupun beralih ke bongkahan pantatnya dan menekan pantatnya serta menaikkan pantatku karena pada saat yang hampir bersamaan kontolkupun memuntahkan lahar kenikmatanku.
“Aaaahhh… Heeeennn… akkuuuu… keluaarrr… ooohhh….ssshhh…aaahhh…oooohhh… ssshhh…aaahhh… Heeen… enaaak… enaakkk…ooohhh… nikmat…,”Bi Ina mengerang menyambut puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh kembali, dan tubuhnya mengejang saat memeknya menyemburkan lahar kenikmatannya.
Ssssrrrrr…. Ssrrrr… ssrrr… ssrrr….. 
“Aakkuuuu….juugaaa… keluuuarrr…ooohhh… Inaaaa…. Enaakknya ngentotmuuuu… aaahhhh…aaahhhh….,”akupun mengerang menikmati keluarnya aliran sperma dari kontolku.
Creeettt…. Creeettt… creeettt… creeeett…
Saat kontolku menyemburkan air mani di dalam lubang memek Bi Ina, aku merasakan kehangatan cairan kenikmatan Bi Ina yang menyemprot membasahi batang kontolku yang terbenam dalam-dalam di lubang memeknya, aku juga merasakan otot dinding vagina Bi Ina mengedut-ngedut sangat kuat seolah meremas-remas kontolku. Sambil merasakan kemaluan kami masing-masing yang sedang memuntahkan lahar kenikmatannya, mulut kamipun berpagutan sehingga menambah sensasi kenikmatan puncak gairah kamipun bertambah. Setelah Tetes terakhir dari cairan kenikmatan kami telah menetes keluar dari masing-masing kemaluan kami dan kedutan-kedutan dari kemaluan kamipun mereda, kamipun tergeletak lemah masih dengan posisi Bi Ina diatas tubuhku dan kontolku yang mulai lembek masih terjepit di lubang memek Bi Ina.
Sore yang indah kurasakan kali ini, dengan berhasilnya kunikmati tubuh dan memek Bi Ina, sore hari di kota Garut yang tidak akan pernah kulupakan dengan berhasilnya ku entot istri muda mamangku, kubayangkan waktu-waktu selanjutnya selama aku di Garut pasti akan penuh dengan keringat dan kenikmatan.
Akupun terlambat bangun setelah semalaman bertempur dengan bi Ina, padahal hari ini aku ada meeting dengan clientku, kulihat bi Ina masih tidur dengan lelapnya di mulutnya tersungging senyuman, tubuhnya yang telanjang membuat gairahku bangkit kembali, ingin rasanya kontolku kembali meresakan jepitan memeknya bi Ina, tapi aku teringat aku harus cepat ketemu dengan clientku, akhirnya aku membatalkan niatku untuk mengganggu bi Ina, akupun segera bergegas menuju kamar mandi, kontolku yang sedang tegak berdiripun menjadi menciut saat terkena dinginnya air, selesai mandi akupun segera berpakaian dengan rapi, dan meninggalkan rumah mamangku menuju kantor clientku.
Sekitar jam 3 meeting dengan clientkupun selesai, hasil yang kuharapkanpun berhasil kuraih, perusahaanku berhasil mendapatkan proyek yang diinginkan, tidak percuma jauh-jauh kudatang ke Garut, setelah berpamitan dengan clientku, akupun meluncur kerumah mamangku itu, dengan pikiran yang dipenuhi oleh kegembiraan, karena berhasil mendapatkan proyek, dan dapat kesempatan lagi menikmati tubuh bi Ina yang montok serta memeknya yang sempit dan legit, kontolkupun mulai bangun membayangkan kemontokan tubuh bi Ina dan kelegitan memeknya, membayangkan itu semua ingin rasanya aku cepat sampai kerumah mamangku dan lengsung menerkam tubuh bi Ina dan membenamkan kontolku dalam-dalam di lubang senggamanya.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore lewat sedikit saat mobilku memasuki pekarangan rumah mamangku, dengan segera kuparkirkan mobilku dan langsung bergegas menuju rumahh utama mamangku itu, tanpa memperhatikan keadaan sekitar, dan tanpa kusadari ada sebuah mobil yang terparkir agak kebelakang, hal itu luput dari perhatianku karena pikiranku adalah tubuh bi Ina yang montok dengan sepasang payudara yang ranum yang menantang untuk diremas-remas, dan lembah hitam yang mempunyai sumur yang sempit menantikan digali oleh kontolku.
Kulihat keadaan rumah sangat sepi dan lengang dan tubuh bi Inapun tidak terlihat, aku segera m*****kah kedalam ruangan keluarga, di sanapun tidak terlihat tubuh montok bi Ina, tapi aku mendengar suara lenguhan dari dalam kamar mamangku, aku tersentak mendengar suara lenguhan itu karena suara tersebut adalah suara orang yang bersetubuh, dengan mengendap-ngendap akupun menghampiri kamar mamangku tersebut, dengan perlahan kain gorden yang menutupi kamar tersebut kusingkapkan sedikit dan aku sedikit terkejut karena kulihat mamangku sedang asyik memompa kontolnya keluar masuk di lubang senggama bi Ina, batinku mendengus kesal karena bakalan gagal dapat menikmati tubuh bi Ina hari ini, kain gordenpun kututup kembali.
Dengan perasaan campur aduk antara kesal melihat mamangku sedang mengentot bi Ina dan ingin merasakan lagi jepitan memek bi Ina, kembali kusingkapkan sedikit kain gorden kamar mamangku itu, terlihat mamangku sedang merasakan enaknya jepitan lubang senggama bi Ina, tapi setelah kuperhatikan lebih jelas lagi posisi tubuh bi Ina yang sedang digenjot oleh mamangku itu, kedua kaki bi Ina tampak rapat, aku heran dengan posisi kakinya tersebut, tapi kulihat mamangku melenguh keenakan, kulihat mamangku sangat semangat menggenjotkan kontolnya keluar masuk di lubang senggama istri mudanya, sementara bi Ina hanya mendesah-desah saja, tidak seperti kemarin sewaktu kuentot, bi Ina menjerit-jerit kenikmatan.
Mendengarkan lenguhan nikmat mamangku dan melihat aksinya menggenjotkan kontolnya keluar masuk lubang senggama bi Ina, kontolkupun semakin mengeras, kurasakan sakit karena kontolku terjepit oleh celanaku, kemudian kubuka ritsletingku dan kutongolkan jagoanku itu agar terlepas dari himpitan celana, sambil mataku tetap mengintip, tangan kananku mulai mengelus-elus jagoanku yang sudah sangat tegang sekali, kulihat mamangku semakin mempercepat genjotannya, lenguhan-lenguhan nikmatnya semakin kerap terdengar, matanya terpejam merasakan nikmat, sementara kulihat tubuh bi Ina bergoyang seirama dengan gerakan mamangku, nampaknya bi Ina hanya bertingkah pasif saja melayani mamangku, tidak seperti semalam bi Ina bergerak sangat aktif sekali.
Kontolku semakin banyak mengeluarkan cairan pre-cumnya, dan saat itu juga kudengar mamangku mengerang yang menandakan puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh, tak lama kemudian kulihat tubuh mamangku ambruk keatas tubuh bi Ina, dan kudengar suara nafas mamangku memburu, s***** tak lama kulihat tubuh mamangku bergulir kesamping tubuh bi Ina, dan kudengar mamangku bertanya tentangku kepada bi Ina yang dijawab bi Ina bahwa diriku sudah pergi dari pagi sekali untuk meeting dengan client.
“Aku harus berangkat ke kampung lagi sore ini, karena urusannya belum tuntas semua, kalau Hendra pulang ke Jakarta besok, kamu ikut numpang saja sama dia, dia pasti juga akan mampir ke Bandung, nanti selesai urusanku di kampung, aku menyusul ke Bandung,” kata mamangku.
“Iyach, kang,”bi Ina mengiyakan permintaan suaminya
“Yach sudah aku mau mandi dulu, nanti kalau Hendra pulang bilang ke dia, mudah-mudahan aku masih bisa ketemu sama ponakanku itu,” kata mamangku sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Aku segera beranjak dari depan kamar mamangku itu, dan cepat-cepat menyembunyikan diri di kamar sebelah, sambil mengintip dari balik gorden kamar tersebut, kulihat mamangku m*****kah keluar dari kamarnya, akupun keluar dari persembunyianku dan menuju kekamar mamangku, saat kudengar pintu kamar mandi terkunci, akupun m*****kah masuk kekamar mamangku, bi Ina terkejut melihat kehadiranku di kamarnya itu, apalagi melihat si otongku yang sudah berdiri dengan gagahnya tersembul keluar dari ristleting celanaku.
“Hendra……kamu gilaaaa…mamangmu ada di sini, dia sedang di kamar mandi, keluar kamu cepat, nanti ketahuan bisa berabe,” bi Ina berkata lirih
“hehehe… aku tahu mamang ada dirumah, dan aku juga sudah melihat aksinya dia tadi, enak Ina sayang dientot sama dia atau enakan dientot samaku,”jawabku sambil berjalan menghampiri bi Ina yang masih telanjang bulat dan telentang diatas tempat tidur.
“Hen…jangan…Hen…ooohhh…Hen…ada mamangmu…ooohh…kamu nakaaall…Hen,” bi Ina merintih sambil berusaha menolakku, saat kedua tanganku mulai meremas-remas kedua teteknya yang ranum.
“Gak..apa-apa…Ina sayang, aku sudah membayangkan tubuhmu di jalanan tadi, ditambah melihat aksi si mamang yang asyik menggenjot memekmu,”sahutku sambil menambah aksiku, tubuhnya kutarik kepinggir ranjang, kemudian kedua kakinya kubuka lebar-lebar sehingga lubang senggamanya terkuak siap untuk diterobos batang kontolku.
“Jangaaann…Hen…jangan..nanti mamangku keluar dari kamar mandi…kita pasti ketahuan…Hen…tolong Hen…jangannn…..”Bi Ina dengan suara lirih masih menolak tapi tidak dapat berbuat banya karena kakinya kujepit dengan ketiakku, sementara tangan kananku mulai mengarahkan kepala kontolku kelubang memeknya, dan tangan kiriku meremas-remas payudara sebelah kirinya.
Bi Ina hanya bisa mendesah lirih, batinnya bertempur antara ingin kembali merasakan lesakan kontolku yang besar dan menolak karena takut ketahuan oleh suaminya yang sedang berada di kamar mandi, matanyapun terpejam meresapi remasan tanganku di payudaranya, dan merasakan kepala kontolku yang sudah mulai menyelinap di bibir vaginanya.
“Ooohhh… Hen…kamuuu…naakkaaall….oooohhh….Hen.,..cepaaaatt…m asukkiinnn… semua kontolmu yang besaaaarrr…itu….puassskkaaannn akuuu…oooohhh..cepat… sebelum mamangmu keluaaaarr….aaahhhhh….iyaaaa…..aaahhhh…tekaaannn…l ebiihh dalaaaamm…oouuughhh….aaaahhh….,”Bi Ina mulai merintih lirih dan mau menerima sergapanku.
Kontolku semakin melesak lebih dalam lagi di lubang senggamanya dan kemudian dengan sekali hentakan kuat kutekan kontolku itu sehingga terbenam dalam-dalam di lubang senggamanya, tubuh bi Inapun tersentak saat menerima sodokan keras itu, dan dengan sekuat tenaga diapun berusaha untuk tidak menjerit saat kontolku itu menerobos sekaligus, kulihat bi Ina menggigit bantal kuat-kuat sehingga yang terdengar hanya dengusannya saja.
“Ooouuggghhh…Ina sayang…memekmu memang legit…aaagghhh…sempit sekali… kontolku terjepit dengan ketatnyaaa…aaahhh…,”akupun melenguh lirih, sambil mulai mengeluar masukkan kontolku.
“hhhhnggggg,…..hhhmmmm…hhhnnngghhhh….hhhmmm….,”bi Ina merintih sambil mulutnya masih tersumpal oleh bantal yang sengaja ia gigit, agar suara jeritan keenakannya tidak terdengar oleh mamangku yang sedang di kamar mandi.
Karena dari tadi aku sudah sangat bernafsu ingin mengentot bi Inaku yang montok ini, akupun mulai mempercepat gerakan keluar masuk kontolku di memeknya, ada sensasi yang aneh yang baru pertama kali ini kurasakan saat menggenjot memek bi Ina, sensasi rasa takut akan ketahuan oleh mamangku dan sensasi enaknya memek bi Ina ini bercampur aduk, membuat sensasi kenikmatan tersendiri, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, kulihat bi Ina semakin kuat menggigit bantalnya sementara matanya hanya terlihat putihnya saja, nampaknya bi Ina juga menikmati persetubuhan kali ini, dan kurasa ia juga merasakan hal yang sama dengan ku, rasa nikmat dan rasa takut ketahuan.
Kurang lebih 5 menitan aku menggenjot kontolku dengan cepat, dan sekarang aku merasakan desakan kuat dikontolku, akupun hampir mencapai puncak kepuasanku, merasakan hal itu akupun semakin menambah ritme kecepatan kontolku keluar masuk dilubang senggama bi Ina, sementara itu kurasakan bi Ina juga mulai menggoyangkan pantatnya dengan cepat, nampaknya bi Inapun hampir mencapai puncak kenikmatannya.
“Ina sayaaaang…. Ooohhh…enaaaakkk… nikmaaatt….aakuu mau keluaarrr….kita keluarin barengan…yaaaahhhh….oooohhh…..ssshhhh…..,”aku mendesah lirih.
“hhhhhnnggggghhhhh…..hhhhnngggghhhhh….hhhhmmmmm…., ”bi Ina pun merintih lirih sambil mulutnya tetap menggigit bantal tapi kepalanya mengangguk setuju dengan ajakanku.
Sodokan-sodokankupun semakin bertambah cepat dan tidak beraturan, sementara itu goyangan pantat bi Inapun semakin tidak beraturan, tak lama bers***** kami berdua mengejang hampir bersamaan dan kemaluan kami berduapun menyemprotkan lahar kenikmatannya, yang saling membasahi kemaluan kami masing-masing.
Creeettttt…..ssssrrrrrr….creeeetttt….sssssrrrrrr…. creeeetttt….sssrrrrrr…..creeeetttt….sssssrrrrrrr…. cccreeeeetttt…sssrrrrrr…
Aku merasakan hangat pada batang kemaluanku akibat semprotan lahar kenikmatan Bi Ina, sementara bi Ina merasakan hangat pada dinding vaginanya akibat spermaku. Saat tetes terakhir dari air maniku menyemprot keluar dari kontolku, akupun melenguh panjang, sambil membenamkan dalam-dalam kontolku di lubang memeknya bi Ina, sementara bi Inapun mengejang saat merasakan tetes-tetes lahar kenikmatanya menyemprot keluar dari lubang vaginanya.
Nafas kami berdua terdengar memburu, detak jantung kami berduapun seolah terdengar oleh telinga kami berdua, detak jantung yang baru saja mencapai puncak kenikmatan dan detak jantung yang takut ketahuan oleh mang Nanang yang sedang mandi.
Setelah tuntas dengan mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan kami, akupun segera merapihkan diri, kontolkupun kumasukkan kembali kedalam sangkarnya, sementara bi Ina sendiri melap memeknya dengan selimut tipis, dan langsung mengenakan daster batiknya, tanpa mengenakan pakaian dalam sepotongpun.
“Hen…enaknya…nanti kalau mamangmu sudah pergi, kita lanjutkan lagi permainan kita, aku pengen lagi merasakan kontolmu menyodok-nyodok memekku, kita ngentot sampai pagi mumpung ada kesempatan,” goda bi Ina nakal sambil meremas kontolku yang sedang tidur di sangkarnya.
“hehehehe…siapa takut ngentot nyonya montok dan seksi, sampai pagi akan kulayani Inaku sayang,”akupun membalas godaan bi Ina sambil kedua tanganku meremas memek dan payudaranya.
“eeehhh….,”bi Inapun kaget atas balasan remasan tanganku.
“aku keluar dulu yach Ina sayang, aku mau pura-pura baru datang,”kataku
“Gih sana…bocah nakal,”jawab bi Ina sambil tersenyum.
Kira-kira lima menitan akupun pura-pura mengucapkan salam, seolah-olah baru datang dan bertepatan dengan mang Nanang yang baru keluar dari kamar mandi dan sedang berjalan kearah kamarnya.
“Eh..mang Nanang udah datang,”kataku pura-pura kaget.
“Hen…iyach..tapi mau pergi lagi, sebentar yach aku pakai baju dulu,”jawab Mang Nanang.
“Hen..kamu baru pulang, gimana meetingmu, kamu mau kopi?,”bi Ina bertanya padaku
“Iyah…Bi…meetingku sukses. Aku dapat proyek dari mereka, siapa mau nolak dengan kopi buatan Bi Ina,”jawabku sambil merubah panggilanku kepadanya.
“Iyah..Hen, kopi buatan bibimu itu memang nomer satu belum ada saingannya, aku juga buatkan satu, biar gak ngantuk,”teriak mang Nanang dari dalam kamar.
Kemudian kami berdua menuju ke ruangan makan yang juga ruangan dapur, sambil berjalan kuremas pantat bi Ina yang semok dan menantang, bi Ina hanya bisa melototkan matanya saja menanggapi perbuatanku, akupun lalu duduk di kursi makan, sementara bi Ina mulai membuat kopi untuk kami bertiga, saat ia menghidangkan kopi untukku, tangan bi Ina meremas kontolku yang masih tidur di sangkarnya, akupun menjerit lirih atas perbuatannya itu, sambil membisikkan kata di telingaku, bahwa itu adalah balasan yang tadi saat aku meremas pantatnya, saat aku ingin membalasnya, aku mendengar suara kain gorden yang dibuka, akupun mengurungkan niatku untuk membalasnya.
Kami betigapun akhirnya berbincang-bincang, mang Nanang menitipkan bi Ina kepadaku karena ia tahu aku pasti akan mampir ke Bandung dulu, dan nanti setelah urusannya selesai ia akan menjemput bi Ina di Bandung, akupun menyanggupinya, mang Nanang tidak tahu bahwa menitipkan bi Ina samaku sama dengan menitipkan daging ke mulut harimau.
Selepas magrib mang Nanangpun berpamitan hendak kembali ke kampung untuk menyelesaikan urusannya yang belum beres, dengan pura-pura berat hati Bi Ina melepas kepergiannya, padahal dalam hatinya bi Ina ingin agar suaminya lekas-lekas pergi agar dia dapat merasakan sodokan-sodokan batang kemaluan keponakannya yang besar yang sudah beberapa kali memberinya kepuasan, akupun dengan terpaksa ikut berpura-pura juga dan tidak lupa mengatakan kepada mang Nanang agar selekasnya menyusul ke Bandung untuk menghadiri acara yang diadakan di rumah orangtuaku itu.
Hanya dalam hitungan detik saja setelah melihat mobil mang Nanang menghilang dari balik pintu pagar rumahnya, bi Ina melirik nakal padaku, setelah selesai menutup pintu dan menguncinya, bi Ina menyerangku dengan penuh nafsu, bibir kami berpagutan dengan penuh nafsu, lidah kami saling mencari, sambil mencumbu bibirku tangan bi Ina mulai aktif bergerak, dengan cepat seluruh pakaian yang menempel di tubuhku telah lepas sehingga aku menjadi telanjang bulat, akupun lalu membalas aksinya itu dengan melepaskan daster batiknya yang menempel di tubuh seksinya, sehingga tubuhnyapun menjadi telanjang bulat sama sepertiku.
Tangan bi Ina mulai menjamah kontolku dan mengelus-elus kontolku, perlahan tapi pasti kontolku yang sedang tidur mulai menggeliat, tanpa lama kontolkupun mulai berdiri dengan gagahnya, sementara bi Ina masih tetap meremas, mengelus kontolku yang sudah tegang, mulutnya masih mencumbu bibirku dengan penuh nafsu, akupun membalas tingkahnya, tangan kiriku mulai meremas payudaranya dan yang kanan meluncur turun kelubang kenikmatannya, dengan perlahan belahan bibir vaginanya mulai kuelus-elus, dan bibirku membalas pagutannya dengan penuh nafsu juga, suara desahan mulai terdengar dari mulut kami berdua bercampur dengan suara decakan bertukarnya ludah kami saat berciuman.
Percumbuan yang kami lakukan sekarang ini sangat berbeda dengan pergelutan yang kami lakukan tadi sore, kali ini kami melakukannya lebih santai tanpa harus merasa takut akan ketahuan, lidah kami saling bertautan, kadang-kadang didalam rongga mulutku dan kadang-kadang dirongga mulut Bi Ina, air ludah kami sudah saling bertukar, remasan dan elusan tangan kamipun semakin bertambah ritmenya, desahan-desahan suara kamipun semakin sering terdengar.
Jari jemari tangan kananku semakin lancar mengelus-elus memek bi Ina, karena memek bi Ina semakin basah, perlahan-lahan jari tengahku mulai menerobos masuk kedalam lubang kenikmatan bi Ina, bi Inapun mulai melenguh saat jariku mulai menyeruak masuk ke dalam memeknya, kemudian dengan perlahan-lahan telapak tanganku mulai kugerakkan, dan kupastikan telapak tanganku itu menggesek-gesek kelentit bi Ina, dan sudah pasti jari tengahku yang sedang dalam jepitan memek bi Inapun ikut bergerak keluar masuk seirama dengan gerakan telapak tanganku yang sedang menggesek kelentitnya.
Bi Inapun merintih-rintih keenakan akibat aksi tanganku itu, dan bibirnya masih sibuk melumat bibirku, tangannya semakin aktif mengocok kontolku, sehingga kontolku semakin sering mengeluarkan cairan pre-cum dan membasahi tangannya, akupun mendengus nikmat akibat permainan tangan bi Ina, kontolku semakin mengeras dan siap untuk mengobrak-abrik memeknya bi Ina.
Dengan perlahan bi Inapun maju s*****kah demi s*****kah mendesak tubuhku sehingga tubuhkupun mundur s*****kah demi s*****kah kearah sofa yang berada diruang depan rumah mamangku ini, sementara tangannya tidak mau melepaskan genggamannya dan kocokannya di kontolku, akupun melakukan hal yang sama, jari tanganku tidak dikeluarkan dari dalam lubang senggamanya dan gerakan telapak tanganku masih tetap dengan lembut menggesek-gesek kelentitnya.
Akhirnya tubuhku tidak dapat mundur lagi karena sudah terhalang oleh sofa sementara tubuh bi Ina masih maju, sehingga akupun jatuh terduduk di sofa, karena pegangannya pada kontolku cukup kuat, bi Inapun ikut jatuh menimpa tubuhku, bi Inapun mengerang akibat jatuhnya itu,
“Ooohhh… Hen…aku pengen dientot lagi oleh kontolmu ini,”erang bi Ina
“OK, Ina sayang, akan kupuaskan rasa dahagamu…”jawabku sambil tersenyum nakal
Kemudian bi Ina mengambil posisi jongkok diatas tubuhku, tepatnya diatas kontolku, dan iapun menarik tanganku sehingga jariku yang sedang asyik berendam di memeknya tertarik keluar, kontolku yang masih dalam genggaman tangannya mulai ia arahkan kekemaluannya yang sudah sangat basah, aku melenguh kegelian saat bi Ina mengoles-oleskan kepala kontolku ke bibir memeknya, kudengar iapun melenguh kegelian juga, dengan perlahan-lahan kepala kontolku diselipkan kedalam memeknya, Sleeepppp…
Setelah merasa tepat kontolku berada dalam jepitan memeknya, dengan tangan kiri bertumpu di pundakku dan tangan kanan yang masih menggenggam kontolku, perlahan-lahan bi Ina mulai menurunkan pantat semoknya itu, kontolku perlahan-lahan mulai menyeruak masuk kedalam lubang senggamanya, Bleeesssss….
“Aaahhhhh….kontolmu besaaarr…Hen….memekku masih dibuatnya penuh…ooohhhhh enaaaaaakkkk….,”bi Ina melenguh enak saat kontolku mulai terbenam kedalam lubang senggamanya.
“memek kamu juga enaaak…sempiitt…biarpun sudah pernah diterobos oleh kontolku..tapi tetap aja masih sempiitt..,”akupun melenguh merasakan ketatnya dinding vagina bi Ina menjepit kontolku.
Bleeessss…..bleeesssss….bleeessss…..dengan perlahan-lahan kontolku semakin menusuk lebih dalam lagi sehingga amblas seluruhnya didalam lubang senggamanya bi Ina, aku merasakan dinding vagina bi Ina berdenyut-denyut pelan, seolah sedang meremas-remas batang kontolku, sementara itu bi Inapun merasakan hal yang sama ia merasakan memeknya dibuat penuh sekali oleh kontolku, dan saat batang kontolku berdenyut, bi Inapun merasakannya pada dinding vaginanya.
Kedua tangan bi Inapun bertumpu pada pundakku, sementara itu pantatnya menempel pada pahaku, dengan perlahan-lahan bi Ina mulai menaik turunkan pantatnya, dan dengan otomatis kontolkupun timbul tenggelam di lubang memeknya, geseran yang kurasakan pada batang kontolku sungguh sangat ketat dan erat sekali, memek bi Ina menjepit kuat batang kontolku, biarpun sempit dan ketat memeknya menempel di batang kontolku tapi pergerakan keluar masuk kontolku itu cukup mudah karena memek bi Ina yang sudah sangat basah oleh cairan precumnya dan cairan precumku.
Dengan posisi seperti ini aku hanya dapat pasif karena aku tidak dapat menggerakkan pantatku, tapi pemandangan yang ada di hadapanku sungguh asyik, karena kedua payudara bi Ina terpampang dihadapanku dan sedang terombang-ambing, apalagi saat itu bi Ina sudah mulai menaikkan irama naik turunnya, kedua payudaranya ikut juga naik-turun seirama dengan naik turun tubuhnya, kedua tanganku langsung menyergap kedua payudara bi Ina yang sedang terombang-ambing itu, kuremas-remas kedua bukit kembar itu, sehingga membuat Bi Ina semakin merintih-rintih, gemas dengan suara rintihan Bi Ina yang semakin sering terdengar, mulutkupun mulai ikut beraksi, kedua puting susunya yang berwarna coklat, mulai kujilati dan kuhisap-hisap,
“Ooohhhh…Hen…geeeliii….Heenn…aaahhhh…sshhhh…aaahhh …terusss…hisaaappp.. tetekkku…ooohhh….Hen…enaaakk…nikmaaattt…ngentooooo tttt…kamu…ooohhh,”Bi Ina merintih keenakan.
Sssllrrrppp….ssslrrrpppp…ssslrrrpppp… suara hisapanku pada kedua susu Bi Ina, kuremas, kujilat, kuhisap dan kupilin-pilin kedua susu dan putingnya bergantian kiri dan kanan, membuat Bi Ina semakin menggila, gerakannya semakin bertambah cepat, kontolku semakin cepat keluar masuk memeknya, tak lama bers***** Bi Ina mulai mengerang panjang, menandakan puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh,
“Heeeeennnnnn…..Oooohhhh….aaakuuuu…keluuaaaarrr….a aaaahhhhhh…kontolmuuuu enaaaaakkkk….besaaaaarrr…panjaaaang….memekkuuu…pen uh sesaaakkk…dijejaalii… kontolmuuuuu….ooohhh…Heennn….ooooohhh…ssshhhh….aaa aahhh,”Bi Ina mengerang keenakan menyambut puncak kenikmatannya.
Sssssrrrr……sssssrrrrrr….sssrrrrrrr….sssssrrrrrr….. lubang senggamanya menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi kontolku yang sedang terbenam dalam-dalam, aku merasakan batang kontolku menjadi hangat akibat semburan cairan memek Bi Ina, dan kurasakan juga dinding vagina Bi Ina berdenyut dengan kuatnya saat menyemburkan lahar kenikmatannya itu.
Tubuh Bi Inapun ambruk diatas tubuhku, kudengar suara nafasnya memburu, lalu kuelus-elus punggung, pinggang dan bongkahan pantatnya sambil agak kuremas-remas, membuatnya melenguh lirih, 
“ooohhh…Hen…enak sekali..aku puas dientot oleh kontolmu yang besar dan panjang itu, gila hari ini sudah 2 kali aku mencapai puncak kenikmatan bersenggama,”Bi Ina berkata lirih.
“hehehehe…Ina sayang, mau lagi,”tanyaku
“Hhhmmmm…aaaahhh….bentar..aku ambil nafas dulu,”jawabnya lirih masih dengan nafas yang agak memburu.
Kurasakan denyutan dinding vaginanya sudah mulai melemah, dengan menggendong Bi Ina dan tanpa melepaskan kontolku dari jepitan memeknya, akupun bangkit dari dudukku , kemudian tubuh Bi Ina kurebahkan diatas meja tamu yang terbuat dari marmer, kontolku masih tetap terjepit dengan eratnya oleh memek Bi Ina, lalu kutindih tubuh Bi Ina dan mulai kupompa kontolku keluar masuk memeknya dengan gerakan cepat, suara rintihan Bi Ina kembali terdengar, erangan-erangan nikmatnya kembali membahana diruangan tamu rumah mamangku ini.
“Oooohhh…Hen….kaamuu…aaaahhhh…enaaaakkk..enjot…ter usss…kontolmuuuuu…. yaaahhhh…terusss..hhhmmm…tekaaann.yang dalam…Heeeenn….ooohhh…ooohhhhh,” erang Bi Ina keenakan digenjot dengan gaya cepat olehku.
“Ouuughh…enaaak…Ina…sayaanngg…enaaakkk…kontolkuuu. .enaaakk…memekmuu jugaaaa…legiiittt…sempit…aaaahhhh…,”akupun mengerang merasakan enaknya jepitan memek Bi Ina yang sangat ketat di batang kontolku, walaupun memeknya sudah sangat-sangat basah sekali.
Suara kecipakan beradunya memek Bi Ina yang sudah basah dengan batang kontolku yang dengan gencarnya menyodok-nyodok, menambah hiruk pikuk suara di ruangan tamu ini, aku tidak perduli suara yang kami keluarkan akan terdengar oleh para pembantunya yang tinggal di rumah belakang ataupun oleh penj****ya yang berada di gerbang depan, yang kupikirkan adalah mengentot Bi Ina sampai puas, sampai pagi kalau bisa.
Kedua kaki Bi Inapun mengait dipinggangku, sementara kedua tanganku berada di samping kiri dan kanan kepala Bi Ina, kedua tanganku itu menjadi tumpuanku agar Bi Ina tidak terlalu berat ditindih oleh tubuhku, dan menjadi tumpuan saat aku menggenjot memek Bi Ina, sementara tangan Bi Ina memegangi pundakku saat memeknya semakin gencar kusodok-sodok.
“Oooohhhh…ssshhhh…aaahhhh….Heennn…enaakk…terusss…s odok…teruss..memekku nikmaaaattt….kontolmuuuuu…enaaaakkk…bessaaaarr..pa anjaaanng…yang dalaaaam .. tekaaaann…yang.dalam…sodoookkk…yaaang dalaaammm…oooohhh…Heenn…ooohhh ssshhh….aaaahhh…ssshhh..aaahhh…Heeenn….,”Bi Ina semakin mendesah keenakan menerima hajaran kontolku di lubang senggamanya.
“akkkuu…jugaaa…enaakk…Inaaa…saaayyaaang…ooohhhh… ngentot memekmu ini…. Ooohhhh…betul-betuuulll…enaaakk….,”Akupun mengerang keenakan.
Kurang lebih sudah 10 menitan kugenjot kontolku keluar masuk memek Bi Ina, dan aku sudah mulai merasa bahwa air maniku sudah mulai mengantri di batang kontolku siap untuk meledak, akupun semakin mempercepat kocokan kontolku, Bi Inapun semakin mengerang-erang keenakan, kulihat matanya kembali hanya terlihat putihnya saja, menandakan bahwa Bi Ina betul-betul sedang menikmati sodokan-sodokan kontolku, akupun semakin menambah cepat irama kocokanku.
“Ooougghhh…Inaaaa…..aaakuuu…maauuu keluaarr….ooohhh….akuuu…sudah tidak tahan lagiii….,”erangku.
“Iyaaaa…akuuuu….jugaaaa…mau keluaarr..lagiii…Heeennnnn….aaagghhhh… kontolmu memang enak daan perkaaaassaaa…..puaaasss akuu dibuatnyaaa…,”Bi Inapun mengerang.
Kontolku semakin bertambah cepat keluar masuk di lubang vagina Bi Ina yang sudah semakin banjir oleh cairan precum kami berdua, tak lama bers***** dengan kekuatan penuh aku hentakkan kontolku dalam-dalam di lubang memeknya Bi Ina, sehingga membuat Bi Ina menjerit, dan,
Creeeettttt…..ccreeeeetttt….ssssrrrrr…ccreeetttt…s ssrrrrrr….creeettttt..sssrrrr…ccreeett.. sssssrrrrr…..sssrrrrr…. kontolku menembakkan air maninya hampir bersamaan dengan memeknya Bi Ina yang memuntahkan lahar kenikmatannya.
Kontolku berkedutan saat menembakkan air maninya, dan saat bersamaan kurasakan dinding vagina Bi Ina berdenyut sangat kuat saat memuntahkan lahar kenikmatannya, dan kurasakan hangat di batang kontolku, Bi Inapun merasakan hal yang sama yang dirasakan olehku, ia merasakan hangatnya spermaku yang menyirami lubang rahimnya, dan lubang vaginanya merasakan kedutan-kedutan batang kontolku saat mengeluarkan air mani.
“Ooouugghhhhh… Inaaaa…..enaaakkk….sekaallliii…meemekmuu….berdenyu t-denyuuut. Kontolku seperti diremaaass..remas…aagghhh….sedaaapnnyaa…enaaakknya aa…terima pejuhkuuuu….oooohhhh…Inaaa….ooohhh….,” erangku keenakan saat kontolku menyemprotkan air mani.
“Heeennnn…..aaaakkuuu…jugaaa…enaaakk…puaaaasss…die nttooott…kontolmu.. yang besaaaar..dan panjaaaang…pejuhmuuu hangaatt..kurasakaan….ooohhhh….kamu hebat. Heeennn….kamu sungguh perkaaassaaaa….aku betul-betul puaaass..aaahhh..sshhhh aaahhhhh…Hen…,”Bi Inapun mengerang kenikmatan.
Sambil masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami rengkuh, sambil tubuhku masih berada diatas tubuh Bi Ina, bibir Bi Ina kupagut dengan lembut dan mesra, sambil perlahan-lahan kutarik kontolku kemudian kudorong masuk lagi, lama-lama kontolku semakin menciut dan terlepas dengan sendirinya dari jepitan memek Bi Ina, akupun bangkit dari atas tubuh Bi Ina, dan duduk diatas sofa, Bi Inapun mengikutiku dan duduk disebelahku, nafas kami masih agak sedikit tersengal-sengal.
Setelah nafas kami kembali normal, kamipun bangkit dari sofa dan berbarengan berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu dengan tubuh yang masih tanpa busana kami berdua menikmati hidangan malam yang memang sudah tersedia dari tadi.
Pertempuran demi pertempuran kami lanjutkan kembali setelah kami selesai makan malam, kami lakukan sepanjang malam sampai kami kelelahan.

Incoming search terms:

ngentot istri paman, cerita ngentot istri paman, cerita dewasa istri paman, pamanku perkasa, ngentot istri muda, cerita seks istri muda, kusetubuhi ibuku, ml sm istri muda ayahku, ngentot istri pamanku, cerita ngentot istri pamanku, cerita seks bi, Ngentot istri muda paman, Petualangan seks, cerita seks istri paman, cerita dewasa istri muda, ngentot dengan istri paman, Cerita Memek legit, gairah istri paman, cerita dewasa ngentot istri paman, cerita ngentot istri muda hendra, gairah istri pamanku, cerita dewasa istri pamanku, cerita seks ina, Entot istri paman, cerita ngentot dengan istri paman

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker