Saturday , September 20 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Shopie, Suamiku Onani Saat Aku Disetubuhi Pria Lain

Shopie, Suamiku Onani Saat Aku Disetubuhi Pria Lain


Shopie


Sophie duduk pada kursi meja makan. Biarpun merasa sedikit kelelahan, tapi dia merasa lega karena seluruh rumah telah tertata rapi. Butuh sepanjang siang tapi sekarang semuanya sudah hampir selesai. Hanya tinggal meja kaca yang tersisa untuk dibersihkan sekarang dan dia bisa berendam di air hangat selama yang dia suka. Dia membayangkan Josh, kekasihnya selama 3 tahun, akan segera pulang tapi itu masih terlalu lama untuknya. Pagi tadi dia bangun dengan birahi yang membumbung tinggi hingga mungkin dia bisa saja meniduri pejantan pertama yang dekat sekitarnya. Sebenarnya hampir dia gunakan vibrator kesukaannya yang tersimpan di dalam laci dresser yang paling bawah, tapi dia lebih suka cita rasa kekenyalan batang penis yang sebenarnya dibandingkan kerasnya plastik. Tak ada letup kesenangan dengan vibrator, dia hanya akan menggunakannya saja. Tak sama saat Josh dan dia berhubungan seks. Di manapun dan kapan saja, dia suka dengan sensasi hampir terpergok, selalu bisa dia dapatkan orgasme besar saat ada resiko. Melihat pada jam di dinding, dia baru sadar kalau sudah menghabiskan sepanjang hari, masih 2 jam lagi baru Josh pulang. Lalu dia berdiri dan memakai penggilap untuk membersihkan meja hingga bersih berkilat.

“Ini bisa sedikit meredakan tegangku.” dia tersenyum pada dirinya sendiri sambil melangkah menuju ke kamar mandi untuk berendam.
Lebih dari satu jam berikutnya, Sophie sedang memilah pakaian, coba menentukan pilihan mana yang akan dia pakai.
“Hmmm” gumamnya, “Bagaimana kalau kamu!” ucapnya, menatap sebuah summer dress berwarna hitam.
Dia melangkah ke depan cermin dan memegangi piihannya tersebut di depan tubuhnya, dipertimbangkan sebentar sebelum akhirnya melemparkannya ke atas ranjang. Warna hitam terlalu mewah untuk hari ini. Sekilas terlintas untuk sepasang jeans pendek dan kaos tapi dia kesampingkan ide tersebut, makan waktu lama untuk melepas jeans nantinya. Tiba-tiba sebuah ide datang dan dia langsung memilah pakaiannya lagi, dia temukan yang dicarinya, mengambilnya dan langsung dia kenakan. Berdiri di depan cermin berukuran besar, Sophie tersenyum pada dirinya sendiri. Di usianya yang ke 22 tahun dia tumbuh jadi seorang wanita yang memukau. Rambutnya dia biarkan panjang melebihi bahu, sepasang mata bulat besar, bibir penuh yang seakan memang diciptakan demi kenikmatan mengisap batang penis, pinggang ramping yang membuat tubuh berlekuk menggoda. Buah dada membulat besar dan kencang, meskipun tubuhnya tak setinggi para model, namun sepasang kakinya terlihat begitu indah. Dia adalah sosok impian para pria. Selalu ada siulan menggoda kala dia melenggang di hadapan mereka dan Sophie menyukai semua perhatian tersebut. Bahkan suatu saat ada seorang pria paruh baya yang mencubit pantatnya saat dia lewat di depannya. Pria usia belasan tak luput juga untuk mencoba menyentuh buah dadanya. Sophie masih ingat saat ada dua orang remaja yang menawarkan diri untuk membersihkan tamannya, tapi mata mereka tak bisa berpaling lepas dari tubuhnya, begitu Sophie berbaring santai menikmati sinar matahari di kursi malasnya dengan memakai bikini. Well, Sophie rasa mereka pantas mendapat bayaran tambahan. Tapi dengan hanya kain begitu minim menutupi tubuhnya, dia bisa membuat setiap pria lugu akan langsung keluar di dalam celananya hanya dengan melihat keindahan tubuhnya saja. Dia pilih rok mini warna kuning, model yang sama seperti yang dulu dia pakai sekolah, sepatu kets putih bergaris kuning dan kaos putih dengan suspender yang membuat pusarnya mengintip dari balik kaos serta memperjelas bentuk tubuh dan buah dadanya..
“Damn girl, kamu memang sexy!” ucapnya pada diri sendiri sambil tersenyum, lalu dia turun ke lantai bawah untuk mengambil minuman dingin.
***
Mobil Josh memasuki pekarangan, langsung dia matikan mesin mobilnya. Dia sudah tak sabar untuk menyaksikan pertandingan besar malam ini. Sudah dinantikannya begitu lama untuk menyaksikan siaran langsung ini. Telah dia pacu mobilnya secepat yang dia mampu agar sampai rumah tepat waktu dan sekarang pertandingannya akan mulai setengah jam lagi.
“Kamu memang benar-benar menunggu pertandingan ini ya?” tanya Ben sambil menyeringai lebar.
Dia lebih tinggi dari Josh tapi bertubuh lebih kecil. Mereka telah berteman sejak sekolah dan tumbuh besar bersama. Ben juga suka sepakbola, tapi lebih bermuka tebal dibandingkan Josh.
“Pastilah Ben, ini kan pertandingan terbesar musim ini.” Jawab Josh saat dia keluar dari mobil.
Keduanya terus bercanda tentang masa lalu saat melangkah ke pintu depan. Begitu mereka masuk ke ruang tengah, Sophie muncul dari dapur dan langsung berlari memeluk Josh mesra, sebuah ciuman penuh hasrat dia berikan pada kekasihnya itu. Setelah beberapa saat, Sophie baru sadar kalau mereka tidaklah sendirian, lalu dia hentikan ciumannya dan sedikit mundur.
“Oh, hai Ben” dia tersenyum dengan wajah jengah.
“Hai Soph” jawab Ben dengan seringai lebar.
“Hai babe. Ben kemari untuk nonton pertandingannya malam ini, kamu ingat kalau aku pernah bilang kan?” tanya Josh.
“Oh yeah, tentu aku ingat.” Jawab Sophie dengan wajah lebih merona lagi, “Silahkan duduk, akan kuambilkan minum dan camilan. Aku akan bikin makan malam untuk nanti, jadi jangan sampai kekenyangan dulu.” Ucapnya dengan bercanda.
“Aku sanggup menghabiskan semua camilan sekaligus makan malamnya nanti.” Jawab Ben setelah tertawa. “Aku kan punya nafsu besar.”
Sophie memberinya senyuman kecil lalu melangkah pergi menuju dapur. Sophie terlihat begitu menggiurkan dengan pakaian yang dia kenakan hingga Josh berpikir untuk membatalkan acara nontonnya dan langsung menyeret kekasihnya tersebut ke kamar tidur.
“Dia bisa menungguku malam nanti, aku akan nonton pertandingannya dulu, baru menikmati tubuhnya nanti.”
Akhirnya Josh memutuskan. Dia duduk di sofa sedangkan Ben duduk di kursi sebelah kirinya. Ruang tengah tersebut berukuran luas, dengan sofa yang menghadap langsung ke arah tv, sebuah sofa lain di sebelah kanan dan sebuah kursi di sebelah kiri. Sebuah lorong terletak di belakang kursi dan ruangan dapur terletak tak begitu jauh di belakang sofa yang satunya. Sebuah pintu kaca dengan tirai tipis berwarna putih sebagai penyekat antara ruang tengah dan dapur. Secara keseluruhan rumah ini tidak besar tapi masih terbilang cukup luas. Dapurnya sendiri berukuran cukup besar hingga pintu kaca tersebut masih menyisakan ruang kecil di antara konter di sebelah kiri dan meja di sebelah kanannya. Sophie melangkah ke kulkas dan mengambil beberapa bungkus keripik kentang serta beberapa kaleng bir,
“Kenapa harus malam ini? Mestinya aku ingat. Apa yang harus kulakukan? Aku sangat horny!”
Dia diam beberapa waktu untuk meredakan gejolak dirinya lalu membawa camilan beserta kaleng bir ke ruang tengah. Setelah Sophie pergi ke dapur, Ben kemudian duduk di kursi dan berkata dalam hati, betapa sexy-nya penampilan Sophie.
“Aku sanggup menyetubuhinya hingga dia tak akan sadar apa yang sedang terjadi.” Baru saja Ben memikirkan itu, Sophie muncul dari dapur dengan membawa camilan dan bir. Dia melangkah ke sofa yang satunya lalu membungkuk untuk menaruh bawaannya di atas meja kecil di tengah mereka.
Ketika Sophie sedang membungkuk, kaos yang dia pakai bergerak menjauh dari dadanya hingga menyuguhkan sebuah pemandangan kecil dari belahan dadanya untuk Ben. Jika saja dia membungkuk lebih rendah lagi, Ben akan bisa melihat seluruh buah dadanya yang indah, tapi meskipun hanya belahan dadanya, yang terlihat hanya beberapa saat saja, sudah bisa membuat celananya sesak. Ben melirik ke arah Josh, dia tidak melihatnya dan kembali Ben melirik Sophie. Tapi saat pandangan matanya kembali, kini Sophie sudah duduk dengan menyilangkan kaki sedang melihat tv. Ben berharap dia bisa megajak Josh taruhan dengan mempertaruhkan kekasihnya tersebut, seperti yang sering dia baca di cerita, agar kalau dia menang bisa menikmati keindahan tubuh Sophie. Tapi cerita fantasi berbeda dengan kenyataan, Ben hanya bisa memandangi keindahan sepasang paha halus milik Sophie. Sophie merapatkan kedua pahanya erat, karena jika tidak, dia yakin akan melakukan masturbasi di tempat itu saat itu juga. Pertandingannya baru saja mulai, dia pandang Josh,
“Dia sungguh tampan.”
Langsung dia hentikan pikirannya itu karena hanya membuat keadaan dirinya bertambah buruk. Seluruh perhatian Josh sudah terfokus pada perandingan dan sama sekali mengacuhkannya. Sophie alihkan pandang pada Ben, yang langsung mengalihkan tatapannya ke wajah Sophie.
“Apa dia baru saja menatap pahaku?” batin Sophie.
Ben mengalihkan tatapannya ke tv.
“Tidak mungkin. Itu hanya imajinasimu saja, kamu terlalu horny.”
Hanya saja saat dia menyaksikan tv, dia perhatikan beberapa saat kemudian mata Ben kembali ke arahnya. Setiap kali dia melakukan gerakan kecil, mata Ben akan langsung kembali ke layar tv. Tapi jika dia diam saja, kembali mata Ben mengamati tubuhnya.
“Dia memang memandangi pahaku.” Pikir Sophie setelah yang kelima kalinya.
Dia rasakan letup rangsangan mengaliri perutnya.
“Baiklah, kalau dia ingin melihat pahaku, akan kuberikan dia pemandangan yang lebih baik lagi.”
Lalu dia menggeser cara duduknya hingga kini dia duduk dengan kaki terlipat di bawah tubuhnya, tapi dia duduk menghadap ke arah tv. Sekarang, seluruh bagian paha kanannya tersuguh ke hadapan Ben.vDari sudut matanya, Sophie perhatikan mata Ben sedikit terbelalak, memandangi pahanya dengan lebih berani. Lalu Sophie putuskan untuk sedikit bermain lebih jauh lagi. Tangan kanannya bergerak pelan mengelusi pahanya naik turun, yang akan terlihat tanpa disengaja. Dia juga mulai menggigit ujung jari telunjuk tangan yang satunya, tetap dia lakukan seakan tanpa sengaja, hanya untuk mengusir kebosanan. Duduk Ben mulai tidak tenang di kursinya, seakan jeans yang dia pakai terasa tak nyaman dan bahkan beberapa kali dia membasahi bibirnya. Setelah beberapa waktu dengan elusan pahanya, Sophie ingin menggoda Ben lebih jauh lagi, tapi belum dia temukan cara yang cukup aman, hingga dia melihat sebungkus keripik kentang yang belum dibuka di atas meja. Dengan senyum tertahan dia bangkit dan melangkah menuju dapur. Lirikan mata Ben tak lepas dari pantat Sophie saat dia melenggang menuju dapur, dia hembuskan nafas pelan coba melegakan sesak dadanya. Kalau Ben tidak mengenalnya tentu dia akan menganggap kalau Sophie telah menggodanya dengan menggosok pahanya berulang-ulang dan tiba-tiba saja berhenti begitu melihat keripik kentang yang belum dibuka dan langsung melangkah pergi. Ben sudah sangat horny, bahkan dia baru berpikir untuk pergi ke kamar mandi untuk bermasturbasi saat Sophie kembali dengan membawa sebuah mangkuk di tangannya. Begitu Sophie sudah dekat dengan meja, dia membungkuk ke depan dan menaruh mangkuk yang dia bawa. Lalu lebih membungkuk lagi untuk membuka bungkus keripik kentang dan perlahan dia tuangkan ke dalam mangkuk. Mata Ben tidak tertuju pada mangkuknya, tapi terarah tepat ke dalam kaos kekasih sahabatnya itu. Tubuh Sophie begitu membungkuk ke depan hingga dia bisa melihat seluruh bagian depan bra yang dia pakai. Ketika dengan pelan Sophie menggoyangkan kantung keripik kentang itu, buah dadanya ikut bergoyang karenanya. Seakan dia membungkuk berjam-jam lamanya, tapi tentu saja sebenarnya hanya beberapa menit saja. Masih tetap dalam posisi membungkuk, dia mengangkat kepalanya.
“Mau?” tanyanya dengan begitu manis
“Emm, ya….” Jawab Ben dengan tergagap.
Sophie tersenyum lalu menyodorkan mangkuknya. Setelah Ben mengambil sebagian, dia tawarkan juga pada Josh, yang pandangannya tak pernah beranjak dari layar tv. Sophie menaruh mangkuk tersebut di atas paha Josh lalu dia bangkit dan duduk kembali di sofanya, dengan kaki yang terlipat di bawah tubuhnya. 20 menit menyaksikan pertandingannya, tiba-tiba saja Sophie berkata,
“Oh, mana ya majalahnya?” kemudian dia berlutut di sofa, tubuhnya memutar ke belakang, dengan bertumpu pada sandaran belakang, dia berusaha mencari majalahnya.
Pemandangan tersebut sangat memukau. Ben mendapat pemandangan yang menggiurkan dari pantat Sophie yang berpose doggy style di atas sofa tersebut, meskipun dia belum bisa melihat apa yang ada di baliknya. Kedua paha itu seakan berteriak untuk disentuh dan batang penis Ben juga menjerit untuk segera bangkit dan menyetubuhinya dari belakang di tempat itu dan saat itu juga.
“Tak mungkin dia sedang menggodaku.” Pikir Ben, “Ini hanya imajinasiku saja.”
Tapi Sophie memang terlihat sedang menggodanya. Langsung dia palingkan matanya dari tubuh Sophie sebelum penisnya meloncat keluar dari celana jeansnya. 10 menit berikutnya, kembali Ben melirik ke arah Sophie. Pahanya terlipat kembali dengan majalah di atas pahanya dan sedang menghisap sebatang pop es. Saat Sophie sadar kalau Ben sedang memandanginya, dia palingkan wajah menghadap Ben dan tetap menghisap batang esnya perlahan. Kemudian dia tarik mulutnya lepas dari es tersebut untuk menghisap ujungnya dengan lidah.
“Kapan dia dapat es itu?” pikir Ben.
Dengan begitu menggoda Sophie menatap Ben sambil menghisap pop esnya pelan hingga habis. Kemudian dia lemparkan batang kayunya ke atas meja dan bertanya pada Ben kalau dia ingin juga.
“Tidak… thanks.” Jawab Ben dengan tersenyum kering.
“Sialan, dia memang sedang menggodaku.” pikirnya “Aku tak sanggup melihatnya lagi.”
Sophie merasa ada aliran listrik 10.000 volt yang menyengat tubuhnya. Dia telah menggoda dengan terang-terangan menggunakan pop es tersebut, tapi sensasi yang dia dapatkan setimpal. Mata Josh belum sekalipun beralih dari layar tv dan Sophie yakin kekasihnya tak akan melakukannya. Tetap saja apa yang dia lakukan terasa mendebarkan. Tapi meskipun godaan ini tak bisa seutuhnya, kini dia semakin merasa akan meledak oleh birahinya sendiri dan dia butuh sex secepatnya.
Dia suka dengan resiko, semakin beresiko situasinya maka semakin bagus bagi dia dan semakin besar kenikmatan yang dia dapatkan. Kini, dalam cengkeraman nafsu, dengan vaginanya yang berteriak untuk segera disentuh, sebuah ide hinggap dalam otak Sophie. Perlahan dia berdiri, sambil memastikan kalau tubuhnya sedikit membungkuk, Sophie meregangkan punggungnya. Membuat buah dadanya terdorong ke depan, menyodok dari
dalam kaosnya yang tipis.
“Baiklah, aku akan membuat makan malam.” Ucapnya setelah selesai meregangkan tubuh.
“Perlu bantuan?” Tanya Ben, suaranya bergetar dengan kecemasan.
“Tentu.” Jawab Sophie dengan tersenyum. Gila, dia merasa sangat horny.
Saat Sophie berjalan menuju dapur, Ben mengikutinya, dia berhenti dan berkata,
“Honey, mungkin kamu harus sedikit mengeraskan volume tv-nya. Aku tak ingin suara berisik yang kubuat saat membuat makan malam, jadi mengganggu pertandinganmu.”
Lalu dia melenggang ke dapur dengan Ben mengikutinya dari belakang. Ketika mereka masuk ke dapur, Sophie mendengar volume tv dikeraskan, tak banyak, tapi lebih keras dari yang sebelumnya. Josh tahu kalau beberapa mesin di dapur bisa menimbulkan suara berisik, tapi Sophie sama sekali tidak berencana untuk membuat kebisingan menggunakan salah satunya. Sophie sendirilah yang akan berisik dan meskipun Ben tidak setampan Josh, dia bukanlah pria buruk rupa, dia punya sebuah penis dan itulah yang Sophie butuhkan. Melangkah ke konter terdekat, yang terlihat dari dari pintu, Sophie berbalik dan bersandar pada konter tersebut, kedua tangan di kedua sisi untuk menahan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang serasa akan loncat keluar dari dalam dadanya.
“Lalu apa yang bisa aku bantu?” Tanya Ben, nada gugup masih tergetar dalam suaranya, namun keras selangkangannya tampak jelas terlihat menonjol keluar dari jeansnya.
“Ukurannya pasti besar.” Batin Sophie saat dia lihat pada gundukan itu. Dia merasa sulit mengendalikan diri untuk tidak menyobek lepas pakaian Ben saat itu juga di sana.
“Aku baru berpikir, mungkin sebuah hot dog untuk pertandingan ini.Tapi aku akan membuat yang spesial. Josh tak pernah komplain dengan hot dog buatanku. Kamu tahu kan, kalau harus diminyaki dulu biar licin dan mudah diselipkan dalam rotinya. Tapi biasanya aku cicipi dulu sebelum kupakai, kamu harus hati-hati kan.”
Ben semakin merasa bibirnya kering saat memandang Sophie bicara, dia sudah sangat siap untuk menerkamnya. Kegugupan itu sekarang telah berubah jadi nafsu seutuhnya dan sebuah kesiapan. Sophie tersenyum padanya.
“Kemarilah, akan kutunjukkan cara membuatnya.” Suaranya merayu.
Ben melangkah mendekat tapi sambil menarik pintu kaca agar menutup.
“Uh-uh! Biarkan saja terbuka.” Kata Sophie dengan raut wajah cemberut.
“Tapi… kukira… kamu… tidak mau… suara berisik… mengganggu Josh?” Tanya Ben.
Tawa Sophie hampir meledak mendengar kenaifannya. “Memang, tapi aku suka resiko. Nah, buka pintunya atau aku tak akan perlihatkan padamu.” Ucapnya dengan senyum menggoda.
Pintu itu sudah terbuka lagi sedetik berikutnya seusai kata terakhir yang keluar dari bibir Sophie dan dengan tangan terkepal, Ben berjalan mendekat. Dengan memegang pinggangnya, Ben menarik tubuh dan mengunci bibir Sophie dengan bibirnya. Lidah Sophie langsung merangsak masuk ke dalam mulut Ben dan melilit lidahnya. Kedua lengannya melingkar di leher Ben saat Sophie melumat bibirnya, menggesekkan selangkangannya pada tonjolan di bagian depan jeans Ben.
“Mmm” Sophie mengerang dalam mulut Ben.
Tangan Ben mencengkeram pantatnya, semakin keras Sophie gesekkan selangkangannya padanya. Ben menarik tubuh Sophie semakin merapat begitu keduanya saling lumat. Tangannya berpindah ke dada Sophie, menangkap kedua buah dada itu, meremasnya kasar dan menekan kedua daging kenyal tersebut menyatu seakan dia takut jika Sophie menyuruhnya berhenti. Semakin bertambah keras lagi Sophie menggesekkan dirinya dan terus merintih dalam mulut Ben saat dengan kasar Ben memainkan kedua buah dadanya. Sophie menaruh tangannya di dada Ben dan mendorongnya agak menjauh dan menghentikan ciumannya.
“Ap….” baru saja dia mau protes, tapi senyuman di bibir Sophie membuatnya diam.
Dengan perlahan tangan Sophie mulai bergerak turun hingga sabuk Ben. Dengan cekatan namun tenang dia buka sabuk itu dan mulai melepaskan kancingnya. Setelah terbuka, tangannya menyusup ke dalam boxer Ben untuk menangkap batang penisnya. Tangan Sophie gemetar saat dia merasakan besarnya batang penis dalam genggamannya itu. Dia menginginkannya di dalam tubuhnya saat itu juga, tapi akan terasa jauh lebih erotis jika dia bisa menikmati waktunya. Perlahan dia mulai meremas daging gemuk dalam genggamannya sembari menatap Ben tepat di matanya.
“Mmm, kelihatannya enak.” Rayunya, remasannya semakin cepat. Barang itu seakan tak berhenti tumbuh. “Kurasa aku harus mencobanya sedikit, apa memang rasanya nikmat?”
“Ternikmat yang pernah kamu rasakan.” Jawab Ben dengan lebih percaya diri.
Dengan tersenyum pada Ben, perlahan Sophie mulai berlutut di hadapannya. Kalau Josh melihat kemari, akan dia saksikan kekasihnya yang berusia 22 tahun sedang berlutut dengan begitu sangat sexy, bersiap untuk menghisap batang penis sahabatnya di dalam dapur rumahnya. Sophie harus sedikit mundur ke belakang saat menurunkan jeans sekaligus boxer Ben, karena batang penis besarnya hampir saja menghantam wajahnya. Menatapnya dengan tak percaya akan ukurannya yang begitu besar, Sophie hanya mampu terbeliak dan ternganga.
“Kamu sangat besar!” ucapnya kagum.
Ben tersenyum padanya, “Kamu suka?”
Sophie mengangguk, matanya tak pernah lepas dari batang penis di hadapannya. Dengan satu tangan dia genggam batang gemuk itu pelan. Terasa begitu keras, jemarinya hampir tak bertemu dalam genggamannya. Tangannya yang satu dia genggamkan juga di batang milik sahabat kekasihnya ini. Dia memandang ke atas, ke mata Ben.
“Kurasa mungkin aku harus bilang pada Josh untuk mengeraskan volume tv-nya lagi.” ucapnya.
Dan dengan kedua tangan menggenggam batang penis Ben dan matanya menatap mata Ben, sedangkan mata kekasihnya tetap pada TV tak lebih 5 meter jauhnya, Sophie membuka mulut dan menurunkan kepalanya ke penis Ben. Penis gemuk itu meregangkan mulutnya lebar, belum pernah dia rasakan batang penis segemuk ataupun sepanjang ini di dalam mulut maupun vaginanya. Tapi dia tahu kalau dia adalah seorang penghisap penis yang handal dan dia menikmatinya. Setelah turun separuhnya, dia berhenti. Memandang rambut kemaluan Ben di bawahnya, Sophie membatin,
“Masih separuh lagi, sialan… penisnya sangat besar.” Dia angkat kepalanya pelan, lidahnya menjilati sepanjang batangnya.
Dia kibaskan rambutnya ke balik punggung, perhatiannya terfokus pada batang penis di hadapannya. Sophie mulai mencium kepalanya, lalu menjilat turun bagian bawah batangnya, kembali naik sebelum akhirnya membuka mulutnya dan perlahan merendahkan kepalanya menuruni batang tersebut. Sophie mulai menaik turunkan kepalanya, perlahan memasukkan batang penis Ben semakin jauh ke dalam mulutnya. Sedikit demi sedikit dalam setiap ayunan kepalanya, hingga pada akhirnya seluruh batang besar dan panjang itu masuk ke dalam mulutnya, menusuk hingga tenggorokannya.
Dia gunakan lidahnya untuk menggelitik batang penis di dalam mulutnya, bibirnya mencengkeram rapat dan dia mulai meningkatkan kecepatannya. Dengan mata terpejam, Sophie mempercepat gerakan kepalanya pada batang penis sahabat kekasihnya ini.
“Mmmph” Dia mengerang dengan batang penis Ben menyumpal mulutnya.
Dengan berpegangan pada pinggang Ben untuk menopang gerakan kepalanya, membuatnya lebih mudah untuk menelan seluruh batan penis Ben dalam mulutnya, menelan hingga ke tenggorokan dan baru berhenti saat hidungnya menyentuh dasar dari batang kejantanan Ben. Berisiknya suara hisapan dari sesi menghisap penis nan cabul ini memenuhi dapur, tapi Josh tak bisa mendengarnya karena dikalahkan kerasnya suara tv. Kepala Sophie bergerak naik turun dengan liar pada penis Ben, dia ingin Ben keluar dalam mulutnya. Suara erangan Sophie semakin keras dan kemudian dia merasakan tangan Ben di kepalanya, mencengkeram rambutnya, menarik wajahnya semakin merapat. Sophie memandang ke atas, pada mata Ben dan untuk pertama kalinya dia memperhatikan dengan seksama suara erangan Ben. Ben memegangi kepala wanita cantik ini saat dia menghisapnya semakin keras, semakin bertambah cepat menaik turunkan kepalanya pada batang penis kerasnya. Sophie sungguh pintar melakukannya, Ben tahu kalau dia tak bisa bertahan lebih lama lagi.
“Yeah baby, benar begitu, hisap terus.” Perintahnya “Hisap penisku saat kekasihmu sedang menonton tv di ruang sebelah.” Sophie mengerang.
“Kamu sangat pintar.” Ben tersengal, dia tarik kepala Sophie semakin turun.
Dia masih belum percaya kalau Sophie sanggup menelan seluruh batang penisnya, Belum pernah ada seorang wanita yang sanggup melakukan itu sebelumnya.
“Kamu suka penisku dalam mulutmu ya?” goda Ben.
Hanya erangan sebagai jawaban dari Sophie, tanpa sekalipun tatapannya lepas dari mata Ben. Hisapannya semakin keras, dapat Ben rasakan dinding tenggorokan Sophie menjepit penisnya setiap kali dia menelannya sangat dalam. Menyaksikan bibir ranum itu meluncur di sepanjang batang penisnya membuat Ben merasa ingin keluar saat itu juga. Sudah sering dia berfantasi tentang Sophie yang sedang berlutut menghisap penisnya, tapi belum pernah dalam situasi seperti sekarang ini.
Tatapan mata mereka saling kunci, terasa begitu erotis mendapatkan kekasih sahabatnya berlutut dihadapannya. Dengan batang penisnya dalam hisapannya, Sophie mengayun kepalanya tanpa henti, sedangkan sang kekasih berada di ruang sebelah. Dan yang menjadikannya lebih menggairahkan lagi adalah posisi mereka yang masih berada di depan jalan masuk dapur ini. Belum lagi tatapan mata Sophie yang tak sedetikpun lepas dari mata Ben, menatapnya dengan penuh nafsu. Situasi ini sungguh membuat birahi Ben memuncak dengan sangat cepat.
“Hisap penisku Sophie, telanlah sampai masuk dalam tenggorokanmu” suara Ben terdengar menggeram, masih dia pegangi kepala Sophie, mata mereka tetap saling kunci. “Kamu memang gila Soph. Kita di dapur dengan pintu terbuka dan kamu hisap penisku..”
Sophie mengerang keras dan hisapannya makin kasar. Sudut matanya melirik ke arah kekasihnya di ruang sebelah
“Oh yeah baby! Kamu hisap penis sahabat kekasihmu. Oh yesss! Dan kamu menyukainya”
Kali ini Sophie buka sedikit mulutnya dan pejamkan matan. Dia mengerang semakin keras di penis Ben sebelum akhirnya kembali ditelannya batang penis Ben. Ditatapnya mata Ben saat dia menghisap dan mengerang, Sophie bergerak semakin cepat. Lalu dia lepaskan penis Ben dari dalam mulutnya dan dia genggam dengan tangannya. Kemudian mulai mengocok dengan tangannya.
“Penismu rasanya nikmat.” Ucapnya dengan senyum menggoda. “Kalau kamu tidak nakal, mungkin akan kuhisap lagi untukmu.”
“Kamulah yang akan memohon padaku kalau ini selesai Soph.” Jawab Ben, dia yakin hal itu dengan melihat kelakuan liar Sophie ini.
“Ooh…” Sophie mengerang lagi, lalu kembali dia masukkan penis Ben ke dalam mulutnya.
“Brengsek, kalau saja aku bisa merekam ini.” Geram Ben.
Dia keluarkan penisnya lagi, Sophie tersenyum padanya dan berkata, “Mungkin lain kali boleh.”
Ben tersenyum padanya, dia tahu kalau kekasih sahabatnya ini akan kembali untuk memintanya lagi. Masih dia kocok batang penis Ben dengan tangannya, sebuah senyuman menggoda terukir di wajah Sophie dan dengan tenang serta polosnya dia berkata,
“Kamu ingin keluarkan di dalam mulutku atau bagian tubuhku yang lain?”
Pertanyaan itu hampir saja membuat Ben keluar.
Sepertinya Sophie merasakan itu, dia lepas genggamannya pada batang penis Ben, lalu tangannya kembali memegangi pinggang Ben. Dia tepiskan rambut yang jatuh di depan wajahnya sekali lagi dan kepalanya mendongak, menatap Ben, dia buka mulutnya perlahan dan membungkus kepala penisnya. Dengan mata yang terus menatap mata Ben, mulutnya mulai meluncur menuruni batang penisnya dan mengulangi hisapannya kembali.
“Gila, kamu memang penghisap penis yang liar Soph” Ben mengerang disela nafasnya. “Kekasihmu sungguh pria yang beruntung.”
“Mmm” Sophie langsung mengerang begitu kekasihnya disebut, sekali lagi sudut matanya melirik ke arah kekasihnya di ruang sebelah.
“Kamu harus menciumnya setelah ini.” Ucap Ben, kepalanya langsung terlempar ke belakang dan dia tarik kepala Sophie hingga penisnya melesak masuk sedalam-dalamnya di mulut Sophie. Sekarang tangan Sophie mencengkeram erat pantat Ben kala dia semburkan seluruh air maninya ke dalam mulut Sophie, langsung meluncur menuruni tenggorokan dan mengisi perutnya. Selama itu berlangsung mata Sophie tak pernah lepas memandangi reaksi Ben, terus menggodanya.
Josh duduk menyaksikan pertandingan bola dengan begitu terpukau. Tanpa menyadari kalau di waktu yang sama, tak lebih dari 5 meter jauhnya, sahabatnya sendiri sedang mendorongkan batang penisnya hingga jauh ke dalam tenggorokan kekasih cantiknya yang berlutut, yang menelan seluruh air mani sahabatnya setelah hisapan penis sekelas bintang porno yang dia berikan. Dia bersorak saat tim jagoannya mencetak gol dan Sophie memejamkan mata saat menelan. Sophie berusaha menelan semua yang dia mampu, ada beberapa yang tumpah keluar dari mulutnya akibat terlalu banyaknya mani yang disemburkan Ben. Setelah tak ada lagi air mani yang keluar dari lubang kencing Ben, Sophie keluarkan penisnya dari mulut dan memandang ke arah Ben di atasnya, dia tersenyum dan menelannya dengan suara tegukan yang keras. Kemudian Sophie berbalik untuk melihat lewat pintu yang terbuka. Dia saksikan Josh masih belum juga beranjak dari tempatnya. Saat sedang menghisap penis Ben tadi, kadang dia melirik ke arah kekasihnya. Melihat kekasihnya saat dia menghisap penis sahabatnya menjadikan birahinya bergejolak begitu hebatnya. Sembari menjilat bibirnya, dia berbalik menghadap Ben dan ingin mengucapkan ‘Mungkin kamu butuh istirahat sebelum hidangan utama.’ Tapi dia jadi tercengang saat disuguhi oleh batang penis yang menjulang keras.
“Kamu tetap keras!!” serunya.
“Aku selalu begini kalau habis mendapat hisapan yang enak, tapi belum pernah sekeras ini. Pasti kamu penyebabnya.” Jawab Ben dengan senyum lebar.
Dia angkat tubuh Sophie hingga sekarang dia berdiri, masih tetap menatap batang penisnya yang keras. Ben mencengkeram pantat Sophie dan mendorongnya ke konter dapur. Sophie menatap mata Ben dan tersenyum saat tubuhnya diangkat hingga kini dia duduk di atas konter.
“Terus, kamu pikir, mau apa kamu sekarang?” tanyanya menggoda, masih tetap menatap tepat mata Ben.
Ben menjawab dengan menyusupkan tangan ke dalam rok yang dipakai Sophie, menarik lepas celana dalamnya dan membuangnya begitu saja ke lantai.
“Aku akan menyetubuhimu, tepat di atas konter ini, di tempat yang bisa dilihat kekasihmu kalau dia menolehkan kepalanya kemari dan akan kubuat kamu mengerang keras sampai kamu akan menjerit dan memohon padaku agar tidak pernah berhenti menyetubuhimu!”
Sophie berikan senyum menggoda padanya.
“Aku akan mengerang, mendesah, merintih kalau aku mau. Tapi menjerit dan memohon padamu untuk menyetubuhiku selamanya? Aku bahkan tak melakukannya pada Josh!” jawabnya.
Ben menarik tubuh Sophie hingga pinggir konter dan memposisikan ujung penisnya di depan lubang masuk vaginanya.
“Kamu bukan hanya akan memohon padaku, tapi kamu juga akan membiarkanku menyetubuhimu di manapun, kapanpun dan bagaimanapun aku mau!”
Dan dengan ucapannya tersebut, Ben mendorong sekeras yang dia bisa memasuki tubuh Sophie. Sophie harus menggigit bibir bawahnya saat batang besar milik sahabat kekasihnya merangsak masuk ke dalam tubuhnya dengan cepat dan kasar. Masih saja sebuah rintihan keras yang lepas dari mulutnya. Dia ingin teriak sekerasnya karena rasa sakit dan nikmat kala vaginanya terisi dan terkuak begitu lebar dengan sangat cepat, tapi Josh pasti akan mendengarnya dan itu artinya bukan kepuasan yang akan dia dapatkan melainkan sebuah keributan.
Dengan batang penis Ben yang terkubur hingga pangkal dalam vaginanya, Sophie terduduk tak berkutik. Sentakan pertama tadi mengangkat tubuhnya dari permukaan konter, tapi kini dia terduduk kembali, terisi penuh.
“Oh!” dia mengerang. “Aku belum pernah merasa sepenuh ini.” Ucapnya kehabisan nafas.
Ben tersenyum puas. Dia hanya membiarkan saja batang penisnya menyumpal vagina Sophie, belum menggerakkannya sama sekali. Bukannya Sophie keberatan, akhirnya dia mendapatkan sebatang penis yang begitu penuh mengisi vaginanya dan dia tengah meresapi kenikmatannya.
“Kamu suka rasa penisku dalam vaginamu Soph?” Kata Ben sembari tangannya membelai pantatnya.
Vagina Sophie mencengkeram batang penisnya dengan sangat kuat.
“Hmmm, aku pernah mendapat yang lebih hebat.” Goda Sophie.
Alis Ben terangkat, tapi kemudian dia tarik tubuh Sophie merapat dan mulai mengocok keluar masuk dalam tubuhnya, keras dan cepat, bahkan sesungguhnya sangat cepat dia mengocoknya.
“Oooh” Sophie merintih begitu penis Ben menyodoknya keluar masuk.
Kepalanya terlempar ke belakang dan menguncikan kakinya melingkari pinggang Ben, menariknya lebih tenggelam dalam tubuhnya. Sophie mendesah, mencengkeram tepian konter hingga tangannya memutih. Kenikmatan yang dia peroleh dari persetubuhan gelap mengoyaknya hingga dia lemparkan kepalanya ke belakang sejauh mungkin dan mengerang keras.
“Oooh!”
“Sangat nikmat” batinnya. Mulutnya ternganga dan suara rintihan serta erangannya mengisi dapur.
“Kamu suka Soph?” Ben menggeram pada Sophie
“Umm, oh yeah!” erang Sophie.
“Mau lagi?” Tanya Ben.
“Uh uh uh…” Sophie merintih.
“Aku tanya, apa kamu mau lagi Soph?” tuntut Ben sambil menurunkan kecepatannya.
“Ya!” Sophie menggeram keras.
“Suka kocokan penisku dalam vaginamu?” Ben menggeram.
“Oh yeah, ya, ya, ya… saangaaat eenaaak…” dia mendesis.
Punggungnya meregang kencang, memudahkan sodokan penis Ben dalam vaginanya yang kuyup. Tangannya mencengkeram erat menahan tubuhnya yang terguncang hebat oleh sodokan Ben yang sepenuh hasrat. Buah dadanya yang besar terayun dan terguncang di dadanya merentangkan kaosnya dan menjerit untuk dibebaskan dari himpitan bra yang dia pakai. Betapa terasa nikmat. Belum pernah Sophie merasakan yang seperti ini dalam hidupnya. Vaginanya terisi dan terentang di luar nalar, dia disetubuhi dengan begitu keras hingga dia kesulitan untuk duduk di atas konter. Dan di atas semuanya itu, ini adalah sahabat kekasihnya sendiri yang sedang meyetubuhinya, saat kekasihnya tengah duduk di ruang sebelah yang berjarak tak lebih dari 5 meter jauhnya, dengan pintu penghubung dari kaca yang terbuka. Hanya suara tv saja yang mencegah Josh untuk dapat mendengarkan erang dan rintihan dari arah dapur dan membuatnya sama sekali tak menyadari kalau kekasihnya sedang disetubuhi dengan brutal. Dia hanya harus menolehkan kepalanya saja, atau sedikit memelankan volume tv-nya, agar tahu peristiwa mesum di dalam dapur rumahnya sendiri. Tapi Sophie sudah tak mempedulikannya lagi, dia sudah melebihi terpuaskan, dia mencapai titik seksual yang belum pernah dia bayangkan oleh sahabat kekasihnya yang menggasak vaginanya tanpa ampun.
“Oh kamu sungguh nikmat ” Ben mengerang “Lebih nikmat dari yang pernah kubayangkan! Vaginamu sangat rapat dan hangat “
Dia menyodoknya lebih keras. Sophie melenguh. Rintihan birahi mereka mengisi setiap sudut dapur dan bersaing dengan kerasnya suara pertandingan di tv. Sophie mengerang, menggesekkan vaginanya ke penis Ben. Dia sadar sekarang bahwa dia tak akan mau Ben berhenti menyetubuhinya. Ben mengirimkan batang penisnya keluar masuk dalam vagina rapat milik wanita cantik yang terus menggeliat ini, memakunya dengan tiap sodokannya hingga tubuhnya terangkat dari atas meja. Ben menggeretakkan giginya, menahan kenikmatan yang melanda, keringat membanjiri tubuhnya, tapi dia masih tetap fokus pada Sophie yang punggungnya melengkung ke depan dan kepala tergantung ke belakang. Balas menyetubuhinya dan mengimbangi setiap hentakan keras Ben, menusukkan dirinya sendiri pada batang penis Ben sekeras yang dia bisa. Suara racauan Sophie mulai terdengar. Ben seakan terhipnotis oleh pantulan buah dada Sophie. Sudah begitu lama dia bermimpi untuk melihatnya langsung, selalu ingin menyentuhnya, sama halnya keinginannya untuk dapat menyetubuhi Sophie. Akhirnya, sekarang dia sudah mendapatkannya. Gerakan Ben memelan dan akhirnya dia berhenti.
“Tidak, jangan, JANGAN!!!” protes Sophie dengan nada marah.
Ben cengkeram bagian bawah kaos Sophie dan mulai mengangkatnya naik. Begitu dia sadar apa yang diinginkan Ben, Sophie hentikan usahanya menusukkan dirinya ke penis Ben dan langsung dia cengkeram kaosnya, menariknya lepas melewati kepala dan melemparnya ke lantai. Lalu dia raih bagian belakangnya untuk melepas kaitan bra yang dia pakai, melolosi tali pengikatnya lewat bahu dan juga melemparnya ke lantai.
“Kamu boleh melihat ini kalau kamu mulai menyetubuhiku lagi. Fuck me Ben! Now! ” tantangnya sambil kedua telapak tangan memegangi buah dadanya.
Ben menyeringai, dia tarik keluar penisnya perlahan dan melesakkannya kembali ke dalam tubuh Sophie dengan keras. Suara erangan Sophie mengiringinya, tapi dia masih memegangi buah dadanya dengan erat. Ben menyodoknya dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, buah dada Sophie yang besar terguncang dalam gengggaman tangannya. Sophie mulai meremas dan menekannya seakan sebongkah adonan kue. Sodokan Ben bertambah kasar dan kemudian Sophie mulai memainkan putingnya dan dia tambah dengan desahan keras. Sophie merintih saat Ben menjepit kedua putingnya yang keras. Lalu Sophie cengkeram dan remas buah dadanya sendiri dengan kasar, Ben tiada henti mengisi lubang vaginanya dengan batang penis kerasnya. Cincin tanda cinta dari Josh di jari tangan kiri Sophie berkilau dalam pantulan cahaya saat dia remas buah dadanya dan melenguh dalam kenikmatan yang diberikan oleh sahabat kekasihnya. Ben ingat saat Josh memberikan cincin itu padanya, Sophie mengucapkan bahwa hanya Josh satu-satunya pria baginya. Sekarang cincin itu menjadi saksi persetubuhan terlarang ini dan mendengar semua suara desah kenikmatan Sophie. Ben tersenyum dan secara terang-terangan menatap cincin tersebut saat batang penisnya memompa dengan ayunan panjang dan keras ke dalam vagina Sophie yang menyambutnya. Ben menyetubuhinya tanpa ampun sambil memandangi cincin itu berkilau dalam jari Sophie yang masih mencengkeram buah dadanya sendiri.
Lubang kenikmatan Sophie yang rapat menyambutnya dengan suka cita. Paha Sophie yang halus mengunci melingkari pinggangnya, menarik batang penis Ben semakin jauh ke dalam rahimnya. Rambut Sophie terjuntai menggantung bebas saat kepalanya terdongak ke belakang dan terayun liar oleh tiap sodokan Ben.
“Oh baby, vaginamu sungguh sempit ” Ben mendesis.
Ben menangkap sekilas mata Sophie, begitu sayu oleh kenikmatan yang dikirimkan vaginanya. Saat itu Sophie akan bersedia melakukan apapun untuk Ben, bahkan disetubuhi tepat di depan mata Josh bila Ben meminta. Tapi Ben juga lebih menikmati persetubuhan terlarang. Dia menyetubuhi kekasih sahabatnya dan kekasih sahabatnya ini menikmatinya. Sophie melepaskan genggaman dari buah dadanya dan sekali lagi dia cengkeram tepian konter. Dia mengerang keras. Ben saksikan buah dada kencang milik wanita cantik ini terguncang karena sentakannya. Kini dia menyetubuhinya dengan segenap kemampuannya. Buah dadinya terayun liar, saling hantam dengan berisik.
“Kamu nikmati ini?” Tanya Ben dengan nafas hampir putus.
“Ooh ya! Rasanya sangat enak!” jawab Sophie disela rintihannya.
“Kamu ingin aku berhenti?” Ben terus menatapi kedua buah dadanya.
“JANGAN!” jawab Sophie lantang.
“Kalau begitu, katakan apa yang kamu mau.”
Sophie terus mendesah.
“Katakan!” perintah Ben.
“FUCK ME! Oh… PLEEASSE FUCK ME!” akhirnya Sophie menjerit.
Ben memandangi wanita cantik ini yang terus menyentakkan pinggul ke arahnya, mengerang tiada henti dan memohon padanya untuk terus disetubuhi. Kedua buah dadanya sekarang terjepit menyatu karena kedua lengannya yang menekan dari samping.
“AARRGGGHHH, FUCK ME, FUCK ME” Sophie terus memohon.
Sophie mengangkat tubuhnya, menatap Ben tepat di matanya dan menguncikan lengannya melingkari leher Ben. Sophie terus merintih, kenikmatan yang dia rasakan memaksa matanya terpejam, lalu dia paksakan terbuka lagi untuk menatap Ben.
“Oh yeah baby, siapa yang paling hebat?” Tanya Ben, masih tetap mengocoknya liar.
“Ouuhhh, KAMU” erang Sophie.
“Katakan” ucap Ben.
“Mmmpphhh… BEN PALING HEBAT!!!” jawab Sophie.
“Seberapa hebat?” Ben menyeringai.
“Ssshhh… KAMMU YANG PALLING HEBATT! SAANGAAAT NIIIKMAAAT!!! JAUH LEBBBIHHHH NIIKMAAAT DAARIII JJOOOSHH!!!” geramannya semakin keras.
“Seberapa nikmat?” Ben terus mendesak, Sophie sudah sangat dekat sekarang!
Ben menyeringai sangat lebar karena dia menyukai situasi ini, bukan hanya dia telah berhasil menundukkan wanita cantik ini, menyutubuhinya di rumah kekasihnya, tapi dia juga berhasil membuatnya mengakui bahwa dia lebih hebat dari kekasihnya! Tusukannya semakin dalam, buah dada Sophie kini tergencet dada telanjangnya, meskipun dia sudah tak ingat lagi kapan dia melepas bajunya. Kekenyalan buah dada tersebut, geliat tubuh kekasih sahabatnya yang menandakan betapa lihainya dia bersetubuh, serta ekspresi wajah Sophie yang sepenuhnya berselimutkan nafsu murni, membuat birahi Ben meroket tinggi dengan cepat! Sophie terus meracau tiada henti, menjeritkan betapa hebatnya Ben, betapa keras, besar dan panjang batang penisnya, memohonnya agar tak berhenti menyetubuhinya, bagaikan sebuah alunan lagu kemenangan bagi Ben. Sophie sudah jadi miliknya sekarang! Semakin dalam dan bertambah keras saja Ben menghujamkan batang penisnya ke dalam tubuh Sophie, hingga pada akhirnya tubuh Sophie menegang kaku dan mulutnya mengeluarkan suara jeritan yang penuh kenikmatan dan nafsu.
“AAARRRGGGHHH… YEEEESSSSS!!!!!!!! AKKKU… DDDAPPPATTT!!! BEEEENNN…”
Tubuhnya menggigil hebat di atas batang penis yang terkubur dalam vaginanya, merasakan klimaks terbesar yang pernah dia dapat. Kenikmatan yang menghantam setiap sendi tubuhnya membuat Sophie merasa tengah berada di atas awan.
“Ini baru namanya sensasi sex hebat!” pikirnya.
Tiba-tiba saja, Ben mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju meja kaca. Dia duduk di salah satu kursi dengan Sophie di pangkuannya. Sophie menyadari kalau batang penis Ben masih sedemikian kerasnya! ’Apa dia tak kenal capek?’ pikir Sophie. Seakan Ben bisa membaca pikirannya dan menjawab.
“Aku belum keluar di dalam vaginamu, tapi akan kulakukan sebelum pulang. Aku cuma ingin ganti posisi.”
“Doggie style?” Tanya Sophie.
“Yeah, di meja kaca milikmu ini!” jawab Ben sambil menyuruh Sophie berdiri.
Sophie merasakan sebuah kehilangan yang besar saat batang penis Ben tercabut keluar dari vaginanya, vagina yang seharusnya hanya milik kekasihnya seorang, hingga itu berubah beberapa saat lalu. Ben memutar tubuh Sophie dan memnyuruhnya membungkuk dengan bertumpukan sikunya.
“Sekarang aku yang akan menyetubuhimu!” ucap Ben saat memasuki Sophie dari belakang.
Sophie tahu kalau posisi doggie style selalu membuatnya merasa lebih penuh dibandingkan posisi yang lain, tapi saat ini tetap saja dia tersengal. Kalau dia merasakan penuh sebelumnya, kali ini penuh dua kali lipatnya. Dia dorongkan pantatnya ke belakang, tapi Ben menahan tubuhnya agar diam. Sophie dapat melihat Ben tersenyum padanya dari pantulan meja kaca di depan mereka.
“Baik, setubuhi aku!” perintahnya.
“Tidak, tidak, Sophie! Aku yang menyuruh dan kamu yang meminta.” Ucap Ben, dengan pelan dia gerakkan penisnya keluar masuk, tapi tak dia biarkan Sophie mendapat seluruh batang penisnya. Dia pegang erat pinggang Sophie hingga dia tak mungkin menggeliat memaksa untuk menusukkan seluruh batang penis Ben dalam vaginanya.
“Oooo” Sophie melenguh, tapi itu tak membantu. “Ahhhh, fuck me, please, aku sudah tak tahan, please, masukkan penismu, aku mau kamu menyetubuhiku. Aku ingin penismu memuaskan vaginaku! Aku menginginkannya lebih dari apapun di dun… ” suara Sophie terpotong saat tiba-tiba batang penis Ben menyodoknya dari belakang.
Perasaan itu jauh lebih menakjubkan dari sebelumnya. Membuat Sophie mendesis dan kepalanya tersungkur di atas meja. Putingnya menggesek meja, keras dan mencuat. Sophie melenguh di kaca meja tersebut. Dengan penopang tangannya, dia angkat tubuhnya dan menyentakkan mundur vaginanya ke batang penis Ben, lalu menjerit dalam kenikmatan. Ben menggapai ke depan dan meraih kedua buah dada Sophie, lalu meremasnya seiring sentakan Sophie yang mengimbangi keras sodokannya. Sophie menoleh ke belakang untuk menatap mata Ben.
“Setubuhi aku Ben! Dorong yang keras! Buat aku dapatkan orgasme yang tak bisa diberikan sahabatmu!” lalu Sophie mengerang panjang dan kepalanya kembali tersungkur d atas meja saat semakin keras Ben menusuk vaginanya yang begitu basah.
Ben melihat dalam pantulan meja kaca, wajah Sophie berkerut menyiratkan dalamnya kenikmatan yang dia tahan, matanya seakan memutar ke dalam batok kepalanya. Putingnya yang mencuat keras terus tergesek meja saat payudaranya terayun, tangannya mencengkeram erat pada tepi lingkaran meja kaca itu. Sophie terus merengek pada Ben untuk menyodoknya lebih keras lagi dan Ben mengabulkannya. Menghentak sekerasnya, sekasarnya. Ben suka menatap pantulan di meja cermin itu, tapi dia ingin membuat Sophie menjerit dan memohon padanya.
“Suka penisku?” dia menggeram.
“OOHH” Sophie mendesah.
“Aku tidak dengar” sahut Ben.
“YA!!! UH! AKU SUKKA UH PENNIIISSS MMMMMM BESARRMUU! OH! UMMM, UH UH UH UH! SAANGAAAT KERRAAASSS!” Sophie tersengal. Suaranya begitu parau dan meja kaca mulai berdecit oleh perbuatan mesum mereka.
Racauan mulut Sophie, decitan protes kaki meja kaca dan suara kulit basah yang beradu saling bersahutan.
Akhirnya semua kenikmatan itu jadi berlebih bagi Sophie dan tubuhnya jatuh tersungkur di atas meja. Dia hanya bisa berpegangan pada pinggiran meja kaca itu, membiarkan tubuhnya terus terguncang dalam setiap sodokan Ben yang tiada henti. Gerakan Ben bertambah liar, kasar, keras dan cepat. Ambang batasnyapun sudah dekat. Sophie menjerit keras menahan kenikmatn yang diberikan Ben. Besar kemungkinan Josh dapat mendengarnya sekarang! Ben membungkuk dan mengangkat tubuh Sophie, menangkap buah dadanya sekali lagi. Setelah beberapa saat, kembali Sophie tersungkur ke depan, karena kerasnya sodokan Ben. Kali ini Sophie topang tubuhnya dengan kedua sikunya. Tangan Ben masih terus mencengkeram buah dadanya, menarik tubuh Sophie ke belakang.
“Apa bisa kudapatkan kamu kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun aku mau?” bisik Ben di telinga Sophie
“Ya Ben! Kamu boleh menyetubuhiku kapan saja…” nafasnya tersengal, semakin dekat pada orgasme keduanya, “Di manapun….” mencengkeram tepian meja lebih erat, “Dengan cara apapun kamu mau!” wajahnya berkerut, matanya memejam rapat, dia gigit bibirnya keras. Sophie menyentakkan pinggulnya ke belakang.
Masih berbisik di telinga Sophie, “Aku akan keluar di dalam! Akan kukeluarkan air maniku dalam vagina kekasihmu Josh!!!”
Mendengar nama kekasihnya dibisikkan di telinganya dalam situasi ini, langsung meruntuhkan seluruh sisa pertahanan Sophie. Ben melepaskan cengkeramannya pada buah dadanya dan beralih menjambak rambut Sophie, menyentakkan kepalanya ke belakang. Sophie meraung keras, dia berikan sentakan ke belakang untuk yang terakhir kali dengan sisa kekuatannya, bersamaan dengan Ben yang menyodok ke depan dengan begitu kerasnya. Batang penis keras miliknya terkubur sedalam dalamnya di vagina Sophie. Suara erangan yang keluar dari mulut Sophie seakan keluar dari tempat tergelap dalam paru-parunya, beriringan dengan geraman Ben yang terdengar seperti binatang buas dan liar… Detik berikutnya penis Ben meledakkan semburan air maninya ke dalam rahim kekasih Josh. Dengan tubuh gemetar di bawah Ben dan kepala yang masih mendongak ke belakang karena ditarik Ben, Sophie mendesis panjang saat orgasme kedua menghantamnya. Lebih kuat dari yang pertama. Vaginanya berkontraksi liar, meremas keras batang penis Ben dan menyedot seluruh sisa air maninya.
Setelah gelombang orgasme keduanya mulai mereda, Ben melepaskan cengkeraman tangannya pada rambut Sophie dan tak ayal tubuh Sophie langsung tersungkur lemas ke atas meja kaca. Ben ambruk pada kursi di sebelahnya. Sophie tersenyum penuh kepuasan.
“Sangat nikmat…”
“Kamu hebat.” Puji Ben di sela nafasnya yang hampir putus, “Belum pernah aku keluar sekeras tadi.”
Tubuh Sophie terkulai lemah, keringat yang membasahi seluruh tubuhnya membuat buah dadanya lengket di meja kaca, tergencet oleh tubuhnya. Yang bisa dia dengar hanya suara detak jantungnya, nafasnya dan kata ‘saangaaat nikmaat…’ berulang kali keluar dari mulutnya. Bisa dia rasakan aliran air mani Ben jauh di dalam rahimnya. Sudah dua kali dia terima dari Ben, di dalam mulut untuk yang pertama dan sekarang di dalam vaginanya untuk yang kedua kalinya. Dia telah disetubuhi dengan begitu layak, sekujur tubuhnya terasa lemas, dia hanya ingin berbaring saja di meja kaca itu untuk beberapa lama. Menikmati persetubuhan hebat yang baru dia terima dan meresapi sisa getaran yang masih mengalir dalam tubuhnya. Josh masih tetap menyaksikan akhir pertandingan, sama sekali tak sadar kalau kekasihnya yang cantik, obyek fantasi dari begitu banyak pria, tengah rebah di atas meja dapur setalah disetubuhi sahabatnya sendiri. Dia tak tahu kalau kekasihnya telah menelan air mani Ben dan juga vaginanya terisi penuh dengan air mani Ben. Bahkan dia tak menyadari kalau keduanya sudah menghilang begitu lama. Dia begitu asik menikmati keripik kentang dan lagipula tim jagoannya sudah hampir memenangkan pertandingan! Sophie memasang pengait bra-nya lalu mengenakan kaosnya, saat Ben sedang sibuk memakai jeans dan mengancingkan bajunya kembali. Dia melangkah ke cermin di dapur tersebut dan merapikan rambutnya sebisanya. Masih tetap terlihat sedikit berantakan dan wajahnyapun masih merona. Sebuah senyuman lebar tersungging di wajahnya, laksana seekor kucing yang mendapatkan sepotong ikan segar. Setalah merapikan rok yang dipakainya, dia melangkah dengan kedua kaki yang masih goyah.
Ben meraih pinggangnya dari belakang dan menghentikan langkah Sophie tepat di depan pintu kaca.
“Yang tadi sangat hebat! Lain kali aku ingin menyetubuhimu di ranjang kalian saat Josh juga ada di sini.” Ucap Ben.
“Datang saja kemari secepatnya.” Jawab Sophie dan mencium pipi Ben, “Kamu bisa mengajak beberapa orang lagi untuk main poker dan kamu bisa bermain dengan ku.” Dia tertawa.
“Mungkin ada beberapa pria yang juga ingin bermain denganmu.” Balas Ben sembari tangannya bergerak naik dan meremas buah dadanya.
“Mmm, mungkin!” jawab Sophie dengan senyuman menggoda.
“Pakai cincin ini, aku suka melihatnya saat kamu menyebut namaku waktu aku setubuhi kamu.” Pesan Ben.
“Ooo, pasti!” Dengan binar di matanya, Sophie menjawab dan melangkah keluar dengan Ben mengikuti di belakangnya.
Josh masih menyaksikan tv saat tim jagoannya membuat gol terakhir untuk memenangkan pertandingin dan dia melompat dan menjerit kegirangan.
“WOOHOO! MEREKA MENANG!” Lalu dia duduk dan membuka sekaleng bir untuk merayakannya.
Tepat kemudian Sophie datang dari arah dapur. Rambutnya agak sedikit berantakan dan wajahnya juga bersemu merah. Kenapa pakaiannya kusut? Ben menyusul, bajunya juga kusut dan wajahnya juga bersemu merah.
“Apa yang terjadi dengan kalian berdua?” tanya Josh.
“Kami membuat makan malam, di dapur sangat panas! Aku, kami tidak bikin suara terlalu berisik tadi, kan?” jawab Sophie dengan tersenyum manis.
Tapi Josh tak memperhatikan hal itu tadi. Dia mengatakan pada Sophie bahwa tim jagoannya berhasil menang dan Sophie mendekat, melangkah cepat dan kakinya terlihat gemetar, apa dia habis minum? Sophie memeluknya dan menciumnya dengan gairah begitu dalam. Lidahnya merangsak masuk ke dalam mulutnya.
Mungkin Sophie memberi garam terlalu banyak pada masakannya, lidahnya terasa asin. Josh menanyakan hal tersebut.
“Kamu pasti tak suka dengan masakannya. Bahkan Ben saja tidak mau, jadi kuhabiskan saja semuanya. Aku suka juga dengan masakan yang asin. Aku sudah habis dua lho, mmm rasanya lembut, kental, asin dan kurasa aku jadi ketagihan. Sayangnya, sudah tak ada waktu lagi untuk membuatnya. Pasti lain kali akan kubuat yang lebih banyak lagi.” Sophie bercerita panjang lebar dengan bangga dan melirik pada Ben dengan tersenyum penuh rahasia.
Ben hanya mampu menyeringai lebar.
“Ok, aku harus pulang sekarang, ada penerbangan besok.” Ucap Ben pada Josh.
“Honey, Ben mau tanya, apa kamu mau bikin acara poker di sini kapan-kapan? Aku tidak keberatan, kalau kamu mau.” Tanya Sophie.
“Sophie pasti masih horny, senyuman menggoda itu masih ada di wajahnya.” Pikir Ben.
“Tentu, aku tidak keberatan. Siap-siap kalah saja Ben. Aku lebih jago main poker daripada kamu.” Jawab Josh berkelakar dengan sahabatnya.
“Kurasa kamu juga harus hati-hati honey, Ben juga PINTAR MAINNYA” timpal Sophie. Hanya saja Ben tahu apa yang dimaksud Sophie sesungguhnya.
“Kita lihat sajalah nati.” Jawab Josh pada Ben
“Bye Ben, sampai ketemu lagi secepatnya.” Ucap Sophie, masih dengan senyuman menggodanya.
Saat kedua sahabat itu sampai di pintu keluar, Ben berbalik dan berkata, “Malam yang menyenangkan, sobat. Terima kasih sudah mengajakku mampir malam ini. Dan sobat, kamu sungguh beruntung punya kekasih hebat seperti Sophie.” Ben mengucapkan teima kasih dan keluar.
Sophie mengamati kedua sahabat itu meninggalkan ruang tengah. Dia tersenyum puas, dia suka menggoda Josh, terlebih dengan permainan kata yang menceritakan apa yang terjadi di dalam dapur tadi. Tapi Josh tak menyadarinya dan itu membuat Sophie merasa begitu nakal.
“Tadi sangat mendebarkan,” pikir Sophie, “Aku tak sabar menunggu acara pokernya. Pasti akan jadi permainan yang lebih menarik.”
Birahinya naik lagi, dia siap untuk bersetubuh kembali saat ini. Hidupnya jadi terasa jauh lebih menggairahkan dan Sophie sudah tak sabar melaluinya.
“Jika anda memesan sekarang, anda akan mendap…”
Sisa iklan itu langsung terpotong begitu Sophie matikan tv. Dia sandarkan kepalanya pada sofa dan medesah pelan. Dia melirik pada jam di dinding, Josh sudah terlambat satu jam. Josh sedang dalam perjalanan bisnis, sebuah kontrak yang penting. Sebuah kontrak yang diharapkan akan membuat mereka kaya. Sophie tak mau turut pergi, perjalanan bisnis bukanlah kesukaannya. Josh telah pergi selama seminggu dan disamping sudah teramat merindukannya, birahinya juga jadi bergejolak tinggi. Sudah seminggu dia tak dapatkan sex. Telah dia coba vibrator, namun sepertinya itu tak lagi memuaskan hasratnya. Yang dia butuhkan adalah sebuah interaksi membara nan erotis. Dua minggu telah berlalu sejak perselingkuhan terlarangnya dengan Ben. Sophie ingin menghubunginya untuk menuntaskan hasrat birahinya, tapi Ben sedang berlibur ke luar negeri dan dia baru kembali di akhir bulan. Itu artinya masih dua minggu lagi! Josh menelponnya seusai meeting siang tadi dan mengatakan kalau dia sudah berhasil mendapatkan kontraknya. Dia berpesan agar Sophie berdandan dan bersiap-siap agar mereka bisa keluar malam ini, tapi hingga sekarang, Josh masih belum kembali. Itulah kenapa saat ini Sophie sudah berdandan rapi. Dia kenakan cocktail dress pendek warna hitam dengan dua buah tali penahan kecil di bahu, yang melekat pada lekuk tubuhnya, menekan dadanya yang begitu membusung. Dia juga memakai high heels hitam yang memperbesar daya tarik seksualnya. Diakhiri dengan bra dan celana dalam berenda juga berwarna hitam. Bra tersebut menekan kedua buah dadanya hingga menciptakan pemandangan menggiurkan dari belahan dadanya. Dia terlihat memukau seperti biasanya. Rambut hitamnya yang lurus tergerai hingga punggung, pahanya yang putih mulus terlihat sempurna mengintip dari gaun yang hanya seatas lutut. Dia merasa begitu horny, tapi dia coba mengendalikan birahinya agar tidak terjebak untuk coba menggoda pria siapa saja yang datang, biarpun itu hanya seorang loper koran. Baru saja dia memikirkan bagaimana cara untuk menuntaskan hasratnya malam ini, terdengar suara bel pintu depan. Langsung dia berdiri, buah dadanya yang besar memantul kenyal, lembut namun kencang. Dengan sedikit berlari dia menghambur ke pintu, sambil berusaha merapikan gaunnya. Perlahan dia buka pintu depan, berharap yang datang adalah Josh. Sophie merasa sedikit terkejut dan juga kecewa, tak dia harapkan kedatangan pria yang sedang menatapnya sekarang ini. Charles adalah bosnya Josh. Seorang pria yang baik hati, itulah yang sering dia dengar tentang bossnya Joss ini. Sering dia sumbangkan uangnya untuk amal dan bahkan memiliki tempat penampungan untuk para tunawisma yang tersebar di banyak tempat. Seorang pria yang dihormati dan disukai banyak orang. Dia bukanlah seorang kaya yang berjalan dengan hidung diangkat dan hanya bergauldengan sesama orang kaya saja. Charles bergaul dengan semua kalangan, kaya maupun miskin. Semua orang menyukainya, kecuali Sophie.
Saat acara pesta kantor hampir satu tahun yang lalu, Charles telah mencubit pantatnya dan berusaha berdansa dengannya dan melakukan tindakan yang sedikit lebih ‘tidak formal’. Bukannya Sophie keberatan untuk sedikit beramah tamah maupun bersikap genit pada orang, tapi tuan Charles bukanlah pria impiannya. Charles telah berusia 56 tahun, rambut beruban pada kepala botaknya, hidung besar, pendek dan kelebihan berat badan. Pakaian yang dia kenakan selalu terlihat hampir meledak robek. Dan saat ini, dia berdiri di hadapan Sophie dengan menyeringai, dengan terang-terangan memandangi tubuh Sophie.
“Pak Charles! Apa yang bisa saya bantu?” tanya Sophie menyembunyikan rasa terkejut dalam suaranya.
“Sophie. Terlihat cantik seperti biasanya.” Jawab Charles dengan seringai konyol di wajahnya. 
Sophie sedikit mundur ke belakang pintu. “Josh menelponku sehabis meeting siang tadi dan dia bilang kalau dia berhasil mendapatkan kontraknya. Tentulah aku merasa senang untuknya dan kusuruh dia mampir ke tempatku untuk minum, tapi dia memaksaku yang datang kemari saja. Apa dia ada?”
“Tidak, dia belum datang. Seharusnya dia sudah pulang satu jam yang lalu tapi sampai sekarang belum juga datang dan dia belum telpon juga.” Jawab Sophie.
“Ahh, dia bilang kalau dia belum pulang, ada masalah penerbangan katanya. Dia menyuruhku untuk menunggunya dan kamu yang akan menemaniku.” Senyumnya semakin lebar dalam kata terakhirnya.
“Dia tak bilang padaku.” Jawab Sophie, “Kurasa sebaiknya anda masuk saja.”
Sophie mundur ke belakang pintu dan membiarkan sang pria tua ini masuk. Tak akan mau dia berjalan di hadapan pria ini dan memberinya alasan agar dapat memandangi pantatnya.
Setelah Charles masuk, Sophie menutup pintu dan mengikutinya menuju ke ruang tengah. Charles duduk di sofa di seberang kursi. Sebuah meja ditengahnya, tv di sebelah kiri dan sofa yang lainnya di depannya. Sophie memegangi roknya saat duduk di kursi.
“Dasar pria tua cabul!” batinnya, “Aku seumuran anaknya.”
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa lama. Sophie memandang ke arah lain setiap kali Charles menatapnya.
“Mau minum?” tawar Sophie, mencoba cari alas an untuk pergi.
“Yeah, boleh.” Jawab Charles.
Sophie berdiri dan merutuk dirinya sendiri karena sudah membungkuk terlalu dalam, lalu dengan cepat dia melangkah ke dapur.
Dibukanya kulkas dan mengeluarkan sebotol bir, setelah membuka tutupnya, dia kembali ke ruang tengah, disodorkannya pada boss kekasihnya ini. Charles menahan botol bir itu dalam genggaman tangan Sophie saat dia menyodorkan padanya. Sophie tarik tangannya dan mundur. Charles meneguknya sedikit lalu menaruhnya ke atas meja di depannya. Saat dia berdiri, tingginya sedikit lebih pendek dari Sophie. Dia berjalan mendekat, Sophie tak mau menjauh.
“Brengsek, ini rumahku. Tak akan kubiarkan dia mengalahkanku di rumahku sendiri.” Pikir Sophie.
Charles berhenti dan mengulurkan tangannya pada Sophie.
“Boleh aku mengajakmu dansa sekali saja Sophie?” Tanya Charles dengan penuh sopan.
“D..d.. dansa?” Sophie tergagap tak percaya.
“Ya, sekali saja.” Jawab Charles dengan tersenyum.
Sophie merasa bimbang, mungkin pria ini tak sepenuhnya kurang ajar.
“Sekali saja.” Jawab Sophie ketus.
Charles menyambut uluran tangan Sophie, yang terlihat sangat sexy malam ini. Tiap kali dia berjumpa dengannya, dia selalu terlihat menawan, tapi dalam balutan gaun ini, keseksiannya memancar keras dan begitu menggiurkan… untuk disantap. Dengan lembut ditariknya tubuh Sophie dalam dekapannya. Rencananya mungkin saja berhasil, pikir Charles. Dia telah merencanakan untuk mengajak Sophie berdansa, pura-pura jatuh ke sofa dengan tak sengaja dan sedikit merabai tubuhnya saat itu terjadi. Itu mungkin saja berhasil. Dengan satu tangan di pinggang Sophie, dipegangnya tangan Sophie yang satunya dengan kencang dan memeluk tubuhnya dengan erat. Buah dadanya yang besar sedikit bergesekan dengan dadanya dan Charles ingin memeluknya erat, menidurkannya di lantai dan menyetubuhinya dengan buas. Tapi Charles sadar kalau Sophie akan melawannya, tidak, memegang buah dadanya, akan terlihat tanpa sengaja saat jatuh. Mereka berdansa beberapa langkah, lalu tambah beberapa langkah lagi, sedikit berputar dan beberapa putaran lagi. Dia pintar dansa, dia pasti pintar semuanya, pikir Charles. Setelah beberapa saat, dia putar tubuh Sophie hingga kini punggungnya menyandar pada tubuh Charles, Sophie mulai menikmati ini. Kemudian Charles bisa merasakan sofa tempat duduknya tadi menyentuh kakinya dan membuat kakinya tertekuk. Dia jatuh ke belakang, ke atas sofa, membawa tubuh Sophie dalam jatuhnya. Tapi sesungguhnya ini bukan cara jatuh yang dia rencanakan.
Sophie jatuh bersama tubuh Charles, mendarat di pangkuan Charles yang jadi terduduk sekarang. Dia jatuh terhempas tepat dalam pangkuan Charles, mendudukinya. Bisa dia rasakan sesuatu yang keras menekan selangkangannya. Rasa terkejut karena jatuh, membuatnya hanya diam saja, otaknya sedang merespon apa yang telah terjadi. Setelah agak tenang, dia sadari kalau Charles masih tetap memegangi pinggangnya, dia sedang duduk dalam pangkuannya dan sesuatu yang keras sedang menekan tepat di vaginanya.
“Penisnya!” batin Sophie, “Aku tepat menduduki batang penisnya!”
Tentu saja, mendapati wanita muda yang sensual sedang jatuh tepat di pangkuannya, mendudukinya, langsung membuat Charles ereksi.
“Aku harus berdiri!” Pikir Sophie.
Namun dia tak bergerak sedikitpun. Merasakan ada sebatang penis yang keras menekan vaginanya terasa begitu nyaman, apalagi sudah seminggu dia tak mendapat seks. Charles tak percaya kalau rencana jatuhnya bisa berjalan begtu sempurna. Memang cara jatuhnya tadi salah, tapi ini jauh lebih baik dari yang dia harapkan dan apa yang membuatnya jadi sempurna adalah kenyataan bahwa Sophie tak juga beranjak dari pangkuannya. Dia pasti bisa merasakan ereksiku, pikir Charles, dan dia tentulah menyukainya. Hati Sophie menjerit untuk segera berdiri lagi. Dia tak akan merasa keberatan menduduki batang penis pria lain, tapi ini milik pria yang membuatnya muak, Charles! Tapi ini terlalu terasa enak untuk ditinggalkan. Dia gerakkan sedikit pantatnya hingga dapat dia rasakan obyek keras itu menggesek vaginanya. Sepertinya itu membuat pria tua ini semakin birahi dan batang penisnya jadi bertambah keras saja.
“Oh” Sophie tak bisa mencegah lenguhan kecil lepas dari mulutnya saat merasakn sebatang penis keras tengah merangsangnya. “Sudah lama.” Batin Sophie.
Tangan Charles semakin ketat memeluk pinggangnya dan menahan tubuh Sophie tepat di batang penisnya.
“Hmmm, sekarang duduknya jadi lebih nyaman, kamu setuju kan nona Sophie?” tanya Charles.
“Yeah” dia menjawab sebelum mampu berpikir.
Sepenuhnya berada dalam cengkeraman nafsu, Sophie jadi benar-benar lupa kalau ini adalah pria yang dibencinya. Yang dia rasakan hanyalah, ini sebatang penis yang keras dan menggesek vaginanya dengan enak.
Perlahan Charles memantulkan lututnya hingga Sophie terlonjak di penisnya dengan lembut. Sodokan lembut tersebut membuat Sophie merintih lirih dan birahinya semakin berkobar. Menyadari kalau batang penis di bawahnya ini sedang berusaha melakukan penetrasi terhadapnya, membuat Sophie lepas kendali.
“Kamu suka permainan kecilku?” Charles menanyainya.
“Uh-uh” Sophie mengangguk.
“Kamu suka merasakan penis kerasku?” Tangan Charles mencengkeram pinggangnya. Sekarang tubuh Sophie terlonjak sedikit cepat.
“Mmm, yeah” Kini erangannya tak lagi pelan.
Apa yang sedang dia lakukan, dia benci pria ini dan pria ini sama sekali tak membuatnya terangsang. Tangan Charles melepaskan pinggangnya dan perlahan merayap ke atas untuk menangkap buah dada Sophie dari belakang. Dia memegangnya sejenak, membayangkan bagaimana bentuknya. Tubuh Sophie masih melonjak saat Charles memegangi kedua buah dadanya dari belakang. Membayangkannya semakin membuat Charles birahi dan dia memantulkan tubuh Sophie di pankuannya dengan cepat. Buah dadanya memantul naik turun di balik gaunnya, dalam genggaman tangan Charles. Sophie merintih saat Charles meremasnya. Charles berhenti mengayunkan tubuh Sophie saat terdengar bunyi telpon. Sekarang Sophie sudah teramat sangat horny. Charles meremasi buah dadanya dari belakang dan batang penisnya yang menyodok vagina Sophie terus membesar hingga menambah tekanannya semakin keras saja. Kembali terdengar dering telpon dan Charles menghentikan gerakannya. Di satu sisi Sophie merasa lega, namun di sisi lainyya dia mengharapkan agar Charles meneruskan perbuatannya. Birahinya membumbung tinggi. Sophie masih tetap duduk di pangkuan Charles saat dia berusaha menggapai telpon yang terletak di samping sofa. Sebuah telpon cordless dan meempunyai layar LCD kecil, yang menunjukkan nama sang penelpon. Di layar kecil itu tertera, JOSH, yang berarti kekasihnya sedang menelpon lewat hp-nya. Masih dengan tangan boss kekasihnya sedang memegang buah dadanya dan penisnya yang keras menekan di bawah tubuhnya, Sophie menjawab telpon.
“Hallo?”
“Hai honey, ini aku” jawab Josh.
“Hai baby” jawab Sophie dan Charles mulai meremas buah dadanya lagi, Sophie berusaha keras menahan suara lenguhan yang sedikit keluar dari bibirnya.
“Honey, pesawatnya sudah mendarat, tapi aku masih menunggu taksi. Mereka bilang ada kecelakaan di jalan dan membuat macet yang parah. Aku belum tahu kapan sampai di rumah, mungkin satu jam lagi atau bisa jadi beberapa jam.” Josh menjelaskan.
“Oh baby, I miss you. Aku sudah tak sabar menunggumu.” Jawab Sophie saat dengan menggunakan buah dadanya, Charles menarik tubuhnya ke belakang. Sekarang dia bersandar pada tubuh Charles. Kembali dia raba dan remas buah dada Sophie sembari kepalanya bergerak ke depan untuk mencium leher Sophie lembut. “Oh” Sophie mendesah pelan.
“Kamu baik-baik saja honey?” tanya Josh cemas.
“Ya, aku baik-baik saja baby. Aku cuma lagi duduk di suatu yang keras, itu saja.”
Mata Sophie sekarang terpejam. Kepalanya menoleh ke arah boss kekasihnya dan bibir mereka saling mengunci satu sama lain. Charles melanjutkan serangannya terhadap Sophie yang memegangi telpon di telinganya.
“Honey, aku lupa bilang padamu kalau bossku akan mampir untuk minum-minum, harusnya dia sudah datang. Bisakah kamu menemaninya dulu sampai aku pulang?” Josh bertanya dengan cemas. Dia tahu kalau Sophie tak suka pada bossnya.
Sophie menghentikan ciumannya, “Ya, baiklah baby.” Jawabnya.
Charles terus meremas buah dadanya. Sophie manatap tangan gemuk yang terus meremasi buah dadanya dari luar gaunnya.
“Bossmu sudah datang kok dan sekarang aku sedang menjamunya. Kelihatannya sih dia suka kutemani.” Jawab Sophie.
“Baguslah, aku lega semuanya baik-baik saja. Kuusahakan pulang secepatnya honey.” Jawab Josh.
“Aku sudah tak sabar menantimu baby.” Sophie merajuk.
Semua kenyamanan yang tengah dia rasa telah merasukinya. Dia membutuhkan sebatang penis dan dia menginginkannya sekarang juga. Dan ada sebatang tepat di bawahnya sekarang ini. Lalu sebuah ide nakal hinggap di otaknya dan hanya memikirkan itu saja hampir membuatnya mendapat orgasme. “Baby, Aku sangat kangen padamu, sudah seminggu. Jangan tutup dulu telponnya, kita ngobrol sebentar, kamu mau kan?” tanya Sophie dengan nada merajuk terbaiknya.
“Tentu sayang, aku juga kangen kamu, sudah tak sabar ingin keluar nih” jawab Josh disusul dengan tawa kecilnya.
“Iih…” jawab Sophie manja. “Kuberikan telponnya pada bossmu sebentar. Aku mau buat camilan dulu, nanti kita sambung lagi.”
“Baiklah baby” jawab Josh.
Sophie berputar di pangkuan Charles, memaksanya untuk melepaskan genggamannya pada buah dada Sophie. Dengan tersenyum dia berikan telpon pada Charles, tapi saat medekatkan telpon tersebut ke telinganya, Sophie berbisik di telinga sang pria tua yang satunya lagi.
“Akan kuhisap penismu saat menelpon kekasihku!”
Dan dengan senyum menggoda, dia berikan telpon tersebut pada Charles.
Meluncur turun dari pangkuannya, ada sedikit kekecewaan di hati Sophie saat meninggalkan batang keras di bawah tubuhnya tersebut. Tapi sebentar lagi akan kudapatkan dalam mulut, batin Sophie. Kini Sophie berlutut di hadapan Charles dan mulai membuka sabuk serta kancing celananya, dia dengar Charles bicara dengan kekasihnya di telpon tentang ‘bagaimana kekasihnya menemaninya’ dan ‘ betapa menyenangkannya dia’ serta ‘dia benar-benar menyambutnya dengan baik.’ Sophie menurunkan celana beserta boxer Charles dan jadi terkejut dengan yang dia lihat. Batang penis berukuran besar ini tak mungkin milik pria pendek dan gemuk ini. Bahkan ukurannya lebih besar dari milik Ben. Sophie mengangkat kepalanya dan memandang Charles yang balas tersenyum padanya, lalu kembali ditatapnya sang monster dihadapannya tersebut. Dia coba genggamkan satu tangannya, dia jadi terperanjat saat jemari kecilnya tak sanggup menggenggamnya. Penis pria tua ini benar-benar monster. Dengan pelan Sophie mulai mengocok naik turun, dia menatap ke atas,
“Suka?”
“Sangat bagus” jawab Charles dengan, “Oh, Sophie baru saja memperlihatkan gambarnya.” Charles menjawab Josh.
Sophie tersenyum, pada dirinya sendiri dan pada Charles. Ini begitu nakal.
Tiba-tiba saja Charles berkata, “Yeah, akan kuberikan padanya dulu.” Dan dengan tersenyum disodorkannya telpon itu pada Sophie.
Sophie menerima dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya lagi masih terus mengocok penis Charles dengan cepat.
“Hai baby, ada apa” tanyanya pada kekasihnya selama 3 tahun.
“Gambar mana yang dia maksud? Kamu kan sudah tidak melukis.” tanya Josh .
Sophie menjulurkan kepalanya ke depan seusai bicara dan dia jilat kepala penis Charles.
“Kamu ingat gambar perahu yang kubuat sudah lama dulu.” Dia jawab pertanyaan Josh. Dan begitu Josh mulai bicara, kembali dia jilat kepala penis Charles. Lalu lidahnya menjalar turun di sepanjang batangnya dan kembali naik untuk melingkari kepalanya lagi.
Saat Sophie melakukannya, sang kekasih berkata, “Oh ya, aku ingat sekarang, kukira sudah kamu buang. Sudah kubilang kan kalau seharusnya kamu jangan berhenti melukis.”
“Aku tahu, mungkin aku memang harus melukis lagi.” Jawab Sophie, masih dengan rasa penis Charles di lidahnya. “Honey, akan kuberikan telponnya pada bossmu lagi. Kurasa camilanku sudah hampir siap.”
Dia terus mengocok dengan cepat dan ekspresi wajah Charles menandakan kalau dia sudah begitu dekat. Matanya terpejam dan telapak tangannya mencengkeram sandaran sofa dengan begitu kencang. Sophie berikan telpon itu pada Charles, yang dengan cepat berkata pada Josh,
“Tangan kekasihmu memang pintar, memainkan kuas.”
Sophie tersenyum pada Charles dan dengan tak lepas menatap mata Charles, dia turunkan mulutnya untuk mulai mengulum kepala penisnya. Menghisap ke dalam mulutnya dengan gerakan lambat. Menurunkan kepalanya dengan teramat pelan, sedangkan matanya tak pernah lepas dari mata boss kekasihnya. Charles harus pejamkan matanya sekarang dan mulutnya mengeluarkan kata ’Gila!’ tanpa suara. Dia berusaha untuk tak mengerang di telpon. Sophie merasa semakin birahi sekarang. Dia tengah menghisap penis milik boss kekasihnya yang sedang menelponnya. Vaginanya berdenyut nikmat. Terus dia gerakkan kepalanya pelan, rahangnya meregang selebar yang dia mampu, tapi dia yakin kalau dia mampu menelan seluruh batang penis Charles ke dalam mulutnya dalam satu gerakan saja. Dia sudah mendapat pengalaman dengan penis Ben, bagaimana cara menghisap batang penis berukuran besar. Dengan mata masih menatap boss kekasihnya, sekarang Sophie merasa penis Charles mulai memasuki tenggorokannya. Mulutnya sudah mentok ke pangkal penis Charles dan kini seluruh batang penis tersebut telah berhasil dia telan. Sophie mengamati ekspresi terkejut yang terpancar dari mata Charles, dia yakin kalau belum ada seorangpun yang pernah berhasil menelan seluruh batang penisnya, seperti yang dia lakukan ini. Sophie bermaksud membuat pria ini keluar secepatnya. Dipegangnya pinggang Charles yang lebar, dia mulai menaikkan kepalanya diikuti dengan hisapan kuat. Begitu mencapai kepala penisnya, dia turunkan lagi dengan pelan, masih dengan tatapan mata yang tak pernah lepas dari mata Charles. Turun dan naik dengan pelan di sepanjang batang tersebut, tak luput lidahnya turut menggelitik batangnya juga. Merasakan panjang dan besarnya batang penis Charles di dalam mulutnya membuat Sophie tak mampu mencegah mulutnya untuk mengeluarkan suara erangan penuh kenikmatan. Dia pejamkan mata, seluruh indera perasaannya tercurah pada perbuatan mesumnya tersebut. Cepat dan bertambah cepat dia gerakkan kepalanya naik turun, menghisap dengan semakin kuat.
“Oh, kekasih… mu… menjamuku… dengan… sangat baik, Josh.” Sang boss bertubuh gemuk berusaha menjawab tanpa mengerang.
Kepala Sophie terus naik turun, semangatnya semakin terpacu saat telinganya mendengar Charles menyebutkan nama Josh. Ini membuatnya semakin kesetanan.
Dia terus mengerang di batang penis Charles. Menghisap dan mengecap rasanya. Merasakan batang besar Charles keluar dari mulutnya dengan begitu basah lalu meluncur masuk kembali dengan mudah ke dalam mulutnya dan terus meluncur menusuk tenggorokannya. Sophie mempercepat gerakannya, menghisap penis Charles dengan segenap kemampuan yang dia miliki. Dia sangat menikmati ini. Tak pernah dia kira kalau Charles memiliki penis fantastis seperti ini. Jika dia tahu dari dulu, pasti akan dia biarkan Charles berdansa dengan cara bagaimanapun dia mau dan menyetubuhinya juga malam itu. Memang dia tua dan gemuk, tapi batang penisnya begitu muda dan jantan dan dia juga mempunyai stamina layaknya seekor kerbau hingga dia masih saja sekeras ini dan terus bertahan biarpun sudah dia mainkan batang itu sejak tadi. Sophie terus bergerak cepat, dengan berpegangan pada pinggang Charles sebagai tumpuan. Ingin rasanya dia memekikkan kenikmatan yang menyesakkan dadanya, namun batang penis yang menyumpal penuh mulutnya membuat itu jadi tak mungkin. Yang keluar dari mulutnya hanyalah erangan yang teredam. Sophie sudah tak sabar untuk membuat Charles selekasnya menyemburkan air maninya ke dalam tenggorokannya. Saat Sophie terus menggerakkan kepalanya dengan cepat, Charles lalu memegangi kepalanya, tanpa menekan, belum. Sophie tersenyum, Charles sudah hampir keluar. Bagaimana tidak. Sudah dia incar kekasih Josh ini semenjak pesta kantor lalu dan sekarang dia mendapatkan yang lebih dari impiannya, Sophie yang berlutut dan menghisap penisnya dengan begitu lihai. Tangan Charles yang memegangi kepalanya, batang penis dalam mulutnya dan memikirkan apa yang tengah dia perbuat membuatnya mengerang. Belum pernah Charle bermimpi kalau hal ini akan terjadi. Dia hanya berharap untuk dapat sedikit menyentuh tubuh Sophie, yang sudah berhasil diwujudkannya dengan sukses. Tapi belum pernah dia memimpikan jika wanita muda rupawan yang telah lama diincarnya ini, akan berlutut di hadapannya, menghisap penisnya dengan mata tak pernah lepas menatapnya dan disaat dia tengah bicara di telpon dengan kekasihnya. Cocktail dress pendek berwarna hitam yang dikenakannya semakin membuat pemandangan ini semakin erotis. Charles bisa melihat melalui bagian atas, buah dadanya yang sedikit terguncang saat dia menaik turunkan kepalanya untuk menghisap penisnya dengan cepat dan penuh perasaan. Dan Charles terus bicara dengan Josh,
“Ya, kelihatannya dia begitu menikmati camilannya. Dia pasti pintar memasak” Dia berusaha mengatur agar suaranya terdengar sestabil mugkin.
Hisapan mulut Sohie sungguh lihai. Mulutnya begiitu lembut dan jepitan tenggorokannya selalu hampir membuatnya keluar setiap kali dia menembusnya. Belum pernah dia temui wanita yang bisa menghisap penis selihai Sophie.
“Ya memang. Apa yang dia masak?” Tanya sang kekasih yang tak tahu.
“Sesuatu yang dilumuri saus, hangat dan basah. Pasti rasanya nikmat, karena bukan hanya dia kelihatan sangat menikmati tapi juga caranya menyantap tedengar begitu nikmat.” Jawab sang boss.
Sophie mengerang saat Charles menjelaskan hisapannya pada sang kekasih. Charles tersenyum, jadi inilah yang membuat Sophie terbakar birahinya dengan cepat, resiko dipergoki kekasihnya dan erotisme situasi seperti sekarang ini. Sekarang Charles punya sebuah rencana untuk membuat Sophie jadi miliknya.
“Ya, kelihatannya dia memang suka sama sosis.” Josh tertawa, “Belakangan ini dia selalu menginginkannya. Mungkin sudah jadi kebiasaan.”
“Yeah, dia terlihat begitu menikmatinya. Pasti ini terenak yang pernah dia makan.” Ucap Charles, “coba saja dengarkan suara makannya.”
Sophie hampir keluar saat Charles mendekatkan telpon itu di samping telinganya. Sudah pasti sekarang Josh bisa mendengarkan suara hisapan mulut dan erangannya.
Segera dia lepaskan mulutnya dari penis Charles dan dengan cepat bicara pada Josh, “Oh baby, ini sangat enak! Aku jadi terkejut sendiri sekarang.” Lalu mulutnya kembali lagi pada batang penis gemuk itu saat Josh mulai bicara padanya.
Dia tetap mengerang dan tak berusaha mencegah suara hisapan basah mulutnya saat Josh bicara, kepalanya terus bergerak naik turun. Semua ini begitu nikmat! Kepalanya bergerak semakin cepat dan matanya menatap mata Charles. Josh mendengar suara mulut basah kekasihnya yang terdengar begitu menikmati yang tengah disantapnya. Josh memuji keahlian memasak kekasihnya, tanpa dia sadari kalau saat ini kekasihnya itu tengah berlutut di ruang tengah rumahnya, sedang menghisap penis bossnya dengan cepat, dengan telpon berada didekatnya hingga dapat dia dengar dengan jelas suara hisapan mesum tersebut. Charles mengambil telponnya kembali, dia lihat kedua mata Sophie begitu penuh dengan binar nafsu. Charles tak sanggup menahannya lebih lama lagi, semuanya ini akan segera membuatnya keluar setiap saat.
“Josh… ceritakan bagaimana… meetingnya… berjalan.” Dengan terbata Charles bisa berkata.
Pipi Sophie terlihat bergerak keluar masuk oleh sodokan ujung penisnya. Charles tahu inilah waktunya, saat dia bicara dengan sang kekasih sambil memandangi wajah cantik Sophie dengan mata penuh birahi yang terus menatapnya dan mulutnya yang penuh tersumpal batang penisnya. Dia pencet tombol mute pada telpon tersebut.
“Aku akan keluar dalam mulutmu Sophie” Charles peringatkan kekasih Josh tersebut dengan tangan tetap memegangi kepalanya
Sophie menghisap semakin keras dan menggerakkan kepalanya naik turun semakin cepat.
“Lalu akan kusetubuhi kamu saat bicara dengan kekasihmu di telpon” geram Charles.
Sophie mengerang, bola matanya berputar. Charles menarik kepala Sophie hingga seluruh batang penisnya terbenam dalam mulut Sophie dan di saat yang bersama dia dorong pinggulnya ke atas, membuat Sophie tersedak oleh batang penis yang merangsak masuk dalam tenggorokannya. Dengan mata terus melekat pada mata Charles dan kekasihnya sedang menerangkan jalannya meeting di telpon, penis Charlespun menyembur. Charles muntahkan semburan demi semburan maninya langsung ke dalam tenggorokan kekasih Josh. Batang penis yang menusuk tenggorokannya, membuat Sophie hanya mampu menelan semua mani yang disemburkan Charles sebisanya. Charles menggeram saat kantung zakarnya mengosongkan isinya ke tenggorokan Sophie.
“Gila, kamu penghisap penis paling hebat yang pernah kutemui.” Puji Charles saat dia lepaskan kepala Sophie.
Perlahan, mulut Sophie meluncur lepaskan batang penis Charles, yang masih memegangi telpon di samping telinganya. Josh masih terus menjelaskan pada sang boss tanpa mengetahui kalau sang boss baru saja memuntahkan air maninya dalam tenggorokan Sophie. Dia sama sekali tak tahu kalau kekasihnya yang berusia 22 tahun baru saja memberi bossnya sebuah hisapan penis terhebat yang pernah didapatkan oleh sang boss, menelan semua air maninya tanpa meninggalkan sisa dan berikutnya akan menyetubuhinya saat dia masih bicara di telpon. Sophie merasa terkejut dengan stamina pria tua ini, batang penisnya masih saja keras!
“Terus, apa kamu akan duduk di situ saja atau kamu jadi menyetubuhiku?” tahya Sophie dengan nada tak sabar.
“Yeah, berbaringlah.” Jawab Charles dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sophie.
“Tidak. Aku sudah berubah pikiran.” Jawab Sophie dan kemudian berdiri. Melihat kekecewaan di wajah Charles membuatnya tersenyum, dia memang seorang penggoda.
Tangannya menyusup ke balik gaunnya, dia turunkan celana dalam warna hitam berenda yang dia pakai dan menendangnya lepas dari kakinya. Celana dalam itu mendarat di sofa yang satunya.
“Aku tak mau kamu setubuhi, belum.” Ucapnya. Tatapan Charles tak pernah lepas dari wajah Sophie. “Aku yang akan menyetubuhimu.”
Dia membungkuk dan berlutut dengan kedua lutut berada di samping paha Charles, menunggangi kalau tak bisa disebut berlutut di atasnya. Buah dadanya tepat di depan wajah Charles. Sophie menatap Charles di bawahnya, tersenyum menggoda.
“Aku akan setubuhi kami saat aku telpon kekasihku,” ucapnya dengan kobaran birahi di matanya.
Diambilnya telpon itu dari tangan Charles, dia tekan tombol mute dan didengarnya Josh berkata “Itulah meetingnya kemarin boss.”
Masih tetap menatap mata Charles, vagina tepat di atas ujung kepala penis besarnya. Tangannya yang sebelah menggapai ke bawah untuk memegang batang penis Charles, menuntunnya menuju gerbangnya nan lembut dan dia mulai bicara pada kekasihnya di telpon.
“Hai baby, sekarang camilanku sudah habis. Aku mau duduk sekarang dan kita bisa lanjutkan ngobrolnya.” Dan bersama itu dia hempaskan tubuhnya turun pada batang penis Charles yang keras.
Dia jatuhkan tlponnya dan menjerit keras. Kedua matanya terpejam rapat kala rasa sakit berbalur nikmat yang diberikan oleh batang besar milik Charles memasuki tubuhnya dengan paksa. Ekspresi wajah Charles menyiratkan seakan dia tengah sekarat dan melayang ke atas surga. Sophie tak bisa mempercayai rasa yang diberikan batang penis Charles dalam tubuhnya. Dia merasa begitu terisi penuh sekan ujung kepala penis tersebut menembus masuk hingga ke dalam mulutnya. Dia benar benar dipaku oleh batang penis sang boss yang berusia renta. Kembali mulutnya mengeluarkan erangan. Lalu Sophie menyadari kalau dia tadi sudah menjatuhkan pesawat telponnya. Diraihnya kembali telpon tersebut dan mendekatkannya di telinganya.
“SOPHIE? SOPHIE KAMU TIDAK APA-APA?” terdengar suara Josh di seberang.
“YA! Ya… aku… baik-baik saja” jawab Sophie pada kekasihnya, dia resapi kenikmatan rasa dari batang penis keras yang terbenam begitu jauh dalam tubuhnyar.
“Apa yang terjadi? Kurasa aku tadi dengar kamu menjerit!” tanya Josh cemas.
“Aku tidak apa-apa baby. Aku sangat baik-baik saja! Aku cuma menduduki sesuatu yang keras lagi. Tapi sekarang sudah tak apa-apa, sudah baikan. Sudah tak terasa sakit sekarang.” Ucapnya dengan tersenyum. Mata Charles masih terpejam, menikmati sempitnya vagina Sophie dan mimpinya yang sekarang jadi kenyataan.
“Mestinya kamu lebih berhati-hati lagi honey ” pesan Josh, rasa cemasnya berangsunr hilang setelah dengar penjelasan kekasihnya.
“Tentu baby, terima kasih sudah mengingatkan. Awwww, sangat manis, I love you baby” ucapa Sophie. “Tahan sebentar ya.”
Dipandangnya Charles, yang sekarang matanya terbuka dan kedua tangannya berlabuh pada paha Sophie di balik gaun. Sophie taruh telpon itu di bahunya dan berkata, “Aku akan menggoyangmu sangat keras Pak Charles. Mungkin bisa kamu promosikan Josh sekarang.” Ucapnya dengan senyuman manis. Selalu dia rasa cerita tersebut begitu erotis, tentang wanita yang bersetubuh dengan boss pasangannya demi kenaikan pangkat ataupun menyelamatkan pekerjaannya. “Akan kubuat kamu keluar di dalam, semuanya dalam vaginaku saat aku bicara dengan kekasihku di telpon.”
Kembali dia tersenyum pada sang pria tua yang hanya diam terpukau oleh semua tingkah lakunya. Sophie tertawa genit saat dia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Penis panjang dalam tubuhnya mulai tercabut keluar dan Sophie menggerakkan pinggulnya ke arah berlawanan dan merasakannya kembali meluncur masuk dalam sambutan lubang vaginanya. Perlahan dia gerakkan pingulnya, sangat pelan, meskipun ingin dia hentakkan secepat mungkin. Terus ditatatpnya Charles, dia dengar suara erangan dan geramannya di sela nafasnya yang berat. Sophie dekatkan telpon itu ke telinganya lagi, tapi harus dia taruh di bahunya kembali saat dia mengerang begitu keras. Tak sanggup dia redam erangan mulutnya sat gelombang kenikmatan yang didorong oleh batang penis Charles menghantam tubuhnya. Dia berusaha untuk menggerakkan pinggangnya perlahan, menjaga iramanya dan dia dekatkan telpon itu ke telinganya kembali.
“Hey baby” sapa Sophie. Mata kedua pasangan mesum tersebut saling kunci.
“Hey honey, kenapa?” Tanya Josh.
“Oh, aku cuma… ada yang harus kukerjakan, cuma itu saja kok ” jawabnya.
Sofa kulit sofa tersebut mulai berdecit seiring goyangan yang diberikan Sophie. Tangan Charles mulai mengelus pahanya.
“Sedang apa kamu sekarang?” tanya Sophie.
“Aku masih di bandara.” Jawab Josh.
“Oh!” dia mendesah pelan saat Charles memberikan sedikit hentakan pada sodokannya. “Benarkah?” Tanya Sophie.
“Yeah. menjengkelkan.” Jawab Josh.
Tangan Sophie merambat dari mulut turun ke buah dada, memegang salah satunya dan kemudia dia remas. Kemudian tangannya terus merambat turun hingga perut dan berakhir di pahanya.
“Kukira kamu akan menggoyangku keras?” bisik Charles pelan.
“Mmmm” Sophie melenguh lirih, “Apa kamu horny untukku?” tanyanya pelan. Lalu mulai dia percepat, menggerakkan pinggulnya semakin cepat, keras saat Charles menghentak ke atas dengan cepat dan keras pula, mengimbangi irama Sophie. “Mmmmmm, yeah” dia mendesah agak keras.
“Kamu bilang apa honey?” Tanya Josh.
“Aku bilang, Mmmmmmm yeah! Itu memang menyebalkan.” Jawab Sophie sembari dia hempaskan tubuhnya ke batang keras di bawahnya.
“Memang tak…….” Sophie tak bisa dengar sisa perkataan Josh di telpon karena kembali dia letakkan telpon itu di bahunya.
Dia mendesah dengan nyaring.
“Oh, Sophie, kamu sangat sexy” Charles mengerang.
Hanya erangan sebagai jawaban Sophie.
“Terus goyang penisku saat kamu bicara dengan kekasihmu” Charles menggeram padanya.
Sophie mendesis panjang dan kemudian dia dekatkan telpon itu ke telinganya lagi. “Babyyy, bisaakahh kamuu pulllang cepppaattt?” Dia usahakan suaranya terdengar stabil kala penis Charles melesak ke dalam vaginanya lagi.
“Kuusahakan secepatnya honey ” jawab Josh, “Suara apa itu?”
“Oooo, Suara yang mana?” Tanya Sophie, berharap Josh menganggap suara erangannya tadi sebagai nada bingung.
“Suara berdecit?” Tanya Josh.
Dia tersenyum, menyadari apa yang bisa didengar Josh. Saat ini goyangannya begitu keras dan cepat, naik turun di batang penis Charles yang menyodok vaginanya, mengakibatkan sofa yang mereka duduki berdecit. Sebuah ide nakal hinggap lagi di benak Sophie dan itu membuatnya semakin keras menghempaskan dirinya ke tubuh Charles.
“aku di dallamm kamar baby. Harus ddi kaammarr sekarraaang ” jawab Sophie.
“Kamu main dengan jari di kamar dan bossku kamu tinggal di ruang tengah?” tanya Josh dengan tertawa kecil,dia tahu kalau Sophie suka resiko.
“Dia…. sedang… siibuk sekkarang. Di masih duduuk di soffaaa saat aku tinggal.” Jawab Sophie.
“Dan kamu ingin bicara mesum denganku?” tanya Josh dengan semyum lebar.
“Yeeaahh” erang Sophie.
“Tapi jangan lama-lama, kamu tak boleh terlalu lama meninggalkan bossku sendirian. Kesannya tidak baik buatku.” Jawab Josh.
“Yaa.” Janji Sophie, “Ummmmmmm! Aku bisa rasakan penis itu sedang menembus tubuhku sekarang.” Sophie mengerang, menghentakkan vaginanya ke penis Charles dengan keras.
Sekarang Charles balas menyodok dengan galak dan sofa itupun berdecit semakin keras, semakin cepat seiring persetubuhan mereka. Charles tak percaya bagaimana perubahan yang terjadi malam ini. Dia hanya bermaksud untuk dapat sedikit menyentuh tubuh molek kekasih pegawainya ini dan sekarang wanita molek ini menggoyangnya keras saat sedang mengatakan betapa nikmatnya pada kekasihnya di telpon. Dia merasa hampir meledak, namun dia masih ingin menikmati semuanya ini selama mungkin. Sekarang Sophie mengerang dengan terbuka di telpon, sang kekasih hanya akan mengiranya sedang ber- phone sex dengannya. Batang penisnya yang keras menyodok tubuh Sophie yang bergoyang keras di atasnya, suara racauan dan erangannya bertambah keras saja. Buah dadanya yang besar terpantul liar dalam himpitan gaun hitamnya, seakan hampir tumpah dari dalamnya. Dan semakin terlihat hendak melompat keluar saat punggung Sophie meregang ke belakang, untuk membuat hentakannya semakin keras.
“Oh yeah Sophie” Charles mengerang pelan.
Dia tak mau merusak ide bahwa dia tidak berada di sana. Begitu erotis menyaksikan tubuh Sophie bergoyang liar di atasnya, merintih keras dan mengerang saat dia menelpon kekasihnya. Sofa di bawah mereka tak mau ketinggalan mengeluarkan decitan berisik. Suara yang keluar dari mulut Sophie yang sekarang matanya terpejam rapat, erang tertahan dari Charles serta decitan sofa begitu riuh rendah saling bersautan. Mulut Sophie terus mengeluarkan racau kenikmatan.
“Aku harus pergi sekarang baby atttauu kamuu akan memmbuatkuu kelluuaaarrr. Akann kubberikan telpoonnya paddaa Ppaaak Chaarrrlesss laagggiii.” Ucap Sophie.
Mendengar bibir Sophie memanggilnya Pak Charles membuat batang penisnya semakin mengeras. Sophie sudah hampir keluar. Dengan menahan telpon itu di bahunya, Sophie menggoyang Charles dengan bertambah cepat dank eras. Dia sudah begitu dekat sekarang. Meracau dengan terbuka pada kekasihnya di telpon hampir saja membuatnya meledak dan sekarang dia tak sanggup memegang telpon itu lebih lama lagi. Sophie melenguh keras, menjeritkan kenikmatan yang dia rasakan.
“Kamu sangat rapat ” erang Charles.
“Akan kubuat kamu kelluuaaarrr jugggaaa” Sophie balas mengerang.
Kemudian dia serahkan telpon tersebut pada Charles. Charles langsung menerimanya dan segera mengatakan kalau semuanya baik-baik saja serta betapa dia senang ditemani Sophie.
“Tak usah khawatir Josh, segeralah pulang begitu bisa.” Sang boss berkepala botak menyarankan.
Menggoyang sang boss bertubuh gendut, kenikmatan besar memeluk sekujur tubuhnya. Dia membungkuk ke depan dan tangannya berpegangan pada sandaran sofa untuk menahan tubuhnya. Kedua pahanya mencengkeram erat di kedua sisi Charles, goyangannya semakin bertambah liar. Buah dadanya terayun, hampir menghantam wajah Charles. Tangan Charles yang bebas menahan pantat Sophie agar dia bisa menusukkan penisnya sekeras mungkin. Terus dia sodok vagina Sophie dengan keras, membawa ledakan orgasme Sophie semakin dekat. Nafas Sophie semakin terasa berat, tersengal. Sudah dekat. Begitu dekat. Tiba-tiba, Charles mencengkeram pantat Sophie dan berdiri, membawa serta Sophie. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia cabut penisnya. Sophie sungguh tak pecaya! Dia sudah begitu dekat. Dia turunkan Sophie, Charles tersenyum oleh campuran raut terkejut dan frustasi di wajah Sophie. Dia tahu apa yang sedang dirasakan Sophie, dia juga merasa tak ada yang diinginkan selain memasukkan penisnya kembali ke dalam tubuh Sophie dan menyetubuhinya hingga dia tak bisa bergerak lagi.
“Apa yang kamu lakukan!?!” tuntut Sophie penuh gusar.
Charles tekan tombol mute.
“Ke mari” perintahnya, saat Josh bicara tentang pendaratan pesawatnya. Anak itu akan terus bicara tentang apa saja.
Sophie berjalan mendekatinya, amarah dan frustasi di wajahnya, kedua lengannya terlipat di bawah buah dada. Charles menendang lepas celananya dan melucuti kemejanya, melemparnya ke sofa di belakangnya.
“Berlutut” perintahnya.
Sophie terlihat seakan ingin menolak, tapi Charles tahu betul kalau dia terlalu horny untuk menolaknya. Sophie berlutut di hadapannya dan langsung menangkap batang penis Charles dengan sebelah tangannya.
“Aku tak ingin kamu hisap, berputar” perintah Charles.
Sophie berbalik, menghadap tv dan dengan meja kopi di hadapannya. Charles jongkok di belakangnya dan sambil dia dengarkan Josh terus bicara, dia dorong kekasihnya hingga tangannya bertumpu pada meja. Dia suka doggie style. Dia merapatkan diri pada kekasih Josh yang menawan, berlutut dengan tangan bertumpu pada meja kopi, gaun hitam seksi dan high heels masih terpakai. Wanita ini sungguh gambaran dari birahi yang menggelora. Rambutnya sedikit berantakan, tapi semakin menambah kesan liarnya. Kepala Sophie menoleh ke belakang pada Charles, kegusarannya sirna kini. Dapat Charles lihat bayangan mereka pada layar tv dan bisa dia lihat dari balik gaunnya, buah dada besar yang menggantung indah. Charles tekan kembali tombol mute saat Sophie bicara.
“Apa kamu hanya akan berlutut di situ saja atau kamu masukkan penismu ke vaginaku lagi?” tanyanya, menggoda tapi masih terdengar nada frustasi.
Josh masih terus bicara, suara berisik di belakangnya semakin meningkat, dia pasti sedang berada di luar menunggu taksi, hingga tak mungkin dapat dia dengar apa yang dikatakan kekasihnya baru saja. Charles tersenyum pada kekasih Josh dan dia dorong pinggulnya, menusuknya dengan satu hentakan saja. Sophie mengerang keras. Terasa nikmat berada kembali dalam tubuh Sophie. Tapi Charles belum bergerak sedikitpun, dia masih punya satu ide yang ingin dicobanya. Saat Sophie kembali menoleh ke belakang, Charles mengambil telpon dari telinganya dan menekan tombol bertuliskan ‘loud speaker’ lalu dia letakkan telpon tersebut di atas kursi di sebelah kanannya. Suara bising di seberang terdengar berisk oleh kepadatan lalu lintas, dia masih bisa dengar suara Josh, tapi dia ragu jika Josh bisa mendengar jelas suara pertarungan birahi mereka. Sophie melenguh saat mengamati apa yang sedang dilakukan Charles, “Kinky” Dan setelah itu Charles menarik penisnya keluar dan menyentakkan masuk kembali dalam vagina Sophie.
Sophie menggeram keras, “FUCK ME!”
Charlespun mengabulkannya. Dengan berpegangan pada pinggul ndah itu, dia mulai serangan terakhirnya pada jalangnya vagina Sophie. Dia membutuhkan persetubuhan yang layak dan Charles akan memberikannya yang sepadan. Tangan Charles bergerak ke pinggang ramping milik Sophie, yang telah lama ingin dia sentuh semenjak pertama kali dia berjumpa dengannya. Hentakannya begitu keras hingga meja kopi tempat Sophie bertumpu mulai ikut sedikit tergeser oleh setiap hentakannya. Sophie berusaha mengimbangi setiap kerasnya hentakan yang diberikan Charles, dia dorongkan pantatnya ke belakang, menjadikan tubuhnya tertusuk begitu dalam dengan keras. Besar kemungkinan jika Charles tak memegangi pinggangnya dengan erat, tubuh Sophie akan tersungkur ke atas meja kopi di hadapannya. Nafas Sophie tersengal keras. Saat Josh terus bicara di telpon, mengira bossnya mendengarkan dengan penuh minat, tentang sebuah promosi yang mungkin menantinya, yang sudah disebutkannya tadi saat telpon tersebut diberikan Sophie padanya. Pasti kekasihnya sudah begitu mengesankan sang boss hingga dia menawarkan kenaikan gaji hingga 200%! Tanpa dia ketahui sama sekali bagaimana cara kekasihnya memberikan kesan pada bossnya, ataupun cara dia menaikkan promosi untuk Josh. Saat dia terus bicara di telpon saat ini, Sophie tengah menyentakkan pantatnya yang kencang ke belakang, menusukkan vaginanya pada batang penis berukuran besar milik pria tua yang kelebihan berat badan ini. Memaksanya masuk semakin jauh ke dalam tubuhnya. Josh tak bisa mendengar jelas segala suara jeritan mesum keduanya, dia hanya mengira kalau suara-suara tersebut berasal dari tv atau yang lain. Josh hanya terus bicara saat Charles menusukkan batang panjangnya ke dalam tubuh kekasihnya, saat Sophie tiada henti mengerang, mendesah, melenguh memohon lagi dan lagi pada Charles. Penis Charles meluncur masuk hingga pangkalnya, membuat bibir Sophie mengeluarkan geraman birahi. Kini dia hanya mampu menggeram setiap kali Charles menusuknya dengan sangat keras. Mungkin Sophie sudah kelelahan, pikir Charles, telah dia setubuhi wanita ini selama lebih dari 45 menit. Josh masih membicarakan promosi yang dia tawarkan.
“Anak tolol,” batin Charles, “Kalau saja dia dengar lebih seksama dan berhenti memikirkan tentang pekerjaan sejenak, mungkin dia bisa dengarkan kekasihnya menjerit, terus memohon padaku..”
Pikiran itu membuat birahinya semakin membumbung tinggi dan kini dia tusuk vagina Sophie semakin keras dan cepat. Bayangan buah dada Sophie yang terayun liar di balik gaunnya terpantul di layar tv, itu membuat Charles hampir meledak. Maka dengan cepat tangannya meraih ke depan untuk menangkap buah dada tersebut. Mata Sophie terpejam rapat, raut wajahnya penuh dengan aura birahi dan kenikmatan. Bibirnya merekah terbuka dan bahkan kini suara geramannya terhenti, tapi dia terus menyentakkan pantatnya ke belakang dengan keras.
Masih terus meremasi kedua buah dada besar tersebut, Charles berkatat, “Saatnya bicara dengan kekasihmu Soph”
Sophie mengerang sangat keras dan Charles menekan buah dadanya menyatu, meremasnya dengan kasar sambil terus menyodok vagina Sophie.
“Oh Josh, Oh baby, I loove you! Oh yeah! Aku disetubuhi sangat keras baby! Ummmmmmmm! Oh yeah! Bossmu mengerjaiku di meja kopi kita! Oh, ummmmmmmm! Yeah! Rassanyaa saaangaattt nikmaaattt! Diia jaauuuuhhh lebih hebbbattt darrriiiii kammmuuu!” Sophie meracau hebat, pantatnya terus menyodok mengimbangi setiap tusukan Charles, kedua matanya terus terpejam rapat.
Charles tersenyum puas, dia remas buah dada Sophie lebih kasar dan terus menusuknya tanpa mpun.
dan mungkin aku akan……” Josh terus bicara saat persetubuhan terlarang itu terus berlangsung. Kekasihya tiada henti melenguh dan mengerang.
Charles merasa orgasmenya mulai bangkit, sudah tak jauh lagi sekarang. Telah dia setubuhi wanita cantik ini dengan semua kemampuannya dan segera dia muntahkan air maninya di dalam tubuh Sophie, jauh lebih dalam dari yang pernah diberikan kekasihnya. Charles berikan remasan terakhir pada buah dada Sophie dan beralih menjambak rambut Sophie, menyentaknya ke belakang saat dia tusuk vaginanya dengan keras. Sophie menjerit, mulutnya meracau tentang semua kenikmatan besar yang diberikan Charles padanya.
Dia jambak rambut Sophie dan bertanya, “Apa kamu akan keluar sebentar lagi Sophie?”
“YAAA!!!” dia mengerang keras.
“Mau aku keluar di dalam?” tanya Charles.
“YAAAAAA!!!” jawab si cantik, sekarang bertumpu dengan kedua sikunya, tangannya mencengkeram tepian meja dengan erat.
“Katakan!” geram Charles, dia terus menusuknya, batasnya sudah di ambang mata.
“KELLUARKANNN DIII DALLLAMMM!!!! OHHHHH! PLEEAASSSEE!!!” Sophie meneriaki boss kekasihnya.
Mendengarkan kalimat tersebut keluar dari bibir wanita nan seksi dan betapa dinding vagina Sophie yang mencengkeram rapat batang penisnya, membuat buah zakar Charles mulai mengencang. Akhirnya akan dia semburkan air maninya di dalam vagina kekasih Joss yang begitu menggoda, yang telah begitu lama dia incar ini.
“Aku tak bisa mendengarmu dengan jelas honey, apa semua baik-baik saja?” tanya sang kekasih yang tak mengerti apapun.
“YA BABY! OH YA! SEMUANYA BAIK BAAIKK SAAJJJAAA!” Sophie berusaha menjaga suaranya tedengar normal di bawah serangan Charles yang begitu brutal.
“Sekarang Soph! Sekarang saatnya merasakan semburan maniku dalam vaginamu tanpa pelindung!” Charles menyeringai.
Dia terus dengarkan Josh bicara di telpon, dia jambak rambut Sophie dengan keras, dia sentakkan kepalanya ke belakang sejauh mungkin, dia tusukkan batang penisnya sedalam-dalamnya untuk yang terakhir kalinya ke dalam vagina Sophie.
“Oh Soph! Yeah! Uh! Terima ini! Terima maniku! Yeah! Akan ku keluarkan di dalam vaginamu Sophie! Aarrgghhh!” Charles menggeram keras.
Sophie hanya membalas dengan merintih penuh nikmat.
“Dengarkan aku Josh, saat aku keluar dalam vagina kekasihmu ” Charles berucap pada pesawat telpon.
Sophie merintih bertambah keras dan mulai menggelinjang dan menyentak ke belakang dengan teramat keras.
“Oh yeah!!” Charles menggeram keras dan bersamaan dengan itu, dia tarik Sophie ke arahnya dengan menggunakan jambakan pada rambutnya dan dia berikan tusukan penghabisan dalam vagina Sophie.
Suara jeritan Sophie keluar langsung dari dalam paru-parunya saat hantaman kenikmatan orgasme menghajar sekujur tubuhnya, bertepatan waktunya saat sebuah pesawat terbang melintas di atas Josh, menenggelamkan jeritan orgasme terkeras penuh kenikmatan dari seberang telpon. Penis Charles terus menyemburkan air maninya di dalam vagina Sophie, dia tahan tubuh Sophie agar batang penisnya terus tertancap sedalam-dalamnya. Sekujur tubuh Sophie terus bergetar hebat di bawah tubuh Charles, tangannya tetap mencengkeram tepian meja dengan erat. Wajahnya berselimutkan kenikmatan sepenuhnya, mulutnya terbuka tanpa suara, matanya terpejam rapat dan punggungnya meregang ke belakang, tertahan oleh jambakan Charles pada rambutnya. Kedua buah dadanya dengan puting keras mencuat berdiri dengan gagah di dadanya, terguncang hebat oleh getaran tubuhnya yang dilanda orgasme. Sophie melenguh lirih, panjang kala getaran tersebut berangsur mereda. Charles merasakan betapa hebat persetubuhan yang baru saja dia alami. Baru saja dia mendapat kenikmatan dari tubuh wanita paling menggiurkan yang pernah dia temui, tepat di dalam ruang tengah rumahnya sendiri, saat sang kekasih sedang menelponnya! Semua itu membuat batang penisnya terus mengeras dalam cengkeraman vagina Sophie. Akhirnya orgasme Sophiepun berakhir dan dia tersungkur di atas meja kopi. Tingginya orgasme yang diraih Charles juga usai dan akhirnya dia merasakan kelelahan oleh semua ini. Dia jatuh menindih tubuh Sophie, batang penisnya masih tetap terkubur dalam vaginanya. Dia lepaskan jambakan pada rambutnya dan tertelungkup diam saja, mendengarkan suara tarikan nafas Sophie, yang terdengar tertidur.
Josh berdiri menunggu taksi di luar bandara. Dia berharap semua pesawat itu berhenti melintas di atasnya, karena dia kesulitan mendengar apa yang diucapkan Sophie padanya. Dia tak begitu mengerti, yang dia dengar hanya begitu ramai di seberang telpon. Bisa dia dengar namanya disebut berulang kali. Sudah ak sabar dia ingin segera pulang, begitu rindu dia pada kekasihnya. Yang tak dia ketahui saat dia memikirkan kaan dia bisa sampai di rumah, Sophie tertelungkup kelelahan di atas meja kopi di dalam ruang tengah mereka, di tindih oleh tubuh tua dan gemuk milik bossnya, dengan batang penisnya masih menancap dalam vagina kekasinya. Saat dia masih menunggu datangnya sebuah taksi, Josh sama sekali tak mengetahui bagaimana kerasnya persetubuhan yang baru saja diterima kekasihnya dan betapa itu membuatnya mabuk kenikmatan. Betapa horny dan penuh birahi kala bicara dengannya di telpon saat sedang disetubuhi oleh bossnya sendiri. Betapa besar orgasme yang dia dapatkan, lebih keras dari semua yang pernah dia raih selama ini. Josh tak tahu air mani bossnya yang gemuk tumpah seluruhnya dalam rahim kekasihnya tercinta. Kurang lebih 10 menit kemudian, Sophie mulai bergerak dan Charles mencabut batang penisnya dari cengkeraman vaginanya yang baru saja disetubuhi dengan layak, sangat layak. Sophie benci merasakan penis itu tercabut dari dalam tubuhnya, meninggalaknnya, dia ingin batang itu kembali menusuk dalam tubuhnya saat itu juga. Charles jatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan perlahan mulai memakai celananya. Sophie berusaha memaksa tubuhnya untuk berlutut dengan pelan dan merapikan rambut serta gaun hitamnya. Dia merasa sangat penuh air mani dan tuntutan birahinya teramat terpuaskan, hanya saja, dia masih ingin batang penis milik Charles lagi. Dia melirik ke arah sang pria tua bertubuh gendut dan meringis di dalam hati.
“Aku sudah biarkan dia menyetubuhiku! Dan yang lebih buruknya lagi, aku sangat menikmatinya!” batinnya.
Separuh hatinya membenci dirinya sendiri dengan apa yang sudah dia perbuat tapi separuh lainnya menyukai apa yang sudah terjadi karena dia jadi merasakan kenikmatan yang tiada terperi dan tadi memang terasa sangat nikmat.
“Well nona Sophie, aku pikir kamu sudah menghiburku dengan begitu baik.” Ucap Charles dengan seringai bodoh di wajah lebarnya.
“Senang bisa menghibur anda.” Jawab Sophie kecut.
“Honey, aku tak bisa mendengarmu dengan jelas?” suara Josh terdengar dari pesawat telpon di atas meja.
Tangan Sophie terjulur untuk meraihnya.
“Hey baby. Semuanya baik-baik saja, aku cuma sedang berusaha menghibur bossmu saja.” Sophie menerangkan pada kekasihnya.
“Dia sungguh pandai menghibur Josh. Aku mungkin akan sering datang kemari kalau dia begini menyenangkan.” Sahut Charles pada Josh dengan suara keras.
“Aku senang kamu bisa menyenangkannya honey, macet ini benar-benar neraka. Aku masih menunggu taksi di bandara. Sudah lebih satu jam sekarang!!!” keluh Josh pada kekasihnya.
Tatapan Sophie beralih dari wajah boss kekasihnya, turun ke selangkangannya dan dengan menilai masih adanya tonjolan yang menggembung di sana, semuanya tadi tentu membuatnya tetap keras. Sophie merasa perutnya bergolak dan merasa vaginanya menjerit memanggil batang penis itu sekali lagi. Dia tak bisa kendalikan dirinya. Dia tatap selangkangan yang menggembung besar itu, lalu berusaha untuk mengabaikannya, tapi dia gagal. Dia berdiri dengan bersusah payah agar tak terjatuh karena kedua kakinya yang masih terasa lemas, tangannya terjulur pada boss kekasihnya. Charles memandangnya dengan kebingungan, tapi dia sambut uluran tangan Sophie. Dengan masih menatap mata Charles, Sophie mulai melangkah mundur, meninggalkan ruang tengah tersebut dan melangkah ke lantai atas menuju ke arah kamar miliknya dan Josh, sembari berkata pada kekasihnya di telpon.
“Tenang saja baby, aku yakin bisa menemani dan menghibur bossmu sampai kamu pulang.” Ucap Sophie dengan tersenyum pada Charles.
Wajah Charles masih nampak bingung tapi segera berubah jadi gembira saat mereka memasuki kamar tersebut. Sophie membimbing Charles ke ujung ranjang dan dia berbalik untuk mendorong Charles hingga rebah ke atas ranjang. Charles menatapnya dan kembali sebuah senyuman bodoh tersungging di bibirnya, seakan seorang remaja yang akan menyerahkan perjakanya pada seorang gadis yang sangat seksi. Charles beringsut naik hingga kepalanya beralaskan bantal dan dengan cepat dia telanjangi dirinya saat Sophie bicara dengan kekasihnya di telpon. Ranjang tersebut berukuran besar dan terbuat dari bahan besi tempa dengan berhiaskan jeruji berulir pada headboardnya. Kadang Sophie dan Josh saling memborgol tangan pada headboard tersebut dalam permainan cinta keduanya. Sekarang headboard tersebut akan dipakai Sophie untuk menyetubuhi pria lain. Sekarang Charles sudah telanjang bulat, penisnya yang masih setengah ereksi berdiri menantang. Meskipun masih belum ereksi sempuran, tetap saja uukurannya begitu besar dan panjang.
“Ya, aku paham maksudmu. Tak usah khawatir baby, aku tahu dia orangnya keras, sulit dipuaskan, tapi aku tetap yakin bisa menyenangkannya.” Ucap Sophie pada Josh.
Saat Josh menjawabnya, Sophie menurunkan kedua tali penahan gaunnya dari bahunya dan membiarkannya jatuh ke lantai, menunjukkan pada Charles kemolekan tubuhnya yang hanya terbungkus pakaian dalam berenda warna hitam. Buah dadanya terlihat besar dan berat serta terlihat hampir melompat keluar dari himpitan bra yang dia pakai saat dengan pelan tangannya meraih ke belakang tubuhnya untuk melepaskan pengait bra tersebut.
“….. harusnya tak lama…….” Ucap Josh saat Sophie menurunkan tali penahan bra dari bahunya dan dengan gerakan menggoda melemparkannya ke lantai.
“…… akan pulang sebentar…..” dia senang Josh suka mengobrol lama. Dia turunkan celana dalam berenda itu, kakinya melangkah keluar satu persatu. Berlutut di ranjang, dia merangkak mendekati Charles dan berhenti di atas penisnya yang mendongak angkuh.
Charles membungkuk ke depan untuk mendengarkan apa yang sedang diobrolkan Josh pada kekasihnya di telpon. Sophie menekan bibirnya ke bibir boss kekasihnya dan lidahnya meluncur memasuki mulutnya. Lidah mereka saling lilit untuk beberapa lama dan kemudian Sophie hentikan ciuman mereka dan berdiri dengan kedua lututnya.
“Akhirnya, ada taksi!” jerit Josh, “Aku akan sampai tak lama lagi honey ” ucap Josh sambil masuk ke dalam taksi.
“Telpon aku kalau hampir sampai baby, biar aku tahu saat kamu pulang.” pesan Sophie saat dia genggam penis gemuk di bawahnya dengan satu tangannya yang bebas dan memposisikan tubuhnya di atas penis Charles. Dia sangat membutuhkannya di dalam tubuhnya lagi.
“Baiklah honey. Jaga dirimu, bersenang-senanglah dan sampai jumpa nanti.” Jawab Josh dan memberikan ciuamn jauh lewat telpon untuk Sophie, “I love you.”
“Umm, I love you too baby! Sampai ketemu nanti.” Jawab Sophie saat Charles memandangi buah dadanya dan kemudian Sophie pejamkan mata.
“Bye.” Kata Josh.
“Bye babe.” Jawab Sophie dan begitu Josh menutup telponnya, Sophie langsung lemparkan pesawat telpon tersebut ke atas ranjang dan menurunkan tubuhnya pada batang keras milik kekasih bossnya yang menunggu.
Sophie merintih saat dia rasakan batang gemuk itu kembali memasuki tubuhnya. Charles mengerang kala tubuh Sophie membuka untuk dia masuki. Sophie meresapi rasa batang besar terebut dalam dirinya lagi lalu perlaha dia buka matanya dan menatap langsung mata Charles dan memberinya sebuah senyuman menggoda.
“Akan aku goyang kamu sampai lemas orang tua. Tepat di atas ranjang milikku dan kekasihku. Akan kusetubuhi kamu dengan sangat keras. Aku mau kamu keluar di dalam vaginaku lagi.” Geram Sophie dengan begitu menggiurkan dan setelah kata terakhirnya, dia mulai menggoyang maju mundur.
Kali ini bukan seks yang romantis, bukan seks yang lembut, kali ini akan jadi seks yang keras dan kasar. Ketika Josh dalam perjalanan pulang dengan taksi, berhenti saat ada kemacetan dan berharap secepatnya sampai di rumah untuk bertemu dengan kekasihnya tercinta, Sophie sedang menggoyang bossnya, Charles, yang berbaring di atas ranjang yang hanya dia bagi dengan kekasihnya seorang. Sophie berusaha menghibur bossnya dengan segenap kemampuan yang dia miliki. Menggoyang pinggulnya maju mundur dengan cepat hingga membuat ranjang besi itu mulai mengeluarkan suara berderik. Sophie terus menusukkan dirinya pada batang penis milik pria tua bertubuh gendut di bawahnya, menguburkannya sejauh mungkin dalam vaginanya. Menikmati rasa yang dia dapatkan. Mendesah, melenguh, mengerang dan menjerit dengan segenap hasratnya, menyuarakan betapa jauh lebih hebat Charles dibandingkan kekasihnya, betapa lebih besar kenikmatan yang diberikan oleh batang besar dan panjangnya, betapa itu membuatnya terisi begitu penuh dan betapa dia menginginkan Charles menumpahkan seluruh sisa air maninya jauh di dalam vaginanya.
Charles sedang berbaring menyaksikan erotisme tubuh Sophie meliuk, memantul, menggoyang liar di atasnya. Josh sedang dalam perjalanan pulang dan Sophie sedang dalam perjalanan menuju orgasme besar berikutnya. Charles masih merasa tak percaya ternyata begitu liarnya wanita ini. Dia tak pernah terlihat puas, mungkin dia seorang nymphomania, pikir Charles. Bukannya dia mengeluhkan hal itu. Dia suka memandangi buah dada Sophie yang memantul naik turun seirama ayunan tubuhnya, dia suka mendengarnya mendesah dan mengerang, dia suka saat dia menjeritkan bahwa dia adalah yang terhebat. Batang penisnya menjadi begitu keras saat dia rasakan dinding vagina Sophie yang sempit terus menggesek naik turun pada batangnya. Sophie masih begitu rapat dan begitu mahir berolah seksual. Mungkin dia harus mengundang Sophie ke kantornya suatu waktu nanti dan menyetubuhinya di meja kerjanya, atau bahkan mungkin di mejanya Josh sendiri. Semua angan tersebut dan mendapatkan wanita cantik ini di ranjangnya sendiri membuat birahinya melejit dengan cepat. Dia sadar kalau tak mungkin bertahan lama setelah dua kali keluar, tapi dia berusaha untuk bertahan selama mungkin, untuk dapat terus menyaksikan Sophie menggoyang liar di atasnya. Sophie terus meracau tak karuan.
“Kamu suka penisku Soph!” Itu bukanlah sebuah pertanyaan dari Charles, tapi tetap saja Sophie menjawabnya dengan erangan. Nafasnya mulai tersengal hebat kala dia terus menggoyang tubuhnya dengan segenap kemampuan yang dia punya.
Ranjang besi tersebut mulai menggeram di bawah goyangan liar Sophie. Lalu Sophie melakukan sesuatu yang hampir bisa membuat Charles keluar, punggung Sophie meregang ke belakang, membuat buah dadanya mencuat ke depan. Kedua tangannya berada pada sisi paha Charles, untuk menopang berat tubuhnya dan kepalanya terlempar ke belakang. Goyangannya semakin bertambah cepat. Namun sesungguhnya yang memicu birahi Charles melejit sedemikian tingginya adalah pemandangan dari buah dada Sophie yang begitu angkuh menggoodanya. Pemandangan itu begitu sensual. Sophie terlihat jauh tersesat dalam rimba birahinya sendiri dan tubuhnya meliuk liar untuk menyetubuhi Charles sesuai janjinya, untuk dapat merasakan seluruh panjang batang penis Charles. Tubuh Sophie yang telanjang bulat dengan buah dada berdiri angkuh dengan berhiaskan dua puting yang mencuat keras, seakan menolak grafitasi yang dituntut oleh sang bumi, memantul liar seirama liukan tubuhnya. Charles sadar kalau dia tak mungkin bertahan lebih lama lagi dan dia tahu kalau Sophie juga sudah berada di batas pertahanannya. Tangan Charles meraih buah dada Sophie, dia remas dengan kasar hingga membuat Sophie semakin merintih, menggeram hebat, meracaukan orgasmenya yang hampir meledak dengan keras. Sophie dorong tubuhnya ke depan dan menggencet buah dadanya dalam cengkeraman tangan Charles dan menatap tepat pada mata Charles, menggoyang semakin cepat, keras, liar dan kasar. Sophie menggeram pada Charles.
Masih terus meremasi buah dada Sophie, Charles mendengarkan Sophie menggeram dan meracau padanya tentang seluruh kenikmatan yang tengah dia rasakan dan keinginannya untuk mendapat seks dari Charles.
“AKAN KUSETUBUHI KAMU DI KANTORMU SAAT JOSH MENUNGGU DI LUAR!” Sophie menggeram, “APA AKU CUKUP NIKMAT UNTUK MENDAPATKAN PROMOSI UNTUKNYA PAK?” tanya Sophie dengan senyuman penuh nafsu di bibirnya, terus menggoyang tubuhnya, semakin dekat pada orgasmenya. Sudah tak ada lagi godaan sekarang, yang ada hanyalah nafsu murni dari persetubuhan mesum.
“Sangat…. nikmat!” erang Charles diantara nafasnya, “Tapi….. mungkin…. aku… butuh… tambahan…. lebih.”
“OHHHH YEAH! AKAN KUBERIKAN SEBANYAK YANG KAMU MAU, DASAR PRIA TUA CABUL, SETUBUHI KEKASIH KARYAWANMU SENDIRI DI RANJANGNYA DAN SAAT AKU MENELPONNYA. KELUAR DI DALAM VAGINAKU, MEMBUATKU MENGHISAP PENISMU SAAT DIA MENELPONMU DAN KELUARKAN MANIMU DALAM TENGGOROKANKU!” Sophie pastilah sudah sangat birahi sekarang, dia semakin menggoyang liar, membuat ranjang besi itu semakin berderit tanpa henti.
Memberi remasan terakhir pada buah dada Sophie, Charles menarik tubuh Sophie ambruk menindihnya. Dia rasakan buah dada besar Sophie tergencet ke dadanya dan putingnya yang keras menekan kulitnya. Dia lumat bibir Sophie, mendorong lidahnya memasuki mulut Spohie. Lalu dia kalungkan lengannya melingkari tubuh Sophie dan menggulingkannya hingga sekarang tubuh Sophie rebah ditindihnya. Charles melepaskan lumatan bibirnya, dia tatap mata Sophie di bawah tindihannya dan sekarang dia berikan tusukan penisnya dengan teramat keras dalam vagina Sophie. Kepala Sophie menghantam headboard dalam tusukan pertama Charles dan tangan Sophie segera meraih ke atas untuk berpegangan pada jeruji besi headboard di atasnya. Berpegangan seerat mungkin untuk mendorongkan selangkangannya pada tusukan penis Charles agar dapat terbenam semakin dalam dan kedua kakinyapun melingkari pinggang Charles untuk menguncinya. Erang dan geraman keduanya kini terdengar bersahutan, beriringan dengan derit ranjang besi di bawah tubuh mereka.
“FUCK ME!” Sophie tersengal, “FUCK ME!”
Buah dadanya melayang tak beraturan di dadanya dan wajahnya merona sangat merah. Sekujur tubuh keduanyapun semakin basah oleh keringat tabu mereka. Mereka tenggelam semakin jauh dalam amukan birahi hingga seandainya saja saat ini Josh memasuki kamar itu, tak akan diacuhkan oleh keduanya dan terus saling menggenjot untuk dapat meraih pelepasan yang sudah di depan mata.
Jerit rintihan penuh kenikmatan bergema hingga langit-langit kamar, seakan jadi simponi pemicu birahi mereka. Sudah semakin dekat, dapat Charles rasakan buah zakarnya mengencang hebat, dinding vagina Sophie terus meremas kencang, menghisap air maninya agar segera menyembur keluar.
“FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME.” Sophie terus meracau tiada henti dan segera berubah jadi sebuah jeritan panjang dan keras saat orgasme mengambil alih kesadarannya.
Tubuhnya mengejat keras tak terkendali, dia lepaskan cengkeraman tangannya dari besi headboard dan beralih merengkuh Charles, menancapkan kuku-kuku jemarinya di punggung Charles. Sophie menjerit sangat keras, panjang!!! Dan bersamaan dengan itu Charles juga menyemburkan air mani ketiganya di malam ini dan itu menjadi pemicu bagi orgasme Sophie untuk meledak semakin hebat dan berturutan.
“Ahhhhhhhh, terima maniku lagi Soph” Charles menggeram.
“OH! UH! YEAH! KELUARKANN DDDI DDALLAMMM!” jawab Sophie dengan erangan keras.
Tubuh Charles ambruk menimpa tubuh Sophie saat penisnya terus menyemburkan air mani dalam vagina Sophie yang tubuhnya terus mengejat untuk beberapa lama sebelum akhirnya terbujur lemas dengan kuku yang masih menancap di punggung Charles, nafasnya yang tadi memburu berubah berat dan tersengal- sengal. Tubuh mereka saling tindih di atas ranjang itu, kelelahan, berusaha untuk menarik nafas dengan sisa tenaga yang masih mereka punyai. Hanya berbaring kelelahan untuk beberapa lama hingga terdengar suara telpon dari nakas di samping ranjang. Dengan malas Charles menggapai dan mengangkatnya.
“Halo?” ucapnya.
“Hai boss” jawab Josh.
“Hai Josh, kamu sudah hampir sampai sekarang?” tanya sang pria tua saat batang penisnya mulai melemah, tapi masih tetap terbenam dalam vagian Josh.
“Ya, kira-kira 5 menitan lagi” jawab Josh.
“Ok, kita ketemu sebentar lagi.” Jawab sang boss.
“Ok bye.” Jawab Josh dan Charles menutup telponnya.
Dia pandangi Sophie yang terbaring di bawah tubuhnya, Charles menyesal karena tak bisa lagi menikmati tubuh menggiurkan tersebut malam ini, tapi masih banyak kesempatan lagi lain kali. Dia tersenyum membayangkannya. Sekarang dia sudah tahu kalau Sophie seorang nympho dan Charles yakin kalau kapan dan di manapun dia mau, dia akan bisa menikmati tubuh kekasih karyawannya ini.
Sophie sedang merapikan gaunnya sambil berjalan, tapi tak dia kenakan bra dan celana dalamnya kembali. Dia baru saja menuruni tangga bersama Charles saat Josh muncul dari pintu depan. Langsung dia berlari menghambur ke pelukan kekasihnya dan memberi kecupan kecil padanya.
“Hai baby” sambutnya dengan senyuman manis di bibir.
Josh balas memeluknya dan tersenyum, lalu berbalik untuk menjabat tangan bossnya. Mereka bertiga duduk, Josh dan Charles mulai bicara tentang bagaimana jalannya meeting Josh, kesuksesannya mendapatkan kontrak dan betapa menyenangkannya Sophie menemaninya malam itu serta tentu saja kemungkinan kenaikan gaji dan kedudukan Josh karena keberhasilannya mendapatkan kontrak tersebut. Sophie duduk di samping Josh, menggelayut manja di lengannya dengan kedua kaki terlipat di bawah tubuhnya. Dia terus tersenyum manis pada kekasihnya, tapi saat matanya melirik ke arah Charles, dia berikan senyuman menggoda serta pandangan mesum. Dia buat isyarat gerakan menghisap saat Josh tak memperhatikan, bahkan tangannya bergerak menyentuh dadanya, meremasnya, menekannya hingga membuat buah dada itu hampir tumpah keluar dari balik gaunnya. Hingga akhirnya saat Charles berpamitan pulang, Sophie memberinya sebuah pelukan dan mendaratkan ciuman di pipinya.
“Aku dapatkan malam yang indah Pak Charles, kita harus melakukannya lain kali, secepatnya.” Ucapnya dengan senyuman menggoda.
“Aku juga Sophie, dan tolong panggil Charles saja. Setelah malam ini kurasa kita jadi bertambah akrab, jadi lebih baik kamu panggil namaku saja.” Jawabnya dengan senyuman licik.
“Ok, Charles.” Jawab Sophie.
“Dan kenapa kamu tidak datang saja ke kantor kapan-kapan. Kamu bisa lihat kantor baru Josh sebelum kuberikan padanya. Tapi harus kupastikan kalau kamu tak akan mengganggu kerjanya.” Ucapnya diiringi dengan tawa kecil.
“Oh tentu aku tak akan mengganggunya.” Jawab Sophie dengan senyum kecil.
Dan setelah itu, sang boss berusia tua itupun pamit. Josh dan Sophie naik ke lantai atas dan langsung menuju kamar mereka, tapi bagaimanapun juga malam itu Josh terlalu lelah untuk berhubungan seks dengan kekasihnya. Sophie merasa jauh lebih lega, telah dia dapatkan persetubuhan yang begitu panjang, hebat dan sangat memuaskan dan dia juga sudah terisi penuh oleh air mani dua kali, baiklah, sebenarnya tiga kali. Jadi dengan segera dia jatuh terlelap dan memimpikan kesenangan yang akan menunggunya nanti. Kini dia jadi terbiasa dengan persetubuhan terlarang yang dia dapat. Tapi lain kali nanti, dia butuh sesuatu yang lebih menantang, bahkan yang lebih tabu. Dan akan dia dapatkan itu, tak lama lagi.

Incoming search terms:

cerita onani, Cerita seks onani, aku disetubuhi, cerita seks dengan pria tua, cerita seks pria lain, cerita hot istriku ingin dansa sambil bercumbu, cerita sek onani, cerita jilbab onani, Www cerita seks ngentot sahabat istriku com, aku di setubuhi, cerita seks isteri ngentot sambil telepon suami, WWW CERITA ONANI COM, cerita aku dikontolin di depan ibuku, cerita dewasa dansa sampai terangsang, cerita dewasa demi pangkat, cerita dewasa pesta dansa di rumah teman suami, rambut panjang bacaan dewasa, cerita dewasa aq diperkosa di depan suami, cerita ngentot merasa tidak puas dengan suami melihat kontol besar panjang jadi horny, Cerita seks aku digilir belasan pria, Cerita seks pria tua, istriku d entot temen lamanya sa at pesta yg aq saksikan bikin aq lgsung horny, ngentot dilihat suami, bercinta dengan atasan suamiku, cerita ngewe fantasi liar suami istri paruhbaya

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker