Monday , September 1 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Petualangan Seks Hendra, Kusetubuhi Wati Kakak Iparku

Petualangan Seks Hendra, Kusetubuhi Wati Kakak Iparku



Wati


Sekitar jam 2-an kendaraanku memasuki pekarangan rumah orangtuaku, setelah memarkir mobilku, akupun mengajak Bi Ina turun, kami berdua berjalan berdampingan menuju pintu depan, kemudian kutekan tombol bel rumah orangtuaku itu, tak lama kemudian pintu rumahpun terbuka dan muncullah sesosok tubuh seksi berbalutkan kimono warna biru muda bermotif bunga dari bahan satin dan dengan paras yang cantik, melihat kami sosok cantik nan seksi itupun tersenyum.

“Hendra… eh kok bisa barengan sama Bi Ina,”sapa sosok cantik itu.
“Iya, mbak, kebetulan kemarinkan ada meeting di Garut dan aku nginap di rumah Mang Nanang, jadi Bi Ina sekalian ikut numpang kesini, kan besok anak Teh Dina sunatan, terus Mang Nanang gak bisa ikut, dia mau nyusul nanti,” jelasku pada sosok itu.
“Ooohhh…pantes kalian kok bisa barengan gitu,”kata sosok itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mbak Wati begitulah nama sesosok tubuh yang seksi dan mempunyai paras cantik itu, dia adalah kakak iparku istri dari kakakku yang paling tua, usianya seumuran kakakku Dina, sementara abangku sekitar 38 tahunan, mereka mempunyai 1 orang anak perempuan yang baru berusia 5 tahun, mereka memang sedikit terlambat mempunyai anak karena kesibukkan kakakku dengan pekerjaannya, sehingga nampaknya sawah Mbak Wati kurang diairi oleh kakakku.
Setelah bersalaman denganku dan kurasakan kehalusan tangannya, padahal sudah sering aku bersalaman dengan iparku ini, tapi baru kali ini darahku dibuatnya mendesir, entah karena pikiranku yang masih dipengaruhi oleh pikiran-pikiran jorok atau karena juga kulihat tubuh seksi Mbak Wati yang agak sedikit terbayang di balik baju kimononya itu, karena semakin kuperhatikan bagian depannya semakin jelas bahwa Mbak Wati tidak mengenakan BH, karena aku melihat kedua puting susunya agak sedikit tercetak di baju kimononya itu.
Saat Mbak Wati menggandeng tangan Bi Ina menuju ke kamar tamu, akupun mengikuti mereka dari arah belakang, kulihat dari arah belakang nampaknya Mbak Wati tidak mengenakan celana dalam karena tidak kulihat garis pinggiran celana dalamnya tercetak di kimono yang dikenakannya, otak kotorku mulai membayangkan tubuh seksi Mbak Wati istri kakakku ini, kontolku mulai menggeliat, tanpa kusadari celanaku terlihat menggembung akibat batang kemaluanku yang menegang.
Saat itu Mbak Wati menunjukkan kamar tamu yang akan ditempati oleh Bi Ina, merekapun m*****kah kedalam kamar, dan saat itu Mbak Wati berbalik kearahku sambil meminta tasnya Bi Ina, karena matanya tertuju kepada tas Bi Ina yang berada di tanganku secara otomatis dia melihat celanaku yang menggembung akibat kontolku yang sudah membengkak, sambil tangannya meraih tas yang berada dalam genggamanku, kulihat matanya tertuju kearah celanaku, akupun langsung melirik kebawah dan aku cukup kaget juga saat kulihat celanaku yang menggembung karena desakan kontolku itu, tapi aku pura-pura tidak mengetahui hal itu, dan kuperhatikan mata Mbak Wati tidak berkedip saat melihat s*****kanganku, sementara itu kulihat Bi Ina masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tidur tamu ini, seluruh kamar tidur dirumah orangtuaku ini dilengkapi dengan kamar mandi sendiri.
Saat mataku sedang tertuju kearah Bi Ina yang masuk kedalam kamar mandi, aku merasakan tangan Mbak Wati menyenggol s*****kanganku, rupanya Mbak Wati karena terpana melihat celanaku yang membusung tanpa ia sadari tangannya yang sedang mencoba mengambil tas dari tanganku, melenceng kearah s*****kanganku sehingga telapak tangan kanannya menyentuh kontolku yang masih terbungkus rapi, bukan hanya aku yang kaget tapi Mbak Wati sendiri kaget juga karena telapak tangannya menyentuh kontolku yang sudah sangat tegang, sambil minta maaf dengan pipi yang bersemu merah yang menambah kecantikkannya.
Lalu dia langsung keluar kamar setelah menaruh tas Bi Ina dan pamitan ke Bi Ina, akupun mengikutinya dari arah belakang setelah akupun berpamitan kepada Bi Ina dan menutup pintu kamar, akupun pura-pura tidak memperdulikan kejadian tadi,
“Mbak, kok sepi sekali rumah ini, pada kemana semua?”tanyaku
“Oohh…sedang pergi semuanya, “jawabnya dengan muka tertunduk tidak berani menatapku.
“Mbak gak ikut?,”tanyaku lagi
“Gak lah, Dea mau sama siapa?”jawab Mbak Wati
“Lho kan ada pembantu,”kataku
“Kan mereka juga ikut semua, kan belanjaannya banyak jadi harus banyak yang bantu bawain,”jelas Mbak Wati
“Sekarang Dea mana?, udah lama nich gak ketemu ponakanku itu,”tanyaku lagi
“Sedang tidur,”jawab Mbak Wati.
Tanpa terasa kami sudah berada di lantai atas, dimana kamar tidur kami semua terletak, kulihat Mbak Wati tidak berbelok kekamarnya tapi berjalan searah denganku menuju kamarku, akupun heran.
“Sebentar yach Hen, kamarmu Mbak siapkan dulu, habis dikiranya kamu tidak datang, jadi Mamah tidak menyuruh pembantu untuk menyiapkan kamarmu,” Mbak Wati berkata saat membuka kamar tidurku, akupun mengangguk mengiyakan, saat itu Mbak Wati tidak berani beradu pandang denganku, dan dipipinya masih tersirat rona merah.
Tanpa diketahui Mbak Wati pintu kamarku sengaja kututup dengan perlahan sehingga tidak terdengar oleh Mbak Wati, sementara aku menaruh tasku, Mbak Wati menuju lemari pakaian mengambil kain sprei dan memasangnya di tempat tidur, saat dia mengambil kain sprei di lemariku yang terletak di bagian atas, Mbak Wati harus berjinjit untuk meraihnya dan tangannya menjulur agak kedalam, dan saat itu juga kulihat bongkahan pantat Mbak Wati tersembul, pantatnya yang putih terlihat olehku dan tebakanku tadi betul bahwa Mbak Wati tidak mengenakan CDnya, dan ketika Mbak Wati mulai membungkuk untuk memasang sprei, kembali aku disuguhi pemandangan pantatnya dan aku melihat bukan hanya bongkahan pantatnya yang montok dan putih saja tetapi aku melihat bibir vagina Mbak Wati yang berwarna coklat tua sangat kontras sekali dengan warna kulit paha dan pantatnya yang berwarna putih, kontolku semakin menegang sejadi-jadinya. 
Tanpa Mbak Wati sadari, akupun mulai melepaskan pakaianku seluruhnya, sehingga aku telanjang bulat, kontolku yang sudah sangat tegang berdiri dengan gagahnya, siap untuk mengobrak-abrik memek Mbak Wati yang sungguh indah kupandang dari belakang itu, Aku sudah tidak memperdulikan bahwa wanita yang berada di hadapanku ini adalah istri kakakku, yang kupusingkan adalah kontolku harus mendapatkan penyalurannya., perlahan-lahan kudekati Mbak Wati dari arah belakang, bertepatan dengan posisi tubuhku yang berada di belakangnya, Mbak Watipun selesai membereskan sprei ditempat tidurku dan saat itu juga ia membalikkan badannya.
“Hendraaaa…astagaa..apa-apaan ini,”katanya terkejut sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya, kudengar nafasnya memburu dan kulihat dari sela-sela jemari tangannya pipinya semakin merona merah.
“Mbak, tolongin aku dong, aku sudah tidak kuat lagi,”jawabku sambil kuraih kedua tangannya yang sedang menutupi mukanya.
“Heenn…jangan..Hen…aku ini istri kakakmu…. Hen…,”jawabnya dengan mata terpejam, tangannya kutarik kearah s*****kanganku dan Mbak Wati pun berusaha untuk melepaskan cengkramanku.
“Aku tahu Mbak, aku tahu..tapi punyaku ini sudah keras sekali, sakit kurasakan mbak, ini jugakan gara-gara Mbak”aku memohon, sambil membimbing tangannya kearah s*****kanganku.
“Hen…kenapa gara-garaku?…Hen…jangan…,”tanya Mbak Wati sambil tetap berusaha menolak dengan kata-kata dan mencoba melepaskan tangannya.
“Iyalah, coba kalau Mbak pakai daleman, kan aku tidak akan melihat bibir memeknya Mbak,”jawabku tenang, sambil perlahan mendesak mundur Mbak Wati kearah ranjang.
“Jangan…Hen…akukan mau mandi waktu kalian datang,…Hen…jangan…Hen…,”Mbak Wati masih mencoba untuk menolak dan terus berusaha untuk melepaskan tangannya yang saat itu mulai bersentuhan dengan kontolku.
“Heen…Jangan…Hen…aku ini istri kakakmu…Hen..sadar…Hen…eeehhhh…,”Mbak masih menolak dan iapun kaget saat tangannya mulai bersentuhan dengan kontolku, kepalanya tertunduk dan kuyakin matanya terbuka lebar sedang menatapi kontolku yang sedang berdiri dengan gagahnya itu.
“Ayo dong Mbak, tolongin aku…elus-elus kontolku ini, Mbak bisa rasakan kontolku sudah keras sekali…Mbak…,”bujukku sambil terus mengusap-usapkan tangannya kekontolku, sementara pegangan tangan kananku kulepaskan dari tangan kirinya, dan beralih kepinggangnya, kupeluk erat pinggangnya agar dia tidak dapat melepaskan diri.
“Jangaaannn…Hen…Jangaaann…eeehhhh…,”Mbak Wati menjerit lirih, kaget karena pinggangnya kupeluk erat, sehingga tubuh bagian atasnya menempel ketat ke tubuhku, tangan kirinya yang terlepas berusaha menahan tubuhku, tapi ten****ya tidak kuat melawan tenagaku.
Dengan mata sayu Mbak Wati menatapku seolah memohon untuk melepaskannya, tapi aku yang sudah dilanda nafsu birahi tidak memperdulikan tatapan memohonnya itu, dengan penuh nafsu kupagut mulutnya, lidahku mencoba menerobos bibirnya yang terkatup rapat, kepalanya bergoyang kekiri-dan kekanan berusaha untuk melepaskan bibirnya dari kuluman bibirku, dengan cepat tangan kananku merangsek naik kepundaknya, kemudian kupegangi kepalanya agar tidak dapat bergoyang kembali, sementara mulut dan lidahku terus merangsek bibirnya.
“Hhmmmmm….hhhmmmmm…hhhmmmmm…,”Gumam Mbak Wati berusaha untuk menolak ciumanku.
Mbak Wati tidak dapat mundur lagi, tubuhnya terhalang oleh ranjangku, akhirnya iapun terduduk diatas tempat tidurku itu karena dorongan tubuhku yang masih merangsek maju, ciumankupun terlepas, tapi dengan terduduknya Mbak Wati itu kontolku tepat berada dihadapan wajahnya, sekarang ini kulihat mata Mbak Wati terpana melihat bentuk kontolku itu yang panjang dan besar, dan kujamin kemaluan kakakku tidak sebesar dan sepanjang punyaku, kulihat Mbak Wati menelan ludahnya beberapa kali saat memandangi kontolku, sementara itu tangan kanannya tetap kuusap-usapkan di kontolku.
Kuposisikan kedua kakinya sehingga menjepit kedua pahanya agar Mbak Wati tidak dapat menghindar lagi, sementara kontolku semakin kudekatkan kewajahnya, tangan kananku memegangi tengkuknya, agar kepalanya tidak dapat goyang kekiri dan kekanan, tangan kiriku yang masih memegangi tangan kanannya Mbak Wati kembali kugerakkan, dan sekarang kurasakan tidak ada perlawanan dari dirinya, mungkin Mbak Wati sudah pasrah atau mungkin dia sudah terangsang juga, karena kulihat matanya hampir tidak pernah beralih dari kontolku yang sedang tegak berdiri di hadapan wajahnya itu.
Telapak tangan kanannya kugenggamkan di kontolku, kemudian kugeser-geserkan, aku merasakan halusnya telapak tangan Mbak Wati menggesek batang kontolku, cairan precumku semakin keluar, dari arah kepala kontolku sampai kepangkalnya tangan Mbak Wati kugerakkan naik turun, sambil perlahan-lahan kusentuh-sentuhkan kebibirnya, lama-lama bibirnya yang terkatup mulai terbuka sedikit demi sedikit, kucoba sesering mungkin menyentuhkan kepala kontolku kebibirnya yang mulai terbuka.
Aku menikmati sensasi gerakan tangannya yang masih harus aku pegangi karena takut Mbak Wati tidak mau meneruskan, padahal aku sedang keenakan, apalagi saat kepala kontolku bersentuhan dengan bibirnya yang lembut, aku merasa Mbak Wati juga mulai menikmati permainan ini, karena kurasakan mulutnya yang terbuka itu tertutup saat kepala kontolku menyentuh bibirnya seolah-olah sedang mengecup, dan kurasakan kedua pahanya mulai perlahan menekan keluar kakiku, kulihat posisi duduk Mbak Wati mulai mengangkang, kupindahkan posisi kakiku kebagian dalam pahanya sehingga membuat Mbak Wati semakin leluasa membuka kedua kakinya, tak lama kemudian kulihat tangan kirinya Mbak Wati mulai mengelus-elus belahan vaginanya, dan aku juga mulai merasakan tangan kanan Mbak Wati mulai bergerak sendiri tanpa harus dibimbing oleh tanganku lagi, dan mulut Mbak Wati semakin berani beraksi, mulutnya mulai terbuka lebih lebar dan mulai menyelomoti kepala kontolku, melihat dan merasakan Mbak Wati sudah mulai bergerak sendiri, kedua tangankupun mulai beraksi, kuarahkan kedua tanganku kepayudaranya, dengan perlahan-lahan kuremas-remas kedua payudara Mbak Wati yang masih tertutupi oleh kimononya, aku merasakan kedua payudara Mbak Wati masih mengkal walaupun sudah punya anak, tetapi ukurannya tidak sebesar punya Bi Ina.
“hhhmmmm….hhhhmmmm…ssshhhhh…ccruuuppp….ssssshhh…hh hmmmmm…cruuppp sshhhhh….ssshhh…hhhmmm..,”Mbak Wati mulai bergumam lirih, menikmati remasan-remasan tanganku dan juga asyik menikmati mengulum-ngulum kepala kontolku.
“Aaaahhh…Mbak…enaaaakkk…Mbaaakk…terusss…Mbak…kuluu ummm….koccookkk.. kontolkuuuu…Mbaaaakkk…aaaahhh…aaaahhhh…,” Akupun menge-rang keenakan, sambil terus kuremas-remas payudara Mbak Wati dan kadang-kadang kutingkahi dengan memilin-milin kedua putingnya yang masih tertutupi oleh kimononya.
“Hhhmmmm….ssshhhh….ccruuppp…hhhmmm..ssshhh..cruupp …cruppp…sslrrppp… hhmmmm…sshhhh….crupp..sslrrrppp…,”desah Mbak Wati dan kudengar nampaknya ia juga mulai menelan air ludahnya yang bercampur dengan cairan precumku yang semakin sering mengalir keluar dari kontolku, nampaknya Mbak Wati semakin menikmati mengulum-ngulum kepala kontolku, dan juga semakin terangsang merasakan remasan-remasan yang kulakukan pada kedua payudaranya.
Aku semakin bersorak dalam hatiku, akhirnya aku akan dapat merasakan jepitan memeknya tidak lama lagi, kubayangkan pasti memeknya masih sempit, akan kubuat dia menjerit-jerit keenakan merasakan sodokan kontolku, akupun mendesah-desah keenakan menikmati selomotan-selomotannya di kepala kontolku, walaupun hanya sebatas kepala kontolku yang diemut-emut oleh bibirnya, tapi nikmatnya sangat luar biasa, rupanya Mbak Wati belum berani memasukkan batang kontolku kedalam mulutnya, mungkin ia masih merasa ngeri melihat ukuran kontolku yang berbeda jauh dengan punya suaminya.
Tapi untukku sudah cukup nikmat sekali dengan aksi tangan kanannya yang mengocok lembut batang kontolku dan bibirnya yang mungil mengecupi dan mengulum-ngulum kepala kontolku, ditambah dengan kedua tanganku yang merasakan kemengkalan kedua payudaranya yang walaupun masih tertutupi oleh kimononya, dan kurasakan juga kedua putingnya yang sudah mengeras pertanda Mbak Watipun nafsu birahinya sudah meninggi.
Kira-kira sudah 10 menitan kontolku Mbak Wati mempermainkan kontolku dan aku mempermainkan kedua payudaranya, akupun menjadi tidak tahan lagi ingin segera menuntaskan hasrat birahiku ini, sementara kulihat kedua mata Mbak Wati sudah meredup sayu pertanda hasrat birahinya yang juga semakin meninggi dan ingin segera dituntaskan,
“Mbaaakk….aaahhh…Mbaaakk…sudaaaahhh…bisa-bisaaa aku ngecrot nanti di muka Mbaaaakk…ooooggghhhh…geeeliiii…aaaahhh,”erangku sambil menyetop aksi Mbak Wati dan lalu kedua tangankku berhenti dari meremas-remas kedua payudara Mbak Wati dan beralih kepundaknya dan mendorong tubuh Mbak Wati sehingga tubuhnya terlentang ditempat tidurku.
“Eeeehhh…Heeeen…mauuu…apaaaa…?…jangaaaannn…kamuk an..tadi hanya…pengen dielus-elus saja punyammuuu…Heeennn…aaaapa yang kamu lakukaaann…Heen.. ooohh…jangaann..hennn….Geeeliii…aaaahhh….ooohhh…He eenn…jaaangan….aaakuu oooohhh…geliii…Heeen…geelii…aaaaahhh…kaaamuuuu…aaa kuuu…ooohhh…,”Mbak Wati mulai mengerang dan berusaha menolak saat aku mulai menyapukan lidahku dibibir vaginanya dan kelentitnya, kedua tangannya berusaha menahan kepalaku yang sedang dis*****kangannya, sementara dia tidak dapat menggerakkan tubuh dan pantatnya karena kedua pahanya yang kupegangi dengan cukup kuat.
Mbak Wati masih berusaha menahan kepalaku agar terlepas dari s*****kangannya, kedua pahanya menjepit kepalaku agar tidak dapat maju lebih jauh, tapi posisi kepalaku sudah cukup dekat dengan lubang senggamaku sehingga lidah dan mulutkupun dapat menjangkau lubang senggama dan kelentitnya, dorongan tangannya hanya berhasil mendongakkan sedikit kepalaku tapi tidak menjauhkan bibir dan lidahku yang sedang menciumi bibir dan menjilati kelentitnya, tangan dan kedua kakinya masih berusaha menolak seranganku, tapi mulutnya sudah mulai mengeluarkan erangan-erangan nikmat dan kegelian atas sapuan lidahku pada kelentitnya.
“Heeennn….ooohhhh…heeenn….Jangaaaannn…Heennn…aakuu …ooohhh…akkuuuu… ooohhh…Heeenn….Jaaaanngaaannnnn…aaaahhhhh….sssshhh hh….Heeen….ssshhh.. aaahhhhhh….henttiiikkaaannn…Heeen…Jangaaannn…ooooh hhh..,”Mbak Wati merengek minta aku untuk menghentikan, tangannya masih berusaha untuk mendorong kepalaku, tanpa dia sadari karena jepitan pahanya kepalaku tidak bergeming dengan dorongan tangannya itu hanya terdongak sedikit saja.
Mendengar rintihan Mbak Wati dengan rengekan penolakannya membuatku bertambah nafsu untuk segera menaklukkannya, mulutku mulai menghisap-hisap itilnya, diselingi dengan lidahku yang bermain dilubang vaginanya, kurasakan cairan precumnya yang gurih dan asin semakin mengalir keluar, permainan lidah dan mulutku di kemaluannya akhirnya membuat pertahanan Mbak Wati jebol juga, perlahan-lahan tangannya yang tadinya berusaha untuk menahan kepalaku agar tidak dapat bergerak lebih maju lagi sekarang sudah berhenti menahan dan mendorong kepalaku, malahan sekarang ini kedua tangannya yang masih dikepalaku itu mulai meremas-remas rambutku, kedua pahanya yang sedang menjepit kepalaku juga mulai melonggar jepitannya sehingga kepalaku lebih leluasa bergerak, lama-lama kedua kakinya semakin terbuka dan semakin membuatku lebih mudah mengerjai memeknya itu, tangankupun mulai mengelus-elus pahanya, sementara mulutku semakin menjadi menghisap-hisap kelentitnya.
“Oooohhh….ssshhhh….ssshhhh…aaaahhhh…ooooohhhh….Hee enn…..oooohhh… Heen. Ssshhhh…aaahhhh…ssshhh…aaahhhh…Heeennnn…,”Mbak Wati semakin merintih-rintih keenakan, dari mulutnya tidak keluar lagi kata-kata penolakan.
Kedua kaki Mbak Wati semakin terbuka lebar, kedua tangannya semakin meremas-remas rambutku, akupun semakin mudah mempermainkan memeknya, jemari tangan kiriku mencoba membuka lubang vaginanya itu, sementara jari tengah tangan kananku mulai kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang merah, kulihat lubang memeknya yang merah itu sudah basah sekali, sambil mulutku mulai lagi mengemut itilnya, jari tengahku mulai mengocok lubang senggamanya itu, Mbak Watipun semakin kelojotan keenakan mulutnya semakin sering mengeluarkan suara rintihan-rintihan.
“Heennnn….ooooohhhhh….Heeenn….aaaaahhh…Heen….geeli iii….Heenn…geelii..aaahh enaaakkk….geeeliii….aaahhh…ooohhh…ssshhhh..aaahhh… ..akuuuu….,”rintih Mbak Wati merasakan enaknya jilatan, hisapan dan jari tanganku dimemek dan kelentitnya.
Aku semakin bertambah semangat menghisap, mengocok dan menjilati memek serta kelentit Mbak Wati, cairan memeknya semakin banyak tertelan olehku, tak lama bers***** kurasakan dinding memeknya berdenyut dengan kuat, jari tengahku seolah-olah dipijat-pijat oleh dinding vaginanya itu, dan kemudian Mbak Wati kudengar melenguh panjang,
“Heeeennnnnnn…..ooooohhhhh…enaaaakkk..aaakkuuu….ke luaaaarrr….Heeen…aaahhh Heeennn…..oooohhhh…enaaakk….hisaaappp….itiiillkkuu …Heeen…yang kuaat…aaahhh teruuusss…kocoooookkk…memekkkkuuu…aaaahhh….,”Mbak Watipun melenguh nikmat menyambut datangnya puncak kenikmatannya.
Sssssrrrrrr…..sssrrrrrrr….sssrrrrrrr…..ssrrrrrrrrr ….jari tengahku menjadi hangat oleh siraman lahar kenikmatan Mbak Wati, kukeluarkan jari tengahku dari dalam lubang memeknya, dan mulutku langsung menyergap memeknya dan langsung menghisap memeknya yang sedang mengeluarkan lahar kenikmatannya itu ssslllrrrrpppp……. sssllllrrppppp….ssllrrrpppp, cairan gurih dan nikmat itupun mengalir masuk kedalam mulutku, tubuh Mbak Wati mengejang saat memeknya kuhisap dengan kuat, pantatnya terangkat, memeknya yang sedang dalam hisapanku digesek-gesekkan kemulutku, tangannya menekan kepalaku seolah ia ingin aku menghisap memeknya lebih kuat lagi, kudengar Mbak Wati melenguh panjang saat menerima hisapan kuat di memeknya itu.
Akhirnya pantat Mbak Wati jatuh kembali keatas ranjang setelah tuntas mengeluarkan lahar kenikmatannya, nafasnya memburu, matanya meredup, pipinya merona merah, akupun kemudian bangkit dari jongkokku, tangan kiriku meraih bibir vaginanya, kubuka memeknya itu kulihat warnanya semakin merah akibat kocokan jariku, dan kubimbing kontolku yang sudah sangat-sangat keras sekali itu kearah lubang memeknya yang sedang kembang kempis, sssleeeppppp…..kuselipkan kepala kontolku di memeknya, Mbak Watipun melenguh saat kepala kontolku mulai terselip di memeknya, perlahan kontolku mulai kudorong masuk…bbleeeessss…..bbleessss…..bbbleeeeessss….kon tolku mulai terjepit dan menerobos lubang memeknya Mbak Wati, aku merasakan begitu sempitnya lubang senggama Mbak Wati ini, Mbak Wati mengerang,
“Ooooohhhh…..Heeen….pelaaaan…pelaaaan….saaakiiittt t….punyakkkuuu…aaaggghhh.. Heennn…punyaaammmuuu besaaarrr sekaliiii….pelaaaann…Heeenn…peelaaannn… aaggghhhhh….ssshhhh…aaagghhhh….,”erang Mbak Wati merasakan terjangan kontolku yang besar di memeknya.
“Ouuugghhh…Mbaaak…iniii…jugaa..pelaan…memekmu aja yang sempitt.tapi..enaakkan Mbaakkk…kontolkkuuu…ini….gillaaa…sempiittt…sekalii i…nich…memek…,”kataku.
Bleessss….bbleessss….kontolku semakin dalam menerobos masuk dilubang memeknya Mbak Wati, lagi-lagi Mbak Wati mengerang, sudah setengah perjalanan kontolku memasuki relung senggamanya, kurasakan denyutan dinding vagina Mbak Wati, 
“Heeen….saakiiitttt…pelaaannn…ooouugghhhh….Heenn…p elaaann…sakittt punyaku.. aaahhhh……aaauuuwwwwww……Heeen…….robeeeekk…punyaakuu u…,”Mbak Wati menjerit kesakitan saat dengan sekali sentakan kudorong masuk batang kontolku hingga tenggelam seluruhnya dalam lubang senggamanya.
Kudiamkan sejenak kontolku dalam jepitan lubang memek Mbak Wati, agar lubang memeknya Mbak Wati dapat beradaptasi dengan besarnya kontolku ini, dan juga agar Mbak Wati dapat meredakan dulu rasa sakit akibat terjangan kontolku ini, wajahnya masih meringis menahan sakit, setelah kulihat wajahnya mulai normal kembali, perlahan-lahan kontolku mulai kutarik keluar dan kudorong masuk lagi saat leher kontolku mencapai bibir luar memeknya, kulihat itilnya Mbak Wati tertarik keluar saat kontolku kutarik keluar, dan masuk kedalam lagi saat kutekan kontolku masuk kedalam lubang memeknya, semua gerakan ini kulakukan perlahan-lahan hingga lubang memeknya Mbak Wati ini terbiasa dengan besarnya kontolku ini.
“Ooouuggghhh…Heeen…punyamuuu besaaarrrr..sekaliii…pelaaann…Hen…pelaaann… masih sakiiitt..dan periiihh…punyakuu….oooouuughhhh…..sakiiittt…periii ihhh…tappii enaaakkk….pelaaaannn…Heenn….aaaaghhhhh….punyammuu… besaaarr sekaliii sich..,” erang Mbak Wati
“Iyaaahhh…Mbaak…ini jugaaa..pelaaannn…seempiittt…memek Mbak masiiihh..sempit.. oooohhh….kontolku betul-betul kejepit nich…aaahhh…tapi enaaakkkan…Mbak..,”erangku menikmati jepitan memeknya yang begitu ketat sekali mencengkram kontolku.
Kedua tanganku memegangi paha Mbak Wati dan kedua pahanya itu kubuka keluar sehingga s*****kangannya terbuka lebar-lebar, dengan begini jepitan memeknya di kontolku agak berkurang, kulihat matanya Mbak Wati terpejam, mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara erangan-erangan enak dan sakit, kedua payudaranya berguncang perlahan akibat gerakan maju mundur kontolku di lubang memeknya, ingin kucengkram kedua payudaranya bergoyang itu dan kuremas-remas, tapi kedua tanganku sedang sibuk menahan pahanya agar terbuka dan memudahkan keluar masuk kontolku itu.
Ssrrtttt…..bleesssss….sssrrrttt….bblleeessss….sssr rrtttt…bbleessss….ssrrttttt….bbleesss berulang-ulang kontolku keluar masuk dengan perlahan dilubang senggama Mbak Wati, aku merasakan nikmat yang sangat luar biasa, gesekan dinding vaginanya yang sempit tapi basah memberikan sensasi yang luar biasa, kulihat matanya Mbak Wati merem-melek mulutnya mendesah-desah keenakan, tapi kadang-kadang kulihat mulutnya agak meringis saat kontolku mendesak masuk agak kuat, melihat itu kuperlahankan lagi gerakan mendorongku, sebetulnya nafsu birahiku ini ingin sekali kutuntaskan secepatnya, tapi kalau melihat Mbak Wati meringis menahan sakit aku jadi gak tega, tapi dengan gerakan perlahan ini kenikmatan mengentot memeknya tidak menjadi berkurang, malah gesekan kulit batang kontolku dengan daging dinding vaginanya lebih terasa.
“Oooohhh….hhhmmmhhh….ssshhh…aaahh….oooohhhh…..hhhm mmm…ssshhh..aaahhh ooohhhh….enaaakkk…teruuusss…Hen…teruussss…oooohhh… enaaknnnya..punyamu… sshhhh…aaahhh…besaaarrr…panjaaaannng…nikmaaattt….o ooohhhhh…ssshhhh…. aaahhhh,”Mbak Wati mulai mendesah-desah keenakan merasakan kontolku yang keluar masuk di memeknya.
Nampaknya Mbak Wati sudah mulai bisa menikmati besarnya kontolku yang sedang keluar masuk dilubang senggamanya, kedua tanganku mulai beralih kearah kedua payudaranya yang sedang bergoyang akibat gerakan maju mundur kontolku itu, kugenggam kedua payudara itu dan kuremas-remas, sambil tetap menggenjotkan kontolku di lubang memeknya, irama keluar masuk kontolku itu mulai kunaikkan, desahan dan erangan keenakan Mbak Wati semakin sering terdengar, kulihat kedua pipi Mbak Wati semakin merona kemerahan, bukan karena malu tapi karena keenakan.
“Enaaakkk…Mbak…enaaakk…kontooollkkuu…Mbak…memekmuu uu…jugaaa…pereettt… sekaallliii…Mbak…enaaakk…legiittt…sudaaahhh..tidaa akk…sakiiittt…lagiiikan…Mbak,” erangku merasakan enaknya jepitan memek Mbak Wati yang ketat.
“Iyaaaa….aaaahhh…Heenn…iyaaaa….sudaaahh..tiddaakk. .terllaluuu..sakiitt…Heeenn.. ooouuugghhh….enaaakk…enaaakkk…punyammuuu…enaaak…se kallliii….oooohhh… ssshhhh…aaahhh…ssshhh…aaahhhh…panjaaanng…besaaarrr …teruss…Heennn… teruussss…kocoookkk..teruusss….,”erang Mbak Wati.
Akupun semakin semangat menggenjot kontolku keluar masuk dilubang senggamanya itu, kulihat mata Mbak Wati hanya terlihat putihnya saja dan dari mulutnya kudengar terus menerus mengeluarkan rintihan dan erangan keenakan, kadang-kadang kulihat pantatnya Mbak Wati terangkat menyambut kedatangan kontolku yang masuk kedalam lubang vaginanya itu, sehingga dengan otomatis kontolku melesak lebih dalam sehingga kurasakan kepala kontolku menyentuh dinding rahimnya, Mbak Watipun melenguh panjang merasakan hal itu, kedua tangannya meremas-remas kedua tanganku, akupun semakin kuat meremas-remas payudaranya, Mbak Watipun menggelinjang kegelian dan keenakan.
“Ooohhh…teruusss…Hen..remaasss..remasss…aaahhh….te tekkku….ooouugghhh… Hen aaahhhh…ssshhh…aaahhh..tekaaannn…yang…dalaaamm punyamuuu.itu…ooouugghh aaaahhh…ssshhh…aaahhh…aaahhh….,”Mbak Wati merintih-rintih keenakan.
Mendengar rintihan Mbak Wati akupun semakin meremas-remas payudaranya itu, dan juga semakin mempercepat ritme keluar masuk kontolku di lubang kenikmatan Mbak Wati, dan semakin dalam kutekan kontolku itu sehingga kepala kontolku itu semakin sering beradu dengan dinding rahim Mbak Wati, kulihat kelentitnya Mbak Wati semakin memerah akibat semakin cepatnya gerakan keluar masuk kontolku, suara kecipak yang terdengar akibat beradunya batang kemaluanku dengan dinding vaginanya yang semakin basah menambah sensasi yang luar biasa.
Tak lama bers***** kudengar Mbak Wati melenguh panjang pertanda puncak kenikmatannya berhasil ia rengkuh kembali, akupun merasakan hal yang sama desakan spermaku sudah mencapai di kepala kontolku, kocokan kontolkupun semakin kupercepat lagi agar puncak kenikmatanku bisa kurengkuh bersamaan, tanganku semakin ganas meremas-remas kedua bukit kembar Mbak Wati.
“Heeeennnnn….oooouuuggghhh…aakkuuu….tidddaaaakkk…t aahhhaaann….lagiiii…aku aaaahhhh….Heeenn….aaakkuuu…kellluaarrrr…aaaahhh…ss shhh…aaahhh..enaaakk… tekaaaannn….Hen…tekaaannn…kontooolllmuuu….ituuu…dd aaaallaammm…daalaam… oooohhhh…Heeennn….aaaahhhh….memekkkuu…muncraaatttt …..oooggghhhhh….,” Mbak Wati melenguh panjang.
“Aaaaaggghhhh….Mbaaakk, akuuuu…jugaaa…Mbak….aakkuuu….keluaaarr…memekmu berdeenyutt…..ooooggghhhh….nikmaaattt….enaaakk……aa aaahhhhh….,”erangku sambil menghujamkan kontolku kuat-kuat kedalam lubang memeknya.
Sssrrrrr….ccreeeetttt….ssssrrrrr….ccreeeetttt…ssss rrrr….creeeettttt….ssssrrrrr…kedua kemaluan kami saling berbalas menembakkan lahar kenikmatan, membasahi serta menghangatkan kemaluan kami.
Aku merasakan batang kemaluanku menjadi hangat oleh semburan lahar kenikmatan Mbak Wati juga kurasakan dinding vagina Mbak Wati berdenyut sangat kuat, akupun dibuatnya merem melek merasakan dinding vaginanya yang seolah-olah memeras-meras kontolku, sementara itu Mbak Wati juga merasakan dinding rahimnya menjadi hangat oleh tembakan spermaku dan ia juga merasakan kedutan-kedutan batang kontolku yang sedang menembakkan air mani.
Akhirnya akupun terkulai diatas tubuh Mbak Wati yang juga tergolek lemas, setelah kemaluan kami menyemburkan tetes terakhir lahar kenikmatan kami, nafas kami berdua masih memburu seolah kami baru saja berlari marathon, perlahan-lahan kontolku mulai menciut dan keluar dengan sendirinya dari lubang vagina Mbak Wati, kupagut bibir Mbak Wati yang sedikit terbuka dengan penuh mesra, Mbak Watipun membalas ciumanku itu dengan malu-malu, karena pertamanya dia menolak tapi akhirnya dia menikmati juga memeknya dientot olehku.
Setelah nafas kami kembali normal dan akupun membaringkan tubuhku disamping tubuh Mbak Wati, Mbak Watipun bangun dari tidurnya dan mengambil kimononya dan langsung mengenakannya, sebelum beranjak keluar dari ruanganku, dia berbisik di telingaku mengucapkan terima kasih atas kepuasan yang telah aku berikan kepadanya, akupun tersenyum, kulihat goyangan pantat Mbak Wati saat ia meninggalkan kamar tidurku, tak lama setelah Mbak Wati pergi, akupun bangkit dan menuju kamar mandi untuk mandi dan mencuci kontolku yang basah oleh cairan lahar kami.

Incoming search terms:

cerita dewasa petualangan hendra, cerita ngentot petualangan hendra, Ngentot wati, cerita mesum kakak ipar, ngentot mbak wati, cerita sek hendra, ngentot istri kakak cerita dewasa, cerita ngentot hendra, Ngentot sama wati, Cerita dewasa ngentot istri kakak, cerita ngentot wati, cerita dewasa wati, Kk iparku seksi, cerita mesum kakak ipar perempuan, Ceritadewasa: petualangan seks hendra, seks kakak, Kumpulan cerita nentot petualangan hendra, cerita dewasa kusetubuhi kakak istriku dan fotonya, cerita dewasa ml sama istri kakak, cerita dewasa petualangan ngentot, cerita ngentot kakak ipar cantik, cerita seks ngentot istri kakak, Ngentot dengan wati, wati menggelinjang, wati ngentot

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker