Monday , September 1 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Petualangan Seks Hendra, Kesetubuhi Yuni, Kakak Iparku Yang Agresif

Petualangan Seks Hendra, Kesetubuhi Yuni, Kakak Iparku Yang Agresif



Yuni


Pagi ini aku sedikit bermalas-malasan ditempat tidurnya, kupikir walaupun aku bangun pagi pasti semua orang sedang sibuk mempersiapkan acara untuk besok, hari ini hari Sabtu dan saat ini aku sedang liburan dan aku ingin menikmati liburanku di Bandung di rumah kedua orangtuaku ini dengan bermalas-malasan, dan aku tidak perduli dengan acara yang akan diselenggarakan besok siang, yang aku perdulikan adalah batang kemaluanku yang butuh pelampiasan saat ini, kontolku sedang ngaceng-ngacengnya, dan butuh sebuah lubang memek untuk disodok-sodoknya. Ingin rasanya aku mendatangi kamar Bi Ina atau kamar Mbak Wati untuk mengentot, tapi itu adalah tindakan bunuh diri, dan juga mereka pasti sudah ikut pergi, sambil mengelus-elus kontolku yang ngaceng, Aku berpikir keras bagaimana caranya dapat menyalurkan libidoku ini.

Pikiranku menerawang jauh, mataku kosong menatap langit, Saat itu aku tidak menyadari dan mendengar saat pintu kamarku ada yang mengetuk, bahkan sewaktu pintu kamarku mulai terbuka sedikit dan sesosok kepala melongok kedalam, Aku masih belum menyadari hal itu, dan sosok kepala tadipun terhenyak dan terpana saat matanya menangkap bentuk kemaluanku yang panjang dan besar melebihi rata-rata batang kemaluan lelaki Indonesia, kedua mata dari sosok kepala tadi berbinar tanda takjub melihat kemaluanku itu, dengan perlahan pintu kamarku ia buka lebih lebar sehingga tubuhnya yang mungil bisa menyelinap masuk kedalam kamarku, Aku masih belum menyadari hal tersebut, saat itu aku masih asyik melamun sambil memainkan batang kemaluanku yang sudah sangat tegang itu.
Sosok mungil yang sudah berada dalam kamarku itu adalah seorang perempuan, tubuhnya terlihat bergetar melihat besar dan panjangnya batang kemaluanku, belum pernah dia melihat kemaluan lelaki sebesar dan sepanjang ini, kecuali dia melihat di film-film BF yang sering ia tonton dengan suaminya, terlihat tangan kirinya mulai mengusap-usap kemaluannya sendiri dan tangan kanannya sendiri mulai meremas-remas payudaranya bergantian kiri dan kanan, sementara kakinya tanpa terasa m*****kah mendekati tempat tidur, semakin mendekat semakin tampak betapa gagahnya kemaluanku itu di matanya, nafasnya semakin memburu menahan nafsu birahinya, saat sosok tubuh itu duduk di tempat tidurku, Aku baru menyadari akan hadirnya seseorang di kamarku itu, dan Aku betul-betul terkejut saat melihat paras perempuan itu,
“Eeehhh…mbak Yuni, kapan masuknya,” Tanyaku terkejut pada sosok perempuan itu, yang ternyata adalah mbak Yuni kakak iparku.
Mbak Yuni menikah dengan abangku yang nomer dua, umurnya seumuran dengan abangku itu sekitar 32 tahunan, mereka sudah menikah selama hampir 4 tahunan tapi belum dikarunia anak satupun, Aku sendiri jarang memperhatikan mbak Yuni, karena sehari-harinya mbak Yuni selalu memakai pakaian yang hampir tidak pernah memperlihatkan lekuk tubuhnya, jelas aku merasa kaget saat melihat kakak iparku itu berada di dalam kamarku, sementara aku sedang bertelanjang bulat dengan kemaluanku yang sudah sangat tegang sekali dan tanganku yang sedang memainkan batang pusakaku.
“Hhheeehhh…dari tadi….aku sudah mengetuk pintumu, tapi tidak ada jawaban darimu, ketika kubuka sedikit pintu kamarmu kulihat kamu sedang asyik memainkan kemaluanmu ini, karena kulihat barangmu yang sangat besar dan panjang, hihihihi aku jadi penasaran” jelas mbak Yuni sambil tersenyum, Aku kaget dengan jawaban mbak Yuni yang langsung to the point, tanpa pakai berpura-pura.
“Terus mbak Yuni pengen sama batangku ini,” Tanyaku lagi mencoba memastikan.
“Hhhmmmm…kalau boleh, kalau gak ada yang marah, barangnya kupinjam sebentar, soalnya punyamu ini bikin ngiler, sangat besar dan panjang, hi..hi..hi…aku jadi pengen ngerasain kalau mekiku di rojok-rojok inimu,” jawab mbak Yuni genit, sambil mencubit batang kemaluan Hendra.
“Aaaahhh….mbak Yuni nakal, pake nyubit punyaku, nanti kugigit teteknya, mau?, memangnya punya kakakku gak sebesar punyaku yach, pake bilang pengen nyobain punyaku?” kataku.
“Hi..hi..hi…mau dong digigit, tapi aku lebih mau nyobain punyamu ini, yach gak lah punya kakakmu kecil dan pendek, yach seperti ukuran rata-rata orang Indonesialah, beda sama punyamu yang seukuran negro-negro yang di film-film itu,” jawab mbak Yuni.
“Boleh aku memegang punyamu ini,” lanjut mbak Yuni sambil kedua tangannya langsung meraih batang kemaluanku, dan barangkupun langsung dia genggam dengan kedua tangannya tersebut.
“Busyet ini barangmu, panjang sekali kedua tanganku tidak cukup untuk menggenggam punyamu, Hen, masih ada yang nongol nich, dan besarnya wuiiiihhhhh….jariku hampir tidak dapat menggenggamnya….ckckckckckck…..” lanjut mbak Yuni sambil berdecak kagum saat kedua tangannya itu menggenggam batangku.
“Penasaran mbak, pengen nyobain punyaku yach, hahahaha silahkan mbak, silahkan nikmati sepuasnya….hehehehehehe…biar mbak bisa menjerit-jerit keenakan nantinya,” kataku sambil tertawa, aku merasa gembira karena tidak perlu lagi memikirkan target untuk pelampiasan nafsuku yang sedang membludak ini.
“Ngomong-ngomong..orang-orang pada kemana, mbak?” Tanyaku penasaran dengan keberadaan mbak Yuni di kamarku dan agak sedikit kekhawatiran pada diriku karena takut orang-orang di rumah ini mencari diriku atau mencari mbak Yuni.
“Tenang saja, mereka pada pergi dan sedang sibuk mempersiapkan semuanya untuk acara besok, kakakmu juga sudah pergi dari tadi barengan sama yang lainnya, ceritanya aku akan menyusul siangan, makanya tadi kuketuk-ketuk pintu kamarmu untuk menanyakan jam berapa kamu akan pergi kesana” jelas mbak Yuni sambil kedua tangannya mulai memainkan kemaluanku.
“hhhmmmm….panteeesss….ooohhh….halusnya tanganmu mbaaakk…pantess…mbak ada di kamarku…dan sekarang berani memegang kontolku ini…oooohhh….mbak…ininya kubuka yach,” kataku sambil mendesah menikmati permainan tangan mbak Yuni di batang kemaluanku sambil bangkit dari tidurku dan tangankupun mulai meraih kemeja piyama mbak Yuni.
Dengan penuh penasaran ingin melihat bentuk payudara mbak Yuni, karena sehari-harinya mbak Yuni selalu mengenakan pakaian yang sangat longgar sehingga bentuk tubuh dan payudaranya tidak pernah terlihat dengan jelas, aku mulai melepaskan kancing kemeja piyamanya satu per satu, saat kemeja piyamanya terlepas aku betul-betul tidak menyangka toket kakak iparku ini lumayan besar kalau aku bandingkan toket kakak iparku ini sebesar toketnya Farah Quinn pembawa acara masak di salah satu stasiun TV, yach aku tidak menyangka dengan tubuhnya yang mungil tersebut, perawakan kakak iparku ini semungil perawakan Gita Gutawa tapi dengan toket sebesar Farah Quinn.
Bukit kembar mbak Yuni terlihat begitu menonjol, BH warna merah yang dikenakannya terlihat penuh sesak oleh jejalan kedua payudara mbak Yuni, dengan gemas aku mulai meremas-remas kedua payudara mbak Yuni tersebut, kedua tangankupun tidak sanggup menutupi kedua payudara mbak Yuni itu, sementara itu kedua tangan mbak Yunipun tidak tinggal diam, batang kemaluankupun mulai di kocok-kocok, kedua insan berlainan jenis inipun mulai terdengar mendesah-desah, 
“Ooooohhhh….ooohhh….oooohhh…ooohhh…ooohhh….,” mbak Yuni dan aku mendesah-desah berbarengan.
Tangan kananku menghentikan aksinya di payudara mbak Yuni, dan meluncur kebawah, dengan sedikit agak susah tangan kananku mencoba melucuti celana piyama mbak Yuni, mbak Yuni yang saat itu sedang posisi bersujud mencoba membantu usahaku dengan mengegol-ngegolkan pantatnya, sehingga celana piyamanya mulai terlepas sampai dengkulnya, kulihat warna hitam membayang di CD mbak Yuni yang berwarna merah dan agak sedikit transparan karena bahannya yang agak tipis juga dengan model yang agak jarang-jarang, melihat hal itu aku semakin bernafsu, kudorong perlahan tubuh mbak Yuni sehingga terlentang, setelah itu aku mulai melorotkan celana mbak Yuni, sekarang tubuh mbak Yuni hanya berbalutkan BH dan CDnya saja, dengan posisi miring di sebelah tubuh mbak Yuni yang terlentang, aku mulai menciumi bibir mbak Yuni dengan penuh nafsu, tangan kiriku mulai beraksi kembali di payudara mbak Yuni, sementara tangan kananku bermain di s*****kangan mbak Yuni, aku merasakan CDnya mbak Yuni sudah mulai basah, sementara itu tangan kanan Yunipun tidak mau ketinggalan mengocok-ngocok kemaluanku, tangan kirinya hanya bisa meremas-remas kepalaku sambil mulutnya aktif membalas cumbuanku.
Kedua lidah kami saling menyentuh, kadang-kadang dirongga mulutku, kadang-kadang dirongga mulut mbak Yuni, kamipun saling bertukar air ludah, aku sedikit kewalahan meladeni ciuman-ciuman mbak Yuni yang sangat bernafsu sekali, sementara kurasakan CDnya mbak Yuni sudah sangat basah sekali, tangan kananku semakin gencar menyerang memeknya dari balik CDnya, suara desahannya semakin sering kudengar, pantatnya sering terangkat seolah mengejar jari-jemariku agar menekan terus vaginanya.
“Oooohhh…ssslllrrppp…hhhhmmm…ssshhh…slllrrppp…hhhm mm…ssshhhh…aaahhhh hhhmmm…sslrrppp…hhhmmm…ssshhh…aaahh,” mbak Yuni mendesah-desah saat vaginanya yang masih tertutup CDnya terkena serangan jari-jemariku.
“Ooohhh….sssllrrppp…hhhmmm…oooohhh…Heeennn…sssudah …Hen…aku sudah tidak tahan..pengen ngerasain kontolmu…ooohhh…Hen…ssshhh..aaaahhh…hhhmmm..ssllrp p ooohhh…sshhh…Hen…masukin..kontolmu cepat kememekku…ooohh…sshhh…Hen….” Mbak Yuni melenguh memintaku untuk segera menusukkan batangku kedalam vaginanya.
“Hhhmmm…mbak Yuni sudah tidak tahan lagi…hehehe…” kataku sambil menghentikan ciuman dan permainan jari-jemariku.
Kedua tanganku meraih pinggiran CD mbak Yuni, dengan perlahan kuturunkan kebawah, sampai terlepas dari kedua kakinya, jembut hitam mbak Yuni terpampang di depan mataku, begitu juga dengan belahan vaginanya terlihat jelas oleh bola mataku, aku tidak bisa berlama-lama menatap kemaluan mbak Yuni itu apalagi ingin menjilati belahan mekinya serta menghisap-hisap itilnya, karena mbak Yuni sudah tidak sabar sekali ingin segera merasakan memeknya yang sudah basah dirojok oleh kontolku yang panjang dan besar.
“Oooohhh…Hen.cepat…dong…masukkin….. kontolmu..itu…ooohh…ayooo..cepat..Hen..,” pinta mbak Yuni lirih sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.
Kubimbing kontolku kearah memek mbak Yuni, kuoles-oleskan kepala kontolku dengan belahan mekinya mbak Yuni, mbak Yunipun melenguh kegelian merasakan sentuhan kepala kontolku di vagina dan klitorisnya, dengan tak sabar dia meraih kontolku dan mulai di selipkan pada vaginanya, mbak Yunipun mengerang saat kepala kontolku mulai menyeruak di belahan vaginanya,
“Auuwwwww….oooooggghhh….gilaaaa…besarnya kontolmu Hen…ooouuugghhh….mau robek rasanya memekku ini…ooooouuuugghhh….sssshhhh,” Erang mbak Yuni.
“Ssshhhh…aaaahhhh….dorong pelan-pelan Hen…oooouuugghhhh…” lanjut mbak Yuni meminta aku untuk mendorong masuk kontolku kedalam memeknya.
Kurasakan kepala kontolku terjepit sangat erat oleh vaginanya, lubang vaginanya kurasakan lebih sempit dari kepunyaan mbak Wati maupun Bi Ina, Mbak Yunipun semakin membuka kedua kakinya lebih lebar lagi, sementara kedua tangannya mencoba menahan kedua paha bagian dalamnya, akupun membantunya kupegangi kedua paha mbak Yuni agar posisi kakinya tidak menutup lagi sehingga dapat menambah sempit lubang senggamanya, dengan perlahan-lahan akupun mulai mendorong masuk kontolku, mbak Yuni kembali mengerang,
“Heeeennn….mati aku… oooouuugghhh…Heeennn… robek dach punyakuu…ooouugghh kontolmu besar sekali gak muat di memekku…ooooouugghhh….Heeenn….aaauuuwwww Heeennn….pelaaan..pellaaaaannn…” erangan mbak Yuni terdengar kembali saat kontolku mulai menyeruak masuk perlahan-lahan di lubang senggamanya.
Kurasakan vagina mbak Yuni begitu menjepit sekali batang kemaluanku, sungguh beruntung aku dapat merasakan vaginanya yang sangat sempit ini, aku berani taruhan bahwa kakakku tidak tiap hari ngentotin bininya ini, dan merasakan sempitnya vagina mbak Yuni ini pasti punya abangku ini kecil sekali diameternya.
“Iyach..mbak ini juga pelan-pelan, punya mbak aja yang kecil lubangnya, tenang mbak pasti muat, nanti juga akan merasa enak dan nikmat,” kataku sambil terus berusaha menekan kontolku agar semakin melesak masuk kedalam lubang senggamanya.
“Oooohhh…gilaaaa….ooohhh…bussyeeeett….ooohhh…aaamp ppuunn….Henn…aampun ooohhhh…aadduuhhhh….memekku seperti terbelah dua….Hen…kontolmu betul-betul besaaaarrr…sekaliii…ooohhh…aampun..Hen…berhenti…du lu…Hen…biar aku ambil nafas…dulu…adduuuhhh…ooohhh…ammpuuunnn…Henn..sstoo opppp…dulluuu…,’ mbak Yuni mengerang menahan sakit atas terjangan kontolku di memeknya.
Aku tidak mengikuti permintaan mbak Yuni untuk menghentikan terjangan kontolku, tapi tetap dengan perlahan-lahan kontolku ku dorong memasuki lorong kenikmatannya, sudah setengahnya kontolku berada dalam relung kenikmatan mbak Yuni, kulihat nafas mbak Yuni tersengal-sengal menahan sakit di vaginanya yang sedang penuh sesak di jejali kontolku ini, kulihat mulutnya megap-megap seperti mulut ikan yang kekurangan air, kontolkupun terus kudorong masuk sampai betul-betul mentok tidak bisa lagi masuk lebih dalam lagi di relung kenikmatan mbak Yuni, dan setelah itu kudiamkan kontolku berendam di lubang senggamanya mbak Yuni sambil memberi kesempatan pada mbak Yuni untuk mengambil nafas dan menyesuaikan lesakan kontolku di memeknya, aku merasakan dinding vagina mbak Yuni berdenyut-denyut kuat seolah-olah meremas-remas kontolku.
Mbak Yuni tergolek lemas menahan rasa sakit akibat memeknya yang di terobos oleh kontolku yang panjang dan besar, memeknya belum pernah mengalami di terjang oleh kemaluan yang besar dan panjang, ini adalah yang pengalaman yang pertama untuknya, nafasnya masih tersengal-sengal, matanya terpejam mencoba untuk merasakan memeknya yang penuh sesak terisi oleh kontolku ini.
“Oooouuuugghhhh…gila Hen..kontolmu gila…besar sekali memekku seperti terbelah dua diterjang kontolmu itu…hhheeeehhhh….sakit tapi sekarang mulai terasa sedikit enak, tapi kurasakan sedikit agak perih memekku ini, uuuhhhhh… jangan di gerakkan dulu kontolmu yach…Hen…biar terbiasa dulu memekku dengan ukuran kontolmu itu,” desah mbak Yuni.
“Iyach mbak, memekmu juga rapet sekali, kakakku jarang ngentotin mbak yach, hehehe” kataku sambil merasakan dinding vaginanya mbak Yuni yang menjepit sangat kuat tongkolku ini.
“Oouugghh…Hen..bukan jarang tapi kontolnya kakakmu itu yang kecil, apalagi kalau dibandingkan dengan kepunyaanmu…oooouugghhh…sesak sekali rasanya memekku oleh jejalan kontolmu ini,” kata mbak Yuni.
“Hendra, cumbu aku, ciumi aku,” lanjut mbak Yuni.
Akupun mengikuti kemauannya tersebut, kucondongkan tubuhku, wajahku mendekati wajahnya, bibirku bertemu dengan bibirnya, kamipun kembali berpagutan dengan penuh nafsu, lidah kami saling mencari, kedua tangan mbak Yuni melingkar di leherku, 
“hheeeeeggghhhhhh….aauuuwwww….hhhhhmmm…sssllrrpppp …hhhmmmmmm….ssshh hhhhhmmmm…ssslllrrpppppp….aaauuuugghhh….hhhmmm…sss lllrrpppp….” mbak Yuni mengerang dan mendesah saat merasakan kontolku yang menyelusup lebih dalam di relung vaginanya.
Karena aku mencondongkan tubuhku kearah tubuhnya sehingga mengakibatkan kontolku bergerak secara otomatis masuk lebih dalam di lubang vagina mbak Yuni, kulihat wajah mbak Yuni sedikit meringis dan mulutnya mengeluarkan suara erangan sebelum bibir kami bertemu, mbak Yuni berusaha membuka kakinya lebih lebar lagi, dengan bertumpu pada kedua lenganku, akupun meladeni ciuman-ciuman penuh nafsu mbak Yuni.
Perlahan-lahan aku mulai menggerakkan kontolku keluar-masuk di lubang senggama mbak Yuni, setelah kulihat mbak Yuni sudah dapat menikmati kontolku yang memenuhi rongga senggamanya, dengan pelan-pelan kontolku mulai kutarik keluar dari jepitan memeknya tapi tidak sampai tercabut semuanya, kemudian kutekan masuk lagi kedalam lubang itu dengan pelan-pelan juga, kurasakan batangku sangat erat sekali bergesekan dengan dinding vaginanya, mbak Yunipun mengerang kembali merasakan kontolku yang keluar masuk di dalam lubang vaginanya, apalagi saat aku menekan masuk
“Ooooouuugghhhh….Heeenn…aauuuwwww….hhheeeeggghhh…a aaahhh….sshhhhhh… aaaahhhh…aaauuuwwwww….ssshhhh…oooouuughhh….gila Hen, pelan-pelan Hen, kontolmu terlalu besaaaaarr…..ooooouuughhh….ssshhh…hhhmmm…sssllrrpp pp….aaahh oooouuhhhh…ssshhh…ssslllrpppp…hhhmmmm…..” mbak Yuni mengerang.
Ssssrrrrtttttt……..Bllleeeeeeeesssss……sssssssrrrrtt tttt……bblleeeeesssssss…. perlahan-lahan kemaluanku kutarik dan kutekan di dalam lubang senggama mbak Yuni.
“Pelan Hen, ooouuugghhh…sakiiiitt…memekku aaddduuuhh…ooouuugghhhh…aahhhhh ssshhhhh…Hen….pelan…Hen…pelan…memekku robeeekk..kontolmu ooouuugghhhh… aaahhh…ssshhh…aaahhhh…Hen…ampuuunn…oooouuughhh…Hen ….ooouugghhh…” mbak Yuni merintih-rintih saat memeknya di rojok-rojok oleh kontolku.
“bentar mbak, bentar…tahan…oooohhh…sempit sekali memekmu mbak, enak…nanti juga mbak akan keenakan di entot olehku…” kataku.
Lama-lama jepitan memek mbak Yuni mulai agak sedikit melonggar karena cairan precum punyaku dan punya dia sudah semakin sering keluar, erangan dan rintihan mbak Yuni sudah mulai jarang yang sering kudengar sekarang adalah desahan-desahan mbak Yuni dan lenguhan-lenguhannya.
“Oooooohhhh….Heennn…pelaann..pelaaann….kontolmu keluar masuk di memeku..Hen, ooohhh…aaahhh…ooohhh…sshhh..aaahhh…yaaahhh…begiitu uuu…pelaan…teruss Hen, oooohhh….aku mulai enaaaakkkk dientot olehmu Hen, oooohhh…ssshhh…aaaaahhhhhh Hendraaaaaa, ooohhhh….ssshhh….genjot perlahan Hen, kontolmu itu….ooohhh…aaahhh ssshhh…aaahhh,” mbak Yuni mulai mendesah-desah keenakan, rasa sakit yang dia rasakan sudah berkurang yang ada sekarang dirasakan oleh mbak Yuni adalah rasa enak saat memeknya di sodok-sodok kontolku.
Ssssrrrrrtttttttt….Bleeeeessssss……ssssssrrrrttttt… ..bleeeeeesssss…. kemaluanku tetap dengan perlahan-lahan keluar masuk di dalam lubang vagina mbak Yuni.
Mbak Yuni semakin bertambah nafsu, kedua kakinya sudah mulai di angkat dan di letakkan di kedua pinggangku, aku merasakan memek mbak Yuni semakin basah, dan suara desahannya semakin sering terdengar, mbak Yuni sudah dapat menikmati genjotan-genjotan kontolku yang sedang keluar masuk di memeknya tanpa rasa sakit lagi, matanyapun kulihat merem melek, 
Srrrrrtttttttt…….bleeeeeesssss….sssrrrttttt….bleee ssss…sssrrrrttttt….bleeeesss…sssrrrtttt kontolku agak lumayan lancar keluar masuk di memek mbak Yuni.
“Oooohhh…Heen…ooohhh…terus entot aku…puaskan..akuu..ooohhh…nikmaattt…ooohh aaaahhhh…Heeen…ssshhh..aaahh…sshhh…aaah…terus genjot kontolmu itu…ooohhh besar dan panjaaaaannngg….aaahhh…ssshhh…aaahhh…ooohhh…ampun enaaakk sekali kontolmuu..ini..Heeennn…aaaaahhh..ssshhh…aaahh..” mbak Yuni mendesah terus menerus.
Kuhujamkan kontolku dalam-dalam sampai mentok ke dinding rahimnya mbak Yuni setiap aku mendorong masuk kontolku itu, setiap dinding rahimnya tersentuh oleh kepala kontolku, mbak Yunipun melenguh panjang, 
“Uuuuggghhhh….Heeenn….kontooollmu masuk sekalii…ooohh…dinding rahimku..ooohhh kena sodok kontolmu itu….ooohhh panjang sekali punyamu…oooohh…belum pernah aku merasakan seperti ini…oooohhh…aaahhh…sssshhhhhh…aaahhhh….lagi tekan yang dalam…ooohh…tekan yang kuat Hen…” mbak Yuni melenguh saat merasakan dinding rahimnya diterjang kepala kontolku.
Ssssrrtttt…bleeeesssss…sssrrttt…bleeessss…sssrrrtt tt…bleeesss…sssrttt…bleessss… akupun semakin menekan dalam-dalam kontolku itu saat mendorong masuk kontolku di lubang memeknya.
Cairan precumnya semakin mengalir deras di lubang memeknya mbak Yuni, bunyi kecipak beradunya kemaluan kami mulai terdengar, akupun semakin semangat mengocok-ngocok memek mbak Yuni dengan kontolku ini, walaupun gerakan keluar-masuk kontolku masih dalam tahap perlahan belum bisa kupercepat ritmenya, karena aku takut mbak Yuni akan kesakitan, tapi gerakanku sudah dapat membuat mbak Yuni keenakan merasakan sodokan-sodokan kontolku itu, matanya merem-melek menikmati persetubuhan ini.
“Oooohhh…Heennn, ooohhh…sshhh…aaahhh…enaaakk….di entot kamu…ooohhhhhhh aaaahh…sssshhh…aakuu gak tahan lagi…Hen, aku mau keluar…ooohh…ssshhh..aaahh Heennn….tekan yang kuat..masukkan kontolmu semuanya Heennn, ooohhh…ssshhhhhh aaaahhhhh…Heenddraaaaaa…..aakuuu……kkkhheeelluuaaar rr…..ooooohhh….eenaaakk aaaahhhh….sssshhhh….aaakuu…puaaaasssss….” mbak Yuni melenguh saat mencapai puncak orgasmenya.
Saat dia menjerit puas, akupun menghujamkan kontolku dalam-dalam di dalam relung kenikmatannya, kemudian kudiamkan kontolku untuk memberikan kesempatan pada dia merasakan puncak orgasmenya yang baru saja ia raih, mungkin untuk pertama kalinya bagi dia merasakan orgasme, dan kurasakan dinding vaginanya berdenyut sangat kuat dan kurasakan batang kemaluanku menjadi hangat oleh siraman lahar kenikmatannya,
Ssssrrrrrrr…..ssssrrrrr…sssrrrrr….sssrrrrrr….ssssr rrrr…. vaginanya menyemburkan lahar kenikmatan, kulihat kedua mata mbak Yuni putih semua, pertanda dia betul-betul mencapai orgasme yang hebat, akupun tersenyum bangga karena berhasil menaklukkan seorang wanita lagi.
“Ooohhh..Hen, aku betul-betul puas dan enak, hhhmmmm…belum pernah aku mencapai puncak orgasme seperti sekarang, kontolmu betul-betul hebat, hhmmmmm…. Nikmat sekali dientot sama kamu….” Mbak Yuni mendesah lirih setelah selesai menikmati detik-detik orgasmenya itu.
“Kamu belum keluar, Hen.” lanjut mbak Yuni.
“hehehe…mau lagi mbak, mbak Yuni mau enak lagi, mau orgasme lagi, aku sich belum apa-apa, tenang saja mbak, akan kubuat mbak puas dulu, akan kubuat mbak selalu kangen sama kontolku ini,” jawabku.
“iihhhh…kamu jahat Hen, kalau aku selalu kangen sama punyamu, bagaimana cara melepas rindunya, kamukan ada di Jakarta sedangkan aku ada di Bandung,” tanya mbak Yuni.
“Tenang saja mbak, kalau mbak kangen sama punyaku, mbak tinggal telephon aku, nanti aku akan datang ke Bandung khusus untuk ngentotin mbak Yuni lagi sampai merem melek, atau mbak Yuni datang ke Jakarta, biar lebih bebas lagi kita ngentotnya, hehehehe” jawabku
“Hhhhhmmm…tapi aku pengennya tiap hari dientot kamu, hihihihihi…biar tiap hari aku bisa orgasme dan bisa merasakan punyamu yang besar dan panjang,” kata mbak Yuni dengan genitnya sambil mencium pipiku.
“hehehehe…kalau tiap hari sich bukannya kangen mbakku sayang, tapi maruk, udah siap lagi buat di sodok kontolku ini,” kataku sambil menarik kontolku lalu menghujamkannya kuat-kuat.
“aaaahhhhh…..sssshhhh….hhheeeeggghhhhhh…udah…memek ku udah siap menerima kejantananmu lagi,” mbak Yuni mengerang saat aku menghujamkan kontolku dengan kuat.
Tanpa menunggu lama lagi, akupun mulai kembali melakukan aksiku, pertama-tama kontolku keluar masuk dengan perlahan-lahan, mbak Yunipun mulai melenguh kembali merasakan gesekan-gesekan batang kemaluanku dengan dinding vaginanya, walaupun sudah sangat basah sekali memeknya mbak Yuni tapi tetap saja dinding vaginanya mencengkram kuat batang kemaluanku, memeknya masih peret saja kurasakan.
“Oooohhh…mbak…memekmu masih peret saja…ooohh….enak betul nich memeknya mbak, kupercepat sedikit yach mbak,” kataku.
“Iyaaaahhh…Hen, percepat keluar masuknya kontolmu itu…ooohhh….aku juga….. memekku…ooohhh…aaahhh…enak..disodok kontolmu itu…Hen,” jawab mbak Yuni.
Aku mulai menaikkan ritme gerakanku, kontolku semakin gencar mengocok-ocok memek mbak Yuni, kami berdua semakin mendesah-desah kenikmatan, sssrrttttt…bleeessssss… sssrrrttttt….bleeessss…ssrrrttt…bleesssss….sssrrtt tt….bleessss…sssrrrttt…bleessssss…
“Hen..terus…Hen…terus genjot kontolmu itu, makin cepat oooohhhhh…enaaaakkkk…. Ooohhhh…aaaaahhh…sshhh” desah mbak Yuni.
“mbak Yuniiii….ooohhh…oooohhh…ooohhhh…. memekmu mbak, nikmaaatttt.” Akupun mendesah.
“Aaaaagghhhhhhhh……ooohhh….oooohhh….” mbak Yuni melenguh saat merasakan dinding rahimnya terkena sundulan kepala kontolku.
“Gillaaaa….Hen….kontolmu sampai mentok terus-terus kedinding rahimku…tapi enaaaak oooohhh…Hen…lagi…sssodok yang dalam tekan yang kuat…ooooouuuugghhhhhhhh… Hen…terusss…Hen…lagi….ooouuuuggghhhhhh….Hen….tekan yang dalam lagi…..Hen.. ooouuugghhhhhh….aaaahhh…ssshhh…aaahhh…ooouuugghhhh ….” mbak Yuni mendesah.
Posisikupun kurubah, dengan bertumpu pada kedua lututku akupun terus menggenjot mbak Yuni, kedua tanganku mulai aktif, kuraih tali BH mbak Yuni dan kuloloskan melewati tangannya, setelah itu kutarik BH tersebut kebawah, sehingga kedua bukit kembar mbak Yuni terlepas dari persembunyiannya, dengan penuh nafsu kedua bukit kembar itu mulai kuremas-remas, dan kedua putingnya yang sudah tegak mengacung kupilin-pilin, mbak Yuni semakin mendesah-desah.
“Ooooohhh…Heennn…ooohhh..aaaahhh..sssshhh..aaahhh… ssshh…oooohhh…aaahhhh ssshhh..aahhh..ssshhh..aaahhh…” desah mbak Yuni.
Dengan kedua tangan sibuk bermain di kedua bukit kembarnya, pantatku tidak berhenti bergerak maju-mundur dengan cepat, kulihat kontolku timbul tenggelam dalam lubang kenikmatan mbak Yuni, aku dan mbak Yunipun semakin mendesah-desah.
“Ooohhh…mbak…tetekmu besar jugaaa..ooohhh…memekmu sempit tetekmu besar… oooohhh…sungguh nikmat sekali dapat mengentotmu mbak….oooohhhh,” desahku.
“Ooooouuugghhh….Hen…oooohhh…ssshh..aahhh..yaaachh… Hen..remas…… tetekku…. Yang kuat Hen…ooohhh…aaahh…ooougghhhh….aaahh….ssshhh…aaahhh… ooougghhh Hen…enaaaaakkk….ooooohhh…aaahh…nikmaat…oouughhhh…. aaaawwwwwww…..” mbak Yuni mendesah dan menjerit saat kedua putingnya kutarik.
“Gillaaaa…Hen….geli dan nikmaatt…eeehh…aaaaahhh…tarik lagi kedua putingku…aahh oooohhh…ooougghhh…aaaawwwwwww….oooggghhh…aaahhh…ss shhh..aaaaahhhhh Hendraaaaa…..oooouuugghhh….aaawwww….” mbak Yunipun kembali mendesah.
“Enak…mbak, enak kontolku mbak…aaaahhh..memekmu juga enak sekali….aaahhhhhhh sempiittt…sekali….aaaahhh….enak ngentotmu mbak…..” desahku.
“oooohhh…ooouugghhh….enaaakk…Hen…enak…kontolmu enak sekali…panjang dan besaaaarrr…ooouugghhh…aawww….Hen….puas aku….dientot kontolmu ini…..” desah mbak Yuni.
Akupun semakin bernafsu ingin segera menuntaskan perjuangan ini, kontolkupun semakin gencar kukeluar-masukkan di memek mbak Yuni, tubuh mbak Yunipun berguncang-guncang akibat gerakanku yang semakin cepat dan kuat saat mendorong kontolku masuk di lubang vaginanya, kedua teteknya yang masih dalam remasan tangankupun ikut bergoyang juga, desahan-desahannya semakin sering terdengar.
“Oooouuuggghhhh…Heenn…oooouuugghhh…Hen….oooohh..ss hhh..aaahhh…ssshhhh ooouugghhh…Hen…aaku…bisa gak tahan lagi…kalau kamu…seperti ituuuuu…oooohhh sssshhh…aaahhh…Heeenn…aakuu bisaaa…keluaaarrr….lagiiii…ooohhh…Heeenn….. aaahhhhh….Heenndraaa…..pelaaann…aku bisa ngecret..lagiiii…Hen…ooohhh…Heen… teruuusss…aaahhh…Heeenn….aaakkuuu…mau kelluuaaarr…laagiii…akuuu…ooohhhhh Heeennn…aaaahhh…” mbak Yuni merintih-rintih keenakan menerima sodokanku yang semakin gencar mendera memeknya.
“Uuuuuggghhhhh….mbak…jangan ditahan…mbak…aku juga udah mau keluar…mbakkk.. akuuu…juga udahhh…aaaahhh…mbak…aaahhh…ooohhh…aakuu..juga..sud ah….tidak tahan lagi…nich…mbak Yuniiiiiiii……oooohhh….aaakkuuu…keluaaaarrrr…..” Akupun mengerang merasakan kontolku yang menyemburkan air mani dalam memek mbak Yuni.
Kuhujamkan dalam-dalam kontolku kedalam lubang vagina mbak Yuni, kontolku pun muncrat menyemburkan air mani menyirami lubang rahim mbak Yuni, Creeeettt….creeettttt…creeetttt….ccreeettt…ccreeet ttt…ccreeetttt,
dan hampir bersamaan dengan kontolku yang sedang menembakkan air maninya, mbak Yunipun mengerang panjang,
“Ooooooooohhhhhhhhhh…Heeendraaaa….aaachhhh…aakuu…k eluaaarrrr…oooohhh… Hen…enaaakkk….aaaakuuu…puaaasssss….Heennn…ooohhh…a aaahhhh….sssshhhh aaaaaahhhhhhh…oooooohhhhh….” Mbak Yuni mengerang panjang.
Vagina mbak Yuni menyemburkan lahar kenikmatannya membasahi batang kemaluanku, Ssssssrrrrrrrr….ssrrrrrrr….sssssrrrrrrr….sssssrrrr rr….sssssrrrrr….. aku merasakan kembali hangatnya lahar kenikmatan mbak Yuni, sementara itu mbak Yuni juga merasakan hal yang sama saat dinding rahimnya terkena tembakan-tembakan air maniku, dia merasakan hangat pada dinding rahimnya itu.
Sambil menikmati kontolku yang sedangt berdenyut-denyut mengeluarkan pejuhnya, aku mendoyongkan tubuhku, bibirku kuarahkan ke kedua bukit kembar mbak Yuni, kuhisap-hisap kedua teteknya dengan penuh nafsu dan gemes, mbak Yunipun melenguh menikmati hisapan-hisapan mulutku di kedua teteknya.
“Oooooohhhh…Heeenn….hisap yang kuat tetekku…ooohhhh…nikmat…hangat memekku oleh pejuhmu…ooooohhhh…Heennn..” lenguh mbak Yuni.
“Hhhmmmmm….ssslrrrpppp…sslrrppppp…sssllrrpppp….hhh mmmm…sslrrppp…sllrppppp hhhhmmmm….ssslrrrpppp….kontolku juga hangat mbak oleh cairanmu……hhhmmmmm ssllrrpppp…sslrrpppp….” Jawabku sambil masih tetap menghisap-hisap teteknya.
“Hen…hhhmmmm…aku pengen terus dientot kamu…..aku pengen terus kontolmu nyodok-nyodok punyaku….Heeennn….” bisik mbak Yuni lirih.
“hehehehe…aku juga pengen terus ngentotmu mbak….memekmu juga enak sempit sekali, hhhmmmm ssssllrrpppp…sssllrrpppp” sahutku sambil melanjutkan menghisap-hisap teteknya.
Kontolku berhenti berdenyut dan berhenti mengeluarkan air pejuhnya, begitupula dengan lubang vagina mbak Yuni yang berhenti mengeluarkan cairan lahar kenikmatannya, kontolku perlahan-lahan mulai menciut, akhirnya dengan berat hati kukeluarkan kontolku dari jepitan lubang vaginanya, akupun berbaring disamping mbak Yuni dengan nafas masih memburu, kupeluk tubuh mak Yuni kucium mesra bibirnya, dan disambut oleh mbak Yuni.
Pagi itu aku merasa puas dapat merasakan tubuh mungil mbak Yuni terutama merasakan memeknya yang sempit, mbak Yunipun sama merasa sangat puas sekali dapat merasakan kontolku yang panjang dan besar dan berhasil meraih 2 kali orgasme. Tapi tanpa kami sadari perbuatan kami tadi ada yang melihat…………..

Incoming search terms:

cerita memek kakak, cerita dewasa kakak ipar, memek kakak ipar, memek kakak, cerita memek ipar, Cerita memek kakak ipar, cerita dewasa hendra, ngentot memek kakak ipar, Cerita ngentot memek kakak ipar, ngentot dengan kakak ipar, Cerita sek kakak, cerita seks agresif, cerita rojok memek, Ngentot memek kakak, memek kakak tiriku, kakakipargenit, Cerita ngentot petualangan seks hendra, memekkakakipar, Ceritamemekkakakipar, kakak ipar genit, cerita ngentot memek peret, nikmatnya memek adik ipar, Memek ipar jilbab, ngentot memek adik ipar, cerita ngentot kakak ipar genit

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker