Friday , April 25 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Marini, Aku Disetubuhi Anak Buah Suamiku

Marini, Aku Disetubuhi Anak Buah Suamiku



Marini

Dari Banjarmasin, Mas Adit telepon bahwa besok, temannya yang bernama Rendi, mau ambil beberapa file penting yang ada dikomputer rumah untuk keperluan kantornya. Aku sempat berpikir, selama 8 tahun pernikahan, rasanya belum pernah ada tamu lelaki saat Mas Adit tidak di rumah. Ah, mungkin ini hanya kebetulan saja. Dan Mas Adit sendiri yang meminta agar aku menerima temannya itu karena ada hal, tentu yang sangat penting, yang harus di ambil dari komputernya. 
Besoknya, sekitar pukul 9 pagi, ada mobil parkir di depan rumah. Seorang pemuda, tampan dan jangkung memakai jaket untuk membungkus badannya yang bidang, turun dari mobil itu, menyampaikan hormatnya. 
“Pagi Bu. IBu Adit? Saya Rendi, Bu. Apakah Pak Adit sudah menelepon Ibu, bahwa saya akan kemari? Saya memerlukan beberapa file di komputer beliau untuk keperluan kantor yang harus saya dapatkan hari ini, Bu. Saya harap tidak akan mengganggu Ibu”. 
“O, ya, Dik Rendi ya. Ya, kemarin Mas Adit telepon saya. Silakan masuk, komputernya di sini dik”, aku persilakan Rendi mengikutiku ke tempat ruang kerja Mas Adit. Dia membuka jaketnya, mungkin merasa gerah di rumahku yang sempit ini. Aku lihat dia keluarkan beberapa lembar disket dari kantong kemejanya dan langsung menyalakan komputer Mas Adit. Aku sempat pula melirik dengan rasa kagum akan postur tubuhnya yang bidang itu. 
Aku menawarkannya minum. 
“Terima kasih Bu, jangan merepotkan Ibu. Saya tidak lama koq”. 
“Ya, aku buatkan saja teh panas di cangkir”. 
Kemudian nampak Rendi mulai berkutat di depan monitor dan keyboard mencari file yang dimaksud. Rupanya Mas Adit sudah memberikan ancar-ancar di lokasi dan folder mana, sehingga file itu langsung Rendi dapatkan dan nampak dia telah menekan ikon copy ke directory A, tempat disket yang dibawa Rendi tadi. Mungkin hanya sekitar 10 menit, semua yang dilakukannya telah selesai. Kemudian Rendi minta ijin untuk ke toilet sebentar. 
“Silakan, itu di samping ruang makan”, kupersilakan dia. 
Tak ada hal-hal yang istimewa dari kedatangan Rendi pagi ini. Kecuali memang kalau aku perhatikan teman Mas Adit ini termasuk pria yang tampan. Penampilannya nampak bersih dan apik. Maklumlah orang kantoran. Dia harus tampil “perfect” di depan para relasinya. Sementara Rendi ke toilet, aku melanjutkan bebenah kamar tidurku sebagaimana yang rutin aku lakukan setiap pagi hari. Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu kamar mandi terbuka dan langkah Rendi kembali menuju komputer di ruang kerja suamiku. Karena tanggung oleh pekerjaanku di kamar tidur aku tidak serta merta menyambanginya. “Ah, teman Mas Adit ini saja”, pikirku. Saat itu aku sedang membetulkan seprei ranjang bekas aku tidur semalam. Pintu kamar tidurku terbuka dan kebetulan aku sedang dalam posisi bertumpu pada lututku di lantai membelakangi pintu kamar. 
Aku mendengar suara langkah yang halus. 
“Bu.., Bu Adit..”, kudengar suara Rendi dan aku menoleh ke pintu. Aachh, apa yang nampak berada tepat di belakangku sama sekali berada di luar nalarku. Rendi, Rendi, benarkah ini, benarkah kamu Rendi. Di depanku yang sedang berposisi setengah jongkok di lantai, Rendi berdiri tanpa celana panjangnya dengan kontolnya yang keluar dari samping celana dalam putihnya dan diacung-acungkannya padaku. Sementara itu kemejanya juga setengah terbuka hingga menampakkan gumpalan dadanya. 
Bagai terkena sihir nenek lampir, aku terpana, tak berkutik serasa ikan duyung yang terjerat dalam jaring nelayan, tak berdaya, dikarenakan seluruh bentuk kehendak dan jiwaku langsung terlempar jauh melayang tanpa tahu ke tempat mana akan jatuh tujuannya. Dan sihir itu juga membuat mataku langsung tak mampu berkedip maupun mengelak atau melepas pandanganku pada kontol Rendi yang hanya berjarak sekitar 2 jengkal dari wajahku. Aku langsung lumpuh, jatuh terduduk dengan punggungku yang tersandar pada ranjang. Aku ditimpa shock hebat hingga kehilangan setengah kesadaranku. Bahkan telingaku juga serasa tuli kecuali hanya mendengar suara jantungku yang dengan kerasnya sekana memukuli dadaku. Tidak sepenuhnya sadar pula ketika tanganku menggapai-gapai tepian ranjang untuk berpegangan agar tubuhku tidak limbung terjatuh. 
“Mbak Adit..”, itu suara bisikan. 
Suara Rendi. Rendi bersuara dalam bisikan. Tetapi karena hanya suara itu, di samping suara jantungku sendiri yang memukuli dada, bisikkan itu terasa seperti suara guruh yang menggulung membahana di telingaku. Aku ingin sekali menyahut suara Rendi, semacam refleks reaktif dari apa yang membuatku shock hebat ini, tetapi lidahku dijerat kelu. Akupun seketika bisu total. 
Dan mataku, oohh mataku, kenapa aku tidak mampu melepaskan pandanganku pada kontol itu. Dan leherku, mengapa leherku juga terbawa beku dan tidak mampu untuk memalingkan wajahku dari kemaluan Rendi itu. Dan yang terasa memukau pandangan dan perasaanku itu adalah adanya semacam pesona. Wajah dan mataku terpaku pada pesona erotik yang sensasional dan sangat spektakuler, kontol itu, betapa indahnya, betapa sedapnya, betapa nikmatnya. Rasanya aku tak lagi memiliki kesabaran untuk mengulum, mencium dan menjilati kontol seperti itu. Dan kepalanya itu yang bak jamur memerah mengkilat dikarenakan seluruh darah yang telah mendesak di sana. Lubang kencingnya yang nampak berlubang gelap di tengah bibir lubangnya yang begitu ranum. Warna batangnya yang coklat muda kemerahan yang dikelilingi urat-uratnya yang juga demikian indahnya, tampak sangat serasi dan sangat bersih. Tak terbayangkan bahwa ada kontol seindah itu di dunia. Penampilan kontol itu mencuatkan refleks biologisku. Lidahku bergerak menjilat bibir. Betapa ingin aku melumatinya. Aku menelan liurku sendiri dalam upaya menekan keinginan yang meledak-ledak untuk menelan kontol itu. 
“Mbak Adit..”, kembali bisikan itu terdengar. 
Kali ini sedikit memberikan kesadaran bagiku. Aku menyadari bahwa kini Rendi memanggilku “Mbak”, bukan lagi “Ibu”. Aku jadi menyadari bahwa dia ingin lebih dekat kepadaku. Dan memang, kontol yang sangat mempesonakan mata dan hatiku itu sepertinya sengaja kuundang untuk bergerak mendekat. 
Dan dengan sekali bisikan lagi, “Mbak Adit..”, kontol itu telah menyentuh wajahku. 
Mengusap-usap pipi, hidung dan bibirku. Langsung aroma kelelakian Rendi menerpa hidungku, yang kemudian menembus masuk keparu-paruku dan dengan tajamnya menghunjam ke sanubariku. Sihir nenek lampir itu dengan seketika membuatku lumpuh total. Dan aku tak mampu menolak saat kontol yang terus diusap-usapkan serta mendesak wajahku dan memaksa bibirku terkuak. Rendi terus mendesak-desakkan kontolnya itu, terus mendesak. Dan aku, hidungku, bibirku dan lidahku bak anak kecil yang disodori es cream yang super lezat hingga ingin langsung menjilatinya. 
Dan kini, dengan disertai desah dan lenguh dari mulutku, bibirku pelan-pelan begerak melumat. Lidahku mulai menjilati jamur itu. Aku, bibirku mulai mengulum daging yang terasa kenyal itu di dalam mulutku. Kukulum, dan kemudian lidahku memindahkan segala rasa pada jamur itu dan membawanya masuk ke mulutku. Kontol itu benar-benar telah meruntuhkanku. Kontol itu telah meringkusku. Kontol itu telah membuatku kehilangan nalar sebagai istri setia Mas Adit. Kontol itu telah meluluh lantakkan dan melumatkanku sebagai istri yang untuk kesekian kalinya telah ingkar dan berselingkuh pada suaminya. Pesonanya yang dahsyat dalam bentuknya yang indah sensual, ototnya yang membuat batangnya menjadi sangat keras dan berkilat serta kekuatan erotik yang memancar dari kontol Rendi itu membuatku kini terduduk dengan bibirku yang penuh terjejali dan melumatinya. 
“Aacchh.. Mbak Adit.. aachh.. Marini.., kamu cantik sekalii Marr.. bibirmu sangat indah Mbak Marr..”, desah nikmat Rendi demi melihat bibir mungilku yang telah penuh oleh kontolnya. 
Aku tidak lagi peduli akan suara-suara di sekitarku, yang kupedulikan kini adalah bibirku yang terus melumat-lumat dikarenakan pancaran pesona dahsyat kontol Rendi yang aroma, besar dan panjangnya mampu membuatku terlempar melayang dalam jerat erotik tanpa batas. 
Belum pernah aku menyaksikan pesona kontol seindah, sebesar dan sepanjang itu. Aku tidak mampu mengukur seberapa besar ukuran sebenarnya. Yang kucoba mengingatnya hanyalah bahwa ukuran kontol Rendi yang mungkin 3 atau bahkan 5 kali lebih besar dan lebih panjang daripada kontol Mas Adit, hingga pesona erotiknya dapat melambungkan nafsu birahiku hingga jutaan kali nikmatnya. Oohh, ampuni aku Mass, aku telah terjajah dan diinjak-injak oleh birahiku sendiri Maass.. ampuni aku Maass.. 
Kini aku mulai menyadari bahwa sihir yang menimpaku ini adalah gelombang dahsyat yang menyeret dan menguras seluruh libidoku. Kontol Rendi telah membangkitkan gelombang dahsyat pada diri pribadiku. Dan mata hatiku, sang nakoda yang lemah ini, tak mampu lagi menanggulanginya kecuali akhirnya pasrah dalam sejuta kenikmatan yang ada dalam ingkar dan selingkuh pada suaminya. Dan yang terasa kini adalah prahara birahi yang merambat seluruh nurani dan organ-organ tubuhku. Dan saat ada tangan-tangan yang membongkar dan melepas busanaku, aku telah berada dalam penantian yang penuh nafsu. Dan ketika terasa jari-jari tangan Rendi memelintir puting susuku, tak terbayangkan lagi, entah di langit yang ke berapa aku melayang-layang dalam nikmat birahi tak terperikan ini. 
Tiba-tiba saja kusadari bahwa tubuhku telah telanjang bulat. Dan tiba-tiba kusadarai bahwa Rendi juga telah dalam keadaan telanjang bulat dengan selangkangannya yang mengangkangi wajahku. Dan aku menjadi seperti anak lembu yang menyungkupkan mulutnya ke susu induknya untuk mencari jawaban atas kehausannya yang melanda dengan hebat. Mulutku dan bibirku kusorong-sorongkan ke biji pelir dan pangkal kontol Rendi untuk meraih kenikmatan yang telah Rendi siapkan sepenuhnya. 
Tanganku yang kini tak bisa kutolak kemauannya itu, ikut ambil bagian menggenggam kontol Rendi, menaikkannya lekat-lekat ke perutku hingga kini mulutku lebih leluasa mencium dan menjilati pangkal dan bantangan kontol itu. Desahan dan rintihan yang terus keluar dari mulut Rendi menjadi pendorong semangat mulutku agar lebih ganas menjilatinya. Cekalan jari-jari Rendi pada urai rambutku menjadikanku lebih liar menyusup-nyusup ke biji pelirnya. Aku kini telah sepenuhnya terbakar nafsu birahiku. Tak ada lagi hambatan dan rambu-rambu yang bisa menghentikan. 
Tidak ada protes dan sanggahan saat tangan-tangan kokoh Rendi mengangkat dan membimbing tubuhku naik ke ranjang. Dengan pantatku tetap di tepian ranjang dan lutut yang bertumpu di lantai, aku telungkup di kasur tempat tidur pengantinku yang biasa aku tiduri bersama Mas Adit suamiku. Dan tanpa ada waktu untuk berfikir, aku rasakan tubuh Rendi sudah menindih tubuhku. Dia pagut kudukku, dia pagut leherku, dia pagut tengkukku, bahuku, dia pagut dan jilati seluruh bukit dan dataran punggungku. Dia tinggalkan cupang-cupang berserak bekas-bekas sedotan hisapan bibirnya di seluruh wilayah yang dijarah bibir dan lidahnya. Dia buat kuyup seluruh pori-pori tubuhku. Tangannya menggapai tangan-tanganku yang terentang di kasur, dia remasi jari-jariku untuk bersama-sama menelusuri nikmat. Dan itulah awal tangan-tangan Rendi memulai menyusuri lenganku hingga wilayah ketiakku yang terus berlanjut ke buah dadaku. 
Remasan-remasan tangannya ke kedua payudaraku memaksak mendesah dan merintih dengan hebatnya. 
“Rendii.. ampuunn.. Rendii..”. 
Dan kemudian aku langsung terhempas ke awang-awang yang sangat tinggi saat bibir dan lidahnya meluncur dari punggungku, melewati wilayah pinggulku langsung turun lagi untuk mendesak belahan pantatku.
Aku benar-benar tidak mampu mengelak dari kenikmatan tak terperi yang diberikan Rendi ini, maafkan aku Mas Adit. 
Baru kali ini ada seseorang yang dengan sukarela menjilati pantatku, lubang duburku, lubang pembuangan kotoranku. Lidah Rendi membor lubang pantatku. Bibirnya menyedot cairan yang keluar dari pantatku. Dia tidak jijik dengan semua itu. Dia lahap semua serpih-serpih yang ditemuinya di sekitar pantatku itu. Ciuman dan jilatan Rendi pada dubur lubang pembuangan kotorankuku itu benar-benar menjadikanku serasa terbang ke awang-awang nikmat tak terperi. 
Pada posisi berikutnya aku merasakan pinggul dan pantat Rendi mendorong kontolnya mendesak-desak pantatku. Aku yakin batang hangat itu berusaha memasuki analku. Dan kegatalan yang datang dan tak mampu kutahan dan kuhindari membuat tanganku melakukan gerak refleks meraih batang kontolnya yang panjang itu. Alangkah mantapnya kontol Rendi dalam genggaman tanganku ini. Panjangnya, besar dan kerasnya. Dan tanganku ini begitu cepatnya memahami kemana maunya arah kontol itu. Di tempat lain, kegalauan telah lama menanti. Vaginaku telah kuyup oleh cairan birahiku sendiri. Vaginaku menghangat dalam lelehan lendir yang tak henti-hentinya mengalir keluar dari lubangnya. 
Kegatalan kemaluanku menunggu dengan gelisah tanpa sabar akan arahan tanganku yang kini gemetar, menuntun kontol Rendi menuju lubang nikmat nonokku. Aku merasakan katup bibir kemaluanku langsung mengencang seakan tidak rela kontol Rendi menembusnya. Aku merasakan kegatalan pada tepi-tepi klitorisku yang terus mengeras tegang dan ketat menahan tusukan kontol Rendi. Tetapi itu hanyalah ironi dari keinginan yang meledak-ledak dalam bentuk penolakan “jangan – tidak” yang dibarengi gelinjang-gelinjang nafsu birahi dari seluruh tubuhku. 
Dan pada akhirnya semuanya tak ada yang mampu menghadang. Kontol Rendi dengan jamur dalam bulatan yang besar dan tumpul itu secara pelan dan pasti telah merangsek maju, menggedor-gedor gerbang vaginaku secara pasti dan tanpa kenal menyerah. Aku merasakan mili demi mili bagaimana kontol Rendi menerobos bibir dan kemudian dinding awal menuju lubang vaginaku. Aku merasakan saraf-sarafku yang karena kegatalan nikmatnya mencengkeram batang kontol Rendi yang semakin melesak ke dalam lubang kemaluanku. Aku mendengarkan dan merasakan bagaimana lenguh dan desah Rendi karena kontolnya merasakan nikmatnya lubang sempitku ini. 
Dan ketika batang itu telah terlahap seluruhnya, Rendi menghentikan desakannya sesaat. Hatiku marah. Nafsuku meradang. Kurang ajar kamu Rendii.. mengapa kamu tega menyiksaku dengan caramu itu.. Dan dengan kejengkelan erotikku, tak ayal bokongku berusaha menjemput batang kontol itu agar tidak diam hingga membuatku tersiksa seperti ini. Ternyata memang benar, itu hanya sesaat. Dengan tangan kirinya, Rendi meraih rambutku yang telah berantakan terurai. Seperti sais menarik tali kekang kudanya, tangan Rendi menarik rambutku ke belakang hingga kepalaku dibuatnya terdongak. 
Dia benar-benar menjadikan rambutku seperti tali kekang kuda. Ditarik-tariknya sambil menghantamkan keluar masuk kontolnya ke memekku. 
“Ammpuunn Rendii.. kontolmu ituu.. aacchh..”. 
Genjotan Rendi membuat seluruh ranjangku bergoyang tergoncang-goncang. Kenikmatan yang kuterima membuat tangan-tanganku meraba-raba berusaha mencari pegangan. Dan korbannya adalah seprei ranjangku yang jadi terbongkar tak karuan karena kuremas. Keringatku tak lagi mengenal toleransi. Mengucur deras mengiringi rintihanku yang dipenuhi kepiluan nikmat tak bertara. 
Setiap tusukan kontol Rendi ke kemaluanku selalu menghasilkan siksaan sekaligus kenikmatan yang tak mampu kutanggung sendiri. Rintihan itu seakan meminta, memohon, entah kepada siapa untuk turut berbagi siksa nikmat yang sedang melandaku. Rintihanku itu sepenuhnya melukiskan keadaanku yang dengan sepenuhnya sedang terjajah oleh nafsu dan birahi hewaniahku. Rintihan itu terus menerus mengiringi kocokan kontol Rendi yang tidak menampakkan tanda-tanda kapan hendak berhenti. 
Kemudian, dengan tanpa mencabut kontolnya dari nonokku, Rendi meraih dan mengangkat kaki kiriku, membalikkan tubuhku kemudian mendorongnya sedikit lebih ke tengah ranjang pengantinku. Dan kaki kiriku tak pernah diturunkannya lagi, kecuali hanya disandarkannya pada bahunya yang membuat selangkanganku menjadi sangat terbuka sehingga nonokku menjadi sepenuhnya terkuak dan memudahkan Rendi meneruskan kocokannya pada lubang vaginaku ini. 
Kembali sensasi erotik birahiku dengan penuh nafsu menyerang. Aku hanya bisa mengeluarkan racauan. 
“Teruuzzhh.. terruuzzhh Rendii.. teruuzzhh.. enhhaakk..”, sambil ludahku muncrat-muncrat karena kehilangan kendali saraf mulutku dan dengan dibarengi oleh mataku yang melotot tanpa kedip. 
Gelombang kenikmatan yang mengalun bertalu-talu itu membuat seluruh tubuhku bergelinjang tak karuan. Tangan-tanganku berusaha menggapai payudaraku dan meremas-remasnya sendiri dalam upaya mengurangi deraan nikmat yang tanpa batas itu. Tanganku terus menerus dan semakin erat meremas kuat-kuat seluruh urat dalam payudaraku itu. Entahlah, kesadaranku rasanya tak tampak lagi, yang tersisa tinggal kenikmatan yang membuat seluruh tubuhku semakin tenggelam dan terperosok ke dalamnya. 
Kini Rendi menjatuhkan kakiku demikian saja dari bahunya. Nafsunya yang buas dan liar merubuhkan tubuhnya ke atas tubuhku. Dengan genjotan kontolnya yang semakin cepat, ditindihnya aku. Bibirnya menjemput bibirku yang langsung kusambut dengan lahapnya. Ludah dan lidahnya kuhisap-hisap dengan penuh kehausan. Tangan Rendi yang langsung merangsek tubuhku dengan eratnya membuatnya menekankan bibirnya ke bibirku menjadikan seakan tubuh kami lengket tak terpisahkan. Dan tanganku yang juga memeluk tubuhnya yang bidang itu merasakan betapa keringat Rendi mengucur deras. 
Sementara kontol Rendi yang panjang itu makin cepat menghunjamkan batangnya ke vaginaku hingga terasa mentok pada lubang peranakanku. Selama ini belum pernah ada yang mampu menyentuh lubang peranakanku. Panjangnya kontol Mas Adit yang hanya separohnya jelas tak akan pernah menyentuh titik lokasi ini. Sedangkan justru di situlah sebenarnya letak saraf-saraf peka yang mampu membuat perempuan menerima kenikmatannya dari kontol seorang lelaki. Aku sungguh-sungguh merasakan sangat beruntung dientot Rendi pagi ini. 
Dan kini yang aku rasakan adalah semacam aliran birahi yang mendesak dari lubang vaginaku untuk muncul ke permukaan. Seperti ingin kencing yang sangat mendesak. Saraf-saraf pada dinding vaginaku yang semakin ketat mencengkeram batang kontol Rendi menguncup antara melepas dan mencengkeram membuat rasa ingin kencing yang tak lagi mampu kubendung. Anehnya rasa ingin kencing itu justru ingin sekali kugapai. Dan perasaan seperti ini belum pernah aku rasakan semenjak 8 tahun perkawinanku dengan Mas Adit. 
Apakah ini yang sering disebutkan sebagai orgasme? Apakah memang selama ini aku tidak pernah mendapakan orgasme? Apakah sepanjang hubungan seksku selama 8 tahun dengan Mas Adit tidak pernah sekalipun menghasilkan orgasme? Aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya orgasme itu. 
Tiba-tiba saja, juga dengan tanpa melepas kontolnya dari nonokku, Rendi mengangkat kaki kananku dan diseberangkan melewati tubuhnya yang merebah ke kanan tubuhku. Dan kini posisiku adalah miring membelakangi Rendi yang dengan tanpa berhenti bisa tetap mempertahankan kontolnya pada lubang memekku sambil terus menggenjotnya. 
Dengan cara memeluk tubuhku dari belakang, tangan Rendi langsung meremas payudaraku yang iramanya mengiringi genjotan kontolnya pada kemaluanku. Dan rasa ingin kencing itu membuatku nonokku terasa sedemikian gatalnya hingga dengan sepenuh kekuatan, aku menggoyang-goyangkuan pinggul dan pantatku untuk ikut menjemput kontol yang keluar masuk di liang vaginaku. 
Rasanya kegatalan ini tak akan mereda kembali. Aku berteriak, mengaduh, merintih dan berteriak kembali. Tempat tidurku bergoncang dengan hebatnya. Sepreiku sudah terlepas entah kemana. Kini aku raih kisi-kisi ranjangku kuat-kuat. Rasa ingin kencing itu tak lagi dapat terhindarkan. Rasa ingin kencing itu sudah sangat mendekati gerbang pertahanan terakhirnya untuk jebol. Rasa merinding dan gemetar langsung melanda seluruh tubuhku. 
“Rendii.., akuu.., oohh..”, dan entah apa lagi yang kuteriakkan. 
Hingga akhirnya ada yang kurasakan sangat mencekam saraf-saraf vaginaku. 
Dengan kedutan-kedutan besar, serta dengan cengkeraman-cengkeraman pada kisi-kisi ranjang yang bisa membuat tangan-tanganku terluka, dengan keringatku yang mengucur membasahi dada, perut, rambutku maupun leherku, kutekan habis-habisan hingga mentok ke pintu peranakanku setiap kontol Rendi menusuk nonokku, terus kutekan, terus, hingga kurasakan ada sesuatu yang tumpah dari lubang vaginaku. 
Tumpahan-tumpahan dari lubang vaginaku itu rasanya mengalir tak henti-hentinya, sangat nikmat. Aku terkulai sesaat. Sementara itu kontol Rendi sama sekali belum menunjukkan akan selesai menggenjotku, bahkan semakin mempercepat kocokannya. Aku pasrah saja. Walau sejenak setelah ada yang tumpah dari liang vaginaku tadi segala kegatalanku tadi langsung turun. Yang kurasakan sekarang adalah sedikit rasa pedih. Kocokan kontol Rendi mungkin membawa serta rambut-rambut di tepi vaginaku sehingga kemungkinan membuat bibir vaginaku terluka. Tetapi tak apalah. Toh sebanding dengan apa yang bisa kuraih pagi ini. 
Rupanya Rendi memang masih jauh dari tujuannya. Kontolnya yang besar panjang dan kaku itu, walaupun posisi Rendi berada di punggungku, tak ayal pula tetap saja ujungnya mampu menyentuh lubang peranakanku. Bahkan, kini dia raih tubuhku ke atas tubuhnya. Aku menjadi telentang menindih tubuhnya yang terus menancapkan dan menggejot nonokku. Kakunya itu, pajangnya itu, besarnya itu membuat seakan tak ada celah yang tersisa lagi dalam ruang kemaluanku yang memang menjadi sangat menyempit dan terus menerus menggedor lubang peranakanku. 
Rasanya Rendi memerlukan bantuanku. Aku berusaha bangkit untuk mencoba membantunya. Mungkin dengan menggoyangkan pinggul dan pantatku akan dapat mengimbangi genjotannya yang semakin menggila. Bahkan kemudian aku bergerak bangun setengah menduduki selangkangannya dengan kedua tanganku masih bertumpu pada dada gempal Rendi sehingga kontol Rendi dapat sepenuhnya masuk dalam lahapan vaginaku dan kuikuti genjotannya dengan menaikturunkan pantatku. Payudarahku ikut tergoncang-goncang. Rambutku terhambur ke kanan maupun kiri. Sungguh edan kontol ini.
Hal yang sama sekali tidak kuperkirakan semula adalah, posisi yang sedang aku lakoni ini justru menjadi bumerang yang berbalik dan mendongkrak gelora birahiku kembali. Rasa gatal pada dinding vaginaku datang kembali. Dorongan nafsu merenggut seluruh saraf-saraf pekaku kembali. Dan rasa lemasku langsung lenyap diganti dengan semangat untuk menggenjot kontol Rendi agar dapat lebih dalam merasuki vaginaku. Aku kembali kesetanan. Kembali merintih dan mendesah. Kembali mencakar dan meremas bukit-bukit gempal tubuh Rendi. 
Dan akulah kini yang mempercepat keluar masuknya kontol itu ke nonokku. Batang yang besar, panjang dan kerasnya bukan main itu membuatku bahkan lebih terbakar daripada yang pertama tadi. Aku berteriak sebagai ganti desahanku. Aku berteriak sebagai ganti rintihanku. Aku berteriak menjemput nikmat tak terperikan ini. Dan saat itulah aku merasakannya kembali. 
Dari lubuk kedalaman nonokku, desakan ingin kencing kembali mengejar ke depan gerbang vaginaku. Karena kini aku tahu betapa nikmatnya menumpahkan desakan dari dalam tadi. Genjotan dan naik turun pantatku kubuat semakin menggila. Kulihat sepasang payudaraku terlempar ke atas ke bawah. Aku sudah semakin tidak peduli lagi pada rambutku. Gerbang vaginaku telah sepenuhnya siap menyambut. Dan dengan teriakan yang paling keras, orgasmeku kembali hadir. 
Tiba-tiba ada rasa benci dan marah yang menyelinap di celah-celah membanjirnya tumpahan vaginaku. Aku benci dan marah kepada suamiku. Aku merasa dipecundangi selama 8 tahun perkawinanku dengannya. Aku merasa di lecehkan. Aku tidak sepenuhnya percaya bahwa Mas Adit tidak mampu memberikan kenikmatan sebagaimana yang kuterima dari Rendi hari ini. Aku merasa bahwa Mas Adit tidak bersungguh-sungguh mengusahakan dan memberikan kepuasan orgasme padaku istrinya. Saat itu pula aku meraung menangis. Aku menangis sejadi-jadinya. 
Dan Rendi yang belum menyadari keadaanku, yang mungkin juga tidak mau tahu keadaanku, sementara kontolnya memang juga masih terus menggenjot nonokku, kembali meraih tubuhku agar merapat ke tubuhnya. Ketiakku dia serang habis-habisan. Payudaraku diremasnya habis-habisan. Aku tahu. Rendi hampir mencapai puncak kenikmatan seksual. Pasti sperma Rendi sudah merasuk ke batangnya untuk dimuncratkan ke dalam nonokku. Tetapi aku meraskan sakit yang amat sangat. 
Aku langsung berontak merasakan sakit yang amat sangat pada nonokku. Genjotan Rendi yang tak habis-habisnya rasanya telah mengiris-iris vaginaku. Aku tidak tahan lagi. Aku bangkit dan turun dari ranjangku. Rupanya Rendi salah pengertian dengan sikapku ini. Dia berfikir bahwa aku ingin mengubah posisiku. Teriakan kesakitanku tadi dianggapnya sebagai teriakan kenikmatan. Begitu aku turun, dia langsung ikut menyusul turun. Dia berdiri dan pundakku dicekalnya dan kemudian menekannya agar aku berjongkok. Kemudian dia jaMbak rambutku dan menengadahkan mukaku. 
“Ayoo Mbak Marr, ayoo Mbak Aditt, telaann.. minuumm..”, dia meracau. 
Dia sodorkan kontol besarnya ke mulutku. Aku harus menghisapnya. Sperma yang sudah dekat ke pintu keluarnya akan dia tumpahkan ke mulutku. 
Karena rasa sakit pada nonokku itu, aku sudah tak mampu lagi berfikir jernih. Pilihan ini akan lebih baik daripada nonokku harus jebol, pikirku. Di samping itu, hati kecilku jadi terobsesi sejak aku dipaksanya untuk mengulum kontolnya pada awal dia memasuki kamar tidurku tadi. Hati kecilku ingin merasakan spermanya tumpah di mulutku. Hati kecilku menginginkanku meminum air maninya. Hati kecilku ingin merasakan tenggorokanku dihangati oleh lendir-lendir hangatnya. Hati kecilku menginginkanku meminum sperma dari kontol Rendi yang telah memberikanku kepuasan orgasme yang belum pernah seumur hidup kudapatkan. Dan hati kecilku juga ingin aku membuktikan bahwa aku bisa memberikan kepuasan yang dahsyat itu pula kepadanya. 
Kuraih kontol Rendi dan melumatnya sepuas hatiku. Sepuas nafsuku. Sepuas kehausan nafsuku. Kepalaku mengangguk-angguk memompa kontol itu dengan mulutku. Dan akhirnya terdengar suara Rendi yang meregang. Desahan dan rintihannya memenuhi ruang sempit kamar pengantinku. Entah sudah berapa mililiter sperma Rendi tumpah ruah ke mulutku. Aku berusaha agar tak ada setetespun yang tercecer. Kini aku terdorong berusaha menelan seluruh air maninya. 
Memang dulu pernah aku dipaksa Mas Adit suamiku, untuk mengulum kontolnya dan meminum air maninya. Tetapi waktu itu reaksiku adalah perasaan jijik. Aku langsung muntah-muntah saat lendir Mas Adit terasa menyemprot dalam mulutku. Selanjutnya Mas Adit tidak lagi pernah memaksa. 
Tetapi pada Rendi ini, yang bukan suamiku, justru aku yang merasa menginginkannya. Dan sama sekali tak ada rasa jijikku. Bahkan aku merasakan kerakusan hewaniah saat tenggorokanku merasakan aliran lendir yang disemprotkan terus menerus milik Rendi ini. Rasanya aku menginginkannya lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi. Dan akhirnya redalah semua prahara. Kami sama-sama tergolek kelelahan. Kami telentang telanjang di ranjang. Kamar pengantinku dipenuhi nafas-nafas memburu dari para ahli selingkuh pengejar nikmat nafsu birahi ini. Sejenak kami terlena. 
Aku sedikit gelagapan saat Rendi membangunkanku. Kulihat dia sudah rapi untuk kembali ke kantornya. Tangannya masih menyempatkan untuk mengelus dan memainkan jari-jarinya ke nonokku. Aku melenguh manja. Kami berpelukan dan saling memagut sesaat. Sebelum dia pergi aku tanya pada Rendi, kenapa dia begitu PD (percaya diri) dan yakin saat telanjang di depanku pada awal berada di kamarku tadi. Dia tidak menjawab kecuali menunjukkan senyumnya yang tipis. Apakah dia tidak khawatir aku akan menggebuknya dengan sapu lidiku yang kebetulan berada di tanganku tadi. Kembali dia tidak menjawab kecuali dengan senyumannya lagi. 
Dan aku memang tidak terlalu menginginkan jawabannya. Aku juga meyakini, 90 diantara 100 perempuan, entah itu gadis, istri ataupun janda, apabila dihadapkan pada pemandangan yang sedemikian spektakuler sebagaimana tampilan kontol super besar dengan pria macho yang setengah telanjang tadi, pasti akan langsung jatuh terduduk. Kekuatan sihir dari penampilan Rendi dan kontolnya akan mampu menghempaskan harga diri setiap wanita hingga di lantai yang paling bawah. Dan mereka akan merelakan dirinya untuk dijadikan sekedar obyek pemuasan seperti tadi. Demikian pulakah aku? Ah, persetan dan peduli amat, pokoknya hari ini aku telah berhasil meraih orgasmeku yang pertama kali dalam hidupku. Persetan, persetaann.. 
Kemudian aku bertanya pula, mengapa saat pertama kali datang dan turun dari mobil sepertinya dia terkesan sangat sopan dan sama sekali tidak menampakkan akan berlaku ‘kurang ajar’ seperti tadi? Kali ini dia mau menjawab. Dia menceritakan pandangan teman-temannya bahwa di antara para istri teman-teman satu kantor, yang paling cantik adalah istri Pak Adit. Teman-teman bilang bahwa Bu Adit itu sangat sensual. Pakai busana apa saja selalu nampak cantik. Dan secara berkelakar mereka bilang, penampilan yang paling cantik dari istri Pak Adit tentu saja adalah saat tanpa memakai busana sama sekali, alias saat telanjang. Ampuunn, deh. 
Sudah lama sebenarnya Rendi mendengar perihal diriku dan kemudian banyak memperhatikanku. Pada beberapa kali pertemuan atau hajatan antar teman sekantor dia banyak mengamatiku. Naluri kelelakiannya mendorong untuk selalu mencari kesempatan. Dan ketika kemarin Mas Adit menyuruhnya untuk ke rumah mengambil file dari komputernya, dia tahu bahwa inilah kesempatan emas baginya. Dengan sungguh-sungguh dia berancang-ancang dan mempersiapkan dirinya. Dia akan berusaha tampil secara “low profile” agar tidak mengundang kekhawatiran ataupun kecurigaanku, begitu ceritanya. Dia juga berusaha untuk seakan-akan tidak mengambil perhatian padaku. Kurang ajar juga kau Rendi, batinku. 
Dia juga menceritakan bahwa wanita sepertiku pasti memiliki nafsu seksual yang luar biasa. Rendi mengutarakan pendapatnya dengan gaya bagai seorang pakar seksual. Posturku yang relatif kecil dengan pinggul, bokong, gaya berdiri maupun sensual bibirku yang katanya persis bibir Sarah Ashari, rambutku yang lurus yang juga dia katakan seperti rambut Sarah Ashari, betisku yang mulus kencang dan segudang lagi pujian gombalnya yang sepenuhnya mencitrakanku sebagai seorang perempuan yang paling sempurna untuk diajak ke atas ranjang. Edan, beraninya kau membicarakan daya tarik seksual istri temannya sendiri, kataku yang disambutnya dengan tawa lepas. Aku tahu bahwa itu semua merupakan dramatisasi Rendi sendiri. 
Tetapi apapun yang terjadi, ucapan Rendi itu membuatku berbunga-bunga, walaupun juga setengah malu-malu. Dan ada beberapa hal yang kuakui bahwa ada benarnya omongan Rendi. Khususnya yang berkaitan dengan soal ranjang tadi tidak terlampau meleset. Aku memang merasa selalu kehausan. Apa lagi kalau sering kudengar dari teman atau tetangga, bagaimana mereka mendapatkan kepuasan lahir batin dalam hubungan intimnya dengan suami-suami mereka. Yang kurang ajar lagi, Rendi juga bilang bahwa nonokku yang seperti nonok perawan, dan nonok seperti itu pasti belum pernah merasakan kontol macam punyanya, katanya sambil melirikkan matanya. Dia menyindirku rupanya. 
Aku hanya tersenyum sebagaimana dia menjawab pertanyaanku tadi. Yang dia maksudkan pasti bahwa kontol Mas Adit yang kecillah yang membuat nonokku tetap sempit seperti nonok perawan. Aku tertawa nyengir saja memikirkan semua itu. Terus terang walaupun kenyataannya pahit, bagaimanapun apa-apa yang disampaikan Rendi tadi membuatku sangat tersanjung rasanya. Aku jadi semakin percaya diri. Pernyataan yang Rendi katakan itu juga sering kudengar dari lelaki maupun perempuan lain di sekitarku. Kali ini aku menjadi semakin percaya bahwa aku memiliki ciri-ciri sebagai perempuan yang sangat cantik dan menarik. 
“Besok aku telepon ya, Mbak. Pak Adit baru minggu depan khan pulangnya?!”. 
Aku tidak bilang “ya”, tapi juga tidak bilang “tidak”. Que sera sera.. Peristiwa air mani Rendi yang muncrat ke mulutku pada akhir selingkuh hari ini tadi tiba-tiba terlintas dalam bayanganku dan membuat libidoku kembali bergetar. Hari itu, hingga sore dan malam menjelang tidur, nikmat selingkuh bersama Rendi tadi terus menerus membayang ke manapun aku bergerak dalam rumahku. Rasa pedih dan perih sekaligus nikmatnya nonokku ingin rasanya kuabadikan. Aku ingin selalu bisa mengenang dan selalu berada dalam kenangan Rendi. Ini bukanlah peristiwa seperti halnya jatuh cinta. Ini adalah peristiwa dimana pejantan bertemu betina. Setiap kali berjumpa yang dipikirkan tidak lebih dari soal perselingkuh mengejar pemuasan nafsu birahi. 
Hampir sepanjang malam aku kesulitan tidur, gejolak libidoku dengan lembut terus membisiki telingaku. 
“Lihatlah kontolnya, lihatlah belahan lubang kencing di kepalanya yang sangat sensual itu, lihatlah batangnya yang seperti patung lilin Madame Tussaud, lihatlah selangkangannya yang sangat mengundang lidah untuk menjelajahinya, lihatlah dadanya yang mengundang bibir dan lidahku, lihatlah ketiaknya, lembahnya, aromanya, bulu-bulu halusnya..”. 
Entah sudah pukul berapa saat teleponku berdering. Aku meloncat bak rusa betina. Meradang dan menerjang. Hampir saja aku jatuh tersandung kaki meja makanku. Hatiku seperti anak kecil yang sedang menunggu Papanya pulang membawa mainan yang dijanjikannya. Dengan cepat kuraih gagang telepon itu. Ah.., aneh.. aku kecewa. Ternyata hanya Mas Adit. Hanya..? Hanya..? 
Dia bilang bahwa ia akan pulang hari Senin minggu depan. Dia juga bertanya apakah Rendi tidak kesulitan mengambil file dari komputernya. Dia juga menanyakan hal-hal rutin lainnya. Terus terang aku telah kehilangan semangat untuk menjawabnya. Semua kujawab seperlunya saja. Juga saat dia bilang bahwa dia sudah membeli kain tenun asli Banjarmasin untukku, yang memang dia janjikan sebelum pergi, rasanya aku menerima kabar itu dengan biasa-biasa saja. Pagi ini yang kutunggu dengan harap-harap cemas hanyalah telepon Rendi. Semalaman aku sudah kurang tidur. Semalaman aku hanya mencoba mengingat-ingat bagaimana kontol besar Rendi dengan ‘kejam’-nya merobek-robek nonokku. Semalaman aku hanya ingin kembali mengulangi kenikmatan tak terperikan itu. Kenikmatan yang menghasilkan kepuasan tak terhingga sampai-sampai aku dapat merasakan betapa nikmat dan penuh maknanya orgasme itu bagiku.
Saat ini aku sudah mempunyai niat, apabila Rendi jadi mengajakku keluar, yang pasti akan berakhir di tempat tidur, aku akan berbuat lebih banyak untuk menyalurkan nafsu birahiku yang sangat menyala-nyala ini. Aku harus lebih siap. Aku punya banyak obsesi mengenai bagaimana melakukan berbagai hal di atas ranjang. Dan aku merasa hal-hal itu hanya akan terwujud dengan dan bersama Rendi. 
Telepon yang kutunggu itu akhirnya berdering juga. Rendi minta agar kami bertemu di Sizzlier American Steak di kawasan jalan Bitung, Menteng. Dia mengajakku makan siang di situ. Aku sudah memikirkan baju apa yang akan kupakai untuk pertemuan dengan Rendi hari ini. Aku akan memakai baju yang menurut komentar teman-temanku saat aku memakai baju itu, paling sensual. Rok terusan sampai di dada dengan tali kecil yang menggantung ke bahu. Warnanya merah tua mawar. Bahannya sifon tipis, teman-teman bilang busana itu akan membuat postur tubuhku nampak sangat seksi karena efek dari bahan itu. Agar tidak menyolok saat aku keluar rumah, di luarnya aku memakai blus lengan panjang dengan warna coklat muda. 
Aku sendiri tidak begitu suka make up yang terlalu menyulitkan, aku lebih senang kesan natural dan simplicity. Dan itulah yang membuatku jadi nampak cantik alami. “Elegan simplicity”, begitu kata temen-temenku yang terpelajar. Pukul 12.00 tepat aku turun dari taksi, dan kulihat Rendi sudah menungguku di depan pintu. Dia keluar untuk turun menjemputku. Aku tahu bahwa Rendi sangat terpesona penampilanku siang itu. Tidak banyak yang bisa diceritakan saat makan siang itu, kecuali Rendi yang matanya terus menerus mengagumi dan menikmati penampilanku. 
“Mbak koq cantiknya luar biasa, kenapa sih. Dulunya makan apa koq sampai bisa jadi cantik dan seksi banget. Kontolku jadi ngaceng berat nih, lihat saja bahu Mbak Adit yang.. selangit deh”, begitu terus menerus Rendi mengeluarkan bisikan-bisikannya di tengah orang ramai di Slizer American Resto itu. Aku sangat tersanjung dibuatnya. Hari ini Rendi mengajakku ke Puncak. Dia kebetulan mempunyai hak menempati villa yang dipinjamkan oleh temannya. Aku “no comment” saja. Hatiku kembali tergetar. Aku ingin sekali meraih kenikmatan yang seperti kemarin. Aku ingin sekali merasakan orgasme yang seperti kemarin. Aku ingin sekali mewujudkan berbagai obsesi ranjangku. Aku sangat bernafsu birahi. Tanganku meremas keras-keras tangan Rendi sampai dia mengaduh. 
Tepat pukul 1.15, dengan Honda Civic Rendi kami telah berada di gerbang tol Jagorawi. Sepanjang jalan Rendi banyak bercanda. Aku sendiri kuakui, agak merasa tegang. Aku terlampau serius hari ini. Aku akan mencoba untuk bersikap lebih santai. 
“Ren, aku tidak bisa tidur lho semalaman”, kucoba katakan pada Rendi. 
“Kenapa Mbak?”. 
“Ya ini nihh penyebabnya..”, aku tekadkan saja untuh menjamah selangkangannya yang berada di belakang kemudi Honda Civicnya. 
Rendi nampak senang atas inisiatifku. 
“Ooo.. begitu.. boleh Mbak, kalau kangen mau ketemu adikku ini”, canda Rendi. 
Aku tidak menyahut tetapi terus saja mengelus selangkangannya itu. Kurasakan tonjolannya semakin membesar dan mengeras. Sebentar-sebentar Rendi memandangku dengan matanya yang tajam menusuk ke hatiku. Rasanya aku semakin sayang saja padanya. Dia tarik handle kursinya hingga posisinya menjauh dari kemudi dan selangkangannya lebih leluasa menerima elusan-elusan tanganku. 
“Keluarin saja Mbak, ‘dia’ khan juga ingin lihat Mbak”, aku tertawa cekikikan. 
Dan dengan tanpa menunggu perintah berikutnya, kuraih ikat pinggangnya dan kubuka. Kancing-kancing celananya juga kubuka. Demikian juga dengan resluitingnya. Dengan sedikit beringsut Rendi lebih mengendorkan posisinya agar aku dapat lebih mudah merogoh kontolnya. 
Tidak tahu, mengapa aku merasa tidak sabar sekali saat itu. Aku inginnya buru-buru saja untuk meremas dan menyaksikan kontol penuh pesona itu. Kontol yang habis-habisan telah menyihirku. Kontol yang membuatku tak bisa tidur semalaman. Setelah merogoh-rogoh dan menyingkirkan jepitan-jepitan celana dalamnya, kontol itu akhirnya muncul mencuat dari selangkangan Rendi. Untuk kedua kalinya aku melihat pesona itu dengan takjub. Dan baru sekarang aku berkesempatan mengamatinya dengan lebih mendetail. Kueluskan jariku, kutoreh-toreh lubang kencingnya. Kontol itu cepat sekali mengeras hingga berukuran maksimum. 
Dan kini dapat kulihat apa yang sangat pantas menjadi incaran banyak wanita itu. Indahnya, kepalanya mengkilat tegang. Dan belahan tempat lubang kencingnya juga ikut menegang menantang menunggu jilatan. Aku agak menahan diri untuk tidak bertindak terlalu jauh, khawatir akan mengganggu Rendi yang sedang menyopir di lajunya jalan tol Jagorawi. Tanganku dengan lembut mengelus kontol perkasa itu. Jari-jariku bermain pada sembarang permukaannya. Aku rasa ukurannya mengingatkanku pada pisang tanduk dari Bogor yang terkenal itu. Aku tak kuasa melepaskan sedetikpun kekagumanku. Setiap kali aku menghela nafas. Rupanya Rendi tahu. Dia memperlambat laju mobilnya dan menepi. 
“Berhenti sebentar ya Mbak”, aku tersenyum senang. 
Setelah berhenti Rendi kembali memundurkan joknya dan lebih memiringkan sandarannya. Tidak maksimum, karena dia juga harus sambil mengamati jalanan, siapa tahu ada polisi jalan tol yang melakukan pengawasan pada mobil-mobil yang nampak bermasalah. Sekarang baru aku punya kesempatan untuk bermain. Aku dekatkan wajahku hingga hidungku bisa menangkap baunya, aku jadi sangat horny. Aku tak tahan lagi. Akhirnya mulutku mendekat dan mencaploknya. Mungkin tidak lebih dari 5 menit kuminta Rendi untuk jalan lagi. Itu sudah cukup untuk sekedar melepas beban keteganganku yang sejak pagi sudah kencang terus. 
“Jalan lagi deh Ren. Rasanya aku kayak orang kehausan banget nih”, Rendi tertawa. 
Aku mungkin tertidur sekejap. Ternyata mobil Rendi sudah memasuki halaman villa itu. Nampaknya lumayan. Satu rumah menyendiri dengan taman dan pohon-pohon khas puncak yang dingin. Tak nampak ada seorangpun. Rendi memakirkan mobilnya dan kami turun. Tak lama kemudian ada seorang ibu yang kelihatannya orang setempat yang muncul dan mengucapkan salam. Dia katakan bahwa Samin penjaga rumah sedang ke toko sebelah untuk membeli rokok. Rendi tidak menanyakannya lebih jauh. Dia hanya menunjukkan bahwa kunci rumah villa itu sudah ada di tangannya. Dia menerimanya dari Pak Anggoro pemilik villa tersebut. Kemudian kami naik ke rumah dan Rendi membuka pintu. Ibu itu kemudian meninggalkan kami kembali ke rumahnya sendiri, bangunan kecil di bagian belakang rumah besar yang kami pakai ini, sebagai bagian dari rumah villa tersebut. 
Ternyata fasilitas villa ini cukup lengkap. Ada lemari es yang berisi buah-buahan dan minuman dingin. Ada kompor dan lemari dapur yang lengkap dengan sachet kopi, teh, coklat dan sebagainya. Kami memasuki kamar tidur utama. Ruangannya lumayan besar dengan kamar mandi sendiri. Sementara menunggu Samin si penjaga, kami saling berpagutan. Bibir dan lidah kami langsung meliar. Saling menyedot dan menghisap bertukar ludah. 
Rendi memelukku keras hingga pinggangku tertekuk ke belakang. Dan aku sambut dengan pelukan yang keras pula. Kami berpagut seakan telah seabad lamanya tidak berjumpa. Kami berdua nampak bagai orang-orang yang sangat kehausan. Dan aku, tanganku yang sudah tak sabar, langsung saja mencengkeram dan meremas selangkangan Rendi. 
“Eit.., entar kita sedang keasyikan, dia nongol lagi”, kata Rendi yang menunggu Samin. 
“Kalau begitu biar aku menyiapkan minuman panas saja dulu”, ujarku. 
Dengan teko listrik yang ada di situ, aku buat kopi untuk Rendi dan teh panas manis untukku. Aku suguhkan pada Rendi kopinya, seakan aku membuatkan kopi pada Mas Adit suamiku. 
“Sedaapp”, kata Rendi sambil mengangkat kakinya ke ujung meja. 
Pak Samin akhirnya muncul. Rendi berbasa-basi. Dia perkenalkan aku sebagai istrinya. Rendi bilang kami sekedar mampir dari perjalanan ke Bandung, tidak untuk menginap. Pak Samin lantas pamit undur diri. 
Sehabis meminum kopi, kami langsung masuk ke kamar tidur. Dan kali ini aku yang mencoba untuk bersikap lebih tenang dan sabar. Aku merasa perlu menciptakan suasana nyaman dulu, biar tidak seperti ayam, begitu jantan melihat betinanya langsung saja diperkosa. Dengan penuh kelembutan bak istri yang setia, aku berlutut di lantai dan meraih sepatu Rendi. Aku bukain sepatu dan kaos kakinya satu per satu. Ah.. sungguh suatu surprise untuk Rendi. Dia bilang istrinya tidak pernah melakukan seperti ini. Dan aku juga bilang bahwa aku tak pernah melakukannya untuk suamiku. Ucapan-ucapan terakhir kami ini membuat gelegak nafsu birahi kami berdua melonjak. Rendi langsung turun dari kursinya dan memagut leher, bahu dan kemudian bibirku. 
Dan muncullah suasana itu. Rasa kedekatan, kemesraan, ketulusan dan keintiman yang mengantarkan dan mengawali kenikmatan selingkuh seorang istri dengan teman suaminya. Edan memang. Dan kemudian dengan mesra pula Rendi menurunkan tali gaun sifonku sehingga busanaku yang tipis selembut sutra ini langsung merosot ke bawah dan menunjukkan dadaku yang indah terbungkus BH Animale-ku. Kembali bibirnya langsung memagut bahuku yang putih mulus dengan penuh nafsu birahinya. Aku menggeliat. 
Dengan tetap lesehan di lantai villa itu, Rendi melucuti seluruh busanaku kecuali BH dan celana dalamku. Demikian pula aku terus melanjutkan melepaskan celana panjang dan kemejanya. Dan kutinggalkan pula celana dalamnya. Rupanya kami memiliki keinginan yang sama. Saling melihat lawan selingkuhnya tetap menggunakan pakaian dalamnya. Tentunya ini merupakan salah satu konsep seni dalam bercinta. Dengan meneruskan bermain di lantai, Rendi merebahkan dirinya dan menarik tubuhku menindih tubuhnya. Kami kembali berpagut. Tetapi tak terlalu lama. 
Kini aku mulai melaksanakan impianku. Bibirku kulepas dari bibirnya. Dengan terus mencium dan menjilati mulutku dan kemudian merambat ke dagunya, yang terasa kasar di bibir dan lidahku dikarenakan bulu-bulu dagunya yang habis dicukur, terus merambat, merambah lehernya. Tercium aromanya yang semerbak. Kusedot lehernya hingga Rendi menggelinjang dan mendesah. 
Dengan tanganku masih memeluk kedua lengannya dan kemudian turun ke arah ketiak dan dadanya, bibir dan lidahku terus meluncur ke bukit gempal dadanya. Aku sangat menikmati saat lidahku menjilat yang kemudian diseling dengan bibirku yang menyedot untuk menyerap rasa asin keringat tubuh Rendi. Saat aku menjilat puting-putingnya, tangan Rendi mengelus rambutku. Dengan cara itu bangkitlah rasa saling sayang antara aku dengan Rendi. Sesekali tangan Rendi menyibakkan rambut panjangku agar tidak mengganggu kenikmatanku dalam menggigit dan menyedot kedua putingnya itu. 
Dari dada, bibir dan lidahku menyisir ke samping kanan kemudian kiri. Sasaranku kini adalah menjilati dan membuat kuyup ketiak Rendi yang nampak ditumbuhi bulu-bulu yang membuatnya nampak sangat seksi. Dan saat hidungku sempat tenggelam dalam lembah ketiaknya, aku rasakan betapa nikmat sedapnya ketiak lelaki ini. Aku menggoyangkan pantatku. Kemudian setelah memuaskan diriku dengan ketiak Rendi, bibir dan lidahku merambah perutnya. Kujilat dan kusedot pusarnya. Kujilati seluruh permukaan perutnya. Kegelian yang nikmat pasti telah menyerang Rendi. Dia mendesah dan mengaduh, dan badannya menggeliat-geliat menahan perasan geli. 
Turun dari pusarnya aku menemui bulu-bulu yang semakin turun semakin merimbun. Tidak ada semilipun yang terlewat dari bibir dan lidahku. Kembali aku beringsut untuk memposisikan tubuhku agar tepat mengarah ke selangkangannya. Dan saat sampai di sana, aku benamkan seluruh wajahku. Aku ciumi celana dalamnya yang telah menampakkan tonjolan kontolnya yang besar dan panjang. Disini aku menggigit dan mengisapnya hingga ludahku membasahi celana dalamnya. Sungguh nikmat bau selangkangan Rendi. Dengan celana dalamnya yang belum dibuka, aku mendekatkan mukaku ke tempat luar biasa itu. Tangan Rendi terus mengelus kepala dan rambutku. Dan sesekali menyibakkan rambut panjangku agar tidak menggangu kenikmatan birahiku dan tentu saja demi kenikmatan dia sendiri juga.
Aku menjadi sangat ketagihan menciumi bau selangkangannya. Di lipatan paha dengan perut sebelah kanan dan kiri itu aku mendapatkan sensasi erotik sendiri. Saat bibir dan lidahku menyedot dan menjilati lebih turun lagi lipatan itu hingga mendekati lantai villa, tanganku mengisyaratkan agar Rendi mengangkat kedua pahanya ke atas dan terus melipatnya hingga lututnya menyentuh dadanya. Dan kini yang nampak adalah akhir paling bawah celana dalamnya yang langsung menutupi pada arah analnya. Inilah sasaran impianku. Menciumi wilayah anal Rendi yang masih terbungkus celana dalamnya. Dan bau yang khas pada daerah itu samar-samar mulai tertangkap hidungku. Dengan setengah menungging dan dengan kedua tanganku memeluk kedua pangkal bokong dan pahanya itu, seluruh wajahku terus menyungkup dan menciumi akhir celana dalam Rendi itu. 
“Mbak.. Mbak Marinii.. pinter banget sihh..”. 
Rendi mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dariku, istri Mas Adit, teman sekantor sekaligus atasannya. Dan kembali dengan isyarat tanganku yang mendorong agar dia berbalik tengkurap, Rendi menurunkan lipatan kakinya dan bergerak tengkurap. Tetapi saat dalam posisi setengah menungging, dia kutahan. Bahkan kuangkat sedikit agar dia benar-benar menungging. Rupanya Rendi tahu apa yang sangat kutunggu selama ini. Dengan kepalanya yang berbantalkan lantai, dia kini benar-benar menungging dengan menghadapkan pantatnya yang putih itu tepat di depan mukaku. Dan itulah yang kumau. 
Aku mendekatkan wajahku ke pantat itu. Sungguh menjadi sensasi erotik yang baru pertama kudapatkan seumur hidupku. Kini aku siap menciumi pantat Rendi. Dengan cepat bau anal Rendi menyergap hidungku. Kususurkan kembali wajah, hidung, bibir dan lidahku ke belahan pantat Rendi. Kubuat kuyup celana dalamnya dengan lidah dan ludahku. Kuhisap-hisap basah tersebut dengan khayalan akan keringat dan serpihan dari duburnya yang bisa kuraih, kukenyam-kenyam dan kutelan untuk membagi kenikmatan pada tenggorokanku. 
Kemudian dengan gigi, kucoba untuk menurunkan celana dalam Rendi dari tempatnya. Kukuak sedikit demi sedikit. Dan pada setiap kuakan kujulurkan lidahku untuk menjilati bukit pantat telanjangnya. Setiap kali kuulangi hingga rona merah dengan kerutan-kerutan halus yang mengarah ke titik pusat duburnya muncul terjangkau mata dan hidungku. Baunya yang khas semakin menyengat. Bulu-bulu cukup rimbun tampak mengitari lubang duburnya. Aku tidak tahan untuk menunda lidahku, aku mulai melumati dubur Rendi. 
Aku merasakan ada semacam cairan. Itulah cairan analnya. Bukan basah tetapi juga tidak kering. Cairan itu agak terasa lengket-lengket, Dan saat kujilat aku merasakan sepatnya. Aku menjadi sangat bernafsu. Dengan liar hidung, bibir dan lidahku melahap kawasan pantat dan dubur Rendi. Tanganku langsung menurunkan celana dalamnya hingga seluruh onggokan pantat Rendi menjadi utuh telanjang sudah. Mukaku langsung kubenamkan dalam-dalam ke celahan pantatnya itu. Hidung dan bibirku menjadi sibuk menciuminya. Dan lidahku pun tak pernah berhenti menjilatinya. 
Untuk pertama kalinya menjilati dubur, dan itu adalah dubur Rendi teman suamiku sendiri, sungguh merupakan sensasi erotis bagiku. Dalam menghadapi Rendi ini aku mendapatkan pengalaman erotis yang sungguh-sungguh membuat segala perasaan ragu-ragu dan rasa jijikku saat mengulum kontol, meminum sperma, menjilat pantat dan dubur lelaki seperti Rendi ini hilang sudah. Aku sendiri heran juga. Koq bisa. Sedangkan pada suamiku sendiri, membayangkannya saja bisa dipastikan aku akan muntah-muntah. 
Tetapi memang pantat dan dubur Rendi luar biasa. Dengan kulitnya yang putih bersih, pantat dan dubur Rendi menjadi perangsang libidoku yang hebat. Aku jadi seperti terkena narkoba. Aku mabuk kepayang. Mabuk dalam nikmatnya nafsu birahi yang disebabkan tindakanku menjilati dubur lelaki pasangan selingkuhku. Dan pada akhirnya Rendilah yang tidak tahan. Rangsangan yang hebat dia rasakan dari setiap jilatan lidahku pada duburnya itu. Lidahku yang terus menusuk pantatnya seakan ingin menembusinya membuat Rendi berkelojotan sperti disentuh besi panas. Dengan setengah histeris dia minta aku menghentikannya. Dan Rendi buru-buru bangkit dari lantai sambil meraih dan mengangkat tubuhku menuju ranjang. 
Mulai dengan tubuhnya yang menindih tubuhku, kami langsung bergumul. Saling sedot, saling jilat, saling gigit, saling isap. Dan kini dia berganti posisi menjadi dominator. BH-ku dilepaskannya dengan mulutnya yang menggigit tali-talinya dan menariknya hingga dadaku terbuka. Payudaraku yang tampak langsung dia mainkan. Aktifitas bibir dan lidahnya membuatku menjadi cacing yang kepanasan. Aku bergerak menggelinjang dan menggeliat-geliat menahan hebatnya rangsangan seksual saat puting susuku dikulumnya. 
“Ampun Rendii, ampun Rendi, Renddiikuu sayangg.. ampunn..”, aku terus meracau menahan nikmatnya. 
Kemudian jilatan dan sedotannya turun ke perutku. Pusarku di lumatnya. Terus meluncur lagi ke bawah pusar. Terus turun lagi. Celana dalamku dia gigit dengan gemas. Dia tarik-tarik ke bawah dan diturunkannya hingga ke lututku. Dia benamkan wajahnya ke selangkanganku. Diciuminya bulu-bulu tipisku. Karena pahaku belum terbuka sepenuhnya, dia kembali ke celana dalamku. Di tariknya hingga lepas satu kaki dan ditinggalkannya pada kakiku satunya. Sekarang dia bisa mengangkangkan pahaku untuk mendapatkan selangkanganku yang terbuka. 
Kembali dia benamkan wajahnya ke selangkanganku yang sangat wangi oleh campuran keringat dan parfumku. Rendi benar-benar menjadi liar. Dia mainkan terus celah-celah dan lipatan selangkanganku yang pasti baunya sangat merangsangnya. Dan aku benar-benar telah melayang ke langit ke tujuh. Aku menggoyang-goyangkan kepalaku ke kanan dan ke kiri menahan kenikmatan itu. Aku juga terus menerus meracau dan mendesah-desah. Kujambak rambut Rendi keras-keras. Pasti pedih akibatnya pada kulit kepalanya. Tetapi rupanya itu juga menjadi kenikmatan tersendiri pula baginya. 
Kemudian, rasanya Rendi sudah tak mampu lagi menahan kontolnya yang ingin segera menembus nonokku. Rendi lepaskan wajahnya dari selangkanganku dan merangsek naik menindih tubuhku. Dengan memagut bibirku kuat-kuat, tangannya memegang kontolnya yang aduhai itu, mengarahkannya ke nonokku yang dengan cepat pula kuraih. Kontol itu kutepatkan posisinya pada lubang vaginaku dan, bless.., Oohh.. legit sekali. Kontol besar panjang nikmat bertemu dengan vagina yang basah tetapi sempit. Aku terlempar kembali ke sejuta langit kenikmatan. Kupeluk tubuh Rendi dengan penuh hangatnya birahi dan nafsuku. Pantatku kugoyangkan untuk menenggelamkan sepenuhnya kontol Rendi ke dalam vaginaku. 
Dinding-dinding vaginaku langsung terasa menguncup meremasi batangan kontol besar itu. Saraf-daraf pekaku bergerak menjepit dan melumat ketat batangan itu seakan tidak akan dilepaskannya lagi. Dan saat Rendi menariknya ke atas untuk kembali ditusukkannya, tak bisa kuhindarkan lagi teriakan nikmatku. Aku mendengus-dengus seperti sapi betina. Kuangkat kakiku untuk menjepit pinggul Rendi dan pantatku naik turun dengan cepat menjemput dan menarik kontol Rendi dalam vaginaku. Seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. 
Rendi langsung memompa dengan cepat dan keras. Batang kontolnya terasa seperti batu panas yang terus naik turun dan keluar masuk dengan hebat di vaginaku. Ciuman dan lumatan gilanya bersambut dengan lumatan gilaku juga. Kami berdua tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang bertalu-talu. Akhirnya Rendi yang tak mampu bertahan lagi, memuntahkan spermanya langsung ke dalam vaginaku. Aku sepenuhnya tidak keberatan. Bahkan sangat merindukan untuk merasakan hangatnya semburan sperma Rendi dalam vaginaku ini. Aku menyambutnya dengan terus menggoyang-goyang pantatku dan vaginaku memerasnya hingga seluruh sperma Rendi habis. 
Dan tepat pada saat tetes terakhir sperma Rendi, aku kembali merasakan desakan nikmat seperti akan kencing seperti halnya yang kurasakan kemarin di rumah. Aku akan meraih kembali orgasmeku yang sejak 15 jam terakhir sungguh-sungguh kunantikan. Dan saat orgasme datang, aku sudah tak sadar lagi, betapa emosiku yang langsung meledak oleh nafsu birahiku dengan tak sadar telah menancapkan dan menggoreskan kukuku ke punggung Rendi. Persetan. Rendi berteriak kesakitan atas goresan di punggungnya itu. Tetapi dia teruskan saja kocokkan kontolnya dalam upaya membantuku meraih kepuasan orgasmeku. 
Begitu usai kami berdua langsung jatuh tergolek di kasur. Tangan-tangan kami terentang untuk menghela nafas-nafas kami agar mudah menarik oksigen villa Bogor yang sejuk ini. Aku dan Rendi terlelap beberapa waktu. Saat aku terbangun jam sudah menunjukkan pukul 5.10 sore. Kubangunkan Rendi. Rasanya masih enak untuk terus tidur. Tetapi kami takut kemalaman sampai Jakarta. Hari ini kami harus cukup puas dengan hanya sekali mendayung kenikmatan dalam lautan perselingkuhan yang nikmat ini. 
Dan aku langsung sepakat saat Rendi mengajakku untuk terus mengisi hari-hari sebelum Mas Adit pulang untuk bersama mengarungi samudra nikmatnya perselingkuhan ini. Besok dia akan kembali menunggu di suatu tempat yang belum ditentukannya. Dia berjanji akan meneleponku besok pagi. 
Pukul 8 malam, dengan taksi Blue Bird aku sudah sampai di rumah kembali. Aku turun dari taksi tanpa lupa kembali memakai blus lengan panjangku untuk menyembunyikan gaun sensualku yang menampakkan bahu mulusku. Malam itu aku tidur sangat nyenyak dengan mimpi-mimpi indahku. Setelah aku meminum segelas besar juice tomat ditambah semangkuk sedang yoghurt campur madu aku, langsung tertidur dan di jemput mimpiku. 
Aku sepertinya sedang terbang di atas awan yang tinggi. Di bawah sana kulihat Mas Adit berada di bukit yang luas dengan rumput yang sangat hijau. Kulihat dia membawa kertas-kertas catatan dan blue print proyek. Dengan topi helm proyeknya dia menengadah ke atas, melihatku dan melambaikan tangannya. Aku datang dan kami langsung berpelukan. Lama bibirnya melumat bibirku. Kemudian rasanya aku menerima roll meter darinya. Aku berlari ke ujung bukit menarik roll meter itu mengukur panjangnya halaman. Kemudian aku berlari kembali ke pelukannya. 
Sesaat Mas Adit melepaskan pelukannya untuk beranjak menuju semak rerumputan yang penuh bunga liar. Dia petik setangkai dan diciumnya. Kemudian dia serahkan bunga itu kepadaku. Aku ikut menciumnya. Dia buka blue print di tangannya. Itu adalah gambar rumah kami. Rumah mungil di atas bukit. Ada burung-burung yang terbang bebas. Ada luncuran anak yang berwarna biru. Ada tanaman cabai yang menjadi kesukaan kami berdua. Aku terbangun karena suara teleponku yang berdering. Kulihat jam menujukkan pukul 9.05 pagi. Aku telah tertidur lebih dari 10 jam. Aku turun dengan dengan cepat dari ranjang menghampiri pesawat telepon dan kuraih. Di ujung sana kudengar suara Mas Adit. 
“Kemarin aku telepon berkali-kali seharian. Kamu ke mana?”, agak geragapan juga aku menjawabnya. 
“Ini Mas, aku ke Senen, nyarikan kado buat anaknya Pak Targo tetangga kita yang berulang tahun. Terus aku antarkan dan yaa, jadinya ngobrol sama ibunya sampai jam 8 malam”, demikian lancarnya untuk aku yang tidak pernah membohongi suamiku selama ini. Mas Adit tidak lagi mempersoalkan hilangnya aku kemarin. Dia berkata bahwa kemungkinan ia akan pulang pada hari Senin. Dan dia ulangi lagi bahwa kain tenun yang kuimpikan juga sudah diperolehnya. ”Kini aku sudah tidak mengimpikan lagi kain tenun itu. Kini aku lebih senang mengimpikan kontol Rendi yang besar, panjang dan kepalanya yang mengkilap itu, Mass”, ujarku (dalam hati, tentunya). 
Saat aku mandi, kembali telepon berdering. Aku pastikan bahwa ini dari Rendi, dan ternyata memang benar. 
“Kamu mau makan apa siang ini, Mbak?”. 
“Terserah Rendi saja”. 
“Mau Ribnya Tony Romas atau gado-gado pasar Blopo”. 
“Gado-gado? Boleh juga”. 
“Gado-gado saja Ren, lagian tidak terlalu jauh dari rumahku”. 
Hari ini aku memilih mengenakan celana jeans ketatku, dengan blus kaos oblongku yang pendek modelnya, yang memang didesain untuk memperlihatkan pusar pemakainya. Aku memang ingin menunjukkan pusarku pada Rendi agar nafsu birahinya terbakar lebih hebat lagi.
Sesuai dengan janji, tepat pukul 12 aku sudah duduk di bangku warung gado-gado Boplo yang sangat terkenal di seantero Jakarta itu. Harganya selangit. Untuk seporsi gado-gadonya Rendi mesti membayar Rp. 25 ribu. Bandingkan dengan tukang gado-gado di rumah, hanya Rp. 2,500 saja. Sepuluh kalinya. Tiba-tiba saat menunggu pesanan, masuklah sebuah Lancer sedan dan parkir tepat di samping mobil Rendi. Nampak Rendi terkejut. Dia berkata bahwa itu adalah mobil teman kantornya. 
Kemudian kulihat ada 2 orang turun dari mobil itu. Wow, cukup keren juga mereka. Tampak Rendi menjadi gugup tetapi tidak bisa mengelak. Teman-temannya itu langsung pula menatap dan mendatangi kami. 
“Hai, ketemu di sini, nih.. asyik juga yaa..”. 
Dan mau tidak mau Rendi terpaksa memperkenalkan mereka padaku. Yang bernama Burhan, cukup jangkung dengan kulitnya yang agak gelap. Yang satunya bernama Wijaya, nampaknya keturunan chinese, tubuhnya berotot seperti binaragawan. Mereka tersenyum ramah padaku. Saat Rendi menyebutkan bahwa aku adalah Bu Adit mereka tidak terlalu terkeju. Hanya nampak mata-mata mereka yang nakal seakan ingin melahap tubuhku. 
“Kami pernah melihat Ibu di tempat Pak Anggoro, boss kami, saat ada pesta tunangan putranya”, begitu mereka menjelaskan mengenai kenalnya mereka padaku. Aku mencoba mengingat-ingatnya. Kemudian mereka mencari tempat duduk yang agak berjauhan dari tempat duduk kami. Aku setuju saja saat Rendi mengusulkan untuk kembali ke villa di Bogor itu. Dan kami segera bergegas agar punya waktu lebih panjang untuk berasyik masyuk di sana. 
Saat kami beranjak meninggalkan warung itu, kami melambaikan tangan untuk teman-teman Rendi yang juga teman suamiku itu. Mereka membalasnya, dan kulihat mata Burhan yang nakal mengernyitkan alisnya padaku dan melepas senyumannya. Ah, dia nampak jantan juga. Dengan kulitnya yang agak gelap, seperti apa ya kontolnya, pikiran gatalku lewat begitu saja. 
Sepanjang jalan Rendi lebih banyak diam. Mungkin dia agak panik hingga hilang “mood”nya. Tapi aku berusaha menenangkannya. Biasanya antar lelaki tak akan membocorkan rahasia temannya. Kutepuk pundaknya supaya tenang. Sepertinya dia ingin menunda kencan selingkuh ini, tetapi tampaknya dia malu kalau akan dianggap sebagai pengecut olehku. Lagian mana aku mau..!! Persetan dengan teman-teman Rendi yang juga teman suamiku itu.. 
Jam 2 tepat kami sudah memasuki halaman villa. Pak Samin membukakan pintu halaman. Rendi memakirkan mobilnya di tempat parkir kemarin. Kami turun dari mobil dan aku menaiki tangga villa, sementara Rendi menemui Pak Samin sebentar. Begitu memasuki kamar kembali, sebagaimana kami memasuki kamar yang sama kemarin, kami langsung berpagutan. Kali ini kami saling menikmati pagutan-pagutan kami cukup lama. Nampaknya Rendi sudah tak lagi terpengaruh dengan teman-temannya tadi. 
Aku buka saja ikat pinggangnya, kancing celananya, resluitingnya. Aku lepaskan celananya dan kulemparkan ke bangku yang ada di kamar itu. Begitu pula kemejanya hingga yang tertinggal hanya celana dalamnya. Hal yang amat kusukai adalah melihat Rendi setengah telanjang seperti itu. Sebelum aku sendiri melucuti kaos oblongku, Rendi menciumi pusarku yang sejak tadi telah begitu menarik libidonya. Aku menikmati sepenuh sanubariku. Kuelus-elus kepala Rendi yang bibrrnya sedang melumat pusarku dengan lembut itu. Kemudian hanya dengan membuka blus dan BH-ku sehingga nampak payudaraku yang lepas dan belum menanggalkan celana jeansku, kudorong Rendi ke ranjang. Aku terobsesi mengulangi seperti kemarin, menciumi lehernya, menjilati dan menggigit dadanya dan lembah harum ketiaknya. Rendi hanya pasrah dan membiarkanku menikmati apa yang ingin kunikmati dari tubuhnya. Dia hanya mendesah dan setiap kali mengelus kepalaku sambil menyibakkan rambutku agar tidak mengganggu kesenanganku. 
Tiba-tiba terdengar pintu halaman villa berderit. Ada yang datang. Rendi buru-buru bangkit. Kali ini kulihat dia sangat terkejut. Aku menyusul bangkit untuk melihat siapa yang datang. Ternyata itu mobil Lancer sedan. Rupanya Burhan dan Wijaya sengaja membuntuti kami. Rendi memukul tangannya sendiri menahan kekesalannya. Aku sendiri berusaha untuk tenang. Kulihat Burhan dan Wijaya turun dari mobil dan menaiki tangga villa. Mereka langsung duduk di berandanya. Rendi yang sangat kesal buru-buru berpakaian, tidak terlampau rapi dan dengan terpaksa dia keluar. Dia menemui kedua temannya tersebut. 
“Huh, kamu mbuntuti aku ya..”, nada bicaranya nampak sangat tidak bersahabat. 
“Ah, nggak kok, kami memang sering main ke villa Pak Anggoro ini. Ya Wid, omong-omong bagi-bagi dong”, Burhan menyahut sewotnya Rendi dan dengan enteng menyampaikan keinginannya untuk ikut mendapatkan bagian nikmat. Aku tahu pasti yang dimaksud adalah minta kesempatan agar mereka juga kebagian ikut menikmati tubuhku sementara suaminya yang teman mereka sendiri sedang bertugas keluar kota. Hatiku sendiri berdesir mendengar omongan mereka ini. Aku mencoba mengintip dari celah pintu. Nampak Rendi sedang menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, maksudnya agar tidak terlampau keras bicara karena takut aku akan mendengarnya. 
“Memangnya kenapa..? Mungkin dia suka juga lho kita main bertiga..”, kurang ajar orang-orang ini.
Kuperhatikan mereka semuanya. Rupanya mereka semua ini adalah serigala-serigala yang lapar. Lama mereka saling berbisik tanpa nampak ada jalan keluar. Tiba-tiba ada yang menjalar dalam darahku. Sesuatu yang sangat menggairahkan. Sesuatu yang mungkin akan memberikan sensasi bagiku. Exciting dan sensasional yang akan membakar seluruh atom dalam tubuhku. Aku membayangkan seandainya saja mereka bertiga ini telanjang bulat, dengan kontol-kontol mereka yang ngaceng berat mengerumuniku yang terjongkok di lantai, sambil tangan-tangan mereka mengocok kontolnya masing-masing dan bersiap sewaktu-waktu sperma mereka muncrat menghujani muka, rambut dan mulutku. Aku akan menganga selebar-lebarnya agar sperma-sperma mereka tidak terbuang sia-sia. Aku jadi “horny” sekali. 
Kutengok lagi mereka dari celah pintu. Mereka belum juga kunjung mendapatkan solusi. Sementara libidoku mendesak nafsu birahiku yang datang akibat bayanganku tentang mereka yang telanjang dan menyemprotku dengan spermanya yang muncrat-muncrat. Aku tak lagi mampu sabar menunggu. Aku kuakkan saja pintu kamar itu. Dan mereka semua, Rendi, Burhan dan Wijaya serentak menengok ke pintu. 
Aku, dengan dada yang telah terbuka langsung membuat mereka tertegun. Entah kaget, entah heran entah bernafsu. Dan aku, sambil melepas senyuman, kunikmati adegan saat para serigala lapar itu memelototkan matanya kepadaku. Aku sama sekali tidak perlu berbicara. Aku diam saja dengan senyumku sementara tanganku bergerak, jariku memilin-milin sendiri putingku, aku sengaja mendesah keras agar mereka mendengar desahanku dan terangsang. 
“Mmass.. oohh..”, aku merasa sangat kehausan. 
Dan sangat menginginkan mereka bertiga segera melahapku. Aku merelakan diri dan tubuhku untuk mereka kunyah-kunyah. Aku ingin sekali gigi mereka segera menancap pada pahaku yang lembut, pada bokongku yang menurut orang sangat sintal, pada buah dadaku yang ranum, pada puting susuku. Aku heran juga, darimana munculnya sebuah keberanian dan kenekadan yang -bukan main- telah kulakukan di depan teman-teman suamiku ini. Aku heran juga akan hadirnya dengan tiba-tiba nafsu “exhibitionist” ini. Kupertontonkan pada mereka bertiga dadaku yang terbuka dengan payudaraku berikut puting-puting-nya yang sangat ranum ini. Kudengar suara Rendi yang tersendat. 
“Maarr..”. 
Tetapi juga suara-suara yang lain. Bukan pembicaraan. Itu adalah suara dengusan Burhan atau Wijaya. Yang kemudian kulihat adalah Burhan mendahului langkah Rendi mendekatiku. Dia meraihku dan menutup pintu kamar tidur. Dia pagut bibirku. Dia pagut leher, pundak maupun payudaraku dengan liar. Dia kesetanan tanpa kontrol. Dia dorong aku ke ranjang. Aku di gumulinya. Dia remasinya bokongku, dia lumat-lumat payudaraku berikut putingnya. 
Kudengar pintu kamar digedor-gedor dan akhirnya terbuka. Wijaya masuk kamar. Dia juga langsung merangsekku. Mungkin dia juga merasa bahwa haknya sama dengan Burhan untuk juga menggelutiku saat ini. Aku sangat menikmati keroyokan mereka. Untuk menyatakan “welcome”-ku, aku mendesis dan mendesah sambil tanganku menggapai ikat pinggang Burhan dan melepasnya. Kubuka celananya, kurogoh kontolnya. Demikian pula kulakukan yang sama pada Wijaya. Mereka kini sudah setengah telanjang. Dan selebihnya mereka sendiri yang melucuti dirinya hingga telanjang bulat. 
Burhan dengan penuh ketidaksabaran melucuti celana jeansku. Dan Wijaya turut membantu melepasnya dari kaki-kakiku. Dengan sekali renggut celana dalamku juga langsung dilepas oleh Burhan. Ditariknya kakiku sehingga tubuhku berposisi diagonal dengan pantatku berada di tepian ranjang. Burhan berdiri di arah kakiku. Dia kuakkan selangkanganku dan dengan jelasnya menyaksikan nonokku yang mestinya sangat menantang kontolnya. Kemudian tangan kanannya meraih kaki kiriku, diangkatnya ke arah pundaknya. Dan selanjutnya dengan ketangkasan yang dimilikinya dan dengan serta merta dia meraih kontolnya yang telah ngaceng berat untuk di masukkan ke liang kemaluanku. Kusaksikan sebentar kontolnya yang hitam. Wow, ukurannya sama persis dengan besar dan panjangnya kontol Rendi. 
Aku bergetar. Aku merindukan kontol seperti itu sejak meninggalkan warung gado-gado tadi. Sayangnya kontol Rendi tak jadi menyerangku karena adanya gangguan dari Burhan dan Wijaya ini. Tapi bagiku akhirnya tak ada bedanya. Kontol Rendi atau kontol Burhan sama saja. Aku akan memberikan kepuasan seksual untuk pemilik kontol-kontol indah ini. Kontol Burhan baru saja menempel ke liang vaginaku ketika Wijaya yang juga telah telanjang bulat naik ke ranjang dan mengangkangiku. Dia berjongkok persis di atas dadaku. Dan kontolnya yang juga ternyata sebesar para koleganya, si Rendi dan Burhan, sudah mengacung keras dan kuat, berkilatan batang dan kepalanya tepat di depan wajahku. Sungguh sangat menggairahkan dan sensasional. Telanjang bulat dikeroyok teman-teman suamiku yang sama-sama berkontol besar, yang satu berusaha menembus nonokku, yang lain minta dijilati dan diisap. 
Aku tidak tahu di mana Rendi. Mungkin dia mengambek. Aku membayangkan dia sedang bengong duduk di beranda. Aku sungguh merasa sangat beruntung. Aneh juga, hal yang beberapa saat sebelumnya hanya dapat kubayangkan, sekarang telah benar-benar kualami. Burhan menggenjot nonokku. Kontolnya yang hitam besar dan sangat legit kurasakan saat menembus vaginaku yang telah membasah sejak bersama Rendi tadi. Sementara itu, Wijaya yang ngentot mulutku meracau. 
“Ayoo, Bu Adit.. isepp Buu.. ayyoo isep Bu Aditt.. besar mana sama kontol Pak Aditt heehh..”, racauannya persis seperti orang kemasukkan setan pohon randu di belakang kampung di desa kelahiranku. 
Kontol Wijaya ini sangat lezat. Kujilati akarnya yang menggunung tepat di bawah pangkal batang dan biji pelirnya. Dan dengan setengah merangkak, Wijaya menusukkan kontol putih besarnya merangsek mulutku. Dan pelan-pelan memompanya. Entah dimana aku saat ini. Yang dapat kurasakan hanyalah kenikmatan yang melayang-layang akibat tusukan kontol Burhan di vaginaku dan rangsekan kontol Wijaya di mulutku. Dan saat lamat-lamat kudengar rintihan tak tertahankan dari mulut Burhan. Itu pertanda bahwa tak lama lagi spermanya pasti muncrat. Dengan serta merta kutarik tangan Burhan dan kuajak naik ke ranjang dan sementara kulepaskan kuluman mulutku pada kontol Wijaya. Aku ingin agar Burhan menumpahkan spermanya ke mulutku. Aku ingin meminum spermanya. Burhan dan Wijaya secara berbarengan tahu apa yang kuinginkan dan mereka melayaniku dengan baik. Wijaya turun menggantikan peran Burhan mengentot memekku dan Burhan naik untuk mengocok kontolnya sendiri dan memuncratkan spermanya ke mulutku.
Aku menjilat bibirku yang belepotan sperma Burhan yang kental yang yang muncratnya tidak tepat ke mulutku. Ternyata rasa sperma itu berbeda-beda. Walaupun sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya, aku merasakan sperma Burhan ini sangat pahit. Belakangan baru aku tahu dari dokter Boyke, seorang pakar seks, bahwa berbagai rasa mungkin akan berbeda dari sperma lelaki. Hal itu sangat dipengaruhi oleh makanan apa yang telah dikonsumsinya dalam 24 jam terakhir. Ia juga menyatakan bahwa sperma itu mengandung protein dan berbagai unsur vitamin lainnya. Informasi itu membuatku semakin senang dan selalu kehausan muntuk meminum sperma. 
Burhan yang telah menumpahkan spermanya langsung telentang di kasur. Sementara Wijaya semakin cepat memompa memekku. Dan juga mulai kurasakan dan kulihat bagaimana wajah Wijaya yang menyeringai keenakan, pasti tak akan lama lagi Wijaya juga akan menyemprotkan air maninya. Kembali buru-buru kutarik Wijaya ke atas ranjang. Dan tanpa perlu kuminta lagi dia langsung berjongkok dan menyodorkan kontolnya ke mulutku dan langsung memompa kecil sementara mulutku mengulumnya. 
Wijaya berteriak keras saat spermanya keluar. Kontolnya ditekankan ke mulutku dalam-dalam hingga menyentuh tenggorokanku. Hampir saja aku tersedak. Cairannya juga sangat kental dan hangat. Nikmat sekali mengenyam cairan sperma milik Wijaya ini. Kali ini aku merasakan rasa asin dan gurih. Sementara itu ternyata Burhan sudah kembali memasukkan kontolnya kembali ke memekku. Rupanya melihatku mengulum kontol Wijaya tadi, Burhan dengan cepat kembali horny dan ngaceng. Dia pompakan kembali kontolnya ke memekku. Burhan memompanya semakin cepat. Di lain pihak Wijaya masih belum bersedia mengangkat kontolnya dari mulutku. Tampaknya dia masih sangat horny juga. 
“Mbak, aku pengin terus-terusan, nih, lihat Mbak Adit yang ayu”, ujarnya. 
Aku tidak dapat menjawab dengan kontolnya yang masih menyumbat ke mulutku. Aku hanya berkedip-kedip. Kemudian dia melepaskan kontolnya dari mulutku. Beringsut dari atas dadaku menuju ke kanan tubuhku dan menunduk. Bibirnya melumat bibirku dan tangannya meremas payudaraku beserta putingnya. Ahh., nikmat sekali dikeroyok dua lelaki yang hebat-hebat permainan seksnya. 
Dan akhirnya Burhan berhasil mengisi lubang vaginaku dengan spermanya. Kehangatan cairannya di liang vaginaku itu sungguh membuatku sedemikian horny. Aku ingin mendapatkan orgasmeku dari mereka ini. Wijaya masih terus melumat bibirku dan kini bergerak untuk melumat dada dan payudaraku. Tanganku mencoba menggapai kontolnya. Sungguh hari yang luar biasa bagiku. Kontol Wijaya masih sangat tegar. Rupanya satu kali memuntahkan air maninya tidaklah cukup. Dia harus memuntahkannya lagi untuk yang kedua kali. 
Aku merasa ini merupakan jalan untuk mencapai orgasmeku. 
“Wid, tolong Mbak Adit kamu entot di nonok, ya sayangg..”, bisikku. 
Tentu saja itu bukan hanya sekedar permintaan bagi Wijaya. Tetapi itu lebih merupakan perintah mutlak yang dengan senang hati dia akan laksanakan. Dan tanpa perlu perintah susulan, Wijaya langsung turun dari ranjang menjemput nonokku. Kontolnya yang sudah ngaceng seperti tugu Monas langsung dihunjamkannya ke lubang memekku. 
Wijaya langsung bergerak memompakan kontolnya di lubang vaginaku. Kenikmatan yang kuterima bukan main dahsyatnya. Kepalaku tak bisa diam, meggeleng ke kanan dan ke kiri menahan nikmat itu. Aku merintih dan mendesah. Kucari-cari tangan Burhan dan kutarik untuk agar rebah di sampingku. 
“Burhaann, cium akuu.. Burhaann.. cium akuu..”. 
Dan langsung kurasakan lumatan bibir Burhan meruyak mulutku. Ludahnya kusedot. Kepalanya langsung kupeluk erat-erat agar aku dapat menciumnya lebih intens untuk menahan kenikmatan kontol Wijaya yang sangat gencar keluar dan masuk merobek-robek vaginaku. Dan saat rasa ingin kencing mendesak dari dalam vaginaku, segera kulepaskan mulutku dari mulut Burhan. Kupeluk tubuhnya hingga bibirku bisa kudaratkan pada bahunya. Dan tanpa ampun lagi gigiku menghunjam tajam masuk ke daging bahu Burhan. 
Di tengah teriakan kesakitan dari mulut Burhan, memekku akhirnya mendapatkan kepuasannya. Aku meraih orgasmeku. Dan pada saat bersamaan pula, Wijaya juga mencengkeram kedua pahaku, pertanda dia telah mendapatkan orgasmenya pula. Aku terkapar, Wijaya terkapar, begitu juga Burhan terkapar. Kami bertiga mendapatkan kepuasan tak terhingga. Sepi, kecuali tarikan nafas berat dan panjang dari kami bertiga. Kulihat jam tanganku, sudah pukul 6 sore, benar-benar lupa daratan. 
Aku minta untuk cepat pulang. Mandi 5 menit, bersisir ala kadarnya, berdandan ala kadarnya. Kemudian aku keluar menemui Rendi. Sepi. Kulihat mobilnya sudah tidak ada. Ternyata dia benar-benar ngambek. Kedua temannya mentertawakan ulah Rendi tersebut. Mereka akan bertanggung jawab untukku hingga sampai di rumahku dengan selamat. Kami keluar dari villa pukul 6.15 menit. Mampir dulu di restoran Sunda kesukaanku, kami makan banyak sayuran dan sambal. Aku makan cukup banyak setelah kerja keras melayani Burhan dan Wijaya. 
Pukul 8.30 aku sudah sampai di rumahku. Aku tidak berkeberatan mereka berdua mengantarku hingga sampai rumah. Tetangga tidak akan berfikir negatif kalau melihatku pulang beramai-ramai dengan 2 atau 3 orang teman. Aku sangat kelelahan hari itu. Pertama dan yang terutama aku lelah karena pikiranku pada Rendi. Sikap Rendi yang kuanggap bukan sikap lelaki. Hal itu sangat menyedot energiku. Yang kedua adalah karena untuk meraih 4 kali orgasme sebagaimana yang kudapatkan selama 2 hari berturut-turut ini ternyata memerlukan tenaga fisik dengan melayani 3 orang teman Mas Adit yang sangat menguras tenagaku. 
Tetapi bagaimanapun aku merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, bahwa ternyata aku masih bisa meraih orgasme, walaupun tidak dari suamiku sendiri. Aku sempatkan untuk mandi air panas sebelum tidur. Aku juga menyiapkan juice tomat dan yoghurt campur madu kesukaanku. Aku akan tidur istrirahat total malam ini. Aku sudah naik ke ranjang saat telepon berdering. Jam menunjukkan pukul 10.12 menit. Siapa yang meneleponku selarut ini? Mas Aditkah? Rendi? Atau siapa? 
“Selamat Malam Bu Adit, saya Basri”, kucoba mengingat siapa Basri. 
“Saya yang suka nganter pulang Pak Adit Bu, saya Satpam kantor Pak Adit. Nanti kalau Pak Adit sudah pulang dari Banjarmasin, saya juga yang disuruh menjemput beliau di airport”, begitu dia teruskan bicaranya hingga langsung mengingatkanku pada seorang Satpam muda di kantor Mas Adit. 
“Maaf mengganggu Ibu malam-malam begini. Saya telepon Ibu tadi agak sore, tapi rupanya Ibu belum pulang dari Bogor”, lho koq tahu-tahunya aku ke Bogor..?! 
Pikiranku cepat berputar. Si Basri tahu kalau aku ke Bogor, tentunya pasti ada yang memberi tahu. Dan pasti “tahu”-nya itu tidak sekedar tahu begitu saja. Apakah Rendi..? Ah.. pasti dia. Rendi telah berbuat culas. 
“Ya, kenapa Mas Basri..”, tanyaku balik seakan tidak ada masalah apa-apa denganku. 
“Begini Bu Adit, ntar hari Senin khan saya akan menjemput Pak Adit. Kalau beliau tanya tentang Ibu, bagaimana saya mesti menjawabnya..? Bahwa Bu Adit pergi ke Bogor, ke villa Pak Anggoro bersama Pak Burhan dan Pak Wijaya..?”. 
Kurang ajar juga Satpam kampungan ini. Kurang ajar sekali si Rendi ini. Aku terhenyak dengan ucapan Basri di telepon tadi. Aku masih terdiam ketika. 
“Bagaimana kalau kita bicarakan saja malam ini, Bu? Saya tunggu Ibu di depan kompleks perumahan Ibu. Saya tunggu di Kijang saya. Saya tunggu benar lho Bu Adit, atau..”. 
Klik, telepon dimatikan. Aku belum sempat menjawab tetapi Basri telah memutuskan teleponnya. Dan menurutnya dalam telepon tadi, dia sekarang sedang menunggu di depan kompleks perumahanku ini dengan mobil Kijangnya. Ini pemerasan.. dia mau minta apa? Uang.. atau..? Aku tidak berani meneruskan pemikiranku. Jangan-jangan dia memintaku tidur dengannya. 
Aku mencoba mengingat-ingat dan membayangkan postur si Basri ini. Aku perkirakan usianya sekitar 30 tahunan. Kulitnya yang hitam karena banyak terjemur, dibungkus dengan seragam putih dan celana birunya. Ada tali peluit di kantongnya dan ikat pinggangnya yang keemasan karena rajin dibraso. Sebagai Satpam di kantor suamiku, Basri dipilh dari banyak calon yang memenuhi syarat. Antara lain penampilannya harus gagah, badan sehat, tegas, pintar bela diri dan lain-lainnya. Dan postur seperti Basri memang meyakinkan untuk menjadikannya sebagai satpam kantor. Aku akan mendiamkannya saja. Biarlah pemerasan tinggal pemerasan. Dan sungguh suatu hal yang sangat tidak mengenal perikemanusiaan untuk memeras perempuan seperti aku di malam hari begini. Ah, persetan. Kutunggu saja apa yang akan dikerjakan Basri selanjutnya. 
Tetapi aku jadi tidak bisa tidur. Aku jadi merasa tertekan. Apa mau Basri sebenarnya? Apa mau Rendi? Mungkinkah dia sengaja menghinaku? Merendahkanku? Dasar serigala pengecut. Akan halnya Basri, memang dia cukup berotot sebagai satpam, pantaslah. Dan bagaimana jika dia memerasku dengan memintanya untuk tidur dengannya? Akan kuturutikah? Keterlaluan, bagaimana pula kata orang nanti? Bagaimana kata Rendi yang pengecut itu nanti? Dan lagi, bagaimana mungkin aku keluar rumah pada malam-malam begini? Apa kata tetangga nanti? Kemudian kalau ini adalah memang hasil pemikiran Rendi, akankah hal ini akan dapat diselesaikan cukup dengan satu orang seperti Basri ini? Karena nanti pasti dia juga akan menyebarkannya kepada orang lain. 
Aku semakin bingung ketika telepon kembali berdering. 
“Bagaimana Bu..? Saya sudah tidak sabar nih..”, nadanya jelas-jelas mengancam. 
“Pak Basri mau ngapain? Ini khan udah malam, aku tidak enak sama tetangga. Dan terus terang aku takut malam-malam begini. Besok saja telepon lagi!”, telepon aku banting. 
Ganti aku sekarang yang memutuskan telepon. Agar dia tahu bahwa aku tidak bisa diperas seenaknya. Telepon langsung berdering kembali. 
“Kalau Ibu berani ke Bogor, terang-terangan di gilir bertiga selama dua hari berturut-turut, kenapa sekarang takut keluar rumah. Ini Jakarta Bu, jam 10 malam itu masih sore untuk orang Jakarta”. 
Wah, benar-benar sudah nekat rupanya si Basri. Aku tidak menjawabnya dan langsung kututup kembali. 
Kembali dering itu terdengar lagi, mukaku sudah memerah karena amarah yang sangat. 
“Kalau Ibu tidak mau pergi sama saya sekarang, saya tidak bisa apa-apa kalau Pak Adit nanti tanya soal Ibu di Bogor itu. Terus terang Bu, saya juga ingin merasakan tidur dengan Ibu. Dan saya yakin bisa memberikan kepuasan pada Ibu lebih dari tiga orang teman Pak Adit itu. Ayolah Bu.., kasih kesempatan saya. Atau saya jemput Ibu ke rumah saja?”. 
“Terserah..!, kubanting lagi telepon itu untuk yang ketiga kalinya. 
Tetapi jawabanku terserah itu? Apakah aku memang berniat memenuhi permintaannya? Aku jadi bingung. Ini semua memang rekayasa Rendi yang gila itu. Aku jadi pasrah. Aku tak biasa ditekan macam begini. Aku cepat menyerah. Aku mau apa lagi? Dan itu dia, datanglah si Basri brengsek itu. Yang kini terpikir olehku sekarang adalah, bagaimana caraku agar hal ini tidak mencolok pada pandangan tetangga kanan-kiriku. Bagaimana aku harus bersandiwara. Aku harus mengajak si Basri juga untuk bersandiwara. Sialan kamu Rendi..! 
Aku bergerak bangkit. Kunyalakan terang-terang semua lampu rumah. Lampu halaman, lampu beranda, lampu ruang tamu, lampu ruang makan. Semuanya jadi terang benderang saat Basri datang dan masuk rumah. Perhitunganku adalah dengan cara itu, akan mengurangi kecurigaan tetangga bahwa di malam hari begini aku menerima lelaki asing dalam suasana remang-remang. Kusambut Basri dengan ramah di depan pintu, untuk memberikan kesan bahwa yang datang adalah sanak familiku hingga Basri sendiri heran. 
Dan kubuka lebar-lebar ruang tamu di mana Basri kupersilakan duduk saat akan masuk rumah. Dan aku sendiri juga menemaninya duduk layaknya seseorang menerima tamu keluarganya. Aku juga berbicara keras-keras dan tertawa-tawa, sambil mengisyaratkan kedipan mataku pada Basri untuk juga mengikuti sandiwara ini. Basri tahu, dan cepat menyesuaikan diri. Dia berlagak bebas di rumahku, berdiri, jalan sana-sini, melihat fotoku bersama Mas Adit di tembok dan sebagainya.
Aku mulai secara khusus memperhatikan pria yang ingin tidur denganku ini. Kali ini dia datang tanpa seragam satpamnya. Wow, ternyata kharisma kelelakiannya tak kalah dari penampilan Rendi maupun Burhan dan Wijaya. Dengan T-shirt Polo (mungkin merk imitasi) dan celana Valentinonya (barangkali juga imitasinya), di mataku Basri jadi tampak sangat tampan. Posturnya yang di atas 175 cm, membuatku hanya setinggi bahunya. Kekesalanku akan teleponnya tadi seketika lenyap. Bahkan kelelahanku dari perjalanan ke Bogorpun ikut lenyap. Dan untuk tetangga-tetangga sekitar yang kemungkinan usil karena aku telah menerima tamu pria di malam hari sementara suamiku berada di luar kota, persetan! Tidak akan semudah itu menuduhku berbuat macam-macam. 
Dengan membiarkan semua pintu tetap terbuka lebar-lebar, pelan-pelan aku mengajak Basri menuju ruang makan yang tak nampak dari halaman depan dan jalanan. Di situ Basri langsung menubrukku. Dia langsung mencium kudukku dan tangannya memeluk dadaku, meremas payudaraku. Berani benar dia, batinku. 
Dan terus terang aku jadi sangat bernafsu menjalani sandiwara ini. Ini merupakan skandal terbesar sejak aku selingkuh dengan Rendi. Ini merupakan pertaruhan dengan risiko terbesar selama aku berani berkhianat pada Mas Adit, suamiku. Darahku terasa menggelegak. Jantungku berdegup keras. Aku gemetar sejadi-jadinya. Perasaan birahi yang menggelegak campur aduk dengan rasa takut tertangkap orang di kampungku, bercampur aduk. 
“Bu Adit, kita keluar yuk”. 
“Nggak, ah. Di sini saja. Aman, deh. Tenang saja..”, aku menjawab sambil tersenyum dan mendekatkan bibirku ke bibirnya. 
Kami berpagutan dengan penuh nafsu. Aku sudah tidak tahan untuk tidak meraba selangkangannya. Aku mendesah. Tangan kiri Basri memeluk pinggangku, sementara tangan kanannya mulai bermain meremas-remas payudaraku yang masih terbungkus dalam blusku. Kuraba selangkangan itu. 
“Waduuhh.. pentungan Satpam benaran nih..”, batinku. 
Aku meraba daging panas yang sangat besar dan panjang di balik celananya. Kuremas. Pantat Basri langsung menekan tanganku menahan gelinjang kontolnya. 
“Jangan lebih dari 1 jam yang Mas Basri”, 
“Uuhh, cukup Bu, cukup Bu, cc.. cukkupp.. Bb.. Bu.. Jangan-jangan Ibu yang kurang nanti”, mendengar jawabannya yang nakal aku tertawa geli sambil mencubit pantatnya. 
Dia mengaduh, manis. Cukup lama kami saling berpagut dan meremas apa saja. Kubimbing Basri menuju kamar tidur pengantinku, tempat yang biasanya hanya aku dan Mas Adit -bossnya- yang tidur di atasnya. 
Dan saat sampai di tepi ranjang, kudorong tubuhnya hingga telentang di ranjang. Aku menyusul menindihnya. Kami bergulingan. Dan dengan penuh ketidaksabaran kami saling melucuti pakaian. Aku melucuti pakaiannya, dia melucuti pakaianku. Kami telah siap untuk langsung menuju kenikmatan tak terhingga. Aku telentang di kasur dengan pahaku yang terbuka menjepit tubuhnya. Dia bergerak sedikit mengangkat pantatnya, tangan kirinya menggenggam kontolnya untuk diarahkannya ke memekku. Aku lebih melebarkan pahaku untuk bersiap menerima kontol itu menembus kemaluanku. Saat bibir vaginaku tersentuh ujung kontol yang mirip pentungan itu, aku langsung memejamkan mataku dan jiwaku seakan melayang ke langit. Aku bergetar. Pantatku kuangkat-angkat sedikit kerena sangat merindukan kontol itu untuk secepatnya terbenam ke kemaluanku. 
Seperti biasanya, Basri sangat ahli, ujung kontol itu dimainkan terlebih dulu di gerbang vaginaku untuk memancing cairan birahiku. Tetapi tak perlu memakan waktu lama, karena cairan itu sebenarnya telah mulai keluar sejak aku meremas celananya tadi. Dan tak ayal lagi, kurasakan betapa batangan besar dan hangat itu akhirnya tertelan seluruhnya hingga ke akar-akarnya, masuk dan menembus vaginaku. Seketika itu pula saraf-saraf peka pada dinding vaginaku bekerja menyambut batang itu. Diremas-remasnya kontol Basri. Mengencang dan mengendor bergantian. 
“Dduhh, Ibuu.. Bu Aditt.. ennhakk bBHhaanngett.. Bbuu..”. 
Basri langsung memompakan kontolnya, suara pelirnya yang terayun-ayun memukuli akar kontolnya sendiri, akibat dari ayunan pompa kontol besarnya itu ke lubang memekku. Dan aku sendiri yang mendapat landa kenikmatan tak terhingga ini hanya bisa mendesah dan merintih sambil kepalaku bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti menggeleng-geleng, karena nikmat yang tak mampu kutahan itu. 
Kami bersanggama penuh irama dan improvisasi yang mengalir. Sungguh hebat si Basri ini. Tubuhnya di jatuhkan miring. Tanpa mencabut kontolnya, dia angkat kaki kiriku melintasi tubuhnya dan tetap dipegang dengan tangan kirinya. Aku dientotnya dari arah belakang punggungku. Kemudian dengan posisi strategis itu yang membuat ketiakku tepat berada di dekat wajahnya, dia peluk tubuhku dengan tangan kanannya dan lebih didekatkannya ketiakku dan di ciuminya. 
Paduan entotan pada vaginaku dan ciuman pada ketiakku ini benar-benar membuatku terlempar jauh melayang dalam gelombang nikmat tak terperikan. Pantatku langsung bergoyang-goyang untuk mempercepat tusukan kontol nikmat milik Basri itu. Aku berteriak kecil dan merintih. 
“Mas Basrii.. Mas Basrrii.. Mas Bassrrii..”, tidak tahu lagi aku mesti bicara apa. 
Setelah posisi itu kami nikmati beberapa saat, Basri membisiki telingaku. 
“Bu, nungging donk..”, dan segera kurespon. 
Aku bergerak menungging, mulai dengan tengkurap, kemudian pelan-pelan kunaikkan pantatku, kemudian lututku mengambil alih peran sebagai tumpuan pantatku. Hebatnya si Basri tetap tidak mau melepaskan kontolnya yang telah menancap pada vaginaku. Itu berarti dia harus mendukung tubuhnya hanya pada dengkulnya. Dan saat akhirnya sepenuhnya aku berhasil menungging, Basri sudah setengah bangkit, seperti anjing jantan, kontolnya masih menancap pada betinanya. Wow.. 
Kurasakan posisi ini membuat kontol Basri main merangsek dan meruyak kedalaman vaginaku. Titik-titik saraf peka birahiku mengelinjang. Ujung kontol itu mendesak gerbang rahimku. Aku, dengan kepalaku yang bertumpu pada bantal, jari-jari tanganku meremasi tepian bantal-bantalku. Aku merasakan kenikmatan itu seakan air bah yang menghanyutkan seluruh haribaanku. Kenikmatan ini sungguh tak bertara. 
Aku mulai merasakan ada desakan ingin kencing dari dalam vaginaku. Ini bukan lagi untuk yang pertama kalinya. Sejak dua hari yang lalu aku sudah merasakan hal seperti ini 4 kali. Dan ini adalah untuk yang ke lima kalinya. Aku akan menyongsong kenikmatan tertinggi seorang wanita dari sanggamanya. Aku akan meraih orgasmeku. 
“Acchh.. Mass Basrii.. tolonng akuu.. Basrii.. tolongg..”. 
Kontol Basri makin cepat memompa. Pantatku berusaha bergoyang untuk menangkap nikmat pompaan Basri. Kami mulai merasakan berada di gerbang kenikmatan puncak. Basri melepas payudaraku yang sejak aku menungging tadi diremas-remasnya. Kini dia bangkit dengan tangannya menekan pinggulku. Itu artinya nafsu Basri sudah tak mungkin dia bendung lagi. 
Kocokan kontolnya makin cepat, “in & out” ke lubang vaginaku. Aku sendiri tak mampu menahan keinginan rasa ingin kencingku. Aku menggoyang-goyangkan pantatku dengan memepertegas desahan dan rintihanku untuk memacu nafsu Basri. 
Dan akhirnya.. Bertetes-tetes sperma Basri terasa menghangatkan memekku. Sedetik berikutnya, orgasmeku datang. Cairan birahiku membanjir. Pompaan kontol Basri tidak langsung berhenti saat menembak lubang vaginaku dengan spermanya. Dan akibatnya dari celah ketat antara batang kontol dan bibir vaginaku nampak busa-busa cairan birahiku bercampur sperma Basri muncrat dan meleleh setiap kali kontol Basri masuk maupun keluar dari lubang kemaluanku. 
Kemudian lama-lama melambat dan akhirnya diam. Kami bersama-sama rebah di ranjang. Kecuali nafas-nafas panjang yang terdengar, yang lainnya sepi. Terdengar anjing tetangga menyalak, seakan ada yang lewat. Terdengar kucing mengejar betinanya di genting. Terdengar tukang mie menawarkan dagangannya. Aku melirik ke Basri dan saling bertemu pandang. Kami masing-masing meraih kepuasan. Untuk sementara rasa penasaran Basri telah reda. 
Jam menunjukkan pukul 10.40 malam. Basri bangkit dari ranjang dan turun ke kamar mandi. Kubiarkan saja dia, mungkin dia perlu buang air kecil. Aku masih menginginkan ada lanjutannya. Aku selalu belum tuntas kalau mulutku belum dientot lelaki yang mengencaniku. Dan Basri harus menyelesaikannya. Aku yakin dia akan menyelesaikannya dengan baik dan aku akan meraih kepuasan darinya untuk yang kedua kalinya. 
Ternyata memang sekembalinya dari kamar mandi, kontolnya sudah terlihat tegak kembali. Aku yakin, lelaki seperti Basri ini tidak akan cukup dengan hanya sekali spermanya muncrat pada setiap bersetubuh dengan perempuan. Dia kembali mendekat ke ranjang. Aku cepat meraih kontolnya yang sebesar pentungan satpamnya. Kuelus dengan jari-jariku dan kulihat wajahnya. Dia menutup matanya menikmati sentuhan jari-jari lembutku. Aku senang dia menutup matanya itu. Bibirku mendekat, kuulurkan lidahku ke belahan lubang kencingnya. Kurasakan, lidahku merasakan sebagian air kencingnya yang masih tertinggal di belahan lubang itu. Aromanya mendekati bir yang baru terbuka botolnya. Keras dan ada sedikit pesingnya. Kujilati hingga bersih dari sisa-sisa tetesan air kencingnya. Aku sangat menikmati kesempatan langka ini. 
Kulihat kembali wajahnya. Ternyata dia telah membuka matanya dan memperhatikan lidahku yang sedang menjilat-jilat. 
“Bu Adit, enak banget ketika bibir Bu Adit menyentuh kontol saya. Dan ketika lidah Ibu menjilat.. aku tidak pernah membayangkan ada wanita secantik Ibu mau menjilat kontol saya. Bahkan sisa-sisa kencing saya, Bu”, kata Basri sambil tangannya mengelus rambutku yang terurai panjang. 
Mendengar pembicaraannya itu, terbit kenakalanku. Aku ingin melihatnya benar-benar blingsatan, ingin mendengar rintihan nikmatnya yang luar biasa, ingin melihat bagaimana jika tubuhnya menggeliat-geliat dengan penuh gelinjang karena merasakan jilatan dan kuluman nikmat dari mulutku. Kugenggam kontolnya, kunaikkan dan kupepetkan ke perutnya. Wow, panjangnya adalah hingga ujungnya menyentuh pusarnya. 
Saat itu pelirnya berada tepat di depan bibirku. Tentu saja lidahku langsung bekerja dipadu dengan bibirku yang menyedot-nyedot biji pelirnya itu. Dia mulai gelisah. Pantatnya bergoyang, ingin menekankan pada mulutku. Kemudian aku mengubah posisi dengan turun dari ranjang. Dan Basri kudorong hingga telentang di kasur dengan kedua kakinya tetap terjuntai ke lantai. Kini aku sepenuhnya memegang ‘komando’. Dengan tetap kugenggam kontolnya, lidahku mulai menjilat selangkangannya. 
Bau keringatnya yang sangat alami karena telah seharian terjemur dalam tugasnya, sangat merangsang libidoku. Bau alami seperti ini terkadang jauh lebih merangsang dari pada para pria pesolek seperti Rendi dan teman-temannya yang suka dengan parfum, bedak atau pewangi lainnya. Benar juga. Lidahku di selangkangannya membuat Basri seperti orang tenggelam di laut, gelagapan dengan nafasnya yang terputus-putus memburu. Tangannya terus mengacak-ngacak rambutku yang istri bossnya ini. 
Saat aku menjilat lebih ke bawah lagi dan mengarah ke anusnya, pantatnya dia angkat-angkat sambil kakinya di tekankan ke pinggiran ranjang menahan kegelian yang amat sangat. Ah, tanggung.. kubalik saja badannya hingga posisinya tengkurap, kemudian tanganku memberi isyarat agar Basri sedikit menungging. Dia patuh. Dengan lututnya sebagai tumpuan dia bukan lagi sedikit, tetapi benar-benar menungging. Inilah saatnya Basri akan merasakan bagaimana aku, istri Pak Adit atasannya akan menjilati duburnya. 
Kusapu dulu bukit pantatnya dengan lidahku sambil hidungku berusaha menangkap aroma anusnya. Wow, dia langsung menggelinjang dengan suara rintihan yang menimbulkan rasa horny. Tangannya menggapai-gapai untuk berusaha meraih kembali rambutku. Dan lidahku tak lagi berputar-putar, tetapi langsung kubenamkan pada analnya. Basri benar-benar blingsatan. Kini tangannya yang telah meraih rambutku menariknya kencang-kencang hingga kulit kepalaku terasa pedih. Aku sangat menikmati hal ini. Aku semakin bersemangat menjilat dan menyedot-sedot pantatnya, sementara tangan kiriku meraba dan kemudian meraih kontolnya yang bergelantungan di bawah perutnya dalam keadaan ngaceng berat. Tanganku mengocok lembut kontol itu. 
Setelah beberapa saat hal itu berlangsung, terdengar desahan dan rintihan Basri yang menandakan bahwa spermanya akan muncrat. Cepat kudorong kembali tubuhnya untuk telentang. Kucaplok kontolnya, kukulum dan kupompa dengan mulutku. Basri ingin aku memompa dengan cepat. Dan dengan lolongan seperti serigala di malam hari, Basri menjerit kecil dengan disertai tumpahnya sperma ke mulutku. Aku merasakan kehangatan adanya lendir-lendir yang menyemprot dan memenuhi mulutku. Aku kecap sperma Basri dan kutelan. Tak setetespun yang tercecer. Kami kembali rubuh ke kasur. Aku teramat sangat lelah. Ini mungkin adalah akumulasi kelelahan yang tak begitu kurasakan sejak kepergianku dari Bogor tadi. Aku terlena sesaat. 
Saat Basri membangunkanku untuk pamit pulang, kulihat dia sudah rapi dengan pakaiannya kembali. Aku bergegas berpakaian. Aku sengaja tidak ke kamar mandi dulu. Nanti saja. Ada kenikmatan erotis tersendiri untuk menahan sperma yang masih mencemari tubuhku. Kuantarkan Basri ke pintu. Dia harus cepat pergi dari rumahku. Saat telah siap semuanya, aku mendekat dan memagutnya dalam-dalam. Sesaat kami saling bertukar ludah dan lidah. 
“Mas Basri, ntar kita cari waktu lagi, ya. Aku ingin dientot terus menerus sama Mas Basri. Kontolmu ini sangat membuatku mabuk. Aku masih belum puas”. 
Kontol Basri yang masih kugenggam langsung berdiri kembali. Aku tahu, kalau saja kutahan dia, Basri akan dengan senang hati tinggal. Mungkin sampai pagi. Tetapi kubimbing saja dia ke pintu, karena dia memang harus pergi dari rumahku sekarang. Tepat pada pukul 11.10 Kijang Basri sudah meninggalkan rumahku. Aku tidak langsung mematikan lampu-lampu. Bahkan aku masih sempat berjalan-jalan di taman rumahku, seakan-akan memperhatikan tanaman-tanaman bungaku yang memang setiap hari kurawat dengan penuh kecintaan. 
Tetanggaku, Pak Taslim baru saja lewat bersama anaknya dari warung sebelah. Setelah pintu halaman kukunci, pada pukul 11.30 malam baru aku masuk rumah. Pintu utama kututup dan kukunci. Lampu-lampu yang tidak penting kumatikan. Baru aku menuju peraduan dengan masih menyimpan sperma Basri dalam nonokku dan sebagian sperma kering yang masih belepotan di sekitar mulutku. Aku nikmati terus agar selalu merasa dekat dengannya. Selama 2 hari berselingkuh dengan 4 lelaki teman kantor suamiku, aku baru merasakan bahwa hanya dengan Basrilah aku mendapatkan keaslian sifatnya. Bayangkan, dengan pendidikannya yang hanya dapat membuatnya menjadi satpam, dia berani melakukan sesuatu loncatan keluar jauh dari ‘orbit’-nya, dia entoti aku yang merupakan istrinya bossnya di kantor, Mas Adit. 

Incoming search terms:

marini ngentot, ngentot anak buah, ngentot marini, cerita seks marini, seks anak buah, birahi tante, ngentot nenek ku yg jangkung, cerita nafsu selingkuh dengan teman suami ku, suamiku sakit aku di setubuhi sama teman suamiku, main dengan anak buah, ngesek mbak marini, cerita sek bu marini, demi sahabat kuminta istriku melayani nya diranjang, cerita srks panas satu wanita dikeroyok banyak pria, cerita seks beramai2, Cerita Seks Exibitionist 2013, disetubuh anak buah, cerita mesum lendir birahi istri nelayan, di entot anak buah suamiku, burhan ngentot artis marini walaupun sudah tua tante marini, desah nikmat perawan disetubuhi, cerita dewasa terpaksa melayani teman suamiku yg punya kontol besar, cerita seks di aku berkhianat pada suamiku, cerita seks dengan anak saudara, cerita seks aku diperkosa anak buahku

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker