Thursday , July 31 2014
Cerita Seks Acak
You are here: Home / Cerita / Tante Rully yg Menggoda

Tante Rully yg Menggoda

Sebelum aku ceritakan kisah nyataku ini, lebih baik jika aku paparkan dulu hal-hal yang bersangkutan dengan diriku. Namaku Rully, sudah berkeluarga tetapi belum punya anak. Suamiku, Mas Andi, bekerja sebagai seorang supervisor sebuah perusahaan, yang tugasnya sering keliling dari kota ke kota hampir di seluruh Indonesia, sehingga kami hanya bisa bertemu sebulan dua kali. Aku sendiri bekerja pada sebuah bank swasta, sebagai kasir besar di salah satu kantor cabang.

Postur tubuhku memang bisa dikatakan “segar”, walaupun aku kurang suka kalau disebut “overweight”. Dengan tinggi badan 163 cm dan berat badan 60 kg, aku memang terkesan gemuk, apalagi ditunjang dengan ukuran payudaraku yang 36A, aku jadi tampak “lebih” daripada rata-rata wanita di kantorku. Aku dianugerahi kulit yang putih dengan permukaan mulus, maklum saja papa dan mamaku semuanya asli Manado. Walaupun memiliki postur seperti itu, tetapi aku selalu berusaha tampil menarik dan seksi. Dan ternyata usahaku ini tidak sia-sia, tidak hanya pria, tetapi juga para teman wanita yang ada di kantorku berkomentar bahwa aku selalu tampil seksi.

Kisah nyata yang aku alami ini bermula ketika ada seorang keponakan suamiku yang menumpang menginap beberapa hari di rumah kami untuk keperluan mengikuti test masuk perguruan tinggi di bawah departemen keuangan. Sebut saja keponakan itu bernama Toto, lulusan SMA jurusan IPA pada tahun 2007, nganggur setahun kemudian atas saran suamiku ikut test masuk perguruan tinggi departemen keuangan pada awal tahun akademik 2008-2009 ini.

Toto punya postur tubuh yang cukup atletis, aku taksir punya tinggi 172 cm dengan tampilan dada yang bidang, berkulit kuning langsat bersih. Tampil sopan tetapi ramah dan memang murah senyum. Toto datang di rumah pada hari Jumat sore, bersamaan dengan aku pulang dari kantor. Hari itu Mas Andi sedang tidak tugas, sehingga dapat menemui Toto yang datang dari desa. Rencananya Toto akan tinggal di rumah sampai hari Kamis, karena test dilaksanakan pada hari Selasa, Rabu dan Kamis.

Sabtu pagi Mas Andi berangkat tugas ke luar kota, bahkan ke luar pulau diantar oleh kendaraan kantor menuju bandara. Sementara seperti biasa Sabtu pagi aku selalu libur, dan seperti biasa pula selalu aku gunakan untuk mengatur rumah. Walaupun ada Bi Inah pembantuku, aku tetap kurang pas kalau aku gak ngatur sendiri, bahkan seringkali di setiap Sabtu aku sempatkan memasak sendiri, apalagi kalau Mas Andi sedang ada di rumah.

Hari ini selain karena aku punya kebiasaan menangani pekerjaan rumah sendiri, juga karena Bi Inah dan Bang Bejo (mereka suami istri ikut keluarga kami, Bang Bejo sebagai sopir pribadiku) minta ijin pulang kampung karena salah seorang pamannya meninggal dunia. Jadi Sabtu pagi itu, aku hanya berdua bersama Toto.

O… ya, perlu pembaca ketahui, aku punya kebiasaan tampil dengan pakaian formal, sekalipun sedang libur di rumah – pakai blouse tipis dan rok span agak mini di atas lutut. Mungkin karena penampilanku itu pula, peristiwa dengan keponakanku ini bisa terjadi.

Rupanya Toto tertarik bahkan terangsang dengan penampilanku pagi itu. Ini terbukti ketika seusai sarapan bersama, kami duduk saling berhadapan di sofa ruang tengah. Tak henti-hentinya Toto menatap sekitar dadaku yang terbungkus dengan blouse putih tipis dan di dalamnya aku pakai bra berenda-renda berwarna kuning keemasan.

Ada perasaan aneh ketika aku tetap membiarkan Toto menikmati dadaku dengan pandangannya, aku seperti punya hasrat untuk menggoda Toto agar tetap melihat dan bahkan menggodanya lebih jauh lagi.

Aku berpura-pura tidak sengaja menggerakkan blouse yang kupakai sedemikian rupa sehingga ada beberapa celah di antara kancing blouse itu yang membuka sehingga Toto dapat melihat yang ada di dalamnya. Aku lihat Toto mencuri-curi pandang melihat bra keemasanku yang memang warna dan bentuknya sangat menggoda.

Kemudian Toto mengambil sebuah majalah dari atas meja, mungkin untuk menahan gejolak nafsunya dia akan membaca majalah itu.

“Kamu mulai test hari Selasa ya ?” tanyaku memecah keheningan.

“Ya tante,” jawabnya pendek.

“Tempat testmu di mana?”

“Di kampus C Unair, tante”

“O, nggak jauh kok dari sini” sahutku, memang kampus C Unair tidak seberapa jauh dengan rumah kami yang berada di Wisma Permai, bahkan hanya perlu jalan kaki saja.

“Sudah lihat ruang tempat testnya?”

“Sudah tante, kemarin sore sebelum ke mari bareng teman-teman yang se SMA kami ke sana”

“Kalau begitu hari ini kamu bisa istirahat atau belajar saja, biar persiapanmu lebih bagus. Di ruang baca banyak buku-buku yang sesuai dengan bidang yang akan diujikan padamu.” jelasku pada Toto.

“Terima kasih tante, saya juga sudah bawa buku kok”.

Jawab Toto sambil pandangannya tak henti-hentinya menatap ke arah sepasang kakiku yang kupakai duduk bersilang, sehingga hampir separoh paha putih mulusku terpampang dengan jelas.

Aku ingin mengetahui reaksi Toto, dengan sengaja secara pelan-pelan kakiku kutukar bersilangnya, yang tadinya kaki kanan berada di atas kaki kiri, kini kutukar kaki kiri diatas kaki kanan. Ternyata reaksinya cukup jelas, mata Toto terbelalak beberapa saat, aku yakin saat itu dari celah rok miniku itu, Toto dapat melihat CD yang sedang kupakai.

Saat itu aku memakai CD pasangan dari bra yang sedang aku pakai, yaitu CD berenda-renda berwarna kuning keemasan, hanya pada bagian yang menutupi liang vaginaku saja yang terbuat dari selembar katun. Wajar saja kalau Toto terbelalak melihatnya, pasti dia bisa melihat bulu-bulu kemaluanku yang halus, jarang-jarang tapi tertata rapi di balik renda-renda tipis itu, pasti dia juga dapat melihat garis celah vaginaku yang tercetak di selambar katun tipis itu.

Kulihat Toto menelan ludah, kemudian menarik nafas agak panjang. Sedangkan aku merasakan sensasi lain yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, dadaku berdesir, dan kurasakan ada penambahan tekanan darahku, ada juga rasa geli yang menyelimuti sekitar selangkanganku dan kurasakan ada kenikmatan di liang vaginaku, terasa basah di situ, aku yakin selembar katun penutup vaginaku itu pasti telah basah dan jadi lebih menerawang.

Aku mengambil koran dan pura-pura membacanya, dan sebagian lembar koran itu ada yang menutupi paha mulusku, aku lirik Toto terlihat wajahnya agak kecewa dengan tertutupnya pahaku itu. Kemudian dengan masih pura-pura membaca aku turunkan kakiku dari posisi bersilang, kedua kakiku sejajar dan lurus kearah pandangan Toto, tetapi masih tertutup koran. Perlahan-lahan koran yang kubaca kuangkat dan kulipat sehingga pahaku yang tadinya tertutup jadi terbuka.

Kulihat kembali dia terbelalak, pasti dia dapat menikmati pemandangan baru berupa celah di antara dua pahaku yang memang benar-benar lurus ke arah matanya. Pasti dia bisa kembali melihat bulu-bulu kemaluanku di balik renda-renda tipis keemasan itu, tapi lembar katun yang tepat menutupi liang vaginaku pasti tersembunyi di balik kedua pahaku yang saling menempel.

“Kamu bisa bantu tante, Toto?” tanyaku membuyarkan konsentrasinya.

“Bisa tante, e… e bantu apa tante?” tanyanya agak gugup.

“Itu, lho. Lampu di kamar tante terlalu terang. Tante ingin ganti dengan yang warna agak redup. Tapi tantemu ini trauma dengan alat-alat listrik, karena pernah kesetrum. Mari kita lihat di kamar tante !” ajakku.

Lagi-lagi Toto terbelalak, karena sebelum bangkit dari dudukku, aku sengaja membuka kedua belah pahaku agak lebar, sehingga garis celah vagina yang tercetak di selembar katun yang telah basah itu terlihat lagi, dan lagi-lagi Toto terbelalak, tetapi itu semua aku biarkan, karena dengan itu semua aku merasakan sensasi yang lebih.

Ketika sampai di kamar, aku tunjukkan lampu dia atas meja kecil di samping ranjang sambil aku berikan bola lampu baru yang kuambil dari laci di meja itu pula. Seusai menerima bola lampu Toto duduk di lantai dekat meja kecil itu, sementara aku sengaja duduk di ranjang yang posisi dan arah kakiku tepat di depan kepala Toto. Aku tahu pasti, kalau Toto mengganti bola lampu tidak berkonsentrasi, hingga sampai …

“Brak, …..!” Cap lampu tersenggol tangannya dan ada beberapa bagian yang terlepas dan melompat ke atas ranjang.

“Nggak apa-apa To, Capnya memang lepasan gitu kok, bisa dipasang lagi ” kataku menetralisir suasana.

“Biar nanti saya perbaiki” kata Toto masih dengan gugup.

Selesai memasang bola lampu pengganti, Toto mengumpulkan bagian-bagian cap yang tercecer di ranjang, ada lembar-lembar mika, dan ada beberapa baut.

Sementara itu aku tetap duduk di ranjang dengan posisi kaki lurus dan memamerkan celah mulus di antara 2 pahaku serta sebagian CD-ku. Dengan hati-hati Toto mengangkat bagian-bagian yang dikumpulkan itu melewati atas pangkuanku. Entah karena apa, atau mungkin karena memang tegang, ada beberapa yang jatuh dari tangannya, dan … ada satu baut seukuran jari kelingking jatuhnya tepat di celah di antara dua pahaku.

Karena bentuknya yang bulat, maka setelah baut itu jatuh dicelah rok miniku terus menggelinding masuk ke dalam selangkanganku dan berhenti di depan CD-ku. Karena terbuat dari logam yang halus maka baut itu terasa dingin dan rasa itu membuat terkejut selangkanganku sampai-sampai secara reflek kuangkat dan kubua lebar kedua pahaku. Tanpa kusadari gerakanku itu membuat rok miniku semakin tersingkap dan sampai pangkal paha dan CD -ku yang merangsang itu terlihat jelas.

Aku diam sejenak, Toto meletakkan bagian-bagian cap yang terlepas itu di lantai, sementara matanya tak berkedip memandangi CD-ku yang semakin jelas terpampang di hadapannya, kurang dari 1 meter di depan matanya.

“Kamu melihat apa Toto ?” tanyaku dengan nada gugup pula.

Alangkah terkejutnya aku, ketika dengan tenangnya Toto menjawab pertanyaanku, “Toto mencari baut yang jatuh, tante.”

Aku tercekat mendapatkan jawaban itu, tapi anehnya aku tak berusaha menutupi atau membenahi letak rok miniku. Dan memang baut yang jatuh tadi kini berada di balik bagian CD-ku yang cembung, tepat di bawah ling vaginaku.

“Tolong ambilkan tante, bautnya ada di dalam situ” pinta Toto sambil menunjuk tempatnya baut.

Aku tetap terdiam, ada sensasi lebih yang menyelimuti selangkanganku yang sedang dilihat oleh keponakan suamiku itu.

“Kok tante diam saja? apa boleh Toto yang ngambil, tante?” pertanyaan yang diucapkannya lirih tetapi bagaikan petir yang menyambar naluriku, sampai-sampai aku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku terpaku diam. Aku tidak bergerak semilipun dari dudukku yang menantang itu.

“Dasar baut yang pintar, melompat aja milih tempat yang asyik” kata Toto sambil tiba-tiba tanganya mengambil baut di bawah gundukan vaginaku, tentu saja selembar kain katun yang menutupi liang vaginaku itu ikut tersenggol punggung tangan Toto.

“Ahhhh ……..” tanpa aku sadari aku mendesah terkena usapan di bagian paling sensitifku.

“Yang ini kok basah, tante?” kini jemari tangan Toto mulai meraba lembar katun tipis penutup liang vaginaku.

“Aaaaahhhhhhhhh…..” aku mendesah lagi.

Kemudian aku tidak kuat lagi duduk, kuhempaskan tubuhku terlentang di ranjang. Dengan posisiku yang terlentang di ranjang, sementara kakiku yang panjang yang memakai sandal bertumit tinggi menapak di lantai kamar, maka hal itu merupakan pemandangan yang semakin menggairahkan bagi Toto. Ditambah rok miniku yang semakin tersingkap, menambah penampilanku menjadi semakin merangsang nafsu Toto.

Jemari Toto kemudian tidak hanya meraba tetapi menekan dan meremas gundukan vaginaku yang telah basah.Reaksiku atas tindakan tersebut yaitu payudaraku aku remas-remas sendiri, sampai beberapa kancing blouse-ku lepas dari lubang kaitnya. Mataku terpejam, sementara itu kedua pahaku menjepit semakin kuat tangan kanan Toto yang sedang meremasi vaginaku; semakin aku jepit, semakin kuat tangan Toto meremas gundukan vaginaku, hingga suatu saat remasan itu mengakibatkan klitorisku terpelintir.

“Aaaaaaaaahhhhhhhhh …….!” sampai aku berteriak tak kuasa menahan rasa.

“Toto aku gak tahan, terus remassss yaaa !” celotehku di dalam desah nafasku yang semakin tersengal-sengal.

Toto semakin kuat menekan klitorisku dari luar CD tipisku hingga aku berkelejotan dibuatnya, tangan kananku masih terus meremas payudaraku sendiri, sementara yang kiri meremas sprei, kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan ketika tangan Toto meremas dengan kuat tepat di klitorisku, dan kedua pahaku ikut manambah tekanan dengan menjepitnya; maka terasa liang vaginaku menyemburkan lendirnya pertanda aku orgasme.

“Aaaaahhhhhhhhh ……Toto aku keluaaaaaaaaaarrrrrr !” seperti biasanya kalau aku orgasme selalu sambil berteriak.

Kemudian seluruh tubuhku terasa melemah, sesaat setelah itu baru aku merasakan dan menyadari bahwa seluruh tubuhku bersimbah keringat. Blouseku yang tipis basah kuyup oleh keringat, sementara CD-ku basah kuyup dengan keringat dan lendir. Aku pejamkan mata merasakan dan menikmati sisa-sisa orgasmeku.

Kemudian terasa Toto membuka blouseku, dalam kondisi yang lunglai aku menyerah dan membantu meloloskan blouse itu lewat tanganku. Setelah blouseku terlepas, braku yang tipis berenda itu terlihat jelas di hadapan Toto. Karena itu pula Totolalu menjilati permukaan dadaku, baik yang tertutup bra maupun yang tidak tertutup bra. Bra yang tipis dan basah itu tak mampu menyembunyikan posisi punting payudaraku. Lidah Toto lalu dengan gesitnya menjilati punting itu.

Gejolakku naik kembali, aku tak bisa menahan rintihan dan celotehan serta jeritan, kata-kataku semakin ngawur.

“Ohhh …. Ahhhh …. terus enaaaakh ” kini Toto tidak hanya menjilat, tetapi menghisap kuat-kuat puntuingku dari luar bra yang tipis itu bergantian kiri dan kanan. Tangan kananku tak sadar meremas-remas kepala Toto, semntara yang kiri meremas-remas vaginaku yang sudah dilepaskan Toto.

Ketika birahiku terasa merambat ke puncak, Toto malah menghentikan hisapannya di puntingku, kini dia pindah menyusuri perutku yang rata itu, dan dengan cepat menjilati permukaan katun penutup liang vaginaku.

Aku menggelinjang hebat dan ada rasa akan orgasme tetapi sepertinya rasa itu tak akan segera sampai. Aku terus berteriak-teriak, minta segera Toto menuntaskan gairahku.

Tetapi Toto malah melepaskannya. Toto bangkit dan kermudian mengangkat kakiku yang menapak di lantai dan segera menjilati dari ujung jari-jariku sampai kembali menyentuh katun penutup vaginaku.

Aku kembali menggelinjang hebat. Toto naik merayap menindih tubuhku, tangannya dengan cepat menarik tali pengikat CD ku yang ada di samping kiri kanan dan menariknya. Ketika seluruh tubuhku tertindih kurasakan ternyata celana Toto sudah dilepas, rupanya ketika aku menggelinjang dijilati mulai kakiku sampai ke liang vaginaku tadi Toto sambil melepaskan celananya. Dan terasa pula batang kontolnya amat besar, lebih besar dari miliknya Mas Andi. Kemudian tanganku meraba kearah kontolnya yang mulai ditekankan di depan bibir vaginaku.

“Toto, kontol kamu besar banget, totlong hentikan, jangan kau masukkan” pintaku di tengah dengus keras nafasku.

Tapi rupanya Toto sudah terbuai dengan nafsu birahinya. Ditekannya kontol itu dengan tekanan yang semakin lamasemakin ditekan. Tetapi rupanya vaginaku yang hanya terbiasa dengan kontol Mas Andi yang kecil gak bisa menerimanya. Sakit sekali rasanya dan sesak sekali.

Sejenak Toto mengurangi tekanan pada batang kontolnya, ternyata tidak dilepaskan, melainkan justru Toto mencari ancang-ancang dan kemudian ….. ditekanlah pinggulnya dengan kuat sehingga batang kontol itu menerobos paksa liang vaginaku yang masih sempit.

“Aduuuuuhhhhhhhhh sakiiiiittt” aku berteriak sejadi-jadinya.

Bersamaan dengan itu Toto kemudian dengan kasarnya memompakan kontolnya dalam vaginaku, rasa perih menjalari selangkanganku.

Sesaat setelah itu terasa Toto mengalami ejakulasi, banyak sekali sperma yang mengaliri vaginaku.

Segera setelah itu Toto dengan kasar melepaskan kontolnya dari vaginaku. Banyak sperma yang berceceran bersama lepasnya kontol itu. Ketika Toto telah bangkit meninggalkanku, kulihat selangkanganku, aku terbelalak mendapati kenyataan. Aku seperti diperawani lagi, bahkan kali ini darah yang keluar melebihi ketika pertama kali aku melakukan hubungan seks dengan Mas Andi.

Aku terlentang merasakan sakit yang luar biasa di selangkanganku, sementara Toto berdiri sambil membersihkan batang kontolnya dengan CD-ku yang ada di lantai. CD itu kemudian berwarna merah darah, darah dari vaginaku. Aku menangis, bingung merasakan kejadian ini.

“Kamu kejam Toto, kamu telah membuat tantemu ini kesakitan,” ucapku di sela tangis lirihku.

“Jangan salahkan saya begitu saja, tante; tante juga salah. Sejak kedatanganku di rumah ini, tante dengan sengaja menggodaku dengan memamerkan keseksian tante.” kata Toto beralasan.

Itulah kejadian yang menimpaku. Semoga cerita ini bisa menjadi peringatan berharga bagi setiap wanita.

Incoming search terms:

tante menggoda, tanteku menggoda, cerita seks 2007, Cerita tante menggoda, cerita ngentot tante manado, cerita dewasa 2007, tanteku yang menggoda, cerita seks manado, cerita dewasa tante manado, tante ruli, cerita seks tante 2013, Cerita dewasa tante seksi, tante yang menggoda, cerita tante2007, cerita ngentot 2007, cerita dewasa keponakan suamiku, Tante seksi menggoda, Tante yg menggoda, cerita dewasa menggoda, cerita seks menggoda, cerita seks dewasa tante tante menggoda, Cerita dewasa menggoda keponakan, tante ku mengodaku, cerita sekretaris penggoda, cerita dewasa tante menggoda

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

eXTReMe Tracker